MasukLorenzo mengemudikan Maserati hitamnya membelah kegelapan malam. Tangannya yang besar mencengkeram kemudi dengan kuat, sementara tangan yang lain tak pernah melepaskan jemari Allegra.
Di spion tengah, Lorenzo sesekali melirik sepasang lampu depan dari SUV hitam yang menjaga jarak sekitar seratus meter di belakang mereka. Mobil tersebut berisi anak buah pilihannya yang dipimpin oleh Dante, tangan kanannya yang paling kejam. Suasana di dalam kabin terasa sunyi. Hanya ada deru mesin yang halus dan aroma parfum maskulin Lorenzo yang memenuhi indera penciuman Allegra. Sementara Allegra sejak tadi hanya termenung sambil memandang ke luar jendela mobil. Pikirannya ikut berlari bersama laju mobil Lorenzo. "Lorenzo," panggil Allegra bermenit-menit kemudian, memecah kesunyian. "Ya, Cara?" "Sudah berapa lama kita menikah?" Lorenzo tidak langsung menjawab. Dia memutar kemudi, menepikan mobil di sebuah celah tebing tinggi yang menghadap langsung ke hamparan laut yang gelap dan bergemuruh. Dia mematikan mesin, memiringkan duduk dan menatap Allegra dengan begitu lekat. "Sudah lima tahun, Allegra," jawab pria itu lalu menghela napas sejenak. “Lima tahun yang penuh perjuangan karena sejak awal tidak ada yang setuju kita bersama. Terutama keluargamu." Allegra mengernyit, jantungnya mulai berdegup kencang. "Keluargaku? Kenapa?" Lorenzo menatap Allegra dengan tatapan menyiratkan beban yang teramat berat. "Aku pernah memberitahumu bahwa kecelakaan itu terjadi karena kita bertengkar dan kamu memacu mobil dengan emosi," Lorenzo memulai dengan nada penuh penyesalan. "Aku berbohong, Cara. Aku membiarkanmu percaya bahwa itu salahmu... hanya agar kamu tidak perlu hidup dalam ketakutan setiap hari." Allegra terpaku. Dia semakin merasa penasaran. "Apa maksudmu?" "Keluargamu… mereka tidak pernah menginginkan pernikahan kita," desis Lorenzo, suaranya terdengar berat. “Kenapa?” "Kakekmu meninggalkan warisan yang sangat besar atas namamu. Namun, ada satu syarat yang sangat kejam. Untuk mencairkan warisan itu kamu harus menikah dengan pria pilihan keluarga. Tapi jika tidak, warisan itu tidak bisa diambil. Syarat lainnya adalah jika kamu meninggal maka warisan tersebut akan jatuh pada tangan kakakmu, Riccardo. Karena kamu sangat mencintaiku dan memilih melarikan diri bersamaku, Riccardo kehilangan segalanya," lanjut Lorenzo, suaranya kini terdengar parau seolah menahan kepedihan yang mendalam. "Dia melihatmu bukan sebagai adik, melainkan sebagai penghalang harta senilai jutaan Euro." Lorenzo merapatkan tubuhnya, membelai pipi Allegra yang pucat pasi. Ujung jarinya menghapus air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata istrinya. "Berkali-kali mereka mencoba melakukan percobaan pembunuhan terhadapmu, tapi selalu gagal karena aku selalu berhasil menyelamatkanmu. Dan di malam kecelakaan itu, kita memang bertengkar karena aku melarangmu menemui Riccardo. Aku tahu dia sudah putus asa karena terlilit utang. Tapi kamu tetap pergi. Dan ternyata Riccardo menyabotase mobilmu sehingga remnya tidak berfungsi yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi. Riccardo lebih mencintai warisan itu daripada saudaranya sendiri. Dia ingin kamu lenyap agar bisa menguasai warisan itu sepenuhnya." Allegra gemetar hebat. Penuturan Lorenzo meresap begitu rapi, menutup semua celah keraguan di benaknya. Di matanya kini, Lorenzo adalah pahlawan sejati yang menjaga dan melindunginya dari kejahatan keluarga sendiri. "Aku salah sangka padamu, Lorenzo,” lirih Allegra diiringi isak tangis yang menyesakkan dada. Dia menatap Lorenzo dengan mata yang basah oleh air mata penyesalan. "Selama ini, di balik amnesiaku, ada bagian dari diriku yang merasa ragu. Aku sempat mengira kamu adalah orang jahat yang menyembunyikan sesuatu dariku." Allegra mencengkeram jas hitam Lorenzo. Dia menyandarkan dahinya di dada pria itu. "Ternyata aku salah. Kamu bukan orang jahat, Lorenzo. Kamu adalah malaikat pelindungku. Maafkan aku... maafkan aku karena sempat meragukan ketulusanmu. Kamu menyimpan kebusukan keluargaku hanya agar aku tidak terbebani. Aku tidak pantas mendapatkan pria sebaik kamu." Lorenzo terdiam sejenak. Dalam diamnya, segaris senyum samar terselip di bibirnya. Dengan gerakan yang sangat lembut, Lorenzo melingkarkan lengan besarnya ke tubuh Allegra. Dia menarik wanita itu ke dalam pelukannya, mendekapnya begitu erat. "Sshhh... jangan minta maaf, Cara," bisik pria itu. Bibirnya menyentuh telinga Allegra, memberikan sensasi hangat yang menenangkan. "Aku tidak butuh permintaan maafmu. Kamu tidak salah. Aku hanya butuh kamu tetap di sini, di pelukanku, di mana tidak ada seorang pun yang bisa menyakitimu lagi." Allegra memejamkan mata. Dia merasa sangat aman. Hanya pria ini yang bisa dia percaya setelah mendengar sendiri betapa jahatnya orang-orang di luar sana. Setelah Allegra jauh lebih tenang, mereka melanjutkan perjalanan dan tiba di Palermo. Maserati hitam itu melambat, kemudian berhenti dengan sempurna di depan sebuah bangunan megah, Palazzo Valguarnera. Sebelum mematikan mesin, Lorenzo tidak langsung membuka pintu. Dia memiringkan tubuhnya, menatap Allegra. Lorenzo menyentuh dagu Allegra, memaksa wanita itu menatap tepat ke dalam matanya. "Dengarkan aku baik-baik, Cara," bisik Lorenzo, suaranya berat dan penuh penekanan. "Di dalam sana, dunia akan terasa berbeda. Orang-orang akan memerhatikanmu, menilai setiap gerak-gerikmu. Dan yang paling penting... jika ada yang berpura-pura mengenalmu atau siapa pun yang mengaku sebagai keluargamu, jangan lepaskan genggaman tanganku. Mereka akan mencoba meracuni pikiranmu. Mereka akan mengarang cerita untuk membawamu pergi dariku. Ingat apa yang kukatakan tadi. Banyak orang membencimu. Mereka semua menginginkanmu mati. Hanya aku yang mencintaimu, Allegra." Allegra mengangguk patuh, merasa beruntung diingatkan oleh malaikatnya. "Aku mengerti, Lorenzo. Aku tidak akan mendengarkan mereka. Aku hanya percaya padamu." Lorenzo tersenyum puas. Dikecupnya bibir Allegra dengan cara yang begitu lembut. Lalu pria itu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk Allegra. Semua mata di bangunan itu tertuju pada Lorenzo dan wanita cantik dalam rangkulannya saat keduanya masuk. Seolah-olah mereka adalah pusat gravitasi di ruangan itu. Orang-orang terlihat begitu menghormati Lorenzo. Mereka yang sedang bercakap-cakap menghentikan percakapan lalu menundukkan kepala penuh hormat. Ada juga yang menyapanya begitu sopan. "Don Lorenzo," sapa seorang pria bertubuh tegap. Pria itu menjabat tangan Lorenzo dengan kedua tangannya, sebuah tanda hormat yang luar biasa. "Terima kasih atas bantuan Anda pada panti asuhan di pesisir timur. Tanpa kemurahan hati Anda, anak-anak itu tidak akan punya tempat tinggal." Lorenzo tersenyum tipis. "Itu sudah menjadi kewajibanku, kawan. Kita harus saling menjaga." Allegra menatap Lorenzo dengan mata berbinar. Dia berbisik pelan, "Kamu luar biasa, Lorenzo. Mereka semua sangat menghormatimu." "Aku hanya melakukan apa yang benar, Cara," jawab Lorenzo lembut. Tak lama kemudian, seorang wanita berambut pirang mendekat dan berdiri di depan Allegra. "Nyonya, Anda sangat beruntung memiliki suami seperti Don Lorenzo. Di saat krisis ekonomi menghantam, dialah yang memastikan tidak ada buruh yang kehilangan pekerjaan di kota ini. Dia sangat dermawan." Allegra merasa dadanya sesak oleh rasa haru. Bagaimana mungkin aku pernah mengira pria ini jahat? pikirnya. Seluruh kota ini bersaksi atas kebaikannya. Dia bukan hanya suaminya, dia adalah penyelamat bagi banyak orang. Allegra semakin mengeratkan pegangannya pada lengan Lorenzo, merasa bangga menjadi bagian dari hidup pria yang dipuja bak malaikat ini. Tersisih dari keramaian, di puncak tangga berdiri seorang pria. Rambutnya berantakan, matanya merah karena kurang tidur dan duka yang mendalam. Dia adalah Riccardo Vesperini. Riccardo terhuyung menuruni tangga. Matanya menyapu ruangan sampai akhirnya terkunci pada sosok wanita bergaun merah marun di samping Lorenzo. Tubuhnya membeku. Gelas kristal di tangannya jatuh dari jemarinya yang lemas. "Tidak mungkin..." Riccardo menggumam dan tampak syok berat. "Tuhan... ini tidak mungkin." Riccardo berlari menuruni sisa anak tangga, lalu berhenti sekitar dua meter di depan Allegra dan Lorenzo. Napasnya tersengal-sengal seolah baru saja berlari maraton. "Belladonna?" panggil Riccardo pilu. "Belladonna, kamu masih hidup? Aku mencarimu tanpa henti. Aku mengira kamu sudah tewas.” Kerutan halus tercipta di dahi Allegra, pertanda betapa bingungnya wanita itu. Kenapa pria di hadapannya ini memanggilnya Belladonna? Siapa Belladonna? Apa pria ini salah mengenali orang? “Belladonna, kenapa kamu bersamanya? Lepaskan tanganmu dari pria itu! Dia sangat berbahaya!!!” pekik Riccardo keras penuh peringatan. ***Lorenzo mengemudikan Maserati hitamnya membelah kegelapan malam. Tangannya yang besar mencengkeram kemudi dengan kuat, sementara tangan yang lain tak pernah melepaskan jemari Allegra. Di spion tengah, Lorenzo sesekali melirik sepasang lampu depan dari SUV hitam yang menjaga jarak sekitar seratus meter di belakang mereka. Mobil tersebut berisi anak buah pilihannya yang dipimpin oleh Dante, tangan kanannya yang paling kejam.Suasana di dalam kabin terasa sunyi. Hanya ada deru mesin yang halus dan aroma parfum maskulin Lorenzo yang memenuhi indera penciuman Allegra.Sementara Allegra sejak tadi hanya termenung sambil memandang ke luar jendela mobil. Pikirannya ikut berlari bersama laju mobil Lorenzo."Lorenzo," panggil Allegra bermenit-menit kemudian, memecah kesunyian."Ya, Cara?""Sudah berapa lama kita menikah?"Lorenzo tidak langsung menjawab. Dia memutar kemudi, menepikan mobil di sebuah celah tebing tinggi yang menghadap langsung ke hamparan laut yang gelap dan bergemuruh. Di
Allegra berdiri dengan tubuh gemetar, berusaha keras untuk menenangkan diri. Terlebih saat pria itu melangkah menghampirinya.“Lorenzo, aku tadi ingin mencari perpustakaan, tapi tersesat ke ruang kerjamu,” ucapnya cepat dengan wajah tegang.Bukannya marah, Lorenzo justru tersenyum, membuat Allegra merasa lega seketika.“Ah iya, tadi aku berjanji akan membawamu ke perpustakaan.” Lorenzo mengulurkan tangan. Jemarinya yang panjang merapikan sejumput rambut Allegra yang berantakan. “Nanti aku akan menunjukkan tempatnya padamu.” Dia kemudian menoleh ke arah Lucia yang masih mematung. "Lucia, bukankah kamu punya tugas di dapur? Kenapa masih di sini, membiarkan istriku kebingungan di ruang kerja ini?""S-saya minta maaf, Tuan. Saya akan segera pergi," lirih Lucia. Wanita itu menunduk sedalam mungkin, tangannya meremas foto yang tersembunyi di saku celemeknya, lalu bergegas keluar tanpa berani menatap sang majikan.Kini tinggal mereka berdua. Lorenzo merangkul pinggang Allegra, menariknya
Allegra berjalan menyusuri lorong panjang dengan deretan pintu kayu yang menjulang tinggi. Setiap pintu tampak identik, namun ada satu pintu di ujung lorong yang menarik perhatiannya secara insting. Aroma parfum maskulin Lorenzo tercium sangat kuat dari sana. Allegra berhenti di depan pintu. Dia teringat peringatan Lorenzo, jangan pergi ke mana-mana. Namun, rasa haus akan informasi jauh lebih kuat daripada rasa takutnya. Saat dia menyentuh kenop pintu ternyata langsung terbuka.Pintu itu tidak terkunci. Sepertinya Lorenzo akibat keterburu-buruannya lupa memutar kunci.Allegra mendorong pintu tersebut dengan begitu perlahan. Dia menemukan dinding ruangan yang ditutupi oleh rak buku setinggi langit-langit. Perhatian Allegra lalu tertuju pada sebuah meja kerja besar dari kayu gelap di tengah ruangan.Ruangan itu terasa sangat Lorenzo. Dingin, berkuasa, dan penuh rahasia.Allegra melangkah masuk, napasnya tertahan. Dia merasa seperti penyusup di rumahnya sendiri. Matanya menyapu per
Tujuh hari telah berlalu sejak Allegra ‘dilahirkan kembali’ di ranjang besar itu. Kepalanya tidak lagi terasa berat, namun kekosongan di dalam benaknya tetap terasa seperti lubang hitam yang siap menelan kewarasannya.Pagi ini, untuk pertama kalinya Lorenzo mengizinkannya keluar dari kamar."Pelan-pelan, Cara," ujar Lorenzo begitu lembut.Tangan pria itu melingkar posesif di pinggang Allegra, menuntunnya dengan teramat berhati-hati.Allegra melangkah dengan ragu, jemarinya meraba dinding yang dihiasi lukisan vintage. Setiap sudut bangunan ini berteriak tentang kekayaan yang tidak masuk akal, namun tidak satu pun dari kemewahan ini yang memicu percikan memori di otaknya.Saat mereka melangkah keluar menuju teras luas yang menghadap langsung ke Laut Ionia, Allegra terkesiap. Dia refleks menggenggam pagar pembatas batu yang kokoh."Kita ... kita tinggal di villa di atas tebing?" tanyanya dengan suara hampir tenggelam oleh deru angin.Di bawah sana, sekitar ratusan meter jauhnya, om
Cahaya matahari yang menyengat menembus celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata seorang perempuan yang terlelap selama satu minggu penuh. Panasnya begitu tajam, memicu denyut nyeri di kepalanya yang terasa remuk.Lamat-lamat, kelopak matanya terbuka. Hal pertama yang dirasakannya adalah rasa berat yang menghantam kepalanya, seolah ribuan jarum menusuk sarafnya secara bersamaan. Rambut panjangnya yang berwarna auburn tergerai di atas bantal sutra putih, tampak demikian kontras seperti tumpahan anggur merah di atas salju."Ugh..." Erangan halus terlepas dari bibirnya yang pucat dan pecah-pecah.Dia mencoba mengangkat tangan untuk memegang pelipisnya, namun setiap gerakan sekecil apa pun memicu rasa mual yang hebat. Tubuhnya terasa asing, kaku, dan penuh dengan sisa rasa sakit yang tidak bisa dia jelaskan.Dia menatap langit-langit kamar. Ruangan itu begitu tinggi dan mewah, dengan ukiran stucco rumit yang menghiasi sudut-sudutnya. Namun, tidak ada satu pun detail di sana yang







