LOGIN"Setiap tantangan yang ada harus segera dijawab, karena waktu terus berdetak. Hanya kemampuan adaptasi cepat yang bisa menyelamatkan."
Alan berdiri tegak. “Aku akan ikut denganmu, Sando. Kita bisa bergerak lebih cepat berdua. Aku juga tahu beberapa jalur tikus di sekitar gudang itu.”Sando menatap Alan, lalu mengangguk. “Baik. Dua lebih baik dari satu. Tapi kita harus bergerak cepat. Maya, kirimkan koordinat dan skema gudang kepadaku dan Alan. Ryan, bersiaplah untuk memberikan dukungan visual dari drone jika memungkinkan.”
Tanpa menunggu persetujuan lain, Sando dan Alan bergegas menuju pintu keluar bunker, mengambil perlengkapan tempur ringan. Di layar, Fiona terhuyung-huyung, Arga masih di pelukannya. Helikopter-helikopter Albert sudah sangat dekat, lampu sorot mereka menyapu area sekitarnya.
“Baik, Sando, Alan, semoga berhasil!” Maya berseru, suaranya bercampur cemas dan harapan. Ia seg
"Salah satu kegagalan seorang pimpinan adalah saat ada pengkhianatan dari orang terdekat yang dilindunginya."Cahaya merah dari detonator kini berdenyut begitu cepat, menyilaukan mata, menelan semua harapan yang tersisa di dalam bunker yang remuk. Mr. Albert, dengan senyum bengisnya yang menyilaukan dalam kilatan cahaya neraka itu, mengangkat alat kebinasaan tersebut tinggi-tinggi.Arga mencoba bangkit dari puing-puing, kakinya tersandung. Setiap sendi tubuhnya terasa nyeri akibat pendaratan keras sebelumnya, namun adrenalin memompa darahnya dengan gila-gilaan.Ia melihat Maya dan Darren masih terperangkap di bawah balok beton, Ryan yang tergeletak lemah. Waktu terasa melambat, seolah alam semesta menahan napas.“Sando! Alan! Kalian dengar ini?!” Arga mengaum ke komunikatornya, mengabaikan rasa sakit yang menyayat.Ia tahu mereka pasti mendengar ledakan dan kehancuran. “Albert akan meledakkan semuanya! Ada
"Waktu singkat untuk berkorban tidak pernah cukup singkat untuk mengenang dan mengaguminya."“Sepuluh detik?!” Maya memekik.“Arga! Itu terlalu cepat! Kau akan… kau akan berada tepat di bawahnya!”“Tidak ada pilihan, Maya!” Arga berkata, suaranya dingin tapi penuh ketegasan. Ia menoleh ke komunikator. “Sando! Alan! Kalian dengar?!”Suara Sando dan Alan terdengar, sedikit putus asa. “Arga! Apa yang terjadi di dalam?! Hydra semakin cepat jatuh! Kami tidak bisa melakukan apa-apa dari sini! Perisai utamanya terlalu kuat!”“Aku tahu!” Arga berteriak. “Dengarkan baik-baik! Aku butuh kalian meluncurkan semua proyektil kalian ke sisi kiri Hydra! Fokus pada sisi kiri! Kita akan mencoba membelokkan jatuhnya sedikit saja, agar tidak menimpa kita persis di tengah bunker ini! Buat dia oleng!”“Sisi kiri?!” Alan bert
"Persatuan perjuangan akan menemukan celah pertolongan dari Yang Maha Kuasa."Maya, dengan jari-jari lincah, kembali menari di atas keyboard, melacak frekuensi perisai sekunder Ryan. Wajahnya tegang, peluh membasahi pelipisnya.“Perisai di sekitar Ryan… sedikit berfluktuasi… tapi masih terlalu kuat!”Ryan mengejan, energi biru membakar tubuhnya. Ia mencoba merogoh tasnya dengan susah payah, jari-jarinya kaku, mencari baterai padat energi yang Arga sebutkan.“Terus panaskan, Om Darren!” Arga memerintahkan. “Maya, beri tahu aku begitu ada celah sekecil apa pun!”Baja mulai memerah, asap tipis mengepul. Panas yang dahsyat memancar dari titik yang disasar Darren. Getaran di bunker semakin kuat, menandakan Hydra masih membombardir mereka. Waktu terus berjalan.“Arga… aku melihat celah!” Maya berteriak, matanya terpaku pada layar. “Hany
"Kecerdasan karena tekad melawan kejahatan berlipat kali terberkahi daripada kecanggihan model apapun."Suara Mr. Albert kembali, kali ini dengan nada kemenangan yang menusuk. “Rasakan sendiri, Darren Kloghs, apa artinya kehilangan orang yang kau sayangi. Perisai sekunder itu akan terus menyerap energi dari Prototipe Hydra, dan saat dia penuh… dia akan meledak! Membawa anak buahmu bersamanya, dan menghancurkan seluruh area itu hingga tak bersisa! Kalian tidak akan pernah bisa mengalahkanku! Kalian semua akan terkubur!”Maya dan Darren saling pandang, horor terpampang jelas di wajah mereka. Ryan, terjebak dalam medan energi biru, mulai mengerang kesakitan. Mereka telah jatuh dalam perangkap maut Albert. Tidak ada jalan keluar. Mereka semua akan musnah, dan Ryan adalah orang pertama yang akan menjadi korban ledakan dahsyat itu.Tiba-tiba, dari balik reruntuhan di sisi lain, sebuah siluet melesat cepat. Arga. Wajah
"Satu tekad bisa menyatukan banyak semangat mengalahkan kebatilan yang besar."“Bisa!” Alan berseru cepat. “Kami akan menembakkan semua yang kami punya! Ke arah mana, Om Darren? Ke arah unit umpan yang baru saja Ryan ‘hadiahi’ C4?”“Tidak!” Maya memotong. “Itu tidak cukup jauh! Kita butuh dia mengalihkan perhatiannya sepenuhnya dari bunker! Ryan, berapa banyak bahan peledak yang kau sisakan dari latihan simulasi untuk menghancurkan ‘target besar’?”Ryan mengerutkan kening, ingatannya mengais-ngais sisa persediaan. “Ada… ada sebuah muatan improvisasi besar yang disiapkan untuk melumpuhkan menara komunikasi musuh di skenario simulasi. Sangat kuat, tapi juga sangat tidak stabil. Kita menyimpannya di ruang bawah tanah, dekat generator cadangan. Untuk evakuasi total, jika bunker harus diledakkan.”“Sempurna!” Maya berseru, seny
"Persatuan akan menciptakan kekuatan maha besar untuk mengatasi tantangan apapun."Pada saat yang sama, sebuah drone kecil melesat keluar dari celah tersembunyi di atap bunker, terbang rendah menuju target.Maya menekan tombol, dengan napas tertahan, dan drone EMP itu meledak dengan kilatan cahaya biru terang tepat di atas unit-unit tank. Untuk sesaat, segalanya tampak hening. Layar-layar di bunker berkedip-kedip, lalu kembali normal.“Berhasil!” Maya berteriak, melihat unit-unit tank Albert sejenak berhenti bergerak, lampu-lampu di tubuh mereka berkedip-kedip tak karuan.“Ryan, sekarang!” Darren berteriak.Ryan, memegang tas berisi C4, melesat keluar dari saluran pembuangan darurat, bergerak cepat di bawah bayangan unit-unit tank yang lumpuh sementara. Ia harus bergerak cepat, sebelum sistem mereka pulih.Namun, di tengah semua kekacauan ini, sebuah suara lain terdengar di komuni







