Home / Romansa / The CEO'S Forbidden Bride / 96. Malam Ini Aku Milikmu!

Share

96. Malam Ini Aku Milikmu!

Author: DF Handayani
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-17 23:43:36

Khairen menunduk, menyentuh rambut Sunrise dengan jemari yang masih gemetar. Gerakannya lembut, seolah setiap sentuhan adalah permohonan maaf yang tak terucap. Ia menggeser langkah mereka ke arah tempat tidur.

Sunrise mengikuti, menyandarkan punggung pada ranjang, menatap Khairen dengan tatapan yang hangat "Aku mempercayaimu, Khairen.”

Kata-kata itu mematahkan sisa pertahanan Khairen. Ia menunduk, mengecup kening Sunrise, lalu pelipisnya, lalu berhenti di mata, menahan diri, sebelum akhirnya bi
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • The CEO'S Forbidden Bride    124. Kembali Bertemu

    Sunrise bersandar pada pintu kayu, tangannya gemetar saat menutup wajah. Dadanya naik turun, napasnya patah-patah. Ia mengira enam tahun cukup untuk mengubur segalanya, rasa cinta, luka, harapan. Nyatanya, hanya butuh satu kehadiran untuk merobohkan dinding yang ia bangun dengan susah payah.Di luar, Khairen berdiri terpaku di depan etalase. Lampu kuning dari dalam toko memantulkan bayangannya di kaca, membuatnya tampak seperti orang asing yang terdampar di kehidupan orang lain.Tangannya mengepal, lalu mengendur. Ia tidak marah. Tidak pula ingin memaksa. Ia hanya takut kehilangan untuk kedua kalinya.Enam tahun lalu, ia melepaskan Sunrise karena percaya itulah satu-satunya cara melindunginya. Ia memilih diam, percaya waktu akan menata segalanya. Namun, waktu justru memberinya kenyataan paling kejam, seorang anak yang tumbuh tanpa tahu siapa ayahnya.“Mom?” suara kecil Ellion terdengar dari balik pintu ruang belakang.Sunrise tersentak. Ia menghapus air mata cepat-cepat, mengatur napa

  • The CEO'S Forbidden Bride    123. Setelah Berpisah

    Enam Tahun Kemudian.Hujan turun tipis di kota kecil Albinen, air membasahi jalanan berbatu yang dipagari deretan maple tua. Sunrise berdiri di depan etalase toko roti miliknya, sebuah bangunan sederhana dengan papan nama kayu bertuliskan D'Amore Bakehouse.Lampu kuning hangat di dalam memantul di kaca, menenangkan. Di balik ketenangan itu, hidupnya berjalan pelan, rapi, dan sunyi. Seperti yang ia inginkan.Ia mengancingkan mantel, menoleh ke jam dinding. Hampir pukul delapan. Saatnya menutup toko. Dari dalam, suara tawa kecil terdengar.“Mom, lihat!” Seorang anak laki-laki berambut hitam legam berlari kecil sambil mengangkat gambar. “Aku menggambar pegunungan. Ada mataharinya, cantik seperti Mommy.”Sunrise tersenyum. “Bagus sekali, Ellion.” Ia berlutut, merapikan kerah jaket anak itu. “Sastnya kita pulang, ya?”Ellion mengangguk. Matanya, mata yang sangat dikenal Sunrise, berkilau polos. Ia tak pernah bertanya tentang ayahnya. Dan Sunrise tak pernah menceritakan. Bagi dunia kecil El

  • The CEO'S Forbidden Bride    122. Akhir Dari Semua

    Lampu-lampu gedung perlahan tergantikan oleh gelap dan siluet pepohonan. Di kursi belakang mobil, Sunrise duduk memeluk dirinya sendiri. Bahunya bergetar, namun tak satu pun isak yang ia lepaskan.Air mata jatuh satu per satu, membasahi pipinya, memburamkan pandangan yang menatap kosong ke jendela.Tak ada percakapan. Lucas duduk di depan, rahangnya mengeras. Steve menyetir dengan wajah dingin. Mesin mobil berdengung monoton, seolah ikut menjaga kesunyian yang sengaja diciptakan.Setiap kilometer yang terlewati terasa seperti menjauhkan Sunrise dari satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa pulang.Khairen.Nama itu berputar di kepalanya tanpa henti. Senyumnya. Tatapannya. Suara tenangnya saat berkata akan menepati janji. Dan ia memang menepatinya.Di ballroom CNC yang porak-poranda, Khairen akhirnya berhasil lolos dari kepungan media. Nick menariknya masuk ke lorong belakang dengan pengawalan ketat. Pintu tertutup, suara riuh meredam.Khairen bersandar pada dinding. Napasnya

  • The CEO'S Forbidden Bride    121. Hari Pembalasan Yang Dinanti

    Ballroom utama CNC pagi itu berkilau seperti panggung kemenangan. Lampu kristal memantulkan cahaya keemasan, layar raksasa menampilkan visual pegunungan Alpen Timur yang diselimuti salju, dengan garis-garis jaringan yang menyala biru, simbol keberhasilan Mega proyek yang selama ini hanya bisa ditembus oleh CNC.Para tamu memenuhi ruangan. Direksi, komisaris, investor asing, petinggi perusahaan jaringan global, dan tentu saja media. Kamera-kamera sudah siaga, lampu kilat berkedip tanpa henti. Semua menunggu satu momen, yaitu peluncuran resmi proyek Alpen Timur.Di balik layar, Sunrise berdiri tegak. Gaun krem pucat membalut tubuhnya sederhana namun elegan. Wajahnya begitu tenang untuk seseorang yang menyimpan badai sebesar ini di dadanya. Tablet ia dekap erat, jemarinya mencengkeram sisi perangkat itu seolah di dalamnya tersimpan takdir yang tak boleh jatuh ke tangan siapa pun.Ia sudah datang sejak satu jam lalu. Mengecek alur acara. Memastikan setiap detail sesuai rencana. Tidak bole

  • The CEO'S Forbidden Bride    120. Dua Hati Terluka

    Sunrise terbangun saat langit masih berkabut. Jam di nakas menunjukkan pukul enam pagi. Beberapa hari belakangan, kamar itu sunyi, tidak ada suara langkah kaki Khairen. Tidak ada aroma parfum yang biasanya tercium dari arah walk in closed.Ia duduk perlahan, menatap sisi ranjang yang kosong. Rapi, seolah memang tak pernah ada seseorang yang tidur di sana.Di meja makan, hanya ada dirinya dan keheningan. Pelayan menunduk sopan ketika Sunrise turun.“Beliau sudah berangkat sejak satu jam yang lalu, Nyonya,” ucap pelayan itu hati-hati. Seakan tahu apa yang ada di dalam hati Nyonya.Sunrise menarik napas panjang, lalu duduk. Ia tidak bertanya lagi. Ia sudah tahu jawabannya bahkan sebelum mulutnya terbuka.Sunrise mengangguk pelan. Tidak ada keterkejutan di wajahnya. Hanya ada sesuatu yang mengeras di balik sorot matanya.“Mulai besok tak perlu menyiapkan sarapan untukku.” ucap Sunrise setelah menyelesaikan sarapannya.Pelayan menatap Sunrise bingung.Sunrise mengambil tasnya sendiri. Untu

  • The CEO'S Forbidden Bride    119. Jarak

    Keheningan yang tertinggal terasa begitu pekat, seolah udara di dalam ruangan ikut membeku bersama kepedihan yang baru saja terjadi.Sunrise tetap terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada ranjang, napasnya terengah-engah. Dadanya terasa sempit, seakan setiap tarikan napas adalah siksaan. Paru-parunya seperti disayat dari dalam, membuat tubuhnya bergetar tanpa bisa ia kendalikan.Di luar kamar, langkah Khairen terhenti di ujung koridor yang panjang dan sunyi.Ia bersandar pada dinding, satu tangannya menutup wajah, sementara tangan lainnya mengepal keras di sisi tubuhnya. Dadanya sesak, napasnya berat. Kata-kata Sunrise terus menghantam kepalanya tanpa ampun, berulang-ulang, tanpa memberi ruang untuk bernapas."Tidak pernah.""Dari awal hanya sandiwara.""Perjanjian kontrak.""Alat tukar."Setiap kata itu seperti pisau tajam yang ditancapkan perlahan ke dadanya, diputar dengan kejam, lalu dibiarkan tertinggal begitu saja.Khairen menegakkan tubuhnya, rahangnya mengeras, matanya m

  • The CEO'S Forbidden Bride    65. Tak Terduga

    Sunrise berdiri di tengah ruang apartemennya yang porak-poranda. Cahaya lampu langit-langit nampak putih pucat seperti wajahnya. Nafasnya berat, dada naik turun, jemari yang mengepal terasa bergetar.Tidak ada barang berharga yang hilang. Hanya dokumen perjanjian kontrak. Artinya, mereka orang yang

  • The CEO'S Forbidden Bride    64. Jebakan Steve untuk Sunrise

    Sunrise meninggalkan kamar Khairen. Berjalan keluar dari mansion, langkahnya cepat tapi hatinya masih tertinggal di sana, di ruangan gelap dengan aroma obat dan napas berat yang tadi nyaris membuatnya ingin menetap.Kata-kata Khairen masih menggema di telinganya, tentang berdiri di sisinya, melindu

  • The CEO'S Forbidden Bride    63. Saling Khawatir Tapi Gengsi

    Pelayan itu berhenti di depan pintu kayu tinggi yang menjulang, menundukkan kepala ragu. Ia takut akan mendapatkan hukuman. “Nyonya, tuan berpesan tidak ingin—”Sunrise tidak memberinya kesempatan untuk menyelesaikan kalimatnya. Ia menekan kenop pintu dan mendorongnya perlahan.Aroma samar obat-oba

  • The CEO'S Forbidden Bride    62. Kegelisahan Sunrise

    Pagi itu, udara Zurich terasa lebih dingin dari biasanya. Hujan semalam masih menyisakan aroma tanah basah yang samar menyelinap dari celah jendela kamar.Sunrise membuka pintu kamarnya dengan langkah pelan, setengah berharap mendapati suara atau gerak di ruang tamu.Tapi, kosong."Dia benar-benar

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status