LOGINElara goes into the Black wood cooperation seeking for a job and comes out as a wife! Elara Green is going through it all, an eviction, unpaid hospital bills, and relentless financial pressures, this job?, her only hope, her goal? work her way to financial freedom. All that changes when a small altercation in an elevator brings unwanted attention- the CEO, Mr. Adrian Black, the most feared and ruthless billionaire in the city, his name spoken only in silent whispers. He offers her a contract, "I need a wife...", he wants marriage, a loveless one, one year, a woman of unknown background by his side, what's in for her?, One million dollars on signing the contract! all her financial struggles solved with one signature... But as power, hidden enemies, and possession all come closing in, Elera realizes this wasn't as simple as it seemed, because some contract weren't meant to end, and some husbands don't let go...
View MoreArwen Marine Raymon berbalik menuruni tangga. Tubuhnya dipenuhi gelayar kebahagiaan ketika Trinita, sang kakak memanggilnya untuk berbicara dengan orangtuanya di telepon. Dia turun menghambur seperti angin ribut menghampiri kakaknya yang sedang memegang gagang telepon sambil terus bicara.
“Mmm, baiklah. Nggak apa-apa. Aku mengerti kok, Pa. Salam buat Mama. Dan ini Arwen mau bicara.” Trinita memberikan gagang telepon kepada adiknya.“Halo, Papa.” Arwen berbicara sembari nyengir ke arah Trinita.“Arwen sayang, maaf baru bisa menghubungimu. Bagaimana dengan kabarmu?” jawab Papa dengan suara parau dari seberang sana.“Aku baik-baik saja. Tapi kenapa dengan suara Papa? Papa sakit?”“Papa… Papa baik-baik saja Arwen. Nggak usah khawatir.” Suara Papa terdengar makin seperti orang yang terkena flu. “Papa cuma mau bilang kalau Papa sama Mama pulang hari Rabu.”“Rabu? Kenapa nggak hari ini saja? Dan di mana Mama?”“Kami nggak bisa pulang hari ini. Nanti malam Papa harus terbang ke Medan. Ada sesuatu yang harus Papa kerjakan di sana. Setelah itu kami akan terbang ke Surabaya. Mama sedang sibuk berkemas-kemas. Salam sayang darinya.”“Salam sayang kembali Mama. Omong-omong tumben pulang di hari biasa? Nggak akhir minggu?”Papa tidak menjawab. Lama kemudian Papa berkata dengan tergesa-gesa.“Arwen sudah dulu ya, tunggu kami di rumah. Kami akan menghubungi kalian lagi. Sampai jumpa.”“Sampai jumpa,” jawab Arwen dan sambungan pun diputus.Sejenak dia merasa kecewa karena pertanyaanya tidak dijawab. Arwen benar-benar ingin mendapat kepastian bahwa orangtuanya bisa menginap di rumah lebih lama. Mengingat kebiasaan orangtua mereka yang hanya pulang sebulan sekali pada akhir minggu dan kembali ke Jakarta esok harinya. Tapi kabar kepulangan orangtuanya yang lebih cepat dari biasanya membuat kekecewaan itu akhirnya lenyap.Meski kemudian, orangtuanya tidak bisa lagi dihubungi setelah percakapan terakhir mereka. Arwen pun kembali cemas.***
Dua hari kemudian, langit biru cerah bertabur awan-awan putih seperti segerombolan kapas yang melayang-layang. Jalanan masih lengang dan burung-burung berkicau nyaring. Cahaya matahari yang hangat menyorot ke arah jendela-jendela kaca rumah.Arwen membuka matanya dan terduduk. Tangannya menggapai ponsel di atas meja nakas di samping ranjangnya. Jam ponsel itu menunjukkan pukul 06.45. Menghembuskan napas lega dari pikiran terburuk, yaitu bangun terlalu siang, Arwen mengenyakkan kembali kepalanya di bantal. Memandang debu yang berputar-putar terkena seleret cahaya yang masuk melalui celah gordennya.Ponsel orangtuanya tidak aktif, dan mereka masih belum bisa dihubungi.Jam berdering tepat pukul tujuh. Arwen bangun, membuka jendela dan gorden, menghirup udara pagi sejenak lalu berjalan sambil menyambar handuk mandi. Setelah mandi dan berpakaian dia mulai mengaduk-aduk isi lemari bukunya, menyambar beberapa buku dan menjejalkannya ke dalam tasnya.Arwen melirik penampilannya di cermin untuk melihat penampilannya lalu keluar untuk berkumpul dengan yang lain. Trinita dan Oma sudah menunggu di meja makan dapur.“Pagi,” sapanya ketika kakinya berada di anak tangga terakhir.“Pagi sayang,” balas Oma. Dia menuang susu ke gelas Arwen.“Tumben bangun pagi?” seru Trinita.“Aku selalu bangun pagi,” sahut Arwen dengan percaya diri sembari meraih gelas susu. Trinita mencibir.“Cucu Oma, memang rajin.” ujar Oma sabar.“Terima kasih,” jawab Arwen sambil tersenyum manis kepada Oma. “Mereka belum menghubungimu?” kali ini dia bertanya pada kakaknya.“Belum. Mungkin masih sibuk. Entahlah, biasanya mereka nggak pernah seperti ini. Aku mulai khawatir. Dua hari nggak memberi kabar, membuatku cemas.”Trinita mengetuk-ketukan jarinya di meja.“Aku juga cemas,” sahut Arwen. Mendadak dia kehilangan nafsu makan.“Kita tunggu saja. Mereka pasti pulang,” sahut Oma menenangkan.Setelah sarapan Arwen berangkat bersama Trinita. Oma mengantar mereka sampai depan rumah.“Hati-hati kalian berdua,” pesan Oma saat Arwen menggabrukkan pintu mobil dan melambai kepadanya.“Kamu pulang dengan siapa nanti setelah kuliah?” Tanya Trinita ketika mobil sudah meluncur di jalanan. “Mungkin dengan Dinar. Aku ada janji dengannya setelah kuliah nanti” jawabnya.Mobil melaju dengan tenang sampai di depan kampus. Arwen turun dan masuk ke halaman kampus. Berjalan sambil melamun memikirkan kedua orangtuanya yang tanpa kabar sampai dia tersentak kaget ketika Dinar memanggilnya.“Arwen, sebelah sini,” teriak Dinar, menggoyang-goyang tangannya sebagai isyarat keberadaannya di sebuah kursi panjang di bawah pohon cemara besar.Arwen berlari kecil menghampirinya.“Sudah lama menunggu?” tanyanya. “Maaf aku nggak bawa mobil sendiri. Aku berangkat dengan Trinita.”“Nggak masalah. Nanti jadi kan, ke toko buku?” Tanya Dinar penuh harap sambil bangkit dari tempat duduknya.Arwen mengangguk. “Jadi lah. Aku juga perlu buku baru.” jawabnya.Mereka pun berjalan bersama menuju kelas. Sesampainya di kelas Arwen hanya melamun tak fokus melihat dosennya mengajar.Pikirannya melayang ke mana-mana.***
SUDUT KEPOLISIAN BAGIAN IPolres Bogor. AKP Aditya, bersama beberapa rekannya segera mengendarai mobilnya ke arah puncak setelah mendapat telepon dari seorang penduduk wanita yang tinggal disana. Dalam percakapan di telepon itu, wanita yang mengaku bernama Anis, sedang mencari kayu di hutan dan menemukan sebuah mobil teprerosok di hutan dalam kondisi hancur.Lama kemudian AKP Aditya sampai disebuah dusun daerah puncak. Rupanya para penduduk sudah berkerumun di tepi hutan. Mereka sibuk berbisik-bisik dan berargumentasi sendiri-sendiri. Ketika AKP Aditya dan rekan-rekannya turun dari mobil mereka berhenti bicara dan memandangnya.Seorang wanita bertubuh kecil dan setengah baya berjalan tergesa-gesa menghampirinya.“Pak, tempatnya ada di sana” kata wanita itu, tangannya menunjuk ke arah hutan.“Apakah Anda saudari Anis? Yang menghubungi kami tadi?” tanya AKP Aditya.“Ya, saya Anis. Mari saya tunjukkan di mana tempatnya.”AKP Aditya mengikuti Anis ke arah hutan yang landai dan lebat. Sedikit terseok-seok melewati tanah yang tak rata. Setelah sampai di tengah hutan dekat dengan tebing mereka melihatnya. Sebuah mobil hancur terguling. Mereka berlari mendekat.Seorang pria dan wanita tergencet di dalam mobil itu. Dua-duanya telah tewas dan tubuhnya mulai membusuk karena air hujan.“Rudi cepat panggil ambulan!” perintah AKP Aditya kepada rekannya, AKP Rudi yang segera melaksanakannya.AKP Aditya bersama AKP Jodi segera memulai memeriksa tempat kejadian. Beberapa pohon kecil yang sejajar dengan posisi mobil patah dan tertekuk seperti tertimpa sesuatu.“Mobil ini jatuh dari sana,” kata AKP Jodi menunjuk jalan di atas tebing. Di tempat mereka berdua berdiri, mereka bisa melihat jalan yang menikung ke arah puncak“Kamu benar,” sahut AKP Aditya. “Mereka berdua menabrak pagar pembatas itu dan jatuh terguling sampai ke tempat ini. Kurasa seperti itu. Ini bukan kasus yang pertama kali. Jalur puncak itu memang rawan.”AKP Jodi membungkuk meneliti mayat korban dan mencari bukti yang tercecer yang mungkin ada di sekitar korban.“Sepertinya mayat ini sudah lebih dari tiga hari,” komentarnya.“Kita tunggu saja sampai petugas forensik datang dan menelitinya” timpal AKP Aditya.Beberapa lama kemudian setelah TKP sudah dibersihakan dan mayat sudah dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi, AKP Aditya bersama para rekannya kembali ke kantor untuk pemeriksaan lanjutan.“Rio Raymond dan Krista Marina,” kata AKP Aditya sembari memeriksa dua KTP korban.“Dan mereka berdua adalah sepasang suami istri pemlik sebuah perusahaan swasta di daerah Tangerang.” sahut AKP Jodi yang sedang mengecek data di depan komputernya.“Diketahui keluar dari apartemen mereka sejak hari Minggu pagi sekitar pukul sembilan pagi” tambah AKP Rudi sambil menaruh kembali gagang telepon pada tempatnya.“Sebaiknya segera hubungi keluarga korban,” timpal AKP Aditya.****
Usai kuliah Arwen dan Dinar duduk di kantin. Arwen hanya mengaduk-aduk makanannya. Perasaan tak enaknya semakin menjadi-jadi. Dinar yang sedari tadi fokus dengan makanannya, mendongak heran menatap sahabatnya.“Ada apa?” Sendok Dinar terhenti di udara. “Arwen,” Panggilnya. Sahabatnya itu tidak mendengarnya. Dinar menjawil lengannya.“Ap-apa?” Arwen tersentak.“Kamu kenapa?”“Aku? Nggak. Nggak ada apa-apa,” jawab Arwen sambil membetulkan posisi duduknya dengan canggung. Tapi pandangan Dinar jelas tidak mempercayainya. “Aku cuma kepikiran orangtuaku,” lanjutnya. “Mereka nggak memberiku kabar sejak hari Minggu. Padahal mereka janji akan menghubungiku. Aku khawatir.”“Mungkin mereka sedang sibuk dan belum punya kesempatan buat menghubungimu.” Dinar mencoba menenangkannya. “Kamu baik-baik saja? atau kita batalkan saja rencana kita nanti?” “Nggak usah. Aku nggak apa-apa. Kita berangkat sekarang saja bagaimana?”Setelah membayar, mereka berjalan di koridor menuju tempat mobil Dinar diparkir. Udara siang membuat Arwen bertambah pusing.“Kamu benar nggak apa-apa?” Dinar mulai cemas. Mereka sudah berada di dalam mobil. “Kamu terlihat pucat.”Arwen hanya menggeleng.Mobil Dinar mulai meluncur ke sebuah mal di tengah kota. Arwen menemani Dinar yang rupanya bingung memilih-milih buku karena bolak-balik melirik cemas ke arah sahabatnya. Arwen hanya diam saja mengikuti Dinar ke sana kemari, dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sampai lupa bahwa dia sendiri juga perlu membeli buku baru.“Oh, sudahlah. Lain kali saja aku membeli bukunya.” Seru Dinar putus asa karena Arwen tak kunjung menjawab ketika dia menanyakan pendapat tentang buku yang akan dibelinya.“Kenapa?” tanya Arwen bingung. “Maaf aku sedikit melamun,” tambahnya cepat-cepat ketika menyadari kesalahannya. “Teruskan saja aku nggak apa-apa.”“Nggak usah,” jawab Dinar tegas. Dia meletakkan kembali buku yang dipegangnya ke tempat semula dan menggelendeng Arwen keluar toko. “Aku akan mengantarmu pulang Arwen. Kamu tampak sakit.”Arwen tidak membantah. Dia pasrah digelendeng keluar toko oleh sahabatnya. Toh, pikirannya memang sedang kacau balau dan terbang ke mana-mana. Di perjalanan dia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Pikiran buruk tentang orangtuanya selalu terlintas di benaknya. Dia berusaha keras menepisnya.Mobil Dinar mulai melambat dan berhenti tepat di depan rumahnya. Arwen tersentak dan cepat-cepat membuka pintu mobil.“Thanks Dinar, maaf, sudah mengacaukan rencanamu hari ini.”“Lupakan saja. Kita kan bisa keluar lain hari, aku cuma mau beli buku,” ujar Dinar “Aku tahu bagaimana perasaanmu Arwen. Kamu sudah mencoba menghubungi mereka?”“Aku dan Trinita sudah mencobanya tapi ponsel mereka selalu nggak aktif. Dan semua ini membuatku cemas. Mereka nggak pernah seperti itu.”Dinar memandangnya penuh prihatin. “Tetaplah berpikir yang positif Arwen. Mungkin mereka sedang ada halangan atau yang lainnya. Semoga mereka cepat mengabarimu.”“Trims Dinar,” jawab Arwen. Senyum terkembang pada bibir merahnya.Dinar mengangguk dan dengan satu pandangan prihatin ke arah sahabatnya, dia mulai menginjak pedal gas mobil dan kembali menyusuri jalan dengan pelan. Arwen memandangnya sampai menghilang ke tikungan kemudian berjalan pelan-pelan masuk ke rumah.“Sudah pulang, Sayang?” sapa Oma, membuatnya terlonjak. Wanita yang disayangi Arwen itu sedang duduk di kursi panjang taman, cangkir teh tergenggam erat di tangannya dan telepon rumah tergeletak di meja depannya. Di sampingnya ada sepiring biskuit.“Oma.” Arwen menghampirnya lalu duduk di sebelahnya.“Bagaimana kuliahnya?”“Baik.” Jawab Arwen.“Apa mereka sudah menghubungimu?” Oma melanjutkan dan Arwen menggeleng. “Semoga mereka baik-baik saja. Perasaanku nggak enak.” Oma berkata sambil menerawang jauh.“Aku juga merasa begitu Oma, semoga mereka baik-baik saja.”Mereka berdua melewatkan sore itu dengan duduk di taman, menikmati senja tanpa bicara apa pun. Mereka terlalu sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya suara kecipak ikan di kolam di samping kursi yang mengisi keheningan.Lama kemudian telepon di atas meja berdering. Membuat mereka berdua terlonjak kaget. Arwen segera menyambarnya, nomor tak dikenal muncul pada layarnya.“Halo,” jawab Arwen. Jantungnya meronta-ronta aneh.“Halo, apa benar ini nomor rumah keluarga Raymon?” kata seorang pria bersuara berat di ujung sana .“Iya, benar. Ini dengan siapa?”“Saya dari kepolisian Jakarta. Boleh saya tahu, dengan siapa saya berbicara sekarang.“Saya Arwen. Saya putri Bapak Raymon. Ada masalah apa ya?”“Baik saudari Arwen. Maaf sebelumnya mengenai hal ini, tapi kami harus menyampaikan berita yang sangat tidak menyenangkan. Bapak Raymon dan Ibu Krista ditemukan meninggal karena kecelakaan.”“Apa?” seru Arwern. “Mama dan Papa meninggal?”“PRAANGG….”Arwen menoleh dan melihat Oma jatuh tersungkur mencengkeram dadanya. Cangkir tehnya hancur berkeping-keping."What's so funny?" Adrian looked up from his phone, still wearing that faint, private smile. It transformed him—softened the hard angles, made him look almost boyish. Almost human. Elera hadn't seen him smile like that. "Nothing," he said. "I'm... managing something." He said with a small deep laugh. Serena. The He pocketed the phone. The moment passed. But Elera stored it away—that smile, its recipient, the way it had arrived and vanished like a creature afraid of light. Serena. She said nothing. --- The boat cut through turquoise water, the mainland long since swallowed by haze. Elera gripped the rail, salt wind stripping the perfume from her hair, and watched the island take shape on the horizon. Private. Unmarked. No name on any map she could find. Adrian stood beside her, one hand braced on the console, utterly still. He hadn't touched her since they boarded. Hadn't performed a single gesture for an invisible audience. She didn't know if that made it
The Blackwood Tower elevator descended in silence. Rowan stood with his hands clasped loosely behind his back, a posture of patience, of control. Beside him, Mila Ivers scrolled through her phone with the aggressive focus of someone who refused to admit they were nervous. She wore similar cream silk blouse from yesterday, tailored trousers, heels that clicked against the marble lobby like a metronome counting down to something. She came prepared to fight, Rowan thought. Not to leave. Neither of them spoke as the town car pulled up. He opened the door. She slid inside without looking at him. The airport was a private one, small and unmarked, the kind that existed in the margins of maps and never appeared in flight trackers. Mila didn't comment on it. She also didn't comment on the Gulfstream waiting on the tarmac, sleek and gray, no visible registration. "Subtle," she said finally. Rowan inclined his head. "Yes Miss, it's better that way." "Mila". "Call me Mila". --- The ca
Rowan Cole had dealt with threats before. They usually came wrapped in legal language, quiet bribes, men or women who believed volume could replace leverage. Mila was none of those things. She didn’t shout. She didn’t pace. She sat across from him in the private lounge of Blackwood Tower, one leg crossed over the other, phone resting loosely in her hand as if it were nothing more than an accessory. The city glowed behind her through the floor-to-ceiling glass, all money and secrets and height. She smiled at him. That was the problem. “You’re ignoring me,” she said lightly, as if commenting on the weather. “Which tells me one thing.” Rowan didn’t respond. He took a measured sip of his espresso, eyes steady on her face. Calm was his currency. He never spent it early. “That you know exactly where she is,” Mila continued. “And you think if you stay quiet long enough, I’ll go away.” Her smile widened. Not warm. Calculated. “I don’t go away.” Rowan set the cup down. “Miss Ivers
The morning after the gala felt like waking up from a nightmare different world. Adrian wasn't next to me.He usually never was, My body ached from the tension of holding a smile for hours, my mind replayed Serena’s whispers on a loop, but more importantly how I didn't belong here. I really needed to find Claire, wherever Adrian was hiding her. I don't know how long I just... sat there, till I noticed the note left on his pillow in sharp, slanted handwriting: "I'll be home early, The jet leaves at 12 PM. Do not be late, little lamb.”I almost rolled my eyes I dragged myself up to pack, only to find it stripped bare. All my things—the few I’d brought and the many he’d bought—had been moved to his walk-in closet. His suits and shirts hung like silent sentinels beside my dresses. The intimacy of it felt violating. My phone, left charging on the bedside table, buzzed incessantly. The screen was a flood of notifications from Mila. Mila: ELERA PICK UP. Mila: WHERE ARE YOU??? M






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews