LOGINKania--seorang single parent, muda, luar biasa menawan, jenius, anak emas perusahaan --terpikat pada pandangan pertama dengan CEO baru yang baru saja naik tahta. Saat ia mengetahui sang CEO tampan pun tertarik padanya, ternyata seorang petinggi perusahaan yang selama ini dibenci juga ikut memperebutkan cintanya. Tanpa ia sadar dirinya telah terbawa pada intrik perebutan kekuasan di kerajaan bisnis tempatnya bekerja. Mampukah ia menghadapi pesona dua pria tampan berbeda karakter itu?
View MoreInternational Senior High School, Jakarta.
Katya Cessa Martin, atau yang biasa dipanggil Katya, ia adalah murid kelas satu Senior HighSchool International Jakarta.
Sekolah ini menjadi salah satu sekolah ter-elite di Indonesia, karena bangunannya yang luas lima tingkat dan megah serta fasilitasnya yang lengkap, modern dan juga mewah. Sekolah ini mempunyai lapangan bola sendiri dan bangunan olah raga terpisah dari bangunan utama. Guru yang mengajar di sekolah ini sudah pasti guru berkualitas dengan sertifikasi mengajar tidak diragukan lagi. bahkan kebanyakan dari mereka adalah guru dari luar negeri.
Paras Katya sangat cantik karena blasteran, berkulit putih dengan rambut hitam legam membuatnya cukup dikenal di sekolah.
Ini hari pertamanya masuk sekolah setelah libur panjang, teman-teman SHSnya adalah teman JHSnya dulu, jadi untuk Katya ia sudah mengenal teman teman sekelasnya dan sudah tidak asing lagi.
Hari itu Katya masuk ke kelas dan ia memilih untuk duduk di mana, langkahnya berhenti di deretan bangku paling tengah, Ia pun menarus tas sekolahnya kemudian duduk sambil melihat ke depan. Di dalam kelas tidak ada siapapun hanya dia sendiri. Katya berfikir, Sepertinya ia terlalu pagi datang ke sekolah.
Iapun melipat kedua tangannya kemudian menidurkan kepala di atas tangannya yang terlipat serta memejamkan matanya sejenak.
Suasana Hening menyelimuti kelas kosong tersebut.
"Katya?" sayup sayup seseorang memanggil namanya.
Katya sendiri tidak langsung mengangkat kepalanya. untuk sejenak Ia hanya mengerjapkan mata berkali kali dan tidak terlalu mengindahkan suara yang memanggil namanya, tapi ia menajamkan indra pendengarannya beberapa detik kemudian, memastikan kembali.
"Katya Cessa Martin?"Suara berat seorang laki-laki terdengar kembali memanggil namanya sekali lagi dengan lebih jelas, Katya kemudian menegakkan tubuh serta mengedarkan pandangannya kesetiap penjuru ruangan mencari asal muasal suara tadi. Matanya melihat seorang laki-laki tinggi berdiri di ambang pintu melihat kearahnya dengan tatapan tajam.
"Hmm?" Tanya Katya ragu.
Apa benar anak laki-laki itu yang memanggil namanya? Sejak kapan ada orang didalam kelas ini selain dia? Pikir Katya.
Katya tidak mendengar orang lain masuk ke dalam kelas padahal suasananya masih sepi dan tidak terdengar bunyi apapun.
"I...ya, kamu memanggilku?" Katya melihat anak laki-laki itu berjalan mendekat padanya. Dengan satu tangan di masukan ke saku, anak laki laki itu terlihat kalem, dengan wajah kaku tanpa ekspresi, rambutnya yang hitam sangat selaras di kulitnya yang kecoklatan, Badannya yang tinggi membuat Katya sedikit menengadah menatap wajah laki laki yang berdiri didepannya itu.
Katya baru pertama kali melihat wajah laki laki itu, Sepertinya dia bukan angkatannya karena tidak familiar.
Seperti dirinya, anak laki-laki itupun sepertinya blasteran dan terlihat tampan dimata Katya.
"Aku Aeron, Aeron Danadyaksa." Anak laki-laki itu memperkenalkan dirinya sendiri di depan Katya, sambil menundukan kepalanya sedikit, ia dapat melihat wajah kebingungan perempuan didepannya dengan jelas.
"Iya? apa aku mengenalmu? Apa kita saling mengenal?" tanya Katya ragu.
"Tidak, tapi aku mengenalmu." jawabnya datar dengan suara berat dan kaku.
Katya memiringkan sedikit kepalanya, bertanya-tanya ada maksud apa anak laki laki bernama Aeron ini mendatanginya ke kelas sampai menyapanya, ia bahkan tidak mengenalnya laki-laki ini sama sekali.
Aeron menunduk dengan meletakan kedua tangan pada meja yang menjadi pembatas mereka. Tubuh tingginya mulai membungkuk demi mendekatkan wajahnya pada Katya yang tertegun menatap ketampanan wajah rupawan di hadapannya itu. Bibir tipisnya sedikit terbuka sehingga aroma mint mulai menjelajahi indera penciuman Katya, lalu suara berat itu terdengar berbisik dan lebih mendekat padanya sebelum berbicara.
"Katya Cessa Martin, kau mau jadi pacarku?" tanya Anak laki laki itu tiba tiba.
Marlo melirik rekan seperjalanannya yang sudah terlelap. Baru beberapa menit yang lalu mereka berpamitan dengan Anjani, Damar, dan Divia, tetapi Kania sudah lelap. Tangan kanan lelaki itu masih memegang erat setir mobil yang melaju pelan menuju gerbang tol. Antrian mobil cukup panjang. Sudah biasa terjadi di akhir pekan. Puluhan bahkan ratusan mobil bernomor plat Ibu Kota akan memadati jalur lingkar luar dari arah pinggir menuju dalam kota, bersiap untuk beraktivitas kembali keesokan hari setelah menghabiskan akhir pekan di luar kota.Tangan kiri lelaki berjaket kelabu itu berhasil menyingkirkan sejumput rambut yang jatuh di tulang pipi Kania. Diam-diam ia memperhatikan wanita cantik yang tertidur di bangku sebelahnya. Dada Marlo sesak karena bahagia. Tak lama lagi mereka akan disatukan dalam pernikahan. Sebelumnya ia tidak pernah merasakan yang namanya cinta. Dulu ia pikir jatuh cinta hanya dialami oleh orang yang lemah. Namun, kini ia sadar, cinta bisa sangat
Arifin Arsena memacu mobil jeepnya dengan kecepatan mendekati seratus kilometer per jam. Arus macet dari jalur pinggir kota menuju pusat, berlawanan arah dengan laju mobilnya, hingga dengan mudah ia memacu mobil kesayangannya membelah malam di hari Minggu. Lelaki paruh baya itu melirik arloji tuanya yang sudah menunjuk angka sepuluh. Perawakannya yang tegap, tinggi, dan gagah memang sangat pas duduk di kursi pengemudi mobil dengan roda besar itu.Mobil itu adalah mobil kesayangannya yang didapat pertama kali dari jerih payah bekerja sebagai tangan kanan jutawan terkenal, Erlangga Hadinegoro. Sudah lama sekali, sejak pertama kali ia bertemu dengan lelaki tangguh, pengusaha kawakan pendiri Hadinegoro corp itu. Kala itu, Arifin yang mantan personil seragam hijau sedang dalam kondisi terpuruk. Ia diberhentikan dari satuan tugasnya karena sebuah kasus pidana. Bukan kasus tanpa sebab, ia tidak menyesal dikeluarkan. Satu hal yang diyakininya adalah kesetiaan dan pengor
Divia mengamati Damar yang sedang sibuk membongkar kotak kayu di ruang makan. Kedua tangan lelaki itu menarik tuas kecil di bagian depan kotak kayu yang sepertinya sedikit macet. Tiga kali hentakan kuat, akhirnya kotak kayu itu terbuka."Kotak apa itu?" tanya Divia sambil menjulurkan kepalanya melongok ke bagian gelap kotak kayu.Belum ada jawaban dari Damar. Tangan lelaki itu meraba raba ke dalam kotak."Kamu mau nunjukin apa, sih? Penasaran loh, aku!" Divia melipat kedua lengannya di depan dada.Akhirnya Damar meraih sesuatu dari dalam kotak. Ia mengangkat selembar kertas berwarna pudar. Ia tersenyum, lalu menyodorkan kertas berisi gambar itu ke arah Divia."Lihat ini," ujarnya.Divia semakin mendekat, meraih lembaran itu, lalu mengamatinya dengan seksama."Foto? Foto siapa ini? Wanita cantik ini jelas Ibu kamu." Divia mengamati tiga so
Barry keluar dari kamar mandi dengan wajah terlihat lebih segar. Handuk kecil melilit bagian lehernya. Lima menit yang lalu, pelayan sudah membawakan jus apel lemon ke kamar.“Ini, minum jusmu!” Clarissa menyodorkan minuman dingin berwarna terang dengan gelas tinggi ke hadapan Barry. “Masih pusing?” tanya wanita itu melihat dahi Barry berkerut.Barry mengangguk lalu menerima segelas jus buah dari ibunya. Menenggaknya dalam beberapa teguk. “Makasih, Ma.”“Hm, sekarang duduk, Mama mau ngomong.”Lelaki muda itu menurut, meletakkan gelas tingginya yang kini kosong ke meja, lalu duduk di ranjang. Ia mengusapkan handuk kecil beberapa kali ke dahinya yang sedikit basah.
Clarissa bergeming di tempat duduknya, sebuah sofa tunggal dari bahan beledu cantik, warnanya senada dengan nuansa kamar tidur yang keemasan, terkesan mewah dan glamor. Mata wanita cantik itu menerawang jauh. Kacamata berbingkai emas yang ia kenakan tidak dapat menyembunyikan matanya
"Menurut kamu, Divia sudah tahu mengenai identitas Damar?" Kania melirik ke arah Marlo yang sedang menyetir di sebelahnya."Entahlah, mungkin sudah. Sepertinya hubungan mereka semakin akrab, aku mencium bau romantis di antara mereka."Sontak Kania tertawa terpi
Divia baru saja selesai melakukan aktivitas rutin di akhir minggu. Pagi tadi ia sudah berangkat ke fitness center, melakukan yoga sekitar sejam lamanya. Kini setelah mandi dan sedikit bersolek di ruang ganti fitness center, ia menjejakkan kakinya ke lorong mal yang masih sepi. Pusat kebugar
"Mama!" Gadis kecil itu berteriak, berlari ke arah Kania. Sedetik kemudian Kania limbung karena tubuh kecil nan energik itu menghantam bagian bawah tubuhnya.Gadis kecil itu terkikik girang, membuat Kania langsung menangkap dan menggendongnya di lengan."Aduuuh,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore