MasukKaya ends up in the hands of her father’s enemy by mistake, little did she know it would turn into the biggest blessing, or horror. Raised with a sister that hates her, in a pack that was indifferent towards her, life hasn’t always been easy for her. And she ends up in the hands of the lycan king, and she finds out he’s her mate. The lycan king has only two goals in life, keeping his son and pack safe. He wasn’t ready for a mate, after the betrayal of the last one. But the starry eyed girl looks at him like he is the best thing she has ever seen. He doesn’t want anything to do with her, but does he have the strong will to keep his hands to himself while she’s with him?
Lihat lebih banyakAngelica Mont, wanita cantik berusia 38 Tahun. Dia adalah seorang Ibu tunggal yang bekerja sebagai penjual buah di pasar.
Sehari-hari dia hanya sibuk berjualan dilapak. Meski tak mudah, hari-hari dilewatinya dengan baik. * Pagi itu, Angelica sedang menimbang buah semangka yang dipilih oleh pembeli, dia menentukan harga dari semangka itu, lalu menerima pembayaran. "Terima kasih. Datang lagi ya," ucap Angelica sambil tersenyum, dia menatap kepergian pelanggannya. Tak lama setelah kepergian pembeli, muncul sekolompok preman. Melihat wajah preman yang tak asing, membuat Angelica muak. Dia tak menghiraukan datangnya para preman itu dan lanjut bekerja. Menata buah di lapaknya. Seorang preman mendekati Angelica, lalu menggodanya. "Hai, cantik. Sibuk kerja ya," godanya. Angelica masih diam, tak menghiraukan kedatangan mereka sama sekali. Kesal karena diabaikan, seseorang itupun bertindak kasar. Dia mencengkram pergelangan tangan Angelica dan menariknya. Sehingga wajah Angelica menghadap ke wajahnya. "Wah, sungguh cantik. Kamu apa nggak rugi cuma jualan buah. Dengan kecantikanmu bak Dewi kayangan, mending jual tubuh. Hahaha..." Angelica langsung mengerutkan dahi. Segera dia menarik tangannya agar terlepas dari cengkraman preman. "Tutup mulutmu. Kalau nggak mau aku sumpal pakai kulit durian," kata Angelica dengan tatapan tajam menusuk. Si preman tersenyum miring, "dari pada kulit durian. Mending kamu sumpal mulutku pakai mulutmu aja. Sini," katanya kurang ajar. "Jangan buat keributan di lapakku. Kalau nggak ada keperluan, mending kalian pergi. Pelangganku jadi nggak mau datang karena kalian," kata Angelica protes. "Oh, begitu ya? Aduh, gimana dong? Kami maunya emang gangguin kamu tuh. Hahaha ..." "Hei, penjual buah. Jangan mengira kamu bisa seenaknya dengan kami. Cuma penjual buah miskin aja sok sekali. Kalau bukan karena wajah cantikmu. Sudah aku buat kamu jadi makan ikan di sungai." "Hahaha... Betul sekali." "Ckck... Kasian sekali wanita ini. Cantik-cantik harus susah payah jualan buah. Mana harus ngerawat anak sendirian lagi." Mendengar ocehan para preman dihadapannya, membuat Angelica kesal. Tapi, dia tak bisa melakukan apa-apa karena tak mau membuat kegaduhan yang tak berarti. "Sudah-sudah. Kalian jangan banyak omong lagi. Minggir sana," kata seseorang yang adalah bos para preman. Beberapa orang yang tadi mengatai Angelica mulai menepi. Memberi jalan untuk bosnya lewat. Bos premen itu menatap wanita cantik dengan lekat, lalu mengeluarkan secarik kertas dan dibantingnya ke meja. "Biaya kemananan, lima juta." Amgelica kaget, "hah? Lima juta? Kamu gila ya?" sahutnya. "Apa? Kamu ngatain aku gila? Dasar jalang!" sentak bos preman. Tak terima dengan perkataan Angelica. "Kalau nggak gila, terus apa? Bulan lalu cuma satu juta? Kenapa sekarang jadi lima juta? Kalian mau memerasku?" kata Angelica yang semakin emosi. "Duh, kenapa marah-marah gitu sih. Kamu nggak punya uang? Mau aku bayarin? Gampang kok, kalau kamu temani aku malam ini, aku akan bayar biaya keamanan selama tiga bulan. Gimana?" Bos preman beraksi. Memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Dia memang sengaja ingin mencari gara-gara dengan Angelica. Dia menatap Angelica dari ujung kepala sampai ujung kaki, lalu memfokuskan pandangan ke bagian dada dari Angelica. "Sialan! wanita ini semakin hari semakin cantik saja. Sungguh membuatku terpesona. Sayangnya dia selalu lolos. Jadi nggak bisa main-main deh," kata Bos preman dalam hati. Angelica mengepalkan tangan marah. Ingin rasanya dia menghajar para preman yang mengganggunya. Sayangnya dia masih harus menahan diri. "Aku harus bertahan. Anakku sudah kelas 2 SMA, setelah dia lulus nanti, aku akan pindah dari kota ini. Untuk saat ini, aku nggak bisa membuat masalah. Sabar Angelica, sabar," kata Angelica dalam hati. Memperingatkan diri sendiri. "Bagaimana? Sudah kamu pikirkan dengan baik? Kamu dari tadi cuma diam, pasti lagi mikirin gimana caranya bayar 'kan?" kata bos preman. "Sudahlah. Jangan sok jual mahal. Mendapatkan perhatian dari Bos kami adalah keberuntunganmu. Penjual receh sepertimu seharusnya bersyukur." "Jangan jadi orang yang nggak tahu diri." Angelica menatap tajam, lalu tersenyum cantik pada bos preman. "Nomor rekening," kata Angelica. Bos preman terkejut, "apa? No-nomor rekening?" tanyanya. Angelica menganggukkan kepala, "iya, nomor rekening. Uang segitu aku nggak ada tunai. Kalau mau aku bayar, ya harus transfer. Kenapa? Nggak mau dibayar?" tanyanya. Angelica menyodorkan ponselnya kepada Bos preman, "isi nomor rekeningnya," katanya. Memerintah Bos preman untuk mengisi nomor rekening. Setelah nomor rekening terisi, ponsel dikembalikan ke Angelica. Segera Angelica mentransfer sejumlah uang yang diminta preman. "Sudah aku bayar lunas, lima juta. Silakan pergi," kata Angelica mengusir para preman dari kiosnya. Karena tak ada lagi keperluan, mau tak mau para preman pergi meninggalkan lapak. Bos preman tampak sangat kecewa bercampur kesal karena tak bisa mendapat apa yang dia inginkan. * Di sekolah... Sekelompok anak sedang melakukan perundungan terhadap seorang anak laki-laki. Anak laki-laki yang dirundung adalah anak dari Angelica, dia bernama Nathanael Mont. "Anak haram sialan. Berani kamu melawanku. Hah? Akan aku buat kamu merasakan akibat dari perbuatanmu," kata seorang anak laki-laki bernama Theo. Theo memerintahkan lima temannya untuk menghajar Nathan. Sementara Nathan yang tak pandai berkelahi, hanya bisa pasrah saat dirundung. Nathan memejamkan mata, dia merasa sangat sakit disekujur tubuh karena dipukuli Theo dan teman-temannya. "Hentikan!" kata Theo. Semua orang berhanti memukuli Nathan dan memberi jalan untuk Theo lewat. Nathan menadahkan kepala, menatap Theo yang berdiri dihadapannya. "Ke-kenapa?" tanya Nathan. "Kenapa? Apanya yang kenapa? Kamu mau tanya, kenapa aku melakukan ini?" tanya Theo. Nathan diam. Hanya lekat menatap Theo yang dirasanya sudah gila. Tatapan mata Nathan membuat Theo semakin kesal. Tiba-tiba Theo menginjak tangan kiri Nathan. "Ouch..." Nathan tampak begitu kesakitan. Dia merangkul kaki Theo erat, lalu memohon untuk tangannya dilepaskan. "Lepaskan. Aku mohon lepaskan," kata Nathan memohon. Mendengar permohonan Nathan, Theo bukannya melepaskan malah semakin kuat menginjak tangan Nathan. "Lepaskan katamu? Aku akan lepas setelah tanganmu ini hancur, berengsek. Bajingan sialan! Mati saja kamu," maki Theo pada Nathan. "Theo hentikan." Seseorang berlari menghampiri Theo. Dia memberitahu jika wali kelas sedang mencari Nathan untuk urusan penting. Mendengar itu Theo langsung melepaskan pijakan dan meminta Nathan pergi. "Pergi sana. Jangan sampai aku dengar kamu mengadu soal tanganmu. Jika ditanya Pak Guru, bilang saja kamu jatuh sendiri. Apa kamu mengerti?" sentak Theo. Nathan menganggukkan kepala, segera dia bangun dari posisinya yang meringkuk. Dengan susah payah, akhirnya Nathan bisa bangkit berdiri, lalu berjalan terhuyung-huyung meninggalkan Theo. "Apa nggak masalah dia menemui wali kelas dengan keadaan seperti itu?" tanya seseorang. "Apa masalahnya?" tanya Theo. "Ya, takutnya dia ngadu habis dipukuli. Kita bisa kena hukuman," kata seseorang khawatir. "Apa kalian melihat sesuatu terjadi, di sini?" tanya Theo lagi. Menatap semua orang yang ada di atap gedung. Semua yang ada di sana diam sesaat, lalu sedetik kemudian langsung menggelengkan kepala. Mereka tahu maksud ucapan Theo tanpa dijelaskan. Theo menatap punggung Nathan yang sedang berjalan menuju tangga dengan senyuman sinis.KAYA It was the middle of May. Milo had come back home to spend some time with us. After his coronation, he had left the pack to spend time living as a normal person so that he would understand what it means to live among the people. Adrian didn't like it because he felt like Milo could be learning about the kingdom rather than doing all that but the boy's mind had been set. I could understand where they were both coming from but since it was what he wanted, I couldn't stop him and neither could his father. The only condition Adrian gave him was that he would stay with Roy. If he stayed with Roy, then his heart would be more at peace knowing that he was with someone he trusted. Roy loved the idea of Milo being over and so since the beginning of the year, he had been there. When I told him it was his father's birthday, he knew he had to come back. This time around, we didn't want a big celebration. Although since it was an official holiday, the entire kingdom knew and the
KAYA There was finally time for Milo's coronation. We had been putting it off for so long but now, we were going to make it happen. It had taken me a week to make all preparations because I wanted this to be perfect. I'd sent out the invitations earlier to everyone and made sure everything down to the last detail was ready. Milo was very excited about this and I could see how much this meant to him. He and Adrian had been spending the week together because Adrian said it was part of his hazing ceremony to welcome him into the circle of Kings. Unlike the forest his father had left him in for a week to find for himself, he wanted to do things that he hadn't done with Milo before like fishing and hunting. The party was tonight and I just got a call from the tailor that there had been some issues with the clothes. Milo's clothes to be exact. I didn't want to lose it because I knew I had to find a solution one way or another and I had to find it fast. I hurried over to the
KAYATWO MONTHS LATERMaybe I was the one who was mad. Maybe I was losing it. As soon as the maid told me I ran out of my room and went downstairs. The madness in this house had to stop. I had endured tol much from that bitch and maybe she thought that since I was quiet, I was stupid but not again. The kitchen door was locked just as I thought it would be. “Selena! You stupid bitch! Open the door!” I could hear her moving around inside and she laughed. “Oh, I see they came to report to you again. As I told them, I'll be cooking Adrian's food today. I mean, after all. I'm basically just a second wife.”Second wife?! In what universe?! The maids said that before they woke up, she had locked herself in the kitchen and they couldn't even make breakfast for the twins to take to school. “Are you nuts? This is my house and my kitchen! Open the damn door!” “Why don't you kick it o
KAYA When we got to the grave site, we were amazed because it wasn't your normal six feet. “She was claustrophobic. I don't think it'd be fair to give her a tight grave.” We could understand that and we stayed there with him when he said things to her and told her how much he loved her and missed her. It rained earlier that day so maybe that just made the whole thing gloomier. We went back to the house with the guests. The food has been ready since last night and we just stood in a corner while Roy attended to his guests. The kids had to stay upstairs because we didn't want thtme to be down here. It was only Roy's son that was down here. “Thank you so much for coming, everyone. I really appreciate you for being here. My wife would have been so happy to know that there were many people who actes about her. Its just said that it's only at her death that we had this crowd. I don't really have much to say but I l
ADRIANIt was like she had developed some kind of power because with the way she was walking, I found it so hard to catch up with her. Even when I tried to hold her hand, she wouldn't let me. “Kay, please wait. Let me speak to you.”If I couldn't hold her hand, I
ADRIAN I knew that I was the last person that she wanted to see but I still had to go see her. Now that things were finally over, it was the right time to see her. Normally, I should have waited until she got enough sleep so that she won't feel irritated when i woke her u
KAYAWe couldn't stay with Roy even though we wanted to. Adrian was the King, there was no way that he would not sleep in the house. Well, at least that's what Roy had been trying to tell him for the past hour but it was like everything he said went over his ears. He didn'
KAYAThe morning came with bad news. I was still in bed when Lorian came to wake me up that Adrian and Nora were going out. At first, I didn't understand what he was talking about because I was so sleepy. Adrian had kept me up late last night talking and talking












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan