Home / Romansa / The Day We Do It / Bab 24 - Keputusan Berat

Share

Bab 24 - Keputusan Berat

Author: Anidania
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-25 16:50:14

"Leo!" Suara di ujung telepon terdengar melengking, sarat akan kecemasan sekaligus nada tak senang. "Kamu ini sebenarnya sedang apa di sana?! Ibu baru dapat kabar dari kantor kalau kamu nekat turun langsung ke lokasi bencana!"

Leo menghela napas pendek, matanya melirik ke arah tangan kanannya yang terbalut plester—sebuah luka kecil yang untungnya belum terendus oleh ibunya.

"Ibu, kabar dari mana itu? Saya baik-baik saja. Ini cuma peninjauan biasa untuk memastikan kondisi awal pasca bencana," sa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • The Day We Do It   Bab 31 - Jawaban dari Leo

    "Berapa harga yang Ibu bayar sampai Anda mau berdiri di depan pintu saya malam-malam begini, Raia?"Pertanyaan dingin itu menyambut Raia bahkan sebelum pintu kamar sepenuhnya terbuka. Leo berdiri di ambang pintu, menatap lurus cangkir teh di tangan Raia dengan sorot mata penuh kekecewaan.Dada Raia berdesir perih. "Saya hanya membawakan teh hangat, Pak," lirihnya halus.Leo memejamkan mata sejenak, menghembuskan napas panjang seolah mencoba meredam rasa frustasi di dalam dadanya. Tanpa menyambut cangkir itu, ia melangkah pergi."Bawa ke balkon," titah Leo singkat, melangkah menuju pintu kaca yang menghubungkannya dengan balkon di lantai dua.Raia menurut. Ia mengekor dengan langkah pelan. Begitu pintu terbuka, hawa dingin menerpa tubuh Raia, selaras dengan dinginnya hawa di rumah itu.Leo berjalan menuju pagar pembatas, menyandarkan kedua sikunya di sana sembari menatap hamparan taman luas di bawahnya.Sementara Raia meletakkan cangkir teh di atas meja, lalu berdiri dua langkah di bel

  • The Day We Do It   Bab 30 - Keputusan Bulat, Leo.

    Panggilan pelayan satu jam kemudian menyudahi renungan panjang Raia. Dengan langkah hati-hati, ia turun menuju ruang makan yang begitu megah."Duduk, Raia," panggil Ibu Rica di ruang makan, mengisyaratkan Raia untuk duduk di kursi sebelah Leo.Raia mengangguk. Ia duduk di sebelah Leo, melirik pria di sampingnya yang hanya mengenakan pakaian santai dan fokus menyantap makanannya dengan tenang, ia larut dalam pikirannya sendiri tanpa ingin membuka obrolan.Suasana makan malam berlangsung sunyi, hanya diiringi denting alat makan yang saling beradu. Hingga akhirnya, di penghujung makan malam, Ibu Rica meletakkan serbetnya perlahan. Ia menatap putra tunggalnya begitu dalam."Leo...," panggil Ibu Rica memecah keheningan. "Bagaimana perkembangan kerja sama perusahaan kita dengan perusahaan milik Nona Evelyn? Semuanya lancar, kan?"Leo mendongak, mengelap bibirnya dengan tisu sebelum menjawab singkat. "Lancar, Bu. Tim analis sudah menyelesaikan draft kontrak investasi untuk proyek minggu lalu

  • The Day We Do It   Bab 29 - Dilema Perasaan Raia...

    Raia bergeming, merasakan dinginnya jemari Ibu Rica yang memegang tangannya erat. Wanita di hadapannya kini bukan lagi Komisaris Utama Vaneric Group yang ditakuti semua orang, melainkan seorang ibu yang panik dan putus asa menghadapi jalan hidup yang dipilih putra tunggalnya.Raia menghela napas pelan, lalu membalas genggaman tangan Ibu Rica tak kalah erat. "Bu Rica..." panggil Raia lembut. "Sepertinya ... perjodohan bukan lagi cara yang bisa kita pakai. Pak Leo memang tidak bisa dipaksa untuk urusan seperti itu," jelas Raia, menggelengkan kepala sembari menatap Bu Rica lekat.Ibu Rica tertegun, air matanya berhenti seketika. Bahunya terkulai lemas saat menyadari kebenaran dari ucapan Raia."Lalu ... dengan cara apa lagi, Raia?" bisik Ibu Rica serak, matanya menatap Raia dengan tatapan memohon. "Kalau bukan dengan perjodohan, dengan cara apa lagi Ibu bisa menahan Leo agar tidak pergi?"Raia menelan ludahnya dengan susah payah. "Pak Leo tidak bisa ditahan dengan sebuah kewajiban atau a

  • The Day We Do It    Bab 28 - Permintaan Untuk Raia

    Raia mendongak, tangannya saling bertaut, menguatkan mentalnya. "Iya, Bu Rica..."Ibu Rica mendekat, mengikis jarak hingga berdiri persis di depan Raia. "Kamu dibayar mahal oleh perusahaan ini bukan hanya untuk mengurus jadwal dan mengetik dokumen perusahaan.""Bu, Raia di sana justru sangat membantu—" potong Leo, menyela."Leo, biarkan Ibu bicara dengan sekretaris kamu," potong Ibu Rica tanpa memalingkan pandangan sedikit pun dari Raia."Tugas utama kamu sebagai sekretaris pribadi adalah menjaga keselamatan, keputusan, dan batasan aktivitas Leo," lanjut Ibu Rica, menunjuk dada Raia dengan ujung telunjuknya. "Kalau Leo bertindak nekat dan ingin bertahan di tempat berbahaya seperti kemarin, kamu harusnya jadi orang pertama yang melarangnya! Kamu harusnya menarik dia pulang, bukan malah membiarkan dia bertaruh nyawa di sana!"Raia menelan ludahnya yang kini terasa pahit. "Maafkan saya, Bu Rica. Saya—""Sudah, Bu," potong Leo cepat. Pria itu melangkah mendekati keduanya, memotong jarak s

  • The Day We Do It   Bab 27 - Dan Kamu, Raia.

    "Dadaaa Ibu Raia! Dadaaa Pak Leo!"Raia melambaikan tangannya dari balik kaca jendela dengan mata berembun. Leo menatap Raia sekilas, pria itu membantu memasangkan headset peredam kebisingan ke telinga Raia, dan memastikan rambut sekretarisnya tidak tersangkut."Sudah, Raia...," ucap Leo, sembari menggunakan headsetnya. "Semua tugas kamu selesai dengan sempurna. Anak-anak pasti ingat semua kebaikan kamu."Penerbangan selama dua jam berjalan dalam keheningan, baik Raia maupun Leo berkutat dengan pikirannya masing-masing. Namun, saat helikopter mulai menurunkan ketinggian, Raia menyadari di bawah mereka bukan deretan gedung bertingkat tempat Vaneric Group berdiri. Helikopter itu justru bergerak menuju kawasan perumahan elit yang amat luas, bersiap mendarat di helipad pribadi di atas rooftop kediaman mewah milik Ibu Rica.Raia menegakkan duduknya, menatap keluar jendela dengan dahi berkerut. "Pak Leo ... bukankah seharusnya kita mendarat di kantor? Kenapa rutenya ke rumah Ibu Rica?"Le

  • The Day We Do It   Bab 27 - Perpisahan...

    Deg.Jantung Raia berdegup kencang, seakan ingin lompat dari dadanya. Sensasi dingin mendadak menyerang jemarinya, bercampur dengan rasa tak enak hati. Pikirannya kalang kabut, Bagaimana bisa ia tertidur bersandar di bahu atasannya sepanjang malam? Bagaimana jika Leo merasa terganggu atau bahunya terasa pegal?Dengan sangat hati-hati, Raia berusaha menggeser tubuhnya. Namun, sebelum ia bisa melakukan, kelopak mata Leo perlahan mulai terbuka—bertabrakan dengan manik mata miliknya yang membelalak panik."P-Pak Leo!" Raia bergerak menjauh, hampir saja terjerembab kalau saja tangannya tidak sigap menahan dirinya di tepi velbed. Pipinya merah padam, bibirnya menyunggingkan senyum canggung. "M-maafkan saya, Pak! Saya ... saya benar-benar tidak sengaja tertidur di... di bahu Bapak!" jelasnya, tergagap.Tangannya sibuk meremas selimut, matanya bergerak liar menatap ke sembarang arah—menatap lantai tenda, melirik iPad di meja, menatap ujung velbed—asal tidak menatap ke arah Leo yang masih men

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status