Share

Part 5

last update publish date: 2026-02-11 12:12:21

Lorenzo mengemudikan Maserati hitamnya membelah kegelapan malam. Tangannya yang besar mencengkeram kemudi dengan kuat, sementara tangan yang lain tak pernah melepaskan jemari Allegra.

Di spion tengah, Lorenzo sesekali melirik sepasang lampu depan dari SUV hitam yang menjaga jarak sekitar seratus meter di belakang mereka. Mobil tersebut berisi anak buah pilihannya yang dipimpin oleh Dante, tangan kanannya yang paling kejam.

​Suasana di dalam kabin terasa sunyi. Hanya ada deru mesin yang halus dan aroma parfum maskulin Lorenzo yang memenuhi indera penciuman Allegra.

Sementara Allegra sejak tadi hanya termenung sambil memandang ke luar jendela mobil. Pikirannya ikut berlari bersama laju mobil Lorenzo.

​"Lorenzo," panggil Allegra bermenit-menit kemudian, memecah kesunyian.

​"Ya, Cara?"

​"Sudah berapa lama kita menikah?"

​Lorenzo tidak langsung menjawab. Dia memutar kemudi, menepikan mobil di sebuah celah tebing tinggi yang menghadap langsung ke hamparan laut yang gelap dan bergemuruh. Dia mematikan mesin, memiringkan duduk dan menatap Allegra dengan begitu lekat.

​"Sudah lima tahun, Allegra," jawab pria itu lalu menghela napas sejenak. “Lima tahun yang penuh perjuangan karena sejak awal tidak ada yang setuju kita bersama. Terutama keluargamu."

​Allegra mengernyit, jantungnya mulai berdegup kencang. "Keluargaku? Kenapa?"

Lorenzo menatap Allegra dengan tatapan menyiratkan beban yang teramat berat. ​"Aku pernah memberitahumu bahwa kecelakaan itu terjadi karena kita bertengkar dan kamu memacu mobil dengan emosi," Lorenzo memulai dengan nada penuh penyesalan. "Aku berbohong, Cara. Aku membiarkanmu percaya bahwa itu salahmu... hanya agar kamu tidak perlu hidup dalam ketakutan setiap hari."

​Allegra terpaku. Dia semakin merasa penasaran. "Apa maksudmu?"

​"Keluargamu… mereka tidak pernah menginginkan pernikahan kita," desis Lorenzo, suaranya terdengar berat.

“Kenapa?”

"Kakekmu meninggalkan warisan yang sangat besar atas namamu. Namun, ada satu syarat yang sangat kejam. Untuk mencairkan warisan itu kamu harus menikah dengan pria pilihan keluarga. Tapi jika tidak, warisan itu tidak bisa diambil. Syarat lainnya adalah jika kamu meninggal maka warisan tersebut akan jatuh pada tangan kakakmu, Riccardo. Karena kamu sangat mencintaiku dan memilih melarikan diri bersamaku, Riccardo kehilangan segalanya," lanjut Lorenzo, suaranya kini terdengar parau seolah menahan kepedihan yang mendalam. "Dia melihatmu bukan sebagai adik, melainkan sebagai penghalang harta senilai jutaan Euro." ​Lorenzo merapatkan tubuhnya, membelai pipi Allegra yang pucat pasi. Ujung jarinya menghapus air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata istrinya. ​"Berkali-kali mereka mencoba melakukan percobaan pembunuhan terhadapmu, tapi selalu gagal karena aku selalu berhasil menyelamatkanmu. Dan di malam kecelakaan itu, kita memang bertengkar karena aku melarangmu menemui Riccardo. Aku tahu dia sudah putus asa karena terlilit utang. Tapi kamu tetap pergi. Dan ternyata Riccardo menyabotase mobilmu sehingga remnya tidak berfungsi yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Riccardo lebih mencintai warisan itu daripada saudaranya sendiri. Dia ingin kamu lenyap agar bisa menguasai warisan itu sepenuhnya."

​Allegra gemetar hebat. Penuturan Lorenzo meresap begitu rapi, menutup semua celah keraguan di benaknya. Di matanya kini, Lorenzo adalah pahlawan sejati yang menjaga dan melindunginya dari kejahatan keluarga sendiri.

"Aku salah sangka padamu, Lorenzo,” lirih Allegra diiringi isak tangis yang menyesakkan dada. Dia menatap Lorenzo dengan mata yang basah oleh air mata penyesalan. "Selama ini, di balik amnesiaku, ada bagian dari diriku yang merasa ragu. Aku sempat mengira kamu adalah orang jahat yang menyembunyikan sesuatu dariku." Allegra mencengkeram jas hitam Lorenzo. Dia menyandarkan dahinya di dada pria itu. "Ternyata aku salah. Kamu bukan orang jahat, Lorenzo. Kamu adalah malaikat pelindungku. Maafkan aku... maafkan aku karena sempat meragukan ketulusanmu. Kamu menyimpan kebusukan keluargaku hanya agar aku tidak terbebani. Aku tidak pantas mendapatkan pria sebaik kamu."

​Lorenzo terdiam sejenak. Dalam diamnya, segaris senyum samar terselip di bibirnya. ​Dengan gerakan yang sangat lembut, Lorenzo melingkarkan lengan besarnya ke tubuh Allegra. Dia menarik wanita itu ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat.

​"Sshhh... jangan minta maaf, Cara," bisik pria itu. Bibirnya menyentuh telinga Allegra, memberikan sensasi hangat yang menenangkan. "Aku tidak butuh permintaan maafmu. Kamu tidak salah. Aku hanya butuh kamu tetap di sini, di pelukanku, di mana tidak ada seorang pun yang bisa menyakitimu lagi."

​Allegra memejamkan mata. Dia merasa sangat aman. Hanya pria ini yang bisa dia percaya setelah mendengar sendiri betapa jahatnya orang-orang di luar sana.

Setelah Allegra jauh lebih tenang, mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di Palermo.

Maserati hitam itu melambat, kemudian berhenti dengan sempurna di depan sebuah bangunan megah, Palazzo Valguarnera.

​Sebelum mematikan mesin, Lorenzo tidak langsung membuka pintu. Dia memiringkan tubuhnya, menatap Allegra. Lorenzo menyentuh dagu Allegra, memaksa wanita itu menatap tepat ke dalam matanya.

​"Dengarkan aku baik-baik, Cara," bisik Lorenzo, suaranya berat dan penuh penekanan. "Di dalam sana, dunia akan terasa berbeda. Orang-orang akan memerhatikanmu, menilai setiap gerak-gerikmu. Dan yang paling penting... jika ada yang berpura-pura mengenalmu atau siapa pun yang mengaku sebagai keluargamu, jangan lepaskan genggaman tanganku. Mereka akan mencoba meracuni pikiranmu. Mereka akan mengarang cerita untuk membawamu pergi dariku. Ingat apa yang kukatakan tadi. Banyak orang membencimu. Mereka semua menginginkanmu mati. Hanya aku yang mencintaimu, Allegra."

​Allegra mengangguk patuh, merasa beruntung diingatkan oleh malaikatnya. "Aku mengerti, Lorenzo. Aku tidak akan mendengarkan mereka. Aku hanya percaya padamu."

​Lorenzo tersenyum puas. Dikecupnya bibir Allegra dengan cara yang begitu lembut. Lalu pria itu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Allegra.

Semua mata di bangunan itu tertuju pada Lorenzo dan wanita cantik dalam rangkulannya saat keduanya masuk. Seolah-olah mereka adalah pusat gravitasi di ruangan itu.

Orang-orang terlihat begitu menghormati Lorenzo. Mereka yang sedang bercakap-cakap menghentikan percakapan lalu menundukkan kepala penuh hormat. Ada juga yang menyapanya begitu sopan.

​"Don Lorenzo," sapa seorang pria bertubuh tegap. Pria itu menjabat tangan Lorenzo dengan kedua tangannya, sebuah tanda hormat yang luar biasa. "Terima kasih atas bantuan Anda pada panti asuhan di pesisir timur. Tanpa kemurahan hati Anda, anak-anak itu tidak akan punya tempat tinggal."

​Lorenzo tersenyum tipis. "Itu sudah menjadi kewajibanku, kawan. Kita harus saling menjaga."

​Allegra menatap Lorenzo dengan mata berbinar. Dia berbisik pelan, "Kamu luar biasa, Lorenzo. Mereka semua sangat menghormatimu."

​"Aku hanya melakukan apa yang benar, Cara," jawab Lorenzo lembut.

​Tak lama kemudian, seorang wanita berambut pirang mendekat dan berdiri di depan Allegra. "Nyonya, Anda sangat beruntung memiliki suami seperti Don Lorenzo. Di saat krisis ekonomi menghantam, dialah yang memastikan tidak ada buruh yang kehilangan pekerjaan di kota ini. Dia sangat dermawan."

Allegra merasa dadanya sesak oleh rasa haru. Bagaimana mungkin aku pernah mengira pria ini jahat? pikirnya. Seluruh kota ini bersaksi atas kebaikannya. Dia bukan hanya suaminya, dia adalah penyelamat bagi banyak orang.

Allegra semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Lorenzo, merasa bangga menjadi bagian dari hidup pria yang dipuja bak malaikat ini.

​Tersisih dari keramaian, di puncak tangga berdiri seorang pria. Rambutnya berantakan, matanya merah karena kurang tidur dan duka yang mendalam.

​Dia adalah Riccardo Vesperini.

​Riccardo terhuyung menuruni tangga. Matanya menyapu ruangan sampai akhirnya terkunci pada sosok wanita bergaun merah marun di samping Lorenzo. Tubuhnya membeku. Gelas kristal di tangannya jatuh dari jemarinya yang lemas.

​"Tidak mungkin..." Riccardo menggumam dan tampak syok berat. "Tuhan... ini tidak mungkin."

​Riccardo berlari menuruni sisa anak tangga, lalu berhenti sekitar dua meter di depan Allegra dan Lorenzo. Napasnya tersengal-sengal seolah baru saja berlari maraton.

​"Belladonna?" panggil Riccardo pilu. "Belladonna, kamu masih hidup? Aku mencarimu tanpa henti. Aku mengira kamu sudah tewas.”

Kerutan halus tercipta di dahi Allegra, pertanda betapa bingungnya wanita itu.

Kenapa pria di hadapannya ini memanggilnya Belladonna? Siapa Belladonna? Apa pria ini salah mengenali orang?

“Belladonna, kenapa kamu bersamanya? Lepaskan tanganmu dari pria itu! Dia sangat berbahaya!!!” pekik Riccardo keras penuh peringatan.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Devil's Obsession   Tamat

    Hari-hari pertama memulai pekerjaan sebagai petani anggur, Lorenzo tidak tahu cara mengayunkan cangkul dengan benar. Telapak tangannya yang halus langsung melepuh. Cairan bening keluar dari luka-lukanya, namun dia tidak berhenti. Dia merasa malu jika harus mengeluh di depan Allegra yang terlihat lebih tangguh dari dirinya.​Setiap gerakan Lorenzo terasa kaku. Saat dia mencoba memperbaiki saluran irigasi, dia malah membuat air meluap dan membasahi celananya hingga berlumpur. Dia seringkali berdiri mematung di tengah barisan pohon anggur yang meranggas, memandangdahan-dahan kering itu seolah-olah mereka adalah musuh yang harus dia taklukkan dengan tatapan mata, padahal mereka hanya butuh sentuhan tangan yang ahli.​"Sialan," umpatnya pelan saat punggungnya terasa seolah mau patah setelah dua jam mencangkul. Dia terbiasa dengan kelelahan mental akibat perang saraf mafia, bukan kelelahan otot yang membuat napasnya tersengal-sengal seperti ini. Namun, Lorenzo tidak ingin menyerah. Menjadi

  • The Devil's Obsession   Part 89

    Setelah tiga minggu terombang-ambing di kapal kargo, Lorenzo, Allegra, dan Alessandro mendarat di pelabuhan kecil Bahía Blanca, Argentina. Mereka turun tengah malam lalu menyelinap di antara tumpukan kontainer untuk menghindari petugas pelabuhan. Lorenzo tidak punya rumah mewah yang menunggu. Yang dia miliki hanyalah tas kain berisi uang tunai dalam jumlah besar, beberapa bongkah emas, dan batu berlian.​"Kita tidak punya tempat tujuan, Enzo,” ujar Allegra bingung saat mereka berdiri di pinggir jalan raya yang sepi dan berdebu.​Lorenzo menggeleng, matanya terus waspada memindai sekeliling. "Belum. Tapi kita punya uang, dan di negara ini, uang bisa membeli identitas baru dalam semalam."Lorenzo lalu menyewa sebuah mobil tua dan berkendara menuju Barat, menjauhi hiruk-pikuk ibu kota. Lorenzo sengaja memilih provinsi Mendoza yang jaraknya sekitar lima belas jam perjalanan darat dari Buenos Aires, ibu kota Argentina, sebagai pelarian. Bukan karena dia sudah punya properti di sana, tapi k

  • The Devil's Obsession   Part 88

    Hujan turun seperti air mata yang tumpah dari langit saat mobil yang dikendarai Lorenzo membelah jalan. Lorenzo mengebut dengan tatapan waspada sambil mengawasi kalau ada mobil yang mengikuti di belakangnya. Kalau-kalau Matteo berubah pikiran dan berkhianat.Lorenzo memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi menuju pelabuhan peti kemas di Gioia Tauro. Dia menghindari jalan tol utama, dan lebih memilih jalur tikus yang hanya diketahui oleh para penyelundup. ​"Kenapa kita tidak ke bandara, Enzo?" tanya Allegra dengan suara gemetar sembari memeluk Alessandro yang gelisah dalam tidurnya.​"Bandara adalah jebakan, Cara. Di sana ada kamera biometrik dan petugas yang bisa dibeli. Di pelabuhan kargo, hanya ada uang dan kesetiaan yang bisa disuap," jawab Lorenzo pendek.​Di pelabuhan, Lorenzo menemui kapten kapal. Pria itu pernah dia selamatkan dari eksekusi klan musuh sekitar satu setengah tahun yang lalu. Tanpa paspor, tanpa manifes, Lorenzo menyerahkan jam tangan Patek Philippe seharga ratu

  • The Devil's Obsession   Part 87

    Malam itu, di ruang kerjanya Lorenzo Castellano berdiri mematung. Di atas meja kuno yang telah menjadi saksi bisu ribuan perintah kematian, tergeletak sebuah cincin emas dengan ukiran huruf C, simbol kekuasaan tertinggi klan Castellano.​Pintu terbuka. Matteo masuk dengan langkah tegap, namun wajahnya tampak tegang. Dia sudah mencium aroma kegelisahan sejak satu minggu terakhir.​"Anda memanggil saya, Don?" suara Matteo terdengar.​"Duduklah, Matteo."​Matteo menurut, namun punggungnya tidak menyentuh sandaran kursi. Matanya langsung tertuju pada cincin di atas meja. Jantungnya berdegup kencang. Dalam dunia mereka, cincin yang dilepaskan hanya berarti dua hal, yaitu kematian atau pengkhianatan.​"Satu minggu ini aku tidak bisa menyentuh putraku," Lorenzo memulai. "Setiap kali aku mendekat, Allegra menatapku seolah aku adalah bangkai yang busuk. Dia memanggilku iblis di depan telinga Alessandro."​"Nyonya Allegra sedang emosional, Don. Dia akan luluh seiring berjalannya waktu," sahut M

  • The Devil's Obsession   Part 86

    Lorenzo Castellano tergelak sinis. Dia berdiri dari duduknya. Telapak tangannya menekan meja sambil menatap Belladonna dengan sorot mata yang begitu tajam.​"Kamu memintaku mati, Cara," desisnya. "Tanpa tahta ini, aku hanyalah sasaran empuk. Kamu ingin melihatku digantung di alun-alun kota? Kamu ingin Alessandro melihat kepala ayahnya dikirim dalam kotak kayu oleh klan Valenti?"​Belladonna tidak berkedip. "Aku lebih baik menangisi makam seorang suami yang jujur daripada harus hidup bersamamu tapi jiwaku mati setiap kali kau menyentuhku dengan tangan yang berbau darah keluargaku."​"Jawabannya adalah TIDAK," jawab Lorenzo tegas dengan suara yang begitu keras. "Aku tidak akan membiarkan kalian dalam bahaya hanya karena idealisme butamu."​Belladonna tidak mendebat lagi. Dia hanya menatap Lorenzo dengan tatapan kosong. "Baiklah. Kalau begitu nikmatilah tahtamu yang berdarah itu, Don Lorenzo. Tapi jangan pernah bermimpi untuk menyentuh Alessandro. Jangan pernah berharap bisa mencium bau

  • The Devil's Obsession   Part 85

    Tangis kecil Alessandro membangunkan Belladonna dari tidurnya. Dengan gerakan refleks seorang ibu Belladonna langsung terduduk.“Sshhh... Sayang, Ibu di sini. Ibu di sini," bisik Belladonna lembut. Dia mengangkat Alessandro ke dalam pelukannya lalu menyusuinya.Setelah Alessandro tenang dan kembali terlelap, Belladonna merebahkan anak itu kembali di atas tempat tidur. Dia mengusap pipi putranya sejenak, merasakan kehangatan yang menjadi satu-satunya kekuatannya saat ini.​Saat keluar kamar, dia bertemu dengan Lorenzo yang berdiri di depan pintu entah sejak kapan. ​"Dia kembali tidur?" tanya pria itu.“Iya. Mandilah, Lorenzo," ucap Belladonna dingin tanpa emosi. "Bersihkan aroma alkohol dan kegelapan dari tubuhmu. Aku akan menemuimu di ruang makan dalam tiga puluh menit. Kita akan bicara, dan kau akan mendengar harga yang harus kau bayar untuk kepulanganku."​Lorenzo terdiam, rahangnya mengeras sejenak sebelum dia mengangguk patuh. Sebuah pemandangan langka di mana dia tunduk pada per

  • The Devil's Obsession   Part 60

    Francesco berdiri mematung di tengah lantai dansa, sementara musik masih mengalun tenang, seolah mengejek badai yang baru saja melandanya. Cengkeramannya pada ponsel begitu kuat seolah hendak meremukkan benda itu. Begitu sepadan dengan kemarahan yang membakar setiap sel sarafnya. Di layar masih ter

  • The Devil's Obsession   Part 59

    Matteo mengangguk singkat, kode rahasia yang segera diteruskan melalui earpiece kepada puluhan anak buah klan Castellano yang menyamar di antara kerumunan dan di luar gedung. "Mobil sudah siap di pintu belakang, Don. Kita harus pergi sekarang sebelum emosi Anda memicu perang yang tidak bisa kita me

  • The Devil's Obsession   Part 58

    Lorenzo melangkah maju menghapus jarak dengan Belladonna. Matanya yang merah sedikit pun tidak berkedip, terkunci pada wajah Belladonna yang kini berdiri hanya beberapa langkah darinya. Di ruangan yang dipenuhi oleh para predator paling berbahaya di Italia, perhatian semua orang tersedot ke arah me

  • The Devil's Obsession   Part 57

    Francesco memerhatikan Belladonna yang sedang menatap kosong ke arah deretan gaun mewah di depannya. Atmosfer di antara mereka masih terasa canggung sejak rahasia besar itu terbongkar.​"Pesta akan diadakan tiga hari lagi," ucap Francesco memecah keheningan. "Aku ingin kau datang bersamaku, Bellado

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status