Share

113. Pengakuan

Author: DF Handayani
last update publish date: 2026-04-14 14:07:28

Sunrise kembali masuk ke kamar dengan langkah pelan. Ia mengambil ponsel dari tas kecilnya. Tangannya sempat gemetar saat membuka layar. Nama Lucas terpampang jelas di sana. Beberapa detik ia hanya menatap, ragu, sebelum akhirnya menekan tombol pesan.

Sunrise: (Kak, aku perlu bicara. Bisakah kita bicara? Malam ini.)

Pesan itu terkirim. Sunrise menggigit bibirnya, menunggu dengan dada berdebar. Ia nyaris menyesal mengirimkannya ketika ponselnya bergetar.

Lucas: (Di mana? Aku di apartemen Steve.)
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • The CEO'S Forbidden Bride    119. Jarak

    Keheningan yang tertinggal terasa begitu pekat, seolah udara di dalam ruangan ikut membeku bersama kepedihan yang baru saja terjadi.Sunrise tetap terduduk di lantai, punggungnya bersandar pada ranjang, napasnya terengah-engah. Dadanya terasa sempit, seakan setiap tarikan napas adalah siksaan. Paru-parunya seperti disayat dari dalam, membuat tubuhnya bergetar tanpa bisa ia kendalikan.Di luar kamar, langkah Khairen terhenti di ujung koridor yang panjang dan sunyi.Ia bersandar pada dinding, satu tangannya menutup wajah, sementara tangan lainnya mengepal keras di sisi tubuhnya. Dadanya sesak, napasnya berat. Kata-kata Sunrise terus menghantam kepalanya tanpa ampun, berulang-ulang, tanpa memberi ruang untuk bernapas."Tidak pernah.""Dari awal hanya sandiwara.""Perjanjian kontrak.""Alat tukar."Setiap kata itu seperti pisau tajam yang ditancapkan perlahan ke dadanya, diputar dengan kejam, lalu dibiarkan tertinggal begitu saja.Khairen menegakkan tubuhnya, rahangnya mengeras, matanya m

  • The CEO'S Forbidden Bride    118. Mencintaimu Dengan Kejam

    Khairen segera kembali ke mobilnya begitu meninggalkan area itu. Tangannya mencengkeram setir kuat-kuat. Mesin menderu saat ia menekan pedal gas tanpa ragu. Jalanan malam terasa lengang, tapi kepalanya justru riuh.Kata-kata Sunrise terus terngiang di benaknya.Hamil… alat tukar… negosiasi…Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan saat pertama kali mendengar Sunrise hamil. Bahagia. Hangat. Sesuatu yang selama ini tak pernah ia berani impikan. Seorang anak. Darah daging mereka.Namun rasa itu langsung hancur, tergantikan oleh nyeri yang menyesakkan dada.Sunrise menjadikan anak mereka sebagai alat tawar-menawar.Khairen mengumpat pelan. Rahangnya mengeras. Ia menambah kecepatan, seolah ingin lari dari pikirannya sendiri. Ia ingin percaya bahwa Sunrise terpaksa. Bahwa perempuan itu tidak benar-benar berniat seperti itu.Tapi setiap kali mengingat tatapan Sunrise saat berhadapan dengan Magnus dingin, tegas, tanpa gentar hatinya semakin sakit.Sunrise melangkah meninggalkan Magnus dengan kepala

  • The CEO'S Forbidden Bride    117. Ancaman Sunrise untuk Magnus

    Magnus terduduk pucat di balik meja marmer hitam itu, seolah seluruh dunia yang selama ini ia bangun runtuh dalam satu malam.Tatapannya menelusuri wajah Sunrise berulang kali, mencari celah, mencari kebohongan, mencari tanda bahwa semua ini hanyalah sandiwara murahan.Namun tak ada.Sorot mata biru itu terlalu dingin untuk sebuah kebohongan. Begitu penuh luka untuk sebuah rekayasa.“Mustahil,” gumam Magnus lirih. “Semua awak kapal… semua penumpang malam itu… tak satu pun selamat. D’Amore Marittimo tenggelam bersama seluruh rahasianya.”Sunrise tak menjawab. Ia hanya berdiri tegak, bahunya lurus, wajahnya tenang, seolah badai yang mengamuk di hadapan Magnus bukan lagi sesuatu yang bisa menggoyahkannya.“Aku sudah mencarimu,” lanjut Magnus, suaranya meninggi, nyaris panik. “Bertahun-tahun. Ke setiap negara. Setiap jejak keluarga Loredan. Kau… seharusnya tidak ada.”“Namun aku berdiri di sini,” potong Sunrise dingin. “Dan aku berada di sekitarmu. Di bawah hidungmu. Menghancurkan perlaha

  • The CEO'S Forbidden Bride    116. Titik Balik Sunrise

    Waktu seolah berlari tanpa memberi kesempatan Sunrise untuk menoleh ke belakang.Tiga minggu berlalu begitu cepat.Dalam kurun waktu itu, Sunrise menjelma menjadi sosok yang nyaris tak tersentuh oleh urusan pribadi. Ia kembali seperti Sunrise yang dulu.Setiap hari ia tiba paling pagi di CNC dan sering kali menjadi orang terakhir yang meninggalkan gedung. Berkas-berkas proyek yang menjadi tanggung jawabnya tersusun rapi di mejanya, satu demi satu ia tuntaskan dengan presisi yang nyaris sempurna.Rapat demi rapat ia lalui dengan tenang. Presentasi yang ia bawakan selalu memukau, tegas, runtut, dan penuh keyakinan. Bahkan tim manajemen mulai menyadari perubahan Sunrise. Ia lebih fokus, lebih dingin, seolah ada batas tak kasatmata yang membungkus dirinya dari dunia luar.Tak jarang ia bekerja lembur hingga larut malam, menatap layar komputer dengan mata lelah namun pikiran tetap tajam. Ia menyingkirkan semua yang bersifat pribadi, perasaan, kenangan, juga konflik batin yang berusaha meng

  • The CEO'S Forbidden Bride    115. Garis Dua Samar

    Sunrise kembali ke ruangannya dengan langkah sedikit lebih ringan, meski dadanya masih dipenuhi perasaan yang sulit ia definisikan. Begitu pintu terbuka, suara tepuk tangan langsung menggema.Ia tertegun.Seluruh staf divisi teknologi berdiri, beberapa bersiul, beberapa tersenyum lebar. Balon sederhana terpasang di sudut ruangan, dan di layar besar terpampang tulisan: (Terima kasih, Kepala Divisi!)“Surprise!” seru mereka hampir bersamaan.Sunrise refleks menutup mulutnya. “Apa… apa ini?”Carmen maju paling depan, tersenyum bangga. “Ini perayaan kecil. Sistem bocor berhasil ditutup total dalam waktu kurang dari dua hari. Investor kembali percaya. Dan...” ia mengangkat ponselnya, “Barusan HR resmi mengumumkan bonus untuk seluruh tim. Katanya dari CEO langsung.”Ruangan kembali riuh. Sunrise menghela napas panjang, matanya terasa panas. Ia menunduk sebentar, menenangkan diri, lalu tersenyum.“Ini bukan hanya karena aku,” ucapnya tegas. “Kalian semua bekerja tanpa tidur. Tanpa keluhan. B

  • The CEO'S Forbidden Bride    114. Memilih Diam

    Sunrise terbangun oleh cahaya pagi yang menelusup di balik tirai tebal kamar. Ia mengedipkan mata beberapa kali, menyesuaikan diri dengan kesadarannya. Tubuhnya terasa berat, karena beban semalam belum benar-benar pergi dari dadanya.Tangannya meraba sisi ranjang.Kosong.Sunrise bangkit setengah duduk. Seprai di sisi Khairen sudah rapi, bantalnya tak lagi berbekas. Ia menghela napas pelan. Jam di nakas menunjukkan pukul setengah tujuh. Ia sedikit terlambat.“Kenapa dia tidak membangunkanku?” gumamnya lirih.Sunrise segera turun dari ranjang dan bersiap secepat mungkin. Wajahnya di cermin tampak pucat, lingkar gelap samar di bawah mata. Ia membasuh wajah lebih lama dari biasanya, seolah berharap air dingin bisa menyapu sisa-sisa kegelisahan yang masih menempel.Ia mengenakan setelan kerja sederhana. Rambut diikat rapi. Tak ada yang mencolok. Sunrise kembali menjadi Sunrise yang profesional, bukan wanita yang semalam menangis diam-diam di sisi suaminya sendiri.Ketika ia melangkah ke r

  • The CEO'S Forbidden Bride    92. Perasaan yang Mulai Tak Terkendali

    Malam semakin larut, namun tidur tak kunjung datang.Sunrise terbaring kaku, punggungnya membelakangi Khairen. Jarak di antara mereka nyaris tak ada, hanya sehelai kain tipis dan kesepakatan kontrak yang menahan segalanya.Dada Sunrise naik turun tak beraturan. Setiap tarikan napas terasa canggung,

  • The CEO'S Forbidden Bride    91. Dari Hati ke Hati

    Sunrise merasakan hangat tubuh Khairen, perlindungan yang selama ini selalu ia tolak, kini justru menjelma menjadi tempat paling aman dan nyaman.Perlahan Sunrise menarik diri, menatap wajah Khairen. Mata pria itu gelap, dalam, penuh keteguhan yang membuat dadanya bergetar tanpa alasan yang jelas.

  • The CEO'S Forbidden Bride    90. Kita Mulai Dari Awal

    Begitu mereka tiba di basecamp, suasana langsung berubah sibuk. Lampu-lampu tenda medis menyala terang, suara langkah kaki, peralatan dibuka, dan instruksi terdengar saling bersahutan.Namun di tengah kesibukan itu, Sunrise hanya merasakan satu hal, tangan Khairen yang tak pernah melepaskan genggam

  • The CEO'S Forbidden Bride    89. Ciuman Hangat di Dinginnya Alpen

    Khairen menahan tarikan itu dengan seluruh kekuatannya. Sepatunya menghunjam salju, lututnya menekuk menahan beban Sunrise yang nyaris tergelincir ke bawah. “Pegang aku!” suaranya keras, memerintah, namun ada getar yang tak bisa ia sembunyikan. Ia takut kehilangan.Sunrise mengangguk pan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status