เข้าสู่ระบบ“I would like to introduce you all to the person who will be overseeing this project, our new project manager, Jenna Anderson.” Being followed by the students and teachers clapping their hands, which was then followed by the click-clacking sound of high heels on wooden floors, and my eyes widened as my heart started the pound with surprise and anticipation at what my eyes were seeing next. Long, lean legs, a perfect ass wrapped up in a black pencil skirt. A blouse that hugged every perfect curve. Blonde hair that was right now up in a high ponytail instead of loose like it had been on New Year’s Eve. I couldn’t help but smile widely, believing that fate had intertwined our paths once again. The woman who had both haunted my dreams and intrigued me deeply was now in a project at my very own workplace. And even better, right now I also knew her name. Jenna Anderson. And now, I was happy to know that my parents did not raise a quitter in their firstborn son, because from the second I saw her, I knew that I would chase her, win her over, and make her mine, forever.
ดูเพิ่มเติมPlak!
"Makanya jadi istri jangan malas-malasan dong,cuman cedera kaki doang sebagai alasan tidak bisa masak mengerjakan pekerjaan rumah ini". Ucap seorang pria,habis menampar pipi istrinya itu.DegNyess... Tidak menyangka jika sang suami bersikap seperti ini. Melayangkan tamparan keras di pipi kanannya, menoreh luka dalam di hatinya."Mas,kamu tidak melihat keadaanku sekarang? Kakiku cedera serius karena kecelakaan kemarin, berjalan pun susah dan sakit masih sakit". Mia, memegang pipinya terasa perih sampai ke hatinya yang sakit.Memandang lekat wajah sang suami, sudah menemaninya selama 2 tahun ini. Baru kali ini, mendapatkan kekerasan dari suaminya itu karena tidak bisa melayaninya.Tiga hari yang lalu, Mia Julia seringkali di panggil Mia. Dia mendapatkan musibah naas, sehingga kakinya cedera serius dan harus banyak istrirahat dulu. Tidak ada yang merawatnya di rumah, terpaksa harus berjalan pincang berpegangan pada dinding dan menahan rasa sakit luar biasa.Musibah yang dialaminya itu, membuat dirinya juga keguguran kehilangan calon buah hatinya. "Cukup! Sudah 3 hari ini,kamu ongkang-ongkang kaki di rumah tanpa mengerjakan apapun. Aku capek Mia,pulang kerja rumah berantakan seperti ini. Jangan malas-malasan terus-terusan Mia,cuman cedera kamu jadikan alasan. Masa membereskan rumah tidak bisa,kamu liat di belakang sana banyak tumpukan baju kotor. Cuci sana!". Tunjuk sang suami menuju ke arah luar pintu, sorotan matanya yang tajam."Mas Herman,aku tidak bisa melakukan itu". Mia, menolak bukan tidak mau tetapi kakinya masih di perban jangan sampai basah. "Laundry saja mas, bukankah aku sudah bilang sama kamu kemarin"."Gila yah,kamu! Jangan sok-sokan menyuruhku laundry pakaian,ada istri malah laundry semakin boros. Cepat sana cuci, Mia!" Bentak Herman, dengan mata melotot sempurna.Herman, seorang pria berumur 30 tahun dan bekerja di kantor sebagai manager.Mia, melonjak terkejut mendengar bentakan keras dari suaminya. Air bening mengalir di kedua pipinya,baru kali ini sang suami berkata kasar. Dulu sesosok pria di depannya itu, sangat perduli dan perhatian kepadanya.Ketikan musibah itu terjadi,sang suami tiba-tiba berubah drastis dan seringkali marah-marah."Astagfirullah,mas. Kamu lupa kakiku sakit loh,masih di perban begini dan kata dokter jangan terkena air dulu. Apa susahnya kita laundry dulu, tidak menghabiskan seluruh gajimu kan? Keadaan ku sekarang tidak seperti dulu,mas. Aku mohon kepadamu, tolong mengerti keadaan ku ini". Mia, memohon agar sang suami memahaminya."Banyak alasan kamu, Mia! Cepat bangkit dari tempat tidur,jangan malas-malasan dan jangan banyak alasan. Cepat!". Herman, langsung menyeret paksa istrinya mencuci pakaian di belakang."Ssshhhhttt...Sakit mas, hentikan! Sakit mas,sakit!". Mia, merintih kesakitan ketika sang suami memaksa untuk berjalan."Jangan banyak alasan kamu, Mia! Aku tidak suka dengan istri pembangkang,apa lagi malas. Kamu kira enak kerja ha, memerintahkan ku untuk laundry saja. Cepat,jalan! Cepat!" Herman, terus-terusan menyeret istrinya ke arah belakang.Tidak memperdulikan Mia, menjerit-jerit kesakitan karena sakit. "Sakit mas, hentikan! Sakit...Aaaaaaa...!" Pekik Mia,ketika sang suami mendorong tubuhnya ke lantai tepat di tumpukan pakaian kotor."Cuci semua pakaian ini,jangan banyak alasan. Pokoknya rumah harus bersih, ketika aku pulang nanti. Biar mbak Adel,yang mengawasi kamu agar tidak malas-malasan. Ingat itu, harus menuruti perkataan mbakku". Ucap Herman, sebelum pergi meninggalkan istrinya yang tengah menangis kesegukan."Mas,kamu kenapa berubah? Apa karena kekurangan ku ini,kamu tidak memperdulikan ku lagi? Ya Allah, sadarkan suamiku dan kembalikan dia seperti dulu". Kata Mia, terduduk lemas dan bersandar pada dinding.Matanya tertuju pada bagian kaki,kini mengeluarkan darah lagi. Secepatnya menggantikan perban di dalam kamar, begitu kesusahan berjalan dalam keadaan pincang.****************Herman, menghentikan mobilnya di depan rumah ibunya. Dia meminta bantuan kepada kakaknya, untuk mengawasi istrinya yang tidak malas-malasan lagi."Tumben banget kamu, Herman. Lagi-lagi sudah kerumah ibu,gak takut telat kerja kamu ha?" Tanya Adel,kakak iparnya yang memberi makan kepada anaknya yang berusia 3 tahun."Kamu sudah sarapan pagi,nak?" Tanya bu Ratih, ibu kandungnya Herman."Belom,bu". Jawab Herman,duduk santai di sofa."Loh, emangnya istri mu gak masak?". Sahut Adel, langsung.Herman, menghela nafas panjang dan menoleh ke arah ibunya. "Katanya kakinya masih sakit,mbak. Sudah tiga hari ini, Mia tidak masak maupun membereskan rumah"."Alah... Palingan alasannya saja,Her. Sudah ibu bilang kepadamu kemarin-kemarin, jangan memanjakan istrimu itu. Akhirnya apa,dia malah ngelunjak gak mau mengurus mu cuman cedera kaki doang". Kata bu Ratih, menyunggingkan senyumnya."Benar itu,kamu harus tegas Herman. Lama-kelamaan Mia, semakin sesuka hatinya nanti". Sambung Adel, hatinya bersorak-sorai gembira karena Mia di marahi adik iparnya itu."Makanya itu,aku meminta mbak Adel mengawasi Mia agar tidak malas mengerjakan pekerjaan rumah. Aku capek-capek kerja cari uang,dia malah nyuruh aku beli makanan di luar sama laundry pakaian. Jelaslah aku gak mau bu,mbak". Herman, memijit pelipisnya karena sang istri tak bisa menyenangkan dirinya lagi.Brakk..Bu Ratih, mengebrak meja mendengar ucapan anaknya. Menantu keduanya itu,malah sesuka hati memerintah anaknya. "Jangan mau kamu, Herman. Itu namanya pemborosan jika kamu menuruti perkataannya,biar ibu yang mengawasi Mia. Geram ibu, mendengar sikapnya seperti itu"."Iya,bu. Kalau tidak mau menurut perkataan ibu, buatlah efek jera untuk istriku. Aku pamit dulu,takut telat nanti". Herman, mencium punggung tangan ibunya. Dia mencium keponakannya yang lucu, sudah selesai makannya.Herman, meninggalkan perkarangan rumah ibunya dan senang karena sang ibu bersedia mengawasi istrinya di rumah."Aku ikut bu, takutnya Mia malah ngelakuin apa-apa nanti". Adel, tak mungkin melewati momen ini. Dimana Mia,akan di marahi habis-habisan sama mertuanya."Sekalian Del,kita beri dia pelajaran yang sok belagu itu. Bawa pakaian kotor di belakang,biar Mia yang mencucikannya. sekaligus memasak makanan untuk makan siang nanti,biar tau rasa". Ucap bu Ratih, tersenyum smrik memang tidak menyukai menantunya itu."Ide bagus bu,biar Mia tidak sanggup bertahan dalam rumah tangganya. Aku sebagai kakak iparnya, tidak sudi memiliki adik ipar yang miskin bukan sederajat kita". Sambung Adel, tersenyum ke arah mertuanya.Cukup lama bu Ratih, ingin memisahkan Mia dari anaknya itu. Akan tetapi, Herman begitu menyayanginya dan harus berpura-pura menjadi ibu mertua baik.Ketika mendengar Mia hamil anak mereka, sangatlah susah memisahkan antara mereka.Adel, segera mungkin mengambil pakaian kotor dan memasukkan ke dalam kresek lumayan besar. Tidak sabar menyuruh ini,itu, terhadap adik iparnya itu.Mampukah Mia, menghadapi sikap ibu mertuanya dan kakak iparnya itu?“How is your uncle’s house going?” Koda asked me, walking toward a cooler and grabbing a can of soda for himself. And I took a mental note that since Adam had just installed the refrigerator, I guess we could start loading the fridge in as well, once the boxes were all emptied out.“Good. It’s actually done.” I smiled, referring to my late uncle Ben’s house. I had taken some time to think about my options on what to do with the house that I had grown up in. But once the decision had been made, I had been over the moon and unstoppable.“And we also named it.” I smiled, seeing how Koda’s eyebrows rose up, making him look just like Adam.“I named it ‘Uncle Ben’s Inn’, in his memory.” I smiled, thinking back at the way my uncle’s old house had once looked back in the day, and how I had transformed it into a small bed and breakfast.
Jenna's P.O.V.6 months laterThe sun streamed through the big windows of the kitchen, overlooking the backyard and the woods in the distance, casting a warm glow across the hardwood floors of Gran’s old house, or as we now said; our house. It was a bittersweet morning, one that marked the ending of one chapter, and the beginning of a whole new chapter in Adam’s and my life. Today was official moving day, and we were finally ready to call this place our home.Months of hard work had gone into the remodeling of Gran’s house. Together with Anderson’s Construction, Adam and I had gone into the remodeling of Gran’s house. Together, we had transformed the old, creaky place into a cozy haven of our liking. It was our labor of love, a testament to our commitment to each other, and to the new life we were building together.I walked into the kitchen, savoring the scent of fresh paint and the p
Jenna’s P.O.V.I blinked, waking up and feeling disoriented for a moment because somehow my brain for a second still thought that I was back in Chicago in Jules’ apartment. But as my consciousness slowly returned, I became acutely aware of a new sensation souring through me, bringing me right back into Fairview, into Adam's room.I somehow felt different waking up, but it wasn’t the kind of different that would send alarm bells ringing. It was a good kind of different, a sense of profound calm and security I had never experienced before.The memories of the previous night flooded my mind, the raw intensity of Adam’s mark, and his declaration of claiming me as his mate, forever. The connection we shared had always been undeniable, but somehow seemed nothing compared to what I was feeling for the man right now. I could feel his energy, his warmth, like a warm undercurrent in my veins before I had even touched him or
Adam’s P.O.V.Fuck, if my little mate was about to keep this up, I would blow my load like a fifteen-year-old looking into his first Playboy magazine. My eyes rolled back all the way to where they could probably see my own brains, feeling her bare for the very first time. The tight clench of her pussy, her wetness, fuck… I could even sense my precum marking her already, my scent nesting inside of her. My fucking canines were already coming out and I was only just inside of her.My hips had found a glorious rhythm of rocking in and out of her. The wet sounds of our fucking, the cracking of the bed on the wooden floors, the sweet sounds she was making as I hit her G-spot stroke after delicious stroke, it was all too much for me right now.“Where do you want me to bite you, baby?” I panted, knowing that right now, I wasn’t able to hold on for much longer. 
Jenna’s P.O.V.I never thought I would find myself in this situation, caught in bed with a man and then nearly getting caught by his younger brother. My heart had nearly jumped out of my chest when Blade had come banging on Adam’s bedroom door, and I had hastily tried to cover m
“I don’t know, he wanted to go have dinner now, actually.”“OK, that’s great, because I have one demand before you leave on your date with him,” Jules told me, making me frown.“OK?” I asked her, knowing this could never be good.&
“Come on, you’re not dumb here, are you Adam?” My brother answered me, making me sigh.“You looked her up in your old yearbook, correct?” Koda asked me, to which I nodded.“Yes.”“And, what did you see?” He asked me, to which
Jenna’s P.O.V. “Hey, Jenna! To what do I owe the pleasure of this call so early in the morning? Did you discover a secret treasure map or find a talking parrot down by that cute little harbor in that even cuter Hallmark town of yours?” I chuckled at Jules’ words, feeling the tension in my shoulders






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
ความคิดเห็น