LOGINBeing an Omega isn't an easy job. In fact it's one of the hardest jobs within a wolf pack and often a role that gets looked down on, constantly. But it is a job that Chloe Patterson cherishes and tries to perfect everyday. No matter what gets thrown at her, Chloe remains strong. She pushes herself to do her best because it's what her mother taught her to do from a young age. And even though Chloe's mother has long since passed, Chloe still remembers everything her mother taught her about pack levels. Chloe knows that even though she is an omega, she plays an important role within the pack. Chloe also knows that high titles don't always equal strength. When Chloe finds out who her mate is on her eighteenth birthday, she is a little hesitant. Chloe knows she will do a good job meeting the requirements for her new title, but her mate disagrees. And when he publically rejects her over her omega status, Chloe stands tall. She let's the secret she has kept for thirteen years out and walks away from the pack she has worked so hard for. Will Chloe's mate regret his decision to reject his omega mate? Will Chloe find her second chance? Will justice come for the wrongdoing done thirteen years ago?
View MoreKOTARAJA Jenggala, tahun 1115 Saka (1193 Masehi).
Seperti hari-hari lain, suasana di pusat pemerintahan Tumapel terlihat sangat ramai siang itu. Lebih-lebih di pasar gede, di mana para pedagang tempatan bercampur baur dengan saudagar dari segala bangsa. Masing-masing sibuk menjajakan rupa-rupa barang dagangan, dari sayur-mayur hingga porselen bawaan bangsa Song.
Keramaian pasar luber sampai ke tempat-tempat di sekitarnya. Namun pedagang yang berjualan dalam warung-warung sederhana yang berjejer di luar tembok pasar hanya menjajakan makanan dan minuman. Siap dinikmati di tempat sembari mengamati keriuhan suasana siang.
Seorang lelaki muda berusia awal dua puluhan tahun, dengan kumis tipis menghiasi bagian bawah hidungnya, tampak berjalan melintasi deretan warung tersebut.
"Mari, Tuan Prajurit, silakan mampir di sini," seru seorang wanita paruh baya dari salah satu warung.
Yang disapa hanya tersenyum dan anggukkan kepala, tetapi tak sedikitpun menghentikan langkah. Ia baru berhenti ketika sampai di satu warung yang terletak agak di ujung.
Begitu memasuki warung, lelaki muda itu langsung saja duduk di atas bangku kayu panjang. Wajahnya yang cakap, berkulit sawo matang, berubah sedikit kelam oleh sengatan sinar matahari.
Dilihat dari penampilannya, serta perawakannya yang gagah dengan dada bidang dan sepasang bahu kukuh, agaknya lelaki muda tersebut berasal dari kalangan kesatria. Terlebih jika menilik pada senjata yang tergantung di pinggang. Sebuah pedang panjang dalam warangka.
Pada ujung gagang terdapat ukiran makhluk setengah manusia berkepala garuda dan bersayap. Sosok yang dikenal sebagai lencana Sri Maharaja Girindra, raja yang tengah bertakhta di Jenggala kala itu.
Setelah letakkan pantat ke permukaan bangku kayu, si lelaki muda tersenyum pada wanita paruh baya yang merupakan pemilik warung. Kumis lebatnya tampak melengkung seturut gerak bibir.
"Ah, Sang Wiratama rupanya. Silakan, Tuan, silakan duduk," sambut wanita pemilik warung dengan senyum lebar di wajah.
Ditegur begitu lelaki berkumis lebat tersebut tunjukkan raut muka keberatan. Kepalanya digeleng-gelengkan, sembari sebelah tangannya menggoyang-goyang jari telunjuk di depan muka.
"Mbok, sudah berapa kali aku katakan, jangan panggil aku begitu. Sebut saja namaku, Seta," ujarnya.
Simbok pemilik warung tertawa mengikik.
"Duh, Tuan Prajurit ini sungguh pandai merendah. Tidak sembarang prajurit bisa sampai di jenjang wira tamtama pada usia semuda ini. Apa yang telah Tuan Prajurit capai adalah satu keistimewaan.
"Lebih-lebih lagi pangkat itu didapat sebagai sebuah anugerah, yang diberikan langsung oleh Sri Maharaja Girindra sendiri. Kenapa musti ditutup-tutupi segala?" sahut wanita tersebut.
Lelaki yang menyebut diri sebagai Seta tersenyum simpul. Kembali kepalanya geleng-geleng.
"Bukannya mau ditutup-tutupi atau pun merasa malu, Mbok. Tapi ini kan di warung. Segala macam pangkat dan jabatan mana ada perlunya disebut-sebut di tempat ini.
"Beda cerita kalau Simbok datang ke tepas keprajuritan di dalam benteng keraton. Barulah Simbok boleh panggil aku begitu. Kalau perlu sebut yang lengkap sekalian gelar yang panjangnya seperti tali tampar itu," kata prajurit itu.
Keduanya lantas sama tertawa lepas. Suara riang mereka menerabas udara siang yang panas membakar.
Tawa itu baru berhenti ketika tiba-tiba simbok pemilik warung hentikan tawanya dan berkata, "Ah, saya sampai lupa bertanya. Tuan Prajurit mau pesan apa ya?"
Seta tampak berpikir sejenak. Meski sudah tengah hari, tapi ia merasa perutnya masih belum terlalu lapar.
"Tolong buatkan kopi panas saja, Mbok," pinta Seta kemudian.
"Baik, Tuan. Tolong tunggu sebentar," sahut simbok pemilik warung.
Kemudian si pemilik warung balikkan badan menuju ke bagian belakang. Begitu tubuh wanita paruh baya itu lenyap di balik dinding anyaman bambu, terdengar suaranya menjerit keras.
"Aaaaa!"
Seta tersentak kaget.
"Mbok?!" seru sang prajurit sembari bergegas bangkit dari duduk. Sebelah tangannya memegangi gagang pedang di pinggang, siap ditarik sewaktu-waktu diperlukan.
Belum lagi Seta mendekat, muncul beberapa sosok dari bagian belakang warung. Tiga orang lelaki, semuanya bertampang ganas lagi seram. Cambang bauk meranggas tumbuh memenuhi wajah mereka.
Dua dari mereka memegangi simbok pemilik warung. Sebilah parang besar menempel di leher wanita paruh baya tersebut. Wajahnya pasi, tampak sangat ketakutan.
Geraham Seta bergemeletuk keras. Amarahnya langsung memuncak melihat apa yang tersaji di depan matanya itu.
"Keparat! Siapa kalian?" bentaknya dengan suara menggelegar.
Tiga lelaki yang baru muncul menanggapi bentakan itu dengan tawa gelak-gelak. Sembari terus tertawa, lelaki yang paling depan maju beberapa langkah.
"Prajurit Tengik, kau tidak berhak bertanya!" hardik lelaki yang baru saja maju mendekati Seta. "Justru akulah yang ingin bertanya padamu. Benar kau prajurit Jenggala yang bernama Seta dari Hantang?"
Pertanyaan itu membuat kening Seta berkerut. Dari mana orang yang sama sekali tidak ia kenal ini tahu siapa dirinya? Bahkan tahu pula nama kampung yang menjadi asal-usulnya?
"Dari mana kau tahu semua itu?" Tanpa sadar Seta ajukan pertanyaan penuh nada heran.
"Bodoh! Sudah kubilang kau tidak berhak bertanya!" sentak lelaki bercambang bauk lebat dengan wajah garang. "Jawab saja pertanyaanku tadi, cepat!"
Geraham Seta bergemeletak menahan amarah. Namun mau tak mau ia menjawab juga.
"Benar, aku Seta prajurit Jenggala. Asalku dari Hantang."
Lelaki bercambang bauk lebat di hadapan Seta kembali tertawa lebar. Dua temannya yang sedang memegangi simbok warung turut tergelak-gelak.
"Ah, akhirnya kami menemukanmu di sini, Prajurit Tengik. Sungguh tidak sia-sia usaha kami beberapa hari ini. Meski untuk itu kami harus menanggung bahaya besar dengan memasuki kawasan kotaraja," ujar lelaki asing tersebut, lalu lanjutkan tawanya.
Seta mendengus. "Kau tidak menjawab pertanyaanku. Aku ulangi sekali lagi, siapa kalian?" bentaknya lagi.
Kembali tiga lelaki itu tertawa gelak-gelak. Dua yang sedang menyandera simbok pemilik warung saling pandang dalam gelak tawa.
"Wajar saja kau tidak mengenal siapa kami, Seta. Kami memang bukan orang terkenal sepertimu, prajurit terbaik di Kerajaan Jenggala, wira tamtama termuda," jawab lelaki yang paling depan sembari menyeringai.
Meski kalimat lelaki bercambang bauk lebat itu berupa pujian, namun jelas sekali nada suaranya terdengar mengejek.
"Tapi jika aku sebut satu nama, nama orang yang tentunya masih melekat kuat di ingatanmu, aku yakin sekali kau akan langsung mengetahui apa tujuan kami datang kemari," lanjut lelaki tersebut.
"Apa maksudmu?" tanya Seta keheranan. Seketika ingatannya melayang, mengingat-ingat sekian perselisihan yang pernah melibatkan dirinya pada waktu-waktu belakangan. Namun rasa-rasanya tidak ada.
Lelaki berwajah bengis kembali menyeringai. Sepasang matanya yang merah menatap lekat-lekat pada Seta yang menanti jawaban dalam kebingungan.
"Dengar baik-baik olehmu, wahai prajurit terbaik Jenggala. Pangkat wira tamtama yang baru saja dianugerahkan padamu itu kau peroleh dengan menewaskan saudara kandungku, Surajaya..."
Berubah paras Seta mendengar nama itu.
)|(
GAVIN POV "Why am I so nervous," Shannon asks in a whisper as we climb the stairs to Logan's new office. I squeeze her hand and smile. "I'm not sure. What's running through that pretty head of yours," I ask, and she stops walking. I turn towards her, and my eyebrows pull together at the sight of her obvious discomfort. I knew she seemed tense when we arrived, but I just thought she was adjusting back to being here. Outcast and Thurman are extremely different. I didn't know there was something actually bothering her. "What's wrong," I whisper, and she bites her lip. She looks around to make sure we are utterly alone, and I step in closer to her. The need to provide protection overcomes me, and I, too, glance around us. "Love," I ask again when she remains silent, and S
GAVIN POV "I haven't told anyone we are mates yet...Have you," I ask as I zip up my bag I hardly had to use. Shannon shakes her head before giving me a small smile. "I haven't really had time to. You stole me yesterday morning, and I haven't left your sight since except to pee," Shannon replies, and a smile explodes across my face as I think over the past 24 hours. Indeed, I have basically held her captive. But we did stop by her room when we got back to town this morning. So she does have her cellphone now. She easily could have replied to messages. But I guess I haven't really given her a moment to herself. I have been glued to her side. "I'm not even sorry," I say, and she laughs. As she laughs, I drop my bag next to the front door. When I turn back towards my mate, her eyes sparkle
GAVIN POV RATED R I...I accept you, Gavin. Make me yours," Shannon whispers, and my heart feels as if it will explode out of my chest. I kiss her puffy lips while giving her breast a nice squeeze. Shannon moans, and my lust spikes again. I can't believe she thought some faint white lines across her stomach would blind me to how exquisite her body is. She is literally perfect, from her blond hair down to the green nail polish on her toes. I love everything about her. I love her hips and her slim waist. I love her medium-sized boobs. I love her thick but toned thighs. I love her shorter stature and creamy skin. I give her breast one last squeeze before I let my fingers travel downward. She breaks away from my kiss to pant and moans softly. So I move to her neck. I slide my tongue along the side I intend to mark and Sh
GAVIN POV rated R My tongue rolls out of my mouth happily as I spot a pair of shorts folded right outside the cabin door. Shannon must have found some communal clothes that are kept in the cabin.Gavin- The people here have really thought of everything.Bud- Yeah. .but I say we go in natural. Our mate mentioned mating. We should show her that we agree. Show her we want her too. We should leave no question in her mind that tonight is the night. Bud's excited suggestion stops me dead in my tracks. Images of Shannon slapping me across the face immediately fill my mind.Gavin- That's not happening.Bud- Why? She brought it up.Gavin- No, I mean...the mating that might happen. But going inside the cabin naked, that isn't happening.Bud- Why? If the mating does happen, we have to take
GAVIN POV "I never wanted to return to Thurman pack. I was expecting to be mated to someone from somewhere else," Shannon admits as we enter my apartment. I toss the key card on the counter while wat
GAVIN POV Have you ever stared in a mirror and questioned every single one of your features? Have you ever noticed every pore and imperfect line that makes up your face?Well, I can now say I have. I used to think I was a relatively confident person.
GAVIN POV Today is the day! At any moment, I could lock eyes with my mate! I can't believe it. I have dreamed about this day for so long. I fantasized about it when I was a pup. The other males laughed, but I hadn't cared.
GAVIN POV I smile as I look around at the calm surroundings. This is a nice place to meet our wolves for the first time. It has healthy-looking grass, and the earth isn't covered with concrete. It's probably the least modern area in a
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore