FAZER LOGIN“Kamu siapa? Aku tak mengenalmu! Aku bukan Belladonna,” bantah Allegra pada pria yang mengacau di hadapannya.
“Tidak mengenalku?” Riccardo berkerut heran. “Bagaimana mungkin kamu mengatakan itu? Apa pria bajingan ini sudah mencuci otakmu?” Riccardo menatap Lorenzo begitu penuh kebencian. Urat-urat di lehernya menonjol saat dia mencoba merangsek maju. Namun, belum sempat dia menyentuh ujung gaun Allegra, dua pria bertubuh besar berbaju hitam sudah menghadang langkahnya dengan barikade tubuh yang kokoh. Allegra tersentak. Suara pekikan Riccardo yang penuh keputusasaan terdengar sangat kontras dengan musik klasik yang mengalun lembut di dalam palazzo. Dia menatap pria itu dengan ngeri, namun alih-alih merasa kasihan, ingatan tentang cerita Lorenzo di tebing tadi langsung berputar di kepalanya. Penghalang harta. Riccardo mencintai warisan lebih dari saudaranya. Dia menyabotase mobilmu. Apa jangan-jangan pria ini adalah kakaknya? Allegra terus bertanya-tanya di dalam hati yang sudah tidak bisa dia tahan lagi. Allegra lalu mundur selangkah, menyembunyikan tubuhnya di balik punggung lebar Lorenzo. Dia mencengkeram lengan jas suaminya begitu kuat. "Lorenzo... dia siapa? Apa dia pria yang kamu ceritakan tadi?" bisik Allegra dengan suara gemetar ketakutan. Lorenzo tidak langsung menjawab. Matanya yang tajam menatap Riccardo dengan dingin, sebuah tatapan predator yang sedang melihat mangsa yang tak berdaya. Dia merangkul bahu Allegra, seolah memagari miliknya dari bahaya yang dibawa pria itu. "Tenanglah, Cara," suara Lorenzo terdengar tenang, namun dinginnya meresap hingga ke tulang. "Ingat apa yang kukatakan? Orang-orang akan mengarang cerita untuk membawamu pergi." "Belladonna, dengarkan aku!" teriak Riccardo lagi, matanya mulai berair. "Dia membohongimu! Dia sudah mencuci otakmu! Dia sangat kejam! Lorenzo adalah penjahat!" "Cukup, Riccardo," ucap Lorenzo. Suaranya tidak keras, tapi sanggup membungkam seisi ruangan. "Kau sudah menghancurkan hidup adikmu satu kali dengan kecelakaan itu. Jangan hancurkan kewarasannya lagi dengan delusimu karena kau sudah jatuh miskin." Lorenzo kemudian menoleh ke arah Dante yang berdiri tidak jauh dari sana. Dengan isyarat mata yang nyaris tak terlihat, dia memberikan perintah tanpa kata. Dante dengan sigap mendekat. Sebelum Riccardo sempat bereaksi, Dante sudah mencengkeram pergelangan tangan pria itu. Dengan satu pelintiran kuat, dia memutar lengan Riccardo ke belakang punggungnya hingga pria itu terbungkuk menahan nyeri. "Lepaskan aku! Bajingan kau, Lorenzo! Belladonna, lihat mataku! Aku kakakmu!" teriakan Riccardo semakin menjauh saat Dante dan anak buahnya menyeret pria itu keluar melalui pintu samping dengan kasar. Suasana kembali hening sejenak sebelum bisik-bisik tamu mulai terdengar. Mereka menatap Allegra dengan tatapan penuh simpati. Allegra masih mematung. Jantungnya berdegup sangat kencang. Pria tadi tampak begitu hancur, namun ketakutan Allegra pada kejahatan yang dilakukan keluarganya jauh lebih besar. Dia menatap Lorenzo yang kini sedang merapikan anak rambut di keningnya dengan sangat lembut. "Kamu lihat sendiri, bukan?" bisik Lorenzo tepat di telinganya. "Dia memanggilmu dengan nama lain. Dia mencoba membuatmu meragukanku. Begitulah iblis, Allegra. Mereka tidak datang dengan tanduk, mereka datang dengan air mata palsu." “Jadi dia itu benar kakakku, Riccardo yang kamu ceritakan?” “Tepat sekali. Tapi kamu tidak perlu takut. Ada aku yang menjaga di sisimu. Aku akan selalu melindungimu apa pun yang terjadi walau nyawaku sekalipun taruhannya.” Allegra mengangguk pelan, air mata haru menetes di pipinya. Dia merasa sangat terlindungi. Dia begitu beruntung memiliki Lorenzo. Suaminya itu tidak hanya tampan, tapi juga baik hati, berjiwa sosial yang tinggi, dan sangat dermawan, jadi wajar jika banyak yang menginginkan kehancurannya, termasuk dengan merenggut Allegra dari sisinya dengan cerita palsu Riccardo tadi. "Terima kasih, Lorenzo. Terima kasih karena sudah menjagaku dari orang tadi. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tadi aku sendirian.” Lorenzo tersenyum lembut. "Mari kita berdansa, Cara," ajaknya sambil mengulurkan tangannya. "Biarkan dunia tahu bahwa kamu adalah milikku, dan tidak akan ada satu pun yang bisa menyakitimu lagi.” ***Hari-hari pertama memulai pekerjaan sebagai petani anggur, Lorenzo tidak tahu cara mengayunkan cangkul dengan benar. Telapak tangannya yang halus langsung melepuh. Cairan bening keluar dari luka-lukanya, namun dia tidak berhenti. Dia merasa malu jika harus mengeluh di depan Allegra yang terlihat lebih tangguh dari dirinya.Setiap gerakan Lorenzo terasa kaku. Saat dia mencoba memperbaiki saluran irigasi, dia malah membuat air meluap dan membasahi celananya hingga berlumpur. Dia seringkali berdiri mematung di tengah barisan pohon anggur yang meranggas, memandangdahan-dahan kering itu seolah-olah mereka adalah musuh yang harus dia taklukkan dengan tatapan mata, padahal mereka hanya butuh sentuhan tangan yang ahli."Sialan," umpatnya pelan saat punggungnya terasa seolah mau patah setelah dua jam mencangkul. Dia terbiasa dengan kelelahan mental akibat perang saraf mafia, bukan kelelahan otot yang membuat napasnya tersengal-sengal seperti ini. Namun, Lorenzo tidak ingin menyerah. Menjadi
Setelah tiga minggu terombang-ambing di kapal kargo, Lorenzo, Allegra, dan Alessandro mendarat di pelabuhan kecil Bahía Blanca, Argentina. Mereka turun tengah malam lalu menyelinap di antara tumpukan kontainer untuk menghindari petugas pelabuhan. Lorenzo tidak punya rumah mewah yang menunggu. Yang dia miliki hanyalah tas kain berisi uang tunai dalam jumlah besar, beberapa bongkah emas, dan batu berlian."Kita tidak punya tempat tujuan, Enzo,” ujar Allegra bingung saat mereka berdiri di pinggir jalan raya yang sepi dan berdebu.Lorenzo menggeleng, matanya terus waspada memindai sekeliling. "Belum. Tapi kita punya uang, dan di negara ini, uang bisa membeli identitas baru dalam semalam."Lorenzo lalu menyewa sebuah mobil tua dan berkendara menuju Barat, menjauhi hiruk-pikuk ibu kota. Lorenzo sengaja memilih provinsi Mendoza yang jaraknya sekitar lima belas jam perjalanan darat dari Buenos Aires, ibu kota Argentina, sebagai pelarian. Bukan karena dia sudah punya properti di sana, tapi k
Hujan turun seperti air mata yang tumpah dari langit saat mobil yang dikendarai Lorenzo membelah jalan. Lorenzo mengebut dengan tatapan waspada sambil mengawasi kalau ada mobil yang mengikuti di belakangnya. Kalau-kalau Matteo berubah pikiran dan berkhianat.Lorenzo memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi menuju pelabuhan peti kemas di Gioia Tauro. Dia menghindari jalan tol utama, dan lebih memilih jalur tikus yang hanya diketahui oleh para penyelundup. "Kenapa kita tidak ke bandara, Enzo?" tanya Allegra dengan suara gemetar sembari memeluk Alessandro yang gelisah dalam tidurnya."Bandara adalah jebakan, Cara. Di sana ada kamera biometrik dan petugas yang bisa dibeli. Di pelabuhan kargo, hanya ada uang dan kesetiaan yang bisa disuap," jawab Lorenzo pendek.Di pelabuhan, Lorenzo menemui kapten kapal. Pria itu pernah dia selamatkan dari eksekusi klan musuh sekitar satu setengah tahun yang lalu. Tanpa paspor, tanpa manifes, Lorenzo menyerahkan jam tangan Patek Philippe seharga ratu
Malam itu, di ruang kerjanya Lorenzo Castellano berdiri mematung. Di atas meja kuno yang telah menjadi saksi bisu ribuan perintah kematian, tergeletak sebuah cincin emas dengan ukiran huruf C, simbol kekuasaan tertinggi klan Castellano.Pintu terbuka. Matteo masuk dengan langkah tegap, namun wajahnya tampak tegang. Dia sudah mencium aroma kegelisahan sejak satu minggu terakhir."Anda memanggil saya, Don?" suara Matteo terdengar."Duduklah, Matteo."Matteo menurut, namun punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi. Matanya langsung tertuju pada cincin di atas meja. Jantungnya berdegup kencang. Dalam dunia mereka, cincin yang dilepaskan hanya berarti dua hal, yaitu kematian atau pengkhianatan."Satu minggu ini aku tidak bisa menyentuh putraku," Lorenzo memulai. "Setiap kali aku mendekat, Allegra menatapku seolah aku adalah bangkai yang busuk. Dia memanggilku iblis di depan telinga Alessandro.""Nyonya Allegra sedang emosional, Don. Dia akan luluh seiring berjalannya waktu," sahut M
Lorenzo Castellano tergelak sinis. Dia berdiri dari duduknya. Telapak tangannya menekan meja sambil menatap Belladonna dengan sorot mata yang begitu tajam."Kamu memintaku mati, Cara," desisnya. "Tanpa tahta ini, aku hanyalah sasaran empuk. Kamu ingin melihatku digantung di alun-alun kota? Kamu ingin Alessandro melihat kepala ayahnya dikirim dalam kotak kayu oleh klan Valenti?"Belladonna tidak berkedip. "Aku lebih baik menangisi makam seorang suami yang jujur daripada harus hidup bersamamu tapi jiwaku mati setiap kali kau menyentuhku dengan tangan yang berbau darah keluargaku.""Jawabannya adalah TIDAK," jawab Lorenzo tegas dengan suara yang begitu keras. "Aku tidak akan membiarkan kalian dalam bahaya hanya karena idealisme butamu."Belladonna tidak mendebat lagi. Dia hanya menatap Lorenzo dengan tatapan kosong. "Baiklah. Kalau begitu nikmatilah tahtamu yang berdarah itu, Don Lorenzo. Tapi jangan pernah bermimpi untuk menyentuh Alessandro. Jangan pernah berharap bisa mencium bau
Tangis kecil Alessandro membangunkan Belladonna dari tidurnya. Dengan gerakan refleks seorang ibu Belladonna langsung terduduk.“Sshhh... Sayang, Ibu di sini. Ibu di sini," bisik Belladonna lembut. Dia mengangkat Alessandro ke dalam pelukannya lalu menyusuinya.Setelah Alessandro tenang dan kembali terlelap, Belladonna merebahkan anak itu kembali di atas tempat tidur. Dia mengusap pipi putranya sejenak, merasakan kehangatan yang menjadi satu-satunya kekuatannya saat ini.Saat keluar kamar, dia bertemu dengan Lorenzo yang berdiri di depan pintu entah sejak kapan. "Dia kembali tidur?" tanya pria itu.“Iya. Mandilah, Lorenzo," ucap Belladonna dingin tanpa emosi. "Bersihkan aroma alkohol dan kegelapan dari tubuhmu. Aku akan menemuimu di ruang makan dalam tiga puluh menit. Kita akan bicara, dan kau akan mendengar harga yang harus kau bayar untuk kepulanganku."Lorenzo terdiam, rahangnya mengeras sejenak sebelum dia mengangguk patuh. Sebuah pemandangan langka di mana dia tunduk pada per
Lorenzo menggandeng tangan Allegra, menuntunnya keluar dari kapel. Saat mereka melangkah melewati barisan pria bersetelan hitam, secara serentak para pria itu menundukkan kepala dengan takzim. Begitu sampai di luar, matahari sudah semakin tinggi, menyilaukan mata Allegra yang terbiasa dengan tema
Matahari baru saja naik, menyiram Villa dengan cahaya keemasan. Di dalam kamar utama, Allegra berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun pengantin yang telah disiapkan untuknya. Lorenzo berdiri di belakangnya, membantu mengancingkan deretan kancing mutiara di punggung gaun itu.Gerakan tangan
Lorenzo duduk di balik meja yang besar. Pria itu terlihat gelisah, sebuah pemandangan langka bagi sosok yang biasanya memiliki kendali atas segala hal. Jemarinya yang panjang terus mengusap pinggiran bingkai foto di hadapannya. Foto itu memperlihatkan dirinya dan Allegra dalam balutan pakaian penga
Angin di perkebunan zaitun yang berada tidak jauh dari villa berdesir pelan. Vittoria berjalan di depan dengan langkah gusar, sesekali menghentakkan kaki karena merasa harga dirinya terluka akibat pengusiran Lorenzo."Kenapa kita ke sini, Dante? Aku ingin segera pergi dari tempat terkutuk ini dan







