The Mate He Bought

The Mate He Bought

last updateLast Updated : 2025-07-13
By:  Emma PennOngoing
Language: English
goodnovel16goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
341views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

When Athena’s cruel stepfather sells her to the ruthless Alpha Raphael to settle his debts, her world shatters. Trapped in a palace where fear rules and disobedience is punished, Athena refuses to break—even when Raphael tries to crush her spirit. But defiance comes with a price. Raphael is a feared Alpha, a man who has never known mercy nor love, yet something about Athena stirs an unfamiliar fire within him. Her stubborn pride draws him closer, even as it fuels his anger. She should be nothing more than a slave to him… so why does she haunt his every thought? Caught between power, vengeance, and a dangerous attraction, Athena hatches a bold plan: if Raphael wants obedience, she will give him the perfect illusion. She’ll play his game, earn his trust—then seize her chance at freedom. But as Alpha and captive grow entangled in a battle of wills, one question looms: Is Athena truly the pawn in Raphael’s hands, or is she the one holding the strings?

View More

Chapter 1

Chapter 1: The Unfortunate Bargain

Situasi Kota Mano.

Pada sore hari, Nicholas berdiri di pintu gerbang Universitas Bahasa Asing Mano. Dia melihat ke sekeliling seperti sedang mencari seseorang. Bunga mawar merah yang dibawanya berhasil menarik perhatian orang-orang di sekitar. Namun, saat melihat pakaian Nicholas yang lusuh, mereka mencibir dan menghinanya.

Di mata orang-orang, Nicholas hanyalah pria miskin yang tak berguna. Tidak peduli seberapa banyak bunga mawar yang dibawa, tidak akan bisa mengubah fakta bahwa dia adalah pria yang payah.

Namun, Nicholas tidak memedulikan pandangan orang lain. Dia hanya ingin segera bertemu dengan sosok yang telah dinantikannya sejak tadi.

Nicholas telah bekerja keras agar dapat memberikan kejutan yang spesial pada Hari Perempuan. Demi mendapatkan sebuah senyuman manis, dia menggunakan hampir semua gajinya bulan ini untuk membeli kalung emas.

Asalkan gadis yang dicintainya bahagia, Nicholas merasa semua yang dilakukannya sepadan.

Secara berangsur-angsur, kerumunan mulai membubarkan diri, tetapi Nicholas malah mengerutkan alisnya. Dia gelisah karena orang yang ditunggunya belum muncul juga.

Nicholas ingin menelepon gadis yang ditunggu, tapi dia segera mengurungkan niat tersebut. Kalau menelepon gadis tersebut, tujuannya untuk memberikan kejutan akan gagal.

Saat Nicholas sedang cemas, dia mendengar suara tawa yang tidak asing. "Hahaha. Kak Colin, jangan seperti itu! Di sini banyak orang!"

Nicholas tersentak, lalu langsung menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Ketika melihat pemandangan di hadapannya, dia merasa seperti disambar petir.

Nicholas melihat seorang gadis dan seorang pria yang berjalan keluar dari kampus. Pria itu memiliki tubuh yang kurus, wajah yang jelek, dan kantung mata yang hitam. Sebaliknya, gadis yang berada di samping tampak sangat cantik, memiliki kulit yang cerah, dan berambut panjang. Gaun putih yang dikenakan membuatnya terlihat seperti setangkai bunga aster.

Sambil tertawa, pria kurus itu merangkul gadis cantik yang ada di sampingnya. Mereka terlihat sangat romantis.

Mata Nicholas memerah, amarah menguasai hati, dan ribuan asumsi langsung bermunculan di dalam benaknya. Kekasih yang sangat dicintai malah berada di dalam pelukan pria lain dan bahkan bermesraan?

"Nicholas, kenapa kamu berada di sini?" Felita terkejut dan panik, dia langsung menyingkirkan tangan Colin yang merangkulnya.

"Nicholas? Felita, apakah dia adalah mantan pacarmu yang miskin dan bekerja di restoran itu?" Colin mengamati Nicholas selama beberapa saat, lalu menertawakannya.

Nicholas tertegun sambil berpikir, 'Mantan pacar? Kenapa aku disebut mantan pacar?'

"Felita, siapa pria ini? Kenapa dia merangkulmu?" tanya Nicholas.

Felita terdiam sejenak dan menatap Nicholas dengan tenang.

Hati Nicholas terasa sesak, dia sangat frustrasi melihat ekspresi Felita yang tenang. Diamnya Felita seolah-olah telah menjawab semua pertanyaan Nicholas.

"Nicholas, hari ini kamu tidak bekerja? Kenapa malah datang ke sini? Kamu bohong, ya?" Felita mengerutkan alis dan nada bicaranya terdengar sangat dingin.

"Jawab aku! Siapa pria ini? Apa hubungan kalian?" tanya Nicholas.

Wajah Felita menjadi masam, sedangkan Colin maju dan mengamati Nicholas, lalu berkata, "Siapa aku? Apakah kamu tidak bisa melihat kemesraanku dengan Felita? Kamu buta, ya?"

Nicholas sangat murka, dia menatap Felita dengan penuh amarah.

Raut wajah Felita terlihat serius. "Nicholas, karena kamu sudah melihat semuanya, aku akan memberitahumu sekarang juga! Aku dan Kak Colin saling mencintai. Aku harap, kamu tidak menjadi orang ketiga di antara kami!"

"Saling mencintai? Kalau kalian saling mencintai, lantas bagaimana denganku?" tanya Nicholas sambil menggertakkan gigi. Suaranya sampai terdengar gemetaran.

"Bagaimana denganmu?" Colin memandang penampilan Nicholas dengan jijik, lalu perlahan-lahan mendekat dan berkata, "Kamu hanyalah pria yang tidak berguna! Hahaha ...."

Wajah Nicholas memucat, dia mendorong Colin dan bergegas meraih pergelangan tangan Felita. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Felita mengempaskan genggaman Colin sambil menatapnya dengan sinis. "Singkirkan tanganmu yang kotor! Jangan menyentuhku!"

Nicholas terkejut mendengar ucapan Felita. Dia melangkah mundur dan bunga di tangannya pun jatuh ke atas lantai.

"Nicholas, kita putus! Kamu tidak bisa memberikan yang aku inginkan!" Felita berbicara dengan santai.

"Putus?" Ekspresi Nicholas sedikit berubah.

"Benar!" jawab Felita dengan dingin dan tidak sungkan. "Kamu tidak bisa memberikan kehidupan yang aku inginkan! Kamu juga tidak bisa memberikanku kebahagiaan. Untuk apa aku bersamamu? Di saat teman-teman lain berulang tahun, mereka mendapatkan ponsel, tas, ataupun hadiah mahal, sedangkan aku? Apa yang aku dapatkan?! Hanya seribu bangau kertas! Norak! Apakah kamu tidak merasa malu?"

Nicholas tertegun, dia menghabiskan waktu selama lebih dari setengah tahun untuk melipat seribu bangau kertas yang akan diberikan sebagai hadiah ulang tahun Felita. Tidak disangka, ternyata bangau kertas itu sama sekali tidak bernilai di mata Felita.

"Kamu tidak punya uang, tidak punya kedudukan, tidak punya apa-apa! Untuk apa aku bersamamu? Untuk mengajakku hidup susah? Atau agar aku membantumu bekerja di restoran?" kata Felita.

Felita sama sekali tidak sungkan-sungkan. "Nicholas, aku mau berpacaran denganmu karena aku mendengar keluargamu sangat kaya. Tapi setelah menjalin hubungan, aku baru menyadari bahwa keluargamu sama sekali tidak punya apa-apa. Kamu hanyalah seorang pria miskin, membelikanku kosmetik seharga enam juta saja tidak mampu. Bagaimana aku bisa bersamamu?"

Awalnya, Nicholas menggertakkan gigi, tetapi setelah dipikir-pikir, dia malah merasa konyol.

Ternyata semua hanyalah demi uang? Nicholas berpikir, 'Felita memilih selingkuh karena merasa akan hidup susah bila terus berpacaran denganku?'

Nicholas tidak menyangka semua akan berakhir seperti ini. Dia juga tidak menyangka kalau Felita adalah wanita yang tega dan materialistis.

Awalnya, Nicholas telah dijodohkan dengan Samantha, putri sulung Keluarga Tansil.

Namun, Nicholas membatalkan perjodohannya dengan Samantha karena dia dan Felita sudah berpacaran. Kalau tahu akan seperti ini, bagaimana mungkin dia akan mengorbankan perjodohan itu sampai harus bertengkar dengan Kakek Winata?

Sejak pertengkaran itu, semua fasilitas disita dan Nicholas tidak diberikan uang sepeser pun hingga terpaksa harus bekerja sebagai pelayan di restoran.

Nicholas telah berkorban sangat banyak, dia bahkan pulang untuk membujuk Kakek Winata agar merestui hubungannya. Di saat Keluarga Winata telah memberikan restu, ternyata Felita malah berselingkuh.

"Kenapa? Tidak terima?" Colin menghina Nicholas, lalu mendorong bahunya dengan arogan. "Jangan banyak omong kosong! Orang miskin sepertimu memang tidak pernah berkaca. Di dunia ini tidak ada roti yang jatuh dari langit. Aku peringatkan, Felita adalah pacarku! Pergi, jangan merusak suasana hati kami!"

Saat mendengar ucapan Colin, Nicholas menggertakkan gigi sambil menoleh ke arah Felita dan bertanya, "Felita, aku tanya untuk terakhir kalinya, apakah kamu meninggalkanku demi uang? Apakah kamu ingin bersamaku hanya karena mendengar kalau keluargaku kaya? Apakah kamu tidak akan menyesali keputusanmu ini?"

"Menyesal? Kamu berpikir aku akan menyesal?" Felita menatap Nicholas dengan sinis. "Selama mendekatiku, Kak Colin memberikanku hadiah-hadiah yang mahal. Ada ponsel, kosmetik, dan barang-barang mewah lainnya. Coba tanyakan kepada dirimu sendiri, apakah kamu juga bisa memberikan semua itu kepadaku?"
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status