Share

Part 6

last update publish date: 2026-02-13 14:27:52

“Kamu siapa? Aku tak mengenalmu! Aku bukan Belladonna,” bantah Allegra pada pria yang mengacau di hadapannya.

“Tidak mengenalku?” Riccardo berkerut heran. “Bagaimana mungkin kamu mengatakan itu? Apa pria bajingan ini sudah mencuci otakmu?” Riccardo menatap Lorenzo begitu penuh kebencian. Urat-urat di lehernya menonjol saat dia mencoba merangsek maju. Namun, belum sempat dia menyentuh ujung gaun Allegra, dua pria bertubuh besar berbaju hitam sudah menghadang langkahnya dengan barikade tubuh yang kokoh.

​Allegra tersentak. Suara pekikan Riccardo yang penuh keputusasaan terdengar sangat kontras dengan musik klasik yang mengalun lembut di dalam palazzo. Dia menatap pria itu dengan ngeri, namun alih-alih merasa kasihan, ingatan tentang cerita Lorenzo di tebing tadi langsung berputar di kepalanya.

​Penghalang harta. Riccardo mencintai warisan lebih dari saudaranya. Dia menyabotase mobilmu.

Apa jangan-jangan pria ini adalah kakaknya? Allegra terus bertanya-tanya di dalam hati yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.

​Allegra lalu mundur selangkah, menyembunyikan tubuhnya di balik punggung lebar Lorenzo. Dia mencengkeram lengan jas suaminya begitu kuat.

​"Lorenzo... dia siapa? Apa dia pria yang kamu ceritakan tadi?" bisik Allegra dengan suara gemetar ketakutan.

​Lorenzo tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menatap Riccardo dengan dingin, sebuah tatapan predator yang sedang melihat mangsa yang tak berdaya. Dia merangkul bahu Allegra, seolah memagari miliknya dari bahaya yang dibawa pria itu.

​"Tenanglah, Cara," suara Lorenzo terdengar tenang, namun dinginnya meresap hingga ke tulang. "Ingat apa yang kukatakan? Orang-orang akan mengarang cerita untuk membawamu pergi."

​"Belladonna, dengarkan aku!" teriak Riccardo lagi, matanya mulai berair. "Dia membohongimu! Dia sudah mencuci otakmu! Dia sangat kejam! Lorenzo adalah penjahat!"

​"Cukup, Riccardo," ucap Lorenzo. Suaranya tidak keras, tapi sanggup membungkam seisi ruangan. "Kau sudah menghancurkan hidup adikmu satu kali dengan kecelakaan itu. Jangan hancurkan kewarasannya lagi dengan delusimu karena kau sudah jatuh miskin."

​Lorenzo kemudian menoleh ke arah Dante yang berdiri tidak jauh dari sana. Dengan isyarat mata yang nyaris tak terlihat, dia memberikan perintah tanpa kata. ​

Dante dengan sigap mendekat. Sebelum Riccardo sempat bereaksi, Dante sudah mencengkeram pergelangan tangan pria itu. Dengan satu pelintiran kuat, dia memutar lengan Riccardo ke belakang punggungnya hingga pria itu terbungkuk menahan nyeri.

​"Lepaskan aku! Bajingan kau, Lorenzo! Belladonna, lihat mataku! Aku kakakmu!" teriakan Riccardo semakin menjauh saat Dante dan anak buahnya menyeret pria itu keluar melalui pintu samping dengan kasar.

​Suasana kembali hening sejenak sebelum bisik-bisik tamu mulai terdengar. Mereka menatap Allegra dengan tatapan penuh simpati.

​Allegra masih mematung. Jantungnya berdegup sangat kencang. Pria tadi tampak begitu hancur, namun ketakutan Allegra pada kejahatan yang dilakukan keluarganya jauh lebih besar. Dia menatap Lorenzo yang kini sedang merapikan anak rambut di keningnya dengan sangat lembut.

​"Kamu lihat sendiri, bukan?" bisik Lorenzo tepat di telinganya. "Dia memanggilmu dengan nama lain. Dia mencoba membuatmu meragukanku. Begitulah iblis, Allegra. Mereka tidak datang dengan tanduk, mereka datang dengan air mata palsu."

“Jadi dia itu benar kakakku, Riccardo yang kamu ceritakan?”

“Tepat sekali. Tapi kamu tidak perlu takut. Ada aku yang menjaga di sisimu. Aku akan selalu melindungimu apa pun yang terjadi walau nyawaku sekalipun taruhannya.”

​Allegra mengangguk pelan, air mata haru menetes di pipinya. Dia merasa sangat terlindungi. Dia begitu beruntung memiliki Lorenzo. Suaminya itu tidak hanya tampan, tapi juga baik hati, berjiwa sosial yang tinggi, dan sangat dermawan, jadi wajar jika banyak yang menginginkan kehancurannya, termasuk dengan merenggut Allegra dari sisinya dengan cerita palsu Riccardo tadi.

"Terima kasih, Lorenzo. Terima kasih karena sudah menjagaku dari orang tadi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tadi aku sendirian.”

Lorenzo tersenyum lembut. ​"Mari kita berdansa, Cara," ajaknya sambil mengulurkan tangannya. "Biarkan dunia tahu bahwa kamu adalah milikku, dan tidak akan ada satu pun yang bisa menyakitimu lagi.”

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Devil's Obsession   Part 66

    Katedral Reggio Calabria hari ini terlihat berbeda dari biasanya karena hari ini pernikahan Belladonna dan Francesco akan diselenggarakan. Ratusan tamu undangan yang terdiri dari pria-pria berjas mahal dengan tatapan sedingin es dan wanita-wanita bergaun indah yang memamerkan perhiasan berlian duduk di barisan kursi. Mereka bukan tamu biasa. Mereka adalah para pemimpin dan petinggi klan mafia terkuat di seluruh Italia. Di barisan depan, Alfonso dan Caterina duduk dengan senyum kemenangan yang dipoles begitu sempurna. Mereka sangat menikmati momen kejayaan keluarga mereka. ​Belladonna berdiri di depan altar. Dia tampak seperti patung lilin yang indah namun rapuh dalam balutan gaun pengantin putihnya yang cantik. Ekor gaun sepanjang tujuh meter menyapu lantai di belakangnya seperti sungai putih yang memisahkan barisan kursi tamu. Di sampingnya, Francesco Valenti berdiri tegap dengan setelan tuxedo hitam. Wajahnya yang tampan memancarkan arogansi dan kepuasan yang tidak terbendung. Ta

  • The Devil's Obsession   Part 65

    Hari itu kediaman Lorenzo menerima sesuatu dari pihak Francesco. Matteo segera memberikannya pada sang tuan. ​"Don, ada kiriman khusus dari Calabria. Langsung dari tangan kurir pribadi Francesco Valenti." ​Lorenzo tidak bergerak. Tatapannya terus tertuju ke luar jendela. "Buka," perintahnya singkat. ​Matteo meletakkan kotak di atas meja dan segera membukanya. Di dalam kotak tersebut terdapat sebuah undangan pernikahan yang sangat mewah. Nama Francesco Valenti dan Belladonna Valenti terukir timbul di sana. Namun, ada detail yang jauh lebih menyakitkan. Sebuah foto prewedding terselip di dalamnya. ​Foto tersebut menunjukkan Belladonna yang berdiri dengan anggun mengenakan gaun berwarna putih. Di belakangnya, Francesco berdiri dengan senyum kemenangan. Pria itu memeluk Belladonna dengan sangat mesra. Telapak tangannya menempel posesif di atas perut Belladonna yang besar, tempat di mana benih Lorenzo sedang tumbuh. ​Matteo menahan napas, menunggu ledakan murka Lorenzo. Ia sudah mem

  • The Devil's Obsession   Part 64

    Belladonna segera menghapus air matanya dengan kasar begitu mendengar derap langkah sepatu yang sangat dia kenali di lorong. Dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila. Dengan tergesa Belladonna masuk ke kamar lalu mengambil botol parfum di atas meja rias, sebuah pengalih perhatian yang payah, namun hanya itu yang terpikirkan olehnya.​Pintu pun terbuka. Francesco masuk dengan wajah yang tampak jauh lebih rileks.​"Hei," sapa pria itu lembut lalu berjalan mendekat dan berdiri di belakang Belladonna, menatap pantulan wajah wanita itu melalui cermin. "Maaf membuatmu menunggu. Urusan pelabuhan memang tidak pernah ada habisnya."​Belladonna memaksa sudut bibirnya terangkat, menciptakan senyum tipis yang dia harap tidak terlihat gemetar. "Tidak apa-apa. Aku baru saja ingin bersiap tidur."​Francesco meletakkan tangannya di bahu Belladonna, lalu perlahan turun mengusap perutnya yang besar. "Tadi itu makan malam yang menyenangkan, bukan? Ayah dan Ibu sanga

  • The Devil's Obsession   Part 63

    Francesco tidak membuang waktu. Pria itu membawa Belladonna ke Villa Valenti, kediaman utama keluarga besar mereka tempat orang tua Francesco tinggal.​"Tenanglah, mereka akan menyukaimu," bisik Francesco sambil menggenggam tangan Belladonna di dalam mobil yang melaju tenang.​Belladonna hanya diam. Dia tahu, di dunia seperti ini, menyukai adalah kata yang punya banyak lapisan makna. Dia membelai perutnya, merasakan kegelisahan yang sama dari janin di dalamnya.​Sesampainya di sana, kedua orang tua Francesco yaitu Alfonso dan Caterina langsung menyambut. Alfonso adalah pria tua dengan rambut perak yang disisir rapi, tatapannya tajam namun bibirnya tersenyum ramah. Sementara Caterina tampak sangat anggun dengan gaun beludru hitam dan kalung mutiara yang melingkar di lehernya.​"Ah, ini dia wanita yang membuat putraku rela membakar dunia," suara Alfonso menggelegar ramah. Dia merentangkan tangan, menyambut Belladonna seolah wanita itu adalah menantu kesayangan yang sudah lama dinanti.​

  • The Devil's Obsession   Part 62

    ​Belladonna sontak bangkit dari tempat tidur. Ditatapnya Francesco dengan mata membulat sempurna. Sebenci-bencinya Belladonna kepada Lorenzo, dia tidak mungkin menerima ide gila itu. ​"Menikah? Apa kau gila? Kau lupa statusku, Francesco? Di mata seluruh klan di Italia, aku adalah istri sah Lorenzo Castellano. Kita berada di tanah yang menjunjung tinggi sakralnya pernikahan, bahkan jika pernikahan itu dibangun di atas tumpukan kebohongan."Belladonna menjeda kata untuk mengatur napasnya yang sesak.Setelah berhasil menenangkan diri, dia kembali melanjutkan perkataannya. "Lorenzo tidak akan membiarkanmu. Dia akan menggunakan status suami sah untuk melegitimasi pembantaian terhadap klanmu. Kau ingin seluruh dunia melihatmu sebagai pria yang mencuri istri orang lain?"​"Kenapa kau jadi membelanya? Apa kau lupa? Lorenzo menikahimu saat kau amnesia. Dia menipumu. Dia memalsukan persetujuanmu karena kau tidak tahu siapa dirimu sebenarnya. Secara hukum sipil, aku sudah meminta pengacaraku u

  • The Devil's Obsession   Part 61

    Belladonna terbangun oleh tendangan keras di dalam perutnya. Lamat-lamat matanya pun terbuka. Ternyata hari sudah pagi. Belladonna tidak langsung bergerak dari tempat tidurnya. Tubuhnya terasa berat, seolah kelelahan emosional semalam telah menyedot seluruh energi fisiknya. Dia membetulkan posisi berbaring dengan menumpuk bantal sedikit lebih tinggi.Bersandar pada tumpukan bantal lembut, Belladonna menyapukan telapak tangan di atas permukaan perutnya yang buncit. Gerakan janin di dalamnya berangsur tenang. Lalu pikirannya kembali pada kejadian kemarin malam. Pada saat dia menyakiti Lorenzo dengan cara melumat bibir Francesco dengan begitu mesra.Dia ingat tatapan mata Lorenzo yang memerah dan menyiratkan luka sedalam samudera. Belladonna tahu persis, di dunia mafia yang brutal, penghinaan seperti itu jauh lebih menyakitkan daripada peluru tajam yang menembus daging. Dia sengaja melakukannya. Dia ingin Lorenzo merasakan penderitaan yang sama dengan apa yang dirasakannya saat mengetahu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status