Home / Fantasi / The Peacemaker / Bab 6. Arga yang Baru

Share

Bab 6. Arga yang Baru

Author: riwidy
last update Last Updated: 2021-11-19 04:05:58

"Seringkali kekuatan terbesar justru malah datang dari sebongkah dendam yang tak kunjung mendapat perhatian."

Mereka lupa dan sudah bersikap lengah  bahwa orang-orang korban mati dahulu, ataupun keturunannya, bisa saja membalas dendam sewaktu-waktu.

Arga dan Maya diantaranya!  

Kini Arga jauh lebih muda dan kuat. Dia menelusuri masa lalu dengan perlahan di kediamannya yang kini besar dan mewah.  Arga menyadari satu keuntungan yang dia dapat, karena akibat proses reinkarnasi yang dia alami sekarang. 

"Barangkali ... hmm enggak,  ini pasti  ... Ya pasti adalah takdir dari-Nya.  Jalan dari Allah SWT untuk membalaskan dendam bangsa Bumintara ini!" Arga tersenyum getir.  

Arga memandangi perawakannya yang kini sempurna di cermin besar di kamarnya.  Sementara itu buku yang anehnya tidak rusak dan hanya berjamur parah,  tapi tulisannya masih bisa terbaca itu, ada di tangan kirinya. 

"Bagaimana bisa,  rumah Ayah ibuku yang terbuat dari bahan pilihan yang kuat malah rusak,  sedangkan buku yang rapuh ini justru masih utuh? Dia berada dalam perlindungan genggaman kerangka tanganku sendiri selama lima tahun.  Ya Alloh, terimakasih,  semua ini pasti terjadi atas ijin-Mu."

Arga tersenyum terharu.  Hatinya menghangat,  mengingat kasih Dia kepadanya.  Dipandanginya buku itu sekali lagi.  Dilihatnya tubuh dan wajahnya sendiri di cermin.  Arga merasakan air mata hangat menuruni pipi mulusnya. 

Arga kembali mengingat pesan terakhir ayahnya dahulu sebelum meninggal.  Deraian air mata membasahi mata dan hati pemuda yang kini bertubuh jangkung ini.  Mengingat betapa ayahnya dulu sangat kesakitan saat akhir menjelang nyawanya menghilang.  

("Arga,  bertahanlah hidup,  Nak.  Coba kau pakai masker pelindung rancangan ayah seadanya di kamar kerja.  BALASKAN DENDAM masyarakat sesama kita yang miskin dan terbunuh ini,  Arga!  Jangan me...  nye... rah! Ibu ...  Arga. Maaf ...  kan ayah,  tak bisa melindungi kita semua ya?" 

Tubuh pria tua itu menggelepar,  seperti mendapat serangan jantung hebat. Lalu tubuhnya semakin berkurang getarannya, sampai akhirnya benar-benar terdiam untuk selamanya.)

'Ayah, Arga akan membalaskan semua rasa sakit hati keluarga kita dan semua tetangga juga bangsa Bumintara. Arga akan kasih pelajaran ke orang-orang kaya yang tak bermoral dan tidak mempunyai hati itu.  Harga paham bahwa Allah ada di pihak kita Ayah.  Buktinya Arga dikasih kesempatan untuk hidup sekali lagi. Alloh Huakbar! Alloh Huakbar!'

Arga mengusap kembali air matanya yang tak henti menetes di pipinya yang putih mulus. Air mata yang selama lima tahun tertahan karena ketiadaan nyawanya sendiri. Kepergian nyawa dari raga yang sama sekali tak diinginkannya. Miris!  

'Ibu!  Arga mohon restumu.  Apa yang ibu katakan dahulu selalu benar. Kaulah inti dari kebenaran semua kehidupan Ibu.'

Arga jadi teringat kisah  pilu itu kembali. Kisah tentang wanita kesayangan, cinta pertama dalam hidup seorang anak lelaki sulung. Kisah horor yang paling menakutkan sekaligus menyedihkan, kembali mengoyak hati dan pikirannya. Kenangan sedih saat wanita yang  paling disayanginya itu tersiksa meregang nyawa.  

("Pergilah,  Arga huhuhu.  Ambil masker pelindung yang ayahmu buat. Tunaikan rasa dendam kita semua.  Huhuhuhu hiks.")

Arga memukul-mukul dadanya sendiri, berharap rasa sesak itu segera pergi melenyap.  Tetapi justru perasaannya terasa makin kalut. Rasa marah,  bingung, sedih,  kangen pada bapak ibu dan adik,  bercampur jadi satu.  

Ada satu nasehat dari ibu Arga yang begitu membekas di benak pemuda, yang sekarang  menghuni tubuh bagus berparas tampan ini. Yaitu 'Tidak ada yang benar-benar berakhir sampai semua memang sudah berakhir'. Arga kini memahaminya dengan sangat jelas dan bersyukur. Ini saatnya dia 'memulai'nya lagi, hal yang belum benar-benar berakhir itu. Arga akan mengakhirinya sekuat jiwa dan raga. 

("Tak apa-apa, Nak. Tidak ada yang benar-benar berakhir sampai semua memang sudah berakhir.  Ada kesempatan membalikkan keadaan dalam setiap detik.  Berusahalah keras sampai detik akhir dalam hidup ... mu. Sel ... lamat ting ...  nggal anakku,  Arga, keep fighting! Allohu Akbar!")

("Ibuuuuuu! Maafkan Arga Ibu! Andai ada kesempatan, aku akan balaskan dendam ini. Sayangnya Arga juga merasa nyawa ini segera meninggalkan raga. Andai keajaiban terjadi, Arga akan membalaskan dendam kita semua.") 

Itu dahulu saat Arga makin melemah dan kehilangan nyawa juga akhirnya. 

Kini semua akan dibalaskan, dituntaskan dendam dan  dijungkirbalikkan, oleh Arga. Siapapun dan setangguh apapun si tujuh penguasa itu, Arga tak akan gentar. 

'Rawe-rawe rantas. Malang-malang putung. Vini vidi vici! Yeah, semangat Arga!' Arga mengacungkan tangan kanannya ke atas dengan jemari yang terkepal erat. Seulas senyum manis menghiasi bibirnya yang tipis indah sempurna.

***

Hari-hari penuh harapan kini pun mulai dianyam si anak manusia bernama Arga ini. Dia bersemangat sekali, seakan waktu sedetikpun tak akan dibuangnya percuma.

 

Arga juga uniknya mempunyai hobi baru yang bisa dibilang orang-orang lain yang melabelinya  sebagai perilaku narcis, alias kagum pada penampilannya sendiri. Padahal bukan begitu maksud Arga sesungguhnya. 

Seperti sekarang, lagi dan lagi, setelah asyik merenung, Arga  memandangi wajah dan tubuhnya lagi.  Dia diam-diam merasa kagum. Betapa keajaiban itu benar-benar terjadi nyata di dunianya kini. Tubuh tegap tinggi sempurna, tulang yang besar dan kuat, dan wajah setampan ini, benarkah kini jadi miliknya?

Bersyukur tiada habis atas kesempatan kedua dan anugerah-Nya dan dia sungguh berniat menggunakannya secara optimal, itulah sesungguhnya isi hati Arga. Dia takjub dengan karunia-Nya yang dulu dipikirnya mustahil akan terjadi.

"Terima kasih ya Alloh,  kau telah memberikanku satu kesempatan melalui tubuh baru dan menawan ini. Aku tahu ... mungkin aku akan terlalu serakah ke depan. Salahkah aku? Ah lagi-lagi aku serakah berani meminta kepada-Mu. Restui aku, bimbing dan mudahkan jalanku, untuk berjuang mendapatkan hak keadilan atas nama orang-orang yang tersia-sia nyawanya. Ampuni rasa dendamku, ya Alloh. Aku tak kuasa mengenyahkannya, tak rela rasanya melihat tujuh penguasa tertawa dalam kejayaan selama bertahun-tahun belakangan ini. Meninggalkan berjuta nyawa yang tak tahu apa-apa sebagai tumbalnya."

Arga mengangguk tegas sambil tersenyum getir.  Dia bertekad akan menuntaskan dendam ini. Tak akan ditundanya lagi. Dia akan segera bergerak!

"Hai ... tujuh penguasa. Para manusia  laknat! Segera tunggu   kedatangan Arga ini dan jangan jumawa terus menikmati harta penuh darah itu! Ada saatnya kau tertawa tapi kini akan kubuat kau menangis darah di bawah kakiku! Tunggu tanggal mainnya!" 

***

Di tempat yang berbeda, Maya nampak seperti biasa.  Cantik, cerdas, energik, penuh pemikiran dan konsentrasi pada apa yang sedang dicarinya. Dia tetap berpendirian teguh menumbuhkan dendam atas kematian Sando kekasihnya pada tujuh penguasa.

Dia tetap tak bisa mengenyahkan rasa cinta remajanya dulu. Cinta pertama pada kak Sando yang sangat manis dan berharga. Waktu lima tahun tak juga mampu membuat Maya beralih hati meski belasan lelaki menawan mendekatinya.

Maya hanya ingin kekasihnya meninggal dengan tenang di sana. Bagaimanapun caranya, dia akan membalaskan ini semua, walaupun artinya itu juga akan melawan papanya sendiri. 

"Sayangku, Maya. Kenapa kau begini terus, Nak? Apa yang merisaukan hatimu? Pilih salah satu pria itu dan menikahlah, ya?" 

***

riwidy

Wah Arga mulai mengagumi dirinya yang beraga baru.

| 1
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • The Peacemaker   Bab 140. The Peacemaker

    "Akhir perjalanan yang satu akhirnya sampai juga, dan permulaan perjalanan baru bisa jadi akan dimulai lagi." Ryan menatap Arga lekat. “Bos masih ingat kan janji Bos? Fokus pada misi, tinggalkan urusan hati. Jangan sampai wanita ini bikin Bos oleng lagi.”Arga menghela napas, raut wajahnya mengeras. “Aku tahu. Cinta itu sudah aku kubur dalam-dalam, Ryan. Tidak akan ada yang bisa mengubah jalanku.” Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa kekosongan hatinya, luka yang ditinggalkan Maya dan Sando, akan menjadi perisai. “Wanita itu, siapa pun dia, tidak akan bisa mengganggu misiku. Aku tidak akan membiarkan hatiku terpancing lagi.”***Di Bumintara, mentari pagi bersinar cerah di atas rumah minimalis Maya dan Sando. Aroma kopi dan bunga melati memenuhi udara, menciptakan suasana damai yang sempurna. Maya tersenyum, meletakkan cangkir kopi di meja samping Sando yang sedang membaca berita di tabletnya.“Berita hari ini apa, Sayang? Pasti soal penumpasan Faksi Elang di Negara Bagian Timur y

  • The Peacemaker   Bab 139. Kedamaian Bumintara Vs Peperangan Baru

    "Kedamaian adalah mutlak sebagai syarat hidup lebih mempunyai makna meski tak mudah mempertahankannya."Maya menghela napas. “Aku tahu. Hanya saja aku berharap ia juga bisa merasakan kedamaian yang sama seperti kita. Kedamaian yang lengkap.”Sando menatap jauh ke cakrawala. “Mungkin definisi kedamaian baginya berbeda. Bukan dalam bentuk keluarga atau cinta. Tapi dalam bentuk dunia yang lebih baik, lebih adil. Dan ia sedang mewujudkannya, sedikit demi sedikit, di setiap sudut Bumi yang ia pijak.”“Aku tahu, San,” Maya bersandar pada bahu Sando. “Aku hanya tidak ingin ia kesepian. Ia pantas bahagia.”“Percayalah, Sayang. Ia akan bahagia dengan caranya sendiri,” Sando meyakinkan. “Dan kita, kita akan terus membangun Bumintara ini agar ia tahu, pengorbanannya tidak sia-sia.”***Jauh di markas pusat, Darren Kloghs dan Alan McAllistaire sedang meninjau peta konflik global yang sama. Titik merah di Negara Bagian Timur kini mulai memudar menjadi kuning.“Lagi-lagi Arga berhasil,” Alan beruja

  • The Peacemaker   Bab 138. Seraut Wajah Maya

    "Cinta dan perang takkan bisa dipindahtugaskan semudah itu. Waktu menyembuhkan dan memulai akan terus berjalan." Kembali ke Negara Bagian Timur, Arga dan pasukannya sudah berada di dalam sarang Faksi Elang. Suara tembakan semakin dekat, jeritan dan ledakan bergema di lorong-lorong sempit. Arga tidak ragu, ia tahu betul apa yang harus dilakukan.“Ryan, kita harus memecah mereka. Lepaskan granat asap, buat mereka panik. Kita akan masuk dari belakang, bebaskan para sandera.” Arga memberi perintah, matanya menyorot tajam ke arah kerumunan musuh yang menahan para wanita dan anak-anak.“Siap, Bos!” Ryan segera menggerakkan timnya.Aisha muncul di samping Arga, wajahnya keras. “Arga, hati-hati. Pemimpin mereka, Jendral Azar, dikenal sangat kejam. Ia tidak akan menyerah begitu saja.”“Aku tidak mengharapkan mereka menyerah,” Arga menjawab, mengeluarkan pisau tempurnya. “Aku mengharapkan mereka dihentikan.”Ia memberi isyarat kepada timnya. “Sekarang!”Granat asap meledak, memenuhi ruangan

  • The Peacemaker   Bab 137. Perang di Negara Timur

    "Seorang pahlawan sejati tak akan berhenti meski sakit dan luka berusaha menggerogoti semangat dan jiwanya."Kembali ke Negara Bagian Timur, Arga dan Ryan sudah menyusun rencana di hangar. Aisha berdiri di samping mereka, mendengarkan dengan saksama. Peta digital diproyeksikan ke dinding, menunjukkan titik-titik konflik.“Kita akan menyerang sarang utama faksi Elang di Lembah Kering malam ini,” Arga memutuskan, menunjuk sebuah lokasi. “Mereka adalah biang keladi kekacauan di wilayah utara. Ryan, siapkan tim Alpha dan Beta. Aisha, kau pimpin tim Delta untuk mengamankan jalur pelarian warga sipil.”Aisha sedikit terkejut. “Malam ini? Itu terlalu cepat! Kita butuh lebih banyak persiapan.”“Musuh tidak akan menunggu,” Arga menjawab dingin. “Semakin lama kita menunggu, semakin banyak korban. Kita bergerak sekarang. Ryan, kontak tim Darren, minta dukungan udara untuk pengintaian.”Ryan mengangguk, ekspresinya serius. “Siap, Bos.” Ia tahu Arga tidak bisa dibantah saat sedang dalam mode se

  • The Peacemaker   Bab 136. Tantangan Baru

    "Suatu tantangan adalah ujian agar dijawab dengan kesungguhan tekad dan keberanian."Udara panas dan berdebu langsung menyambut Arga begitu pintu jet pribadi terbuka. Bukan lagi aroma kopi atau kehijauan Bumintara yang menenangkan, melainkan bau keringat bercampur asap, serta suara-suara bising dari kejauhan yang memekakkan telinga. Mereka mendarat di sebuah lapangan terbang darurat di pinggir Negara Bagian Timur, lokasi pertama misi baru "The Peacemaker". Arga melangkah turun, tanpa ragu, tanpa menoleh ke belakang. Di belakangnya, Ryan juga keluar, mengamati sekeliling dengan mata awas.“Bos, tim intel sudah menunggu di hangar lama,” Ryan melapor, suaranya sedikit meninggi karena deru angin.Arga mengangguk, sorot matanya tajam, memindai setiap sudut. “Langsung ke sana. Aku tidak mau membuang waktu semenit pun.”Mereka berjalan cepat melewati area pendaratan yang kotor. Beberapa prajurit lokal dengan seragam compang-camping menatap mereka dengan tatapan ingin tahu, namun Arga tidak

  • The Peacemaker   Bab 135. Jiwa yang Berubah

    "Cinta memang meninggalkan luka, tapi keadilan bagi kaum tertindas adalah penawar luka itu meski perlahan dan tak pasti."Di kantor pusat tim IT, yang kini sibuk mengintegrasikan sistem baru Bumintara, Alan datang mengunjungi Maya. Ia melihat Maya menatap layar komputernya, tapi matanya jelas tidak fokus pada barisan kode.“Maya,” Alan menyapa, “bagaimana kabar Bumintara hari ini? Ada pergerakan mencurigakan?”Maya berbalik, mencoba fokus. “Tidak ada, Alan. Sejauh ini aman. Sistem keamanan sudah diperbarui sepenuhnya. Tidak ada lagi celah seperti dulu.”Alan mengangguk, lalu duduk di kursi kosong di samping Maya. “Aku tahu. Kau dan Sando melakukan pekerjaan luar biasa. Tapi… bagaimana kabarmu sendiri?”Maya mengangkat bahu. “Aku baik. Kenapa?”“Arga… dia pergi begitu saja. Dan aku tahu dia bukan tipe orang yang mudah menyerah pada perasaan,” Alan berkata, suaranya pelan. “Meskipun ia berusaha menyembunyikannya, aku melihatnya. Ia mencintaimu, Maya.”Mendengar pengakuan Alan, mata May

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status