Share

Sang Pilot

            Kania menghentakkan sepatu boot kulitnya ke tanah berpasir. Matahari berada di titik kulminasi, membuat hawa panas menyengat semakin terasa. Terlebih di antara pohon sawit muda yang tingginya kira-kira baru dua meter. Kania menyusuri jalan setapak di sela-sela pokok tanaman sawit. Barry dan dua orang staff kebun mengekor di belakangnya. Sejak pagi ia dan Barry sudah berangkat menuju area perkebunan, menjelajah ke lokasi blok pepohonan sawit dan infrastruktur yang mendukungnya.

            Kania sibuk menjelaskan kepada atasannya secara detail proses-proses pemeliharaan tanaman sawit dan kendala-kendala yang dihadapi oleh para pekerja. Sesuai catatan Pak Prasetya tempo hari, Barry memang cukup cerdas, menangkap semua hal baru dengan cepat.

            “Kita bisa ke lokasi pemupukan pesawat sekarang, Pak?” tanya Kania kepada manajer lapangan.

            “Bisa, Bu. Mari, jaraknya tidak terlalu jauh dari sini, kebetulan hari ini ada jadwal pemupukan menggunakan pesawat.” Sang manajer memimpin langkah mereka kembali menuju mobil Fortuner yang terparkir di tepian blok tanaman sawit,

***

            Berkendara selama sepuluh menit, akhirnya mereka sampai di lokasi yang dimaksud. Kania dan Barry berjalan beriringan menuju landasan pacu mini di tengah blok pepohonan sawit, mengikuti langkah sang manajer.

            Dari kejauhan, di langit tampak titik hitam yang lambat laun menjadi besar. Semakin besar mendekati landasan pacu. Rombongan Kania yang berada cukup dekat dengan landasan pacu mengamati benda terbang itu sambil menyipitkan mata, menghalau sinar matahari yang cukup terik.

            “Itu, Bu, pesawat pupuk sebentar lagi mendarat.”

            Suara menderu mengikuti pesawat yang mendarat mulus di landasan pacu. Pesawat kccil bekabin sempit itu mulai mengurangi kecepatan hingga ahirnya berhenti di lokasi parkir yang telah ditentukan. Seorang pegawai segera mendekati pesawat yang telah berhenti sempurna.

            Pintu cockpit terbuka, seorang pilot keluar dengan cekatan. Lelaki berpostur tinggi itu turun dari pesawat, membuka helm, lalu menyodorkannya kepada pegawai yang telah menanti.

Jaket kulit yang dikenakan pria berkaca mata hitam itu mengkilat ditempa sinar matahari. Ia berjalan dengan gagah ke arah Barry dan Kania. Langkahnya pelan, tetapi pasti. Angin menyapu rambut bagian atasnya yang terlihat berantakan. Sambil melepas kacamata hitam, ia mendekat.

            “Kemana saja kalian?” suara bariton pria itu menggelegar.

            “Pak Marlo?” tanya Kania terkejut, tidak menyangka pilot handal itu adalah Marlo.

            Barry mendengkus kesal.

            Kania menyesal sempat terkagum-kagum pada pilot yang terlihat gagah. Seandainya ia tahu yang membawa pesawat adalah tuan muda Marlo, sang komisaris bermulut pedas. Ia tentu tidak akan menanti sang pilot dengan mulut hampir menganga. Rupanya sang komisaris sengaja menyombongkan diri.   

            Kania teringat pertemuan tadi malam, sesaat sebelum makan malam di rumah singgah.

            Sesuai permintaan Barry, Kania sudah standby di ruang tamu sebelum jam makan malam. Tubuhnya sudah bersih dan wangi. Celana denim dan sweater longgar membungkus tubuhnya yang ramping. Rambut lurus sebahu ia gerai menutupi tengkuk.

            “Gimana? Capek perjalanan jauh?” Barry muncul tiba-tiba, lalu segera mengambil posisi duduk di samping Kania.

            “Sudah biasa, Pak.”

            “Stop, tidak perlu panggil pak. Kita tidak sedang di kantor, panggil Barry saja. Oke?”                 Kania sebenarnya merasa sungkan, tetapi ia menganguk, menyadari bosnya yang satu ini tidak akan menerima penolakan. Lelaki berhidung mancung itu tampak segar dengan kaus polo berwarna biru gelap dan celana bahan berwarna khaki.

            “Seperti saya bilang dulu, saya mau kamu memberi tahu semua seluk beluk tentang perkebunan kita. Sampai hal sekecil apapun. Kita mulai besok pagi.”

            “Baik, Pak.”

            Barry menatap Kania dengan jengkel.

            “Ups, sorry, oke Barry.” Kania meralat ucapannya dengan kikuk.

            Barry tersenyum melihat Kania yang salah tingkah. Laki-laki itu kini menggeser duduknya lebih mendekat ke arah Kania. Kini, wanita itu justru semakin salah tingkah, ia bukan tipe wanita penggoda yang akan merasa senang didekati orang setampan dan setajir Barry. Ia ingin menggeser duduknya menjauh, tetapi takut tidak sopan. Akhirnya ia tetap duduk di tempatnya, memandang lurus ke arah televisi empat puluh inci yang menyala redup di depan mereka.

            Barry membentangkan tangannya jauh ke sandaran kursi Kania. Ia mengamati wajah Kania yang memerah.

            “Kamu tahu? Kamu cantik sekali, apalagi kalau sedang merona seperti ini,” ujar Barry tanpa basa-basi, membuat Kania semakin tersipu.

            Wanita itu hendak memprotes kelakuan bosnya yang membuat jengah. Namun, tiba-tiba suara bariton terdengar dari arah pintu masuk.

            “Heh, ngapain kalian? Jam segini sudah ada di sini?” Laki-laki jangkung itu medekat ke ruang tamu diikuti oleh Damar, ia memperhatikan Barry dan Kania bergantian. “Enggak kunjungan ke pabrik? Pabrik itu justru banyak aktivitas di malam hari begini. Kamu tahu itu, kan, Kania?”

            Wanita bersweater longgar itu seperti ditegur oleh Kepala Sekolah. Kenapa justru dirinya yang salah di mata Marlo?

            Pandangan lelaki jangkung itu menusuk sampai ke dalam hati. Posisi duduk Kania yang merapat pada sang CEO baru itu mungkin menimbulkan kesan  yang kurang bagus. Namun, itu bukan keinginannya. Pandangan Marlo yang jijik, menuduh seolah-olah ia yang mengambil kesempatan bersama Barry.  

Ia menatap dengan jengkel pria jangkung dengan tatapan angkuh itu. Ingin memprotes, tetapi sadar tidak akan ada gunanya.

            “Selamat malam, Pak Marlo. Bapak baru dari pabrik?” Kania berdiri menyapa sang Komisaris sekilas, dan mengangguk kepada Damar.

Wanita itu segera berlalu ke ruang makan mengecek kesiapan acara makan malam mereka. Ia meninggalkan kedua kerabat itu sendiri, membiarkan mereka dengan konflik internal mereka. Ia tidak mau ikut campur.

            Selanjutnya acara makan malam dimulai dengan suasana yang kikuk. Kania dan Damar merasa terjebak di antara atmoser kedua atasan mereka yang berkerabat, tetapi terasa bagai musuh. Selesai makan malam, setelah para bos beranjak,  Kania segera mengajak Damar untuk segera pergi dari ruang makan. Mereka keluar ke halaman untuk menghirup udara segar.

            “Oom Marlo! Katanya mau ke kebun sebelah?” tanya Barry keras, mengembalikan lamunan Kania ke dunia nyata.

            “Iya, aku memang ke kebun sebelah. Jadwal pilot yang melakukan pemupukan dari kebun sebelah sampai ke kebun ini terganggu, karena yang bersangkutan mengalami kecelakaan ringan di bengkel,” jawabnya ketus.

            “Pak Manajer, tolong itu marka di sebelah barat dipertebal lagi catnya! Sudah mulai luntur, bisa bahaya itu!” ujarnya pada manajer, seolah sengaja tidak menanggapi Barry lebih lanjut.

            Sang manajer segera mengangguk mengantisipasi omelan sang atasan berlanjut. “Baik, Pak, segera dikerjakan.”  

            Manajer segera memanggil beberapa pegawai, memberikan instruksi singkat kepada pegawai untuk segera mencat ulang mareka saat itu juga.

            Marlo mengangguk puas.

            “Sudah waktunya makan siang. Kalian nggak keberatan, kan, kalau saya numpang mobil kalian sampai ke rumah singgah?” Marlo menatap Barry dan Kania bergantian.

            Barry mengangguk dengan kesal. Sejak kecil, ia merasa Marlo tidak ramah padanya. Sebenarnya bukan padanya saja. Marlo tidak pernah ramah kepada semua orang. Namun, ia merasa Marlo sangat tidak suka kepada dirinya maupun sang ibu. Entah untuk alasan apa, ia pun tidak tahu.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status