FAZER LOGINJari-jari Elena Wijaya diciptakan untuk menari di atas tuts piano, menciptakan melodi yang indah dan menenangkan. Namun, takdir memaksanya memainkan lagu kematian di dalam sangkar emas milik seorang monster. Damian Kael, sang penguasa dunia bawah yang dijuluki "The Devil", tidak menginginkan uang sebagai pelunas utang ayah Elena. Ia menginginkan Elena. Seutuhnya. Tubuhnya, napasnya, hingga jiwanya. Terjebak di sebuah mansion mewah yang terisolasi, Elena harus bertahan hidup di antara kegelapan yang menyelimuti Damian. Namun, semakin keras ia mencoba lari, semakin erat jerat obsesi Damian melilitnya. Ketika rasa takut perlahan berubah menjadi ketergantungan yang menyakitkan, Elena dihadapkan pada satu pertanyaan mematikan: Apakah ia bisa menyelamatkan diri tanpa kehilangan hatinya pada sang Iblis?
Ver maisLima Tahun Kemudian.Pagi di Kebayoran Baru tidak lagi sunyi.Rumah townhouse tua yang dulu lembap dan suram itu telah direnovasi. Fasadnya tetap mempertahankan gaya kolonial klasik dengan cat putih bersih, namun interiornya telah berubah total. Dinding-dinding penyekat dirobohkan untuk menciptakan ruang terbuka yang hangat, lantai tegel kunci dipoles hingga mengkilap, dan jendela-jendelanya kini dilengkapi kaca anti-peluru yang tersamar sempurna.Di ruang tengah, sebuah piano Yamaha U3 tua—piano yang sama yang dibeli Damian dari pasar loak lima tahun lalu—masih berdiri di sudut kehormatan. Kayunya semakin kusam, namun suaranya tetap hangat dan akrab.Seorang anak laki-laki berusia lima tahun duduk di bangku piano, kakinya menggantung belum menyentuh lantai. Rambut hitamnya tebal, dan matanya... matanya adalah replika sempurna dari mata abu-abu ayahnya. Tajam, cerdas, dan sedikit terlalu serius untuk anak seusianya.Alexander "Alex" Kael.Jari-jari kecilnya menekan tuts dengan
Suara baling-baling helikopter yang membelah udara pagi terdengar seperti musik di telinga Elena.Dia berdiri di balkon kamar medis Benteng Zero, menggendong Alexander yang terlelap dalam selimut tebal. Angin laut menerbangkan rambutnya yang berantakan, tapi dia tidak peduli. Matanya terpaku pada titik hitam di langit yang semakin membesar, mendekat ke landasan pacu pulau itu.Helikopter itu mendarat. Debu berterbangan.Pintu terbuka.Seorang pria turun. Dia masih mengenakan seragam tempur hitamnya, kotor oleh debu dan sisa-sisa malam yang panjang. Jalannya sedikit pincang—mungkin kakinya terkilir saat pendaratan HALO atau pertarungan di kapal—tapi punggungnya tegak.Damian Kael.Dia melepas helm taktisnya, menjinjingnya di satu tangan. Rambutnya kacau, wajahnya ditumbuhi berewok kasar, dan ada luka gores baru di pipinya.Tapi dia hidup.Elena tidak berlari menyambutnya karena dia sedang menggendong bayi. Dia menunggu di pintu balkon, air mata mengalir diam-diam di pipinya.
Ruang kerja Jenderal Hadi di Benteng Zero adalah sebuah museum perang pribadi. Dindingnya dilapisi peta navigasi kuno, lemari pajangan berisi senjata antik dari berbagai konflik dunia, dan kepala binatang buas yang diawetkan—singa, macan, beruang—yang menatap kosong dari dinding dengan mata kaca.Damian duduk di kursi kulit di hadapan meja kerja mahoni besar Hadi. Dia sudah mandi dan berganti pakaian dengan setelan taktis pinjaman (karena pakaiannya penuh darah persalinan).Di atas meja, terbentang peta digital Selat Malaka dan Semenanjung Malaysia yang diproyeksikan dari meja hologram."Ivanov bukan sekadar pedagang senjata, Damian," kata Hadi, menuangkan brandy ke dua gelas kristal. "Dia mantan KGB. Dia punya koneksi di Kremlin, di Triad, dan di kartel Amerika Selatan. Kau sedang mengajak perang separuh dunia hitam.""Aku tidak peduli siapa teman minum kopinya," jawab Damian dingin, mengabaikan gelas brandy yang disodorkan. "Aku hanya peduli di mana dia tidur malam ini."Hadi
Selat Malaka tidak pernah ramah pada malam hari.Speedboat curian itu menghantam ombak setinggi dua meter dengan bunyi BAM yang keras, melemparkan tubuh Elena yang sedang berbaring di kursi belakang ke udara, lalu menghempaskannya kembali ke bantalan kulit yang keras."Argh!" Elena menjerit, tangannya mencengkeram perutnya seolah berusaha menahan bayinya agar tidak jatuh."Bertahanlah!" teriak Damian dari balik kemudi. Wajahnya basah oleh cipratan air laut, matanya menyipit menembus kegelapan, mencari tanda kehidupan di kejauhan. "Lima menit lagi! Aku sudah melihat lampunya!"Elena tidak menjawab. Dia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah. Rasa sakit itu datang lagi—bukan lagi kram biasa, melainkan gelombang kontraksi yang meremas rahimnya dengan kekuatan yang melumpuhkan.Air ketubannya sudah pecah sepuluh menit yang lalu, membasahi gaun dan jok kapal. Tidak ada jalan kembali. Bayi ini akan lahir. Sekarang."Damian..." rintih Elena, suaranya hilang ditelan deru mesin 400 te
Air dingin itu membasuh wajahnya, namun tidak bisa membasuh rasa panas yang tertinggal di bahunya. Di depan cermin kamar mandi tamu yang mewah—berlapis marmer hitam dengan keran emas—Elena menatap pantulan dirinya sendiri.Dia masih Elena. Matanya masih cokelat gelap, hidungnya masih sama, bibirnya
di Sky Tower memiliki berat jenisnya sendiri.Itu bukan jenis keheningan damai yang biasa Elena temukan di perpustakaan tua kampusnya, atau keheningan khusyuk di dalam gereja sebelum misa dimulai. Keheningan di tempat ini bersifat menekan, seolah oksigen di udara dipadatkan secara artifisial, membu
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui dinding kaca tidak terasa hangat. Cahaya itu menusuk, terlalu terang, terlalu silau, memaksa Elena membuka matanya yang terasa berat dan bengkak. Untuk satu detik yang penuh kebahagiaan, dia lupa di mana dia berada. Dia mengira dia masih berada di kamar ti
Kata-kata itu menggantung di udara, dingin dan berat, seperti kabut yang menyelimuti puncak gedung pencakar langit ini. "Selamat datang di neraka."Damian tidak menunggu jawaban. Dia tidak menunggu air mata Elena, atau permohonan susulan, atau bahkan anggukan patuh. Bagi Damian Kael, kesepakatan su












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
avaliações