Home / Fantasi / The Peacemaker / Bab 5. Penguasa Tertawa di Pesta

Share

Bab 5. Penguasa Tertawa di Pesta

Author: riwidy
last update Huling Na-update: 2021-09-23 00:26:30

"Kesombongan adalah awal dari kehancuran. Itulah sebabnya tak ada perlunya membanggakan hal yang sebenarnya fana tak abadi."

"Maaf saya mau menanyakan hal di luar pengobatan, Mas Arga percaya dengan konsep kelahiran kembali alias reinkarnasi?" tanya dokter itu dengan wajah datar.  

"Entahlah, Dokter, menurut saya, itu mungkin saja terjadi sih. Iya kan?" Arga minta diyakinkan.  

"Jadi Mas Arga tidak menutup kemungkinan, bahwa itu juga bisa saja terjadi pada diri Mas sendiri, kan?" Dokter itu menaikkan kacamata minusnya.  

"Hum?  Jadi saat ini, bisa saja saya sedang mengalami reinkarnasi, begitu maksudnya, Dok?" Arga terkejut.  Dia tak mengira jalan cerita di film yang ditontonnya di TV, kini bisa terjadi pada dirinya di dunia nyata.  

"Bisa saja sih.  Saya belum bisa memastikan hal ini,  tapi fenomena itu bisa saja terjadi. Apa Mas mau saya pakai telepati. agar Mas bisa menelusuri pikiran yang telah lampau? Ini akan sangat membantu memulihkan ingatan dalam alam bawah sadar Mas sendiri."

"Boleh. Saya mau melakukannya, Dokter." Arga menjawabnya dengan berani. Baginya kejelasan soal identitasnya, jauh lebih penting, daripada rasa takutnya akan kenyataan fenomena reinkarnasi yang diteliti dokter.  

Maka sesion hari itu,  diwarnai dengan telepati yang dilakukan dokter psikiater itu.  Saat dilakukan, Arga pada mulanya tersenyum.  Lalu dia berteriak pedih memanggil ayah,  ibu dan Arya.  

Dokter bertanya dengan perlahan, "Apa yang sedang Mas Arga lihat saat ini?"

"Saya melihat ayah,  ibu dan adik saya.  Kami hidup bahagia tetapi ...." Arga mulai menangis pedih. 

"Mereka semua mati!  Mati lemas karena tidak mampu beli masker!  Dasar penguasa lalim,  kejam,  jahat!  Matilah kalian!" Arga marah-marah dengan memaki musuhnya. Dokter mencatat dalam kertas bernomernya. 

Sesaat kemudian Arga malah menangis histeris.  Entah apa yang dilihatnya.  Matanya masih menutup rapat dengan air mata mengalir deras. 

"Apa yang Mas Arga lihat sekarang?" tanya dokter lembut.  

"Saya ... Saya menguburkan ketiga anggota keluarga saya dengan kedua tangan ini!  Lalu akhirnya saya juga mati sendiri!" Arga menangis meraung-raung.  Pak Toni yang mendengar dari balik pintu,  jadi ikutan kaget dan menangis pelan. 

Saat dokter membangunkannya dari pengaruh alam bawah sadarnya,  Arga jadi memahami keadaannya sekarang. 

Dia sudah bereinkarnasi, lahir kembali lewat tubuh seseorang dengan nama sama, tapi tubuh,  dan keadaan yang jauh berbeda. Mungkin pas terjadi kecelakaan itu, saat tepatnya dia masuk ke wadaq atau tubuh ganteng pria fotomodel bernama sama ini.  

Lalu apa maksudnya ya dengan kejadian ini? Apa rahasia dibalik ketetapan ini?  Dengan lahirnya dia kembali ke dunia ini?  Apa?  Arga sungguh merasa lega sekarang tapi sekaligus juga bingung.  

Pak Toni sendiri mengucapkan syukur dengan keadaan Arga baru.  Tak masalah baginya terus melayani kebutuhan bos muda yang dulu pemilih dan temperamental. Tapi sekarang setelah mengalami reinkarnasi,  berubah menjadi tenang, juga jauh lebih sabar dan sopan.  

Arga bersyukur dan berjanji akan menjaga tubuh ini baik-baik.  Memanfaatkannya sebaik mungkin untuk membela kepentingan masyarakat Bumintara yang tertindas. 

Teringatlah Arga akan satu hal.  Buku!  Satu buku yang sempat diisinya menjelang kematiannya.  Arga harus mencari buku penting itu.   Mungkin dia akan banyak membantu ingatannya yang memudar soal kisah masa lalu dan dendam kepada 7 penguasa.

***

Keesokan harinya,  Arga benar-benar menapak tilas alamat lamanya. Rumah yang dulu dia tinggali bersama keluarganya.  

Sekarang rumah itu nampak berantakam dan tak terurus. Banyak rumah laba-labanya yang menggantung di tiap sudut atas langit-langit ruangan.  Juga di bagian bawahnya. Sampai tidak kelihatan bagian dalam rumahnya.  

Arga langsung menuju ke arah belakang rumah.  Makam itu masih ada di tempat yang sama.  Hanya sekarang sudah kotor dan ditumbuhi rumput 

tinggi. 

Arga segera mengambil pisau dan sapu lidi. Dibersihkannya rumput-rumput itu dengan pisau seadanya,  lalu disapunya seputar makam sampai bersih. 

Arga terduduk, bersimpuh dan berdoa dengan hati sedih sekaligus lega. Air mata mengalir deras di pipinya. 

Sedih mengingat keluarganya yang meninggal dengan naas. Dan lega karena dia tahu tujuan utama dia dilahirkan kembali saat ini. BALAS DENDAM!  Yes! 

Arga lalu beralih fokus mencari buku catatannya dulu. Dia melihat keadaannya dari sudut ke sudut.  Dia akhirnya memasuki rumah dan sejenak tercenung melihat betapa parahnya kerusakan rumah tua itu.  Ternyata rumah yang lama ditinggalkan memang rusak seiring waktu berjalan.

"Apakah buku itu masih ada ya? Atau sudah rusak dimakan rayap? Atau hancur kena air hujan?" bisik Arga ragu. Dia mempunyai harapan yang tipis melihat betapa besarnya kerusakan rumah ini, apalagi sebuah buku?

Arga segera menyingsingkan lengan bajunya dan mulai bersih-bersih. Diraihnya sebuah sapu dan mulailah Arga membersihkan sarang laba-laba. Tampak sarang laba-laba memang memenuhi semua bagian atas bawah ruangan.  Saking lebatnya sudah seperti istana laba-laba saja. 

"Maaf,  kawan.  Ini rumahku.  Kalian sudah sekian lama menempati rumah ini,  Kini saatnya sang pemilik asli mengambilnya kembali. Tak apa kan? Makasih sudah menjaga rumahku sekian lama.  Apakah kalian melihat bukuku?" Arga bertanya tanpa jawab.  

Arga kemudian terpekik kaget ketika melihat seonggok baju dan tulang kerangka di dalamnya! Kerangka itu nampak duduk dan meletakkan kepalanya di meja. Itu kerangka jenasah Arga sendiri!  Dan luar biasa,  dari tangan kerangka itu dia menggenggam buku yang dicarinya dari tadi. 

Arga segera memakamkan kerangka tubuhnya yang dulu, dengan sebaik-baiknya di samping makam keluarganya.  Lalu membawa buku itu pulang,  untuk dipelajarinya di rumah barunya sebagai Arga baru.  

***

Pesta di antara para  penguasa, semakin hari semakin tidak terkontrol saja. Banyak ragam pesta aneh yang mereka adakan. Semua atas nama menikmati kekayaan semaksimal  mungkin! Aji mumpung berlaku. 

Ada pesta biasa,  sekedar makan,  minum, berbincang dan melihat pertunjukan.  Dan biasanya hanya berlangsung satu sampai tiga jam saja. Atau bisa diperpanjang ke tempat lain kalau mau.  Bisa ke karaoke,  main musik, lihat bioskop,  berjoged,  dan sebagainya.  

Lalu ada pesta dengan tema khusus seperti pesta ulang tahun, kenaikan jabatan, penyambutan pegawai baru,  syukuran, pernikahan,  pesta lepas lajang,  pesta arisan dan banyak lagi. 

Lalu tak lupa juga ada pesta yang mengarah ke pemuasan kenikmatan hasrat birahi,  seperti pesta topless, nude, dan sebagainya yang sangat tak masuk akal tapi memang sungguh ada. 

Tak terpikirkan sama sekali oleh penikmat pesta ini tentang hukum karma. Apa yang telah mereka lakukan 5 tahun yang silam, terasa hanya jadi buku kenangan yang berdebu dan dibuang ke tengah lautan luas. Lalu lenyap tanpa bekas.

Mereka lupa dan sudah bersikap lengah  bahwa orang-orang korban mati dahulu, ataupun keturunannya, bisa saja membalas dendam sewaktu-waktu.

Arga dan Maya diantaranya!  

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mini Adila
Wah, keren ini. Author satu ini memang diksinya dalam cerita selalu keren. Top. Lanjut, Thor
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • The Peacemaker   Bab 140. The Peacemaker

    "Akhir perjalanan yang satu akhirnya sampai juga, dan permulaan perjalanan baru bisa jadi akan dimulai lagi." Ryan menatap Arga lekat. “Bos masih ingat kan janji Bos? Fokus pada misi, tinggalkan urusan hati. Jangan sampai wanita ini bikin Bos oleng lagi.”Arga menghela napas, raut wajahnya mengeras. “Aku tahu. Cinta itu sudah aku kubur dalam-dalam, Ryan. Tidak akan ada yang bisa mengubah jalanku.” Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa kekosongan hatinya, luka yang ditinggalkan Maya dan Sando, akan menjadi perisai. “Wanita itu, siapa pun dia, tidak akan bisa mengganggu misiku. Aku tidak akan membiarkan hatiku terpancing lagi.”***Di Bumintara, mentari pagi bersinar cerah di atas rumah minimalis Maya dan Sando. Aroma kopi dan bunga melati memenuhi udara, menciptakan suasana damai yang sempurna. Maya tersenyum, meletakkan cangkir kopi di meja samping Sando yang sedang membaca berita di tabletnya.“Berita hari ini apa, Sayang? Pasti soal penumpasan Faksi Elang di Negara Bagian Timur y

  • The Peacemaker   Bab 139. Kedamaian Bumintara Vs Peperangan Baru

    "Kedamaian adalah mutlak sebagai syarat hidup lebih mempunyai makna meski tak mudah mempertahankannya."Maya menghela napas. “Aku tahu. Hanya saja aku berharap ia juga bisa merasakan kedamaian yang sama seperti kita. Kedamaian yang lengkap.”Sando menatap jauh ke cakrawala. “Mungkin definisi kedamaian baginya berbeda. Bukan dalam bentuk keluarga atau cinta. Tapi dalam bentuk dunia yang lebih baik, lebih adil. Dan ia sedang mewujudkannya, sedikit demi sedikit, di setiap sudut Bumi yang ia pijak.”“Aku tahu, San,” Maya bersandar pada bahu Sando. “Aku hanya tidak ingin ia kesepian. Ia pantas bahagia.”“Percayalah, Sayang. Ia akan bahagia dengan caranya sendiri,” Sando meyakinkan. “Dan kita, kita akan terus membangun Bumintara ini agar ia tahu, pengorbanannya tidak sia-sia.”***Jauh di markas pusat, Darren Kloghs dan Alan McAllistaire sedang meninjau peta konflik global yang sama. Titik merah di Negara Bagian Timur kini mulai memudar menjadi kuning.“Lagi-lagi Arga berhasil,” Alan beruja

  • The Peacemaker   Bab 138. Seraut Wajah Maya

    "Cinta dan perang takkan bisa dipindahtugaskan semudah itu. Waktu menyembuhkan dan memulai akan terus berjalan." Kembali ke Negara Bagian Timur, Arga dan pasukannya sudah berada di dalam sarang Faksi Elang. Suara tembakan semakin dekat, jeritan dan ledakan bergema di lorong-lorong sempit. Arga tidak ragu, ia tahu betul apa yang harus dilakukan.“Ryan, kita harus memecah mereka. Lepaskan granat asap, buat mereka panik. Kita akan masuk dari belakang, bebaskan para sandera.” Arga memberi perintah, matanya menyorot tajam ke arah kerumunan musuh yang menahan para wanita dan anak-anak.“Siap, Bos!” Ryan segera menggerakkan timnya.Aisha muncul di samping Arga, wajahnya keras. “Arga, hati-hati. Pemimpin mereka, Jendral Azar, dikenal sangat kejam. Ia tidak akan menyerah begitu saja.”“Aku tidak mengharapkan mereka menyerah,” Arga menjawab, mengeluarkan pisau tempurnya. “Aku mengharapkan mereka dihentikan.”Ia memberi isyarat kepada timnya. “Sekarang!”Granat asap meledak, memenuhi ruangan

  • The Peacemaker   Bab 137. Perang di Negara Timur

    "Seorang pahlawan sejati tak akan berhenti meski sakit dan luka berusaha menggerogoti semangat dan jiwanya."Kembali ke Negara Bagian Timur, Arga dan Ryan sudah menyusun rencana di hangar. Aisha berdiri di samping mereka, mendengarkan dengan saksama. Peta digital diproyeksikan ke dinding, menunjukkan titik-titik konflik.“Kita akan menyerang sarang utama faksi Elang di Lembah Kering malam ini,” Arga memutuskan, menunjuk sebuah lokasi. “Mereka adalah biang keladi kekacauan di wilayah utara. Ryan, siapkan tim Alpha dan Beta. Aisha, kau pimpin tim Delta untuk mengamankan jalur pelarian warga sipil.”Aisha sedikit terkejut. “Malam ini? Itu terlalu cepat! Kita butuh lebih banyak persiapan.”“Musuh tidak akan menunggu,” Arga menjawab dingin. “Semakin lama kita menunggu, semakin banyak korban. Kita bergerak sekarang. Ryan, kontak tim Darren, minta dukungan udara untuk pengintaian.”Ryan mengangguk, ekspresinya serius. “Siap, Bos.” Ia tahu Arga tidak bisa dibantah saat sedang dalam mode se

  • The Peacemaker   Bab 136. Tantangan Baru

    "Suatu tantangan adalah ujian agar dijawab dengan kesungguhan tekad dan keberanian."Udara panas dan berdebu langsung menyambut Arga begitu pintu jet pribadi terbuka. Bukan lagi aroma kopi atau kehijauan Bumintara yang menenangkan, melainkan bau keringat bercampur asap, serta suara-suara bising dari kejauhan yang memekakkan telinga. Mereka mendarat di sebuah lapangan terbang darurat di pinggir Negara Bagian Timur, lokasi pertama misi baru "The Peacemaker". Arga melangkah turun, tanpa ragu, tanpa menoleh ke belakang. Di belakangnya, Ryan juga keluar, mengamati sekeliling dengan mata awas.“Bos, tim intel sudah menunggu di hangar lama,” Ryan melapor, suaranya sedikit meninggi karena deru angin.Arga mengangguk, sorot matanya tajam, memindai setiap sudut. “Langsung ke sana. Aku tidak mau membuang waktu semenit pun.”Mereka berjalan cepat melewati area pendaratan yang kotor. Beberapa prajurit lokal dengan seragam compang-camping menatap mereka dengan tatapan ingin tahu, namun Arga tidak

  • The Peacemaker   Bab 135. Jiwa yang Berubah

    "Cinta memang meninggalkan luka, tapi keadilan bagi kaum tertindas adalah penawar luka itu meski perlahan dan tak pasti."Di kantor pusat tim IT, yang kini sibuk mengintegrasikan sistem baru Bumintara, Alan datang mengunjungi Maya. Ia melihat Maya menatap layar komputernya, tapi matanya jelas tidak fokus pada barisan kode.“Maya,” Alan menyapa, “bagaimana kabar Bumintara hari ini? Ada pergerakan mencurigakan?”Maya berbalik, mencoba fokus. “Tidak ada, Alan. Sejauh ini aman. Sistem keamanan sudah diperbarui sepenuhnya. Tidak ada lagi celah seperti dulu.”Alan mengangguk, lalu duduk di kursi kosong di samping Maya. “Aku tahu. Kau dan Sando melakukan pekerjaan luar biasa. Tapi… bagaimana kabarmu sendiri?”Maya mengangkat bahu. “Aku baik. Kenapa?”“Arga… dia pergi begitu saja. Dan aku tahu dia bukan tipe orang yang mudah menyerah pada perasaan,” Alan berkata, suaranya pelan. “Meskipun ia berusaha menyembunyikannya, aku melihatnya. Ia mencintaimu, Maya.”Mendengar pengakuan Alan, mata May

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status