Mag-log inErwin adalah seorang detektif tampan dan juga handal. Banyak kasus besar telah dia selesaikan. Namun, ada sebuah kasus yang membuatnya kesulitan sampai hampir membuatnya meninggal. Sedangkan Renata adalah seorang gadis yang mendapat hukuman dari malaikat karena sebuah kesalahan. Dia harus menjalani hidupnya sebagai seekor kucing malang. Takdir mempertemukan keduanya. Erwin membutuhkan bantuan Renata untuk memecahkan kasusnya. Begitu pula dengan Renata, dia membutuhkan Erwin agar bisa kembali menjadi manusia. Mampukah mereka bekerja sama untuk menyelesaikan sebuah kasus yang teramat sulit? Cerita ini penuh dengan aksi, drama, dan juga romansa yang akan membuat kita terpancing untuk ikut dalam petualangan detektif dan si gadis kucing.
view moreJuliet mengernyitkan kening kala merasakan pandangannya kabur.
Belum lagi, kepalanya sakit, seperti dihantam palu baja berulang kali. Wanita bermata almond itu mengerjap beberapa kali–mencoba mengumpulkan kesadarannya, hingga ia tersadar bahwa ruangan tempatnya ini sangatlah asing. “Aku ada di mana…?” bisiknya, hampir tak terdengar. Ingatan Juliet benar-benar terputus setelah meminum wine di Bar Starlight. Ya, semalam, Juliet sebenarnya berencana memberikan kejutan ulang tahun untuk kekasihnya. Sebuah jam mahal yang diinginkan pria itu telah dia persiapkan. Namun siapa sangka, Juliet justru menemukan pria itu berselingkuh dengan sahabat Juliet sendiri. Entah sejak kapan perselingkuhan diantara mereka terjadi. Semakin Juliet mengingat, semakin sesak dadanya. Patah hati dan marah, Juliet membalas dendam dengan mencampur lem perekat ke dalam pelumas yang mereka gunakan untuk saat berhubungan intim secara diam-diam. Tidak peduli apa yang akan terjadi dengan mereka, sakit dihatinya benar-benar tidak terbendung lagi. Juliet sempat mendengar mereka kesakitan, tapi tidak memuaskan rasa sakit hati Juliet. Wanita itu pun pergi dan minum ke Bar–sesuatu yang tak pernah ia lakukan sebelumnya. Tapi, mengapa bisa ia berakhir di sini? Sembari memikirkan semua, Juliet pun mencoba bangkit dari tempat tidur secara perlahan. Hanya saja … di detik berikutnya, wanita itu membeku kala selimut yang menutupi tubuhnya melorot perlahan. Tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya dan ada begitu banyak bercak di dada dan pahanya! Deg! Jantungnya seperti ingin loncat keluar. Ia pun menutup mulutnya dengan perasaan tak percaya. Ternyata, dia benar-benar bisa segila itu semalam. Dengan perasaan takut dan waspada, Juliet lantas menoleh perlahan ke sisi ranjang, mencoba melihat siapa yang berada di sebelahnya. Hah? Dan apa yang dilihat Juliet, membuat tubuhnya terasa lumpuh. Seorang pria tidur di sampingnya dan dia adalah …. Wilson Andrean, CEO baru di tempat Arga, kekasih pengkhianatnya itu, bekerja! “Ya ampun...” bisiknya. Meski baru menjabat, tetapi Arga tak hentinya mengeluhkan Wilson yang sangatlah dingin, ambisius, dan tidak manusiawi. Hal itu membuat Juliet yang beberapa kali mampir untuk mengantar makan siang Arga menjadi segan saat tak sengaja berpapasan dengan Wilson. “Astaga…” ngeri Juliet yang lantas menatap wajah Wilson yang masih terlelap. Tubuh kekar pria itu terekspos saat sebagian selimut terangkat, membuktikan bahwa ini nyata bukan mimpi buruk. “Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” panik Juliet, hingga tanpa sadar mengeluarkan suara pelan. Sayangnya, itu justru membuat Wilson mengerang pelan dan membuka matanya dengan malas. Ketika pandangan mereka bertemu, Juliet merasa darahnya berhenti mengalir. Wilson tiba-tiba menatapnya dengan tatapan tajam. “Bukankah kau kekasih Arga, manajer personalia di perusahaan ku?” Deg! Juliet tidak bisa berkata apa-apa. Jangan-jangan, dia yang menyerang Wilson? Wajahnya memanas karena malu, takut, dan bingung. Ditariknya selimut lebih erat, mencoba menutupi dirinya. “P–Pak CEO, ampuni aku, ya? Apa yang… terjadi semalam, aku sepertinya kerasukan setan jelangkung karena minum wine kebanyakan,” ucap Juliet dengan suara gemetar. Wilson menghela napas. Namun tak lama kemudian, dia tersenyum sinis. “Benarkah? Jadi, bagaimana kau akan bertanggung jawab atas pelecehan yang kau lakukan padaku semalam?” Hah? “P–pelecehan apa? Yang akan ada bekasnya kan aku, bukan pak CEO! Eh....” Wanita itu sontak menutup mulutnya, terkejut sendiri oleh ucapannya. Belum lagi, dia dapat melihat Wilson Andrean menatapnya tajam!"Kenapa Anda seperti memojokkan saya?" Ucap Jeni, merasa tidak terima diinterogasi oleh Erwin. Sambil melipat tangannya Erwin berkata "Memojokkan? Ayolah, Anda di sana saat itu. Tentu sangat mudah menjawabnya, bukan?" "Saya tidak terlalu ingat kejadian saat itu, saya sedang banyak pikiran," Jeni berdalih.Tatapan Erwin fokus memperhatikan ekspresi wajah Jeni. Tanpa analisa yang berbelit-belit, Erwin tau kalau Jeni menyembunyikan sesuatu. Dia hanya perlu memancing Jeni untuk mengungkapkan kebusukkannya."Anda seorang sekretaris di perusahaan ternama. Tidak main-main, Anda adalah sekretaris pemimpin perusahaan ini. Bagaimana bisa ingatan Anda kalah dengan seorang office boy. Coba ingat-ingat kembali, saya yakin itu tidak sulit bagi Anda!" Ucap Erwin, mencoba mulai memancing emosi Jeni."Apa Anda sedang meragukan kemampuan saya? Saya sudah lama mengabdi kepada Tuan Harry. Dan tidak pernah sekalipun saya berbuat kesalahan. Benar begitu kan, Tuan Harry?" kata Jeni, melirik ke arah Harry
“Lepaskan tangan saya,” bentak Jeni. “Ini hanya sementara. Kalau kamu tidak bersalah tentu kami lepaskan,” ucap Enola. “Apa kalian mencurigai saya yang membunuh korban?” tanya Jeni. “Kami hanya ingin memeriksa kamu sebagai saksi,” jawb Johny. Saat itu juga, Jeni dibawa oleh Enola dan yang lainnya. Mereka segera melaporkan hasil penyelidikan kepada Erwin yang saat ini sedang berada di kantor Harry Jonathan. Sementara itu, di ruangan Harry Jonathan, raut wajah Erwin tampak sangat serius. Sambil menatap dokumen yang dia awa, Erwin mendengarkan penjelasan Harry Jonathan dengan seksama. Tampaknya ada hal penting yang sedang mereka bahas. “Sekarang saya mengerti kenapa Anda meminta kami untuk menyelidiki kasus kematian kepala teknisi perusahaan Anda,” ucap Erwin. “Begitulah. Saya takut jika ini memang perbuatan seseorang yang berniat jahat,” kata Harry Jonathan. “Kalau begitu—“ Suara dering telepon milik Erwin memotong ucapannya. Dia buru-buru mengangkatnya saat melihat itu dari En
“Apa yang Dokter Erina temukan?” tanya Erwin sangat penasaran.“Aku akan menjelaskannya di markas. Aku segera ke sana sekarang,” jawab Johny dan langsung mematikan telfonnya.Erwin semakin yakin kalau memang kematian korban bukanlah bunuh diri. Banyak hal yang menunjukkan kejanggalan semenjak Erwin menangani kasus ini. Mulai dari proses penyelidikkannya yang selalu dihalang-halangi, proyek mencurigakan yang dikerjakan si korban dan juga kematian korban yang tidak wajar. Setelah setengah jam menunggu, akhirnya Johny sampai di markas. Dia membawa dokumen hasil analisis dari Dokter Erina. Johny langsung menyerahkannya kepada Erwin. “Kamu lihat sendiri hasilnya,” kata Johny sambil menyerahkan dokumen yang dia bawa.“Jadi memang benar kalau korban telah diracuni,” ucap Erwin setelah melihat hasil analisa dari Dokter Erina. “Benar, racun yang digunakan membunuh korban secara perlahan, menyebabkan jantungnya mengalami penurunan fungsi,” jelas Johny.“Sekarang, kita telah mendapatkan bukti
“Ini hanya gelas bekas kopi. Sebaiknya ku buang saja,” ucap Jenny.Namun, sebelum Jenny melangkah, Erwin merebut gelas bekas kopi itu. Sontak, Jenny terkejut. Dia seakan tidak ingin Erwin mengambilnya.“Di TKP tidak ada yang boleh dibuang atau disingkirkan. Itu bisa melanggar hukum karena merusak barang bukti,” ucap Erwin dengan tegas.“Baiklah, Anda boleh menyimpannya kalau begitu,” ucap Jenny pasrah.Sekitar satu jam mereka menyelidiki ruangan tempat korban bekerja. Selain gelas bekas kopi, mereka juga menemukan beberapa dokumen yang sedang dikerjakan oleh korban. Setelah selesai menyelidiki, mereka segera bergegas pergi untuk memeriksa barang-barang yang mereka temukan.“Akan kita apakan dokumen dan gelas ini, Win?” tanya Enola.“John, tolong bawa gelas ini ke Dokter Erina. Minta dia untuk mengecek jika ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk,” pinta Erwin pada Johny.“Untuk dokumen ini biar aku yang memeriksanya, mungkin kita bisa menemukan alasan kenapa korban dibunuh,” ucap Eno
Secarik kertas itu berisi alamat seseorang. Di alamat itu tertulis nama Johny, salah satu teman Erwin yang tinggal di kota Echigo. “Kita harus segera kesana,” pinta orang yang menemukan kertas itu.Sementara itu, Erwin, Enola, dan Renata masih dalam perjalanan menuju ke kota Echigo. Erwin tampak f
“Tolong ... selamatkan aku!” rintih seorang lelaki yang sudah tidak berdaya. Suaranya terdengar lemah tidak bertenaga. Ternyata dia adalah Erwin.Dalam keadaan tergeletak, Erwin menatap kucing yang ada di sampingnya. Tatapannya layu, seakan tidak ada harapan hidup lagi untuknya. “Andai kucing ini
Sementera itu di tempat lain, terlihat seekor kucing yang sedang berteduh di teras rumah seseorang.“Pergi dari sini! Dasar kucing sialan.” Teriak seorang wanita paruh baya mengusir kucing yang berteduh di depan teras rumahnya karena kesal dan takut kalau kucing itu mencuri makanan.Kucing yang ter
“Lepaskan aku! Siapa kalian? Dasar bedebah!” teriak Erwin yang sedang dalam kondisi terikat dengan mata tertutup kain.“Kamu tidak perlu tahu siapa kita. Dasar detektif sialan!” ucap seseorang sambil mendaratkan pukulan keras ke wajah Erwin. Seketika itu, darah mulai bercucuran dari mulut Erwin. “






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.