Semua pertemuan yang diatur Raia berjalan buntu—seperti dugaannya. Entah yang pertama, yang kedua, ketiga. Gagal.Leo hadir, memang. Tapi sebagai seorang CEO. Namun, tatapan dinginnya menyiratkan jika ia tak tertarik dengan pembahasan yang mengarah ke kehidupan pribadi. Tidak ada satupun yang berhasil menarik Leo untuk bertahan lebih lama.Leo selalu menjadikan Raia tameng ketika ia merasa tak nyaman dengan kehadiran wanita-wanita itu. Ia akan memanggil Raia, menanyakan jadwal yang sangat padat, dan menyudahi pertemuan itu dengan alasan pekerjaan yang sudah menunggu.Bagi Raia, pemandangan ini sangat menyakitkan. Ia sudah berusaha untuk menyelamatkan masa depan Leo dengan sudut pandang sang ibu, namun, di sisi lain, ia sadar jika apa yang dilakukannya sia-sia. “Tumben sekali,” guman Leo tiba-tiba, ketika perjalanan kembali ke kantornya. Raia yang duduk di sampingnya, langsung menoleh dengan napas tertahan. “Maksud Bapak?”Leo mengetuk-ngetukkan jemarinya pada pahanya. “Dari tiga k
Last Updated : 2026-08-12 Read more