LOGINMichael Flynn; He was my first in everything, my very first friend, the first person to ever believe in me, down to my very best person. He was the first person I ever kissed, he was the first to ever touch me on… oh scratch that, he wasn’t. Every second and minute we spent together was special, life was only better when I was with him until the night he found his wolf, the night he found out that I was his mate. I, his mate, the one girl who was considered an omega, while he, the Alpha’s son. We were on the polar sides of the food chain. His love for me went sour, even his memories became nothing but a nightmare. He still looked at me the same way, I could see the hope in his eyes but now it was different, I was different, and to worsen matters, I had already had a one-night stand with a beautiful stranger, Klaus. Unintentionally, I got caught up in a tight web, one I never envisioned getting into. What am I to do now that Michael, my mate, is back asking for a second chance? Should I get back with him and let go of his misdeeds or should I toss him to the curb… the exact same way he had done to me, most especially now that someone else had come knocking on my door, someone a lot more sinister… someone that even my father dreaded; he was none other but Klaus Knight II Read to find out!
View More"Ha-halo perkenalkan namaku Greet, salam kenal semua, sen-senang bisa bergabung di tim ini."
Aku menahan gugup saat tersenyum, menelan saliva berkali-kali saat belasan pasang mata menatapku tajam. Entah sebenarnya tajam atau tidak, aku yang insecure selalu berpikir melebihi keadaan yang sesungguhnya. Aku menghela napas, semua semangat dan keberanian yang sedari pagi ku kumpulkan seolah menguap begitu saja.
"Baik, kalau begitu, seperti yang saya katakan tadi, Tim akan di bagi dua." Suara pria paruh baya yang Aku ingat bernama Pak Ronald terdengar. ""Team A, Leader Amanda, sama Regina presenter, camera Krisna, research sama editing Mirna n Sean." Sang Manajer, Pak Ronald menyebutkan pembagian Tim.
"Team B, Tristian sebagai Leader, tapi dia masih di Semarang. Presenter Silvy, camera Andreas, Greet n Leon research and editing. Lalu Team B, Tristian sebagai Leader, tapi dia masih di Semarang. Presenter Silvy, camera Andreas, Greet n Leon research and editing."
Jantungku mencelos sesaat. Tristian..
Aku merasa salah dengar. Tapi aku segera menggelengkan kepala mengumpulkan kembali fokusku yang buyar gara-gara nama tabu itu disebut.
Toh belum tentu orangnya sama. Emang dia doang yang punya nama itu? Asisten manajer itu pasti bukan orang sembarangan sampai bisa menjabat posisi itu, dan pastinya bukan pria itu.
Aku berusaha mengusir pikiran konyol, lalu mengikuti tur keliling kantor, mengamati setiap jengkal tempat kerja baruku dengan seksama. Tak terasa sudah jam istirahat, aku bersemangat turun ke lantai lobby dan mencari-cari orang yang sudah menungguku sedari tadi. Tiba-tiba tubuhku tertarik kebelakang saat seseorang melingkarkan tangannya di bahuku.
"Greeeet!"
"Mba Luna!"
Kami berdua berpelukan layaknya anak SMA yang sedang reuni.
"Ya ampun, akhirnya ketemu kamu lagi." Wanita cantik bernama Luna itu tersenyum sambil menarikku masuk ke sebuah kedai kopi yang ada di sudut depan lobby.
"Iya mba.. duh ga sangka aku bakal kerja lagi sama mba." Aku juga tidak dapat menahan rasa senang kembali bertemu dengan senior panutanku ini.
"Nih, aku udah ambilin kartu karwayan dan kartu akses kamu. Welcome to KG Jakarta, Greet."
Aku menatap kartu tanda pengenal karyawan yang belum sempat ku ambil dengan mata berbinar. "Repot-repot sih mba ngambilin. Padahal biar aku aja yang ambil habis istirahat ini."
"Gapapa," sahut Luna sambil mengibaskan tangannya. "kita beli kopi terus balik keruanganku aja ya, biar santai ngobrolnya disana."
Aku mengangguk, hanya membiarkan mba Luna merangkulku, Kami memang dekat seperti kakak adik walau aku merasa sedikit canggung saat kemudian banyak orang mengangguk pada mba Luna disepanjang kami berjalan menuju ke ruangannya. Mba Luna memang dikenal banyak orang, dia putri tunggal Direktur Utama KG.
"Gimana-gimana? Nervous ga?" Kami duduk di sofa minimalis saat sampai diruangan mba Luna di lantai dua puluh dua.
Mataku berkeliling takjub melihat ruangan seniorku ini, sangat cozy, serba putih, terlihat cantik seperti penghuninya. Belum lagi pemandangan kota Jakarta dari atas, wuih!
Mba Luna menyodorkan sebuah cup kopi caramel macchiato kesukaanku. Ah, mba Luna selalu saja mengingat kopi kesukaanku.
"Makasih mba." Aku menghela napas. "Nervous sih.. tapi aku yakin aku bisa."
Mba Luna mengangguk, "Orang disini baik-baik kok, ada calon tunanganku di divisi kamu. Asisten manajernya, nanti aku titipin kamu sama dia."
"Hah? Calon yang itu mba?" Aku terkejut. Mba Luna sempat bercerita kalau papanya ingin menjodohkan dia dengan anak teman bisnisnya, memang usia mba Luna yang menginjak dua puluh delapan tahun, terlihat masih santai dengan status singlenya. Dia belum mau menikah, masih mau bebas berkarir katanya.
Mba Luna mengangguk. "Iya, yang aku ceritain itu, Tian. Nanti juga kamu ketemu dia. Eh, tapi dia lagi keluar kota. Ke Semarang. Dia orangnya suka turun ke lapangan, ga cuma anak buahnya aja yang gawe."
Aku mengangguk-angguk sambil membayangkan pria seperti apa yang akan di jodohkan dengan mba Luna. Pastinya pria tampan, karena Luna itu seperti model, cantik, tubuhnya bagus tinggi semampai, rambutnya hitam legam dengan potongan modern, Aku sendiri kadang tidak percaya bisa berteman baik dengannya. Luna Maira Oetama, tiga tahun lebih tua dariku, tapi kami dekat seperti sahabat seumuran.
Mba Luna memesan makanan, dan tidak terasa satu jam berlalu saat kami asik ngobrol hingga aku terburu-buru kembali ke lantai ruanganku. Benar saja, saat sampai diruang meeting, tatapan mata salah satu head team, bu Amanda menatapku tidak suka. Salahku karena terlambat.
"Ontime. Itu hal terpenting yang harus di utamakan sebagai bagian dari team ini." Bu Amanda yang tengah bicara langsung menembakku.
"Maaf Bu." Aku hanya bisa mengatakan itu, lalu berharap dapat tenggelam ke dalam lantai tempatku berpijak. Lalu aku menyimak, sambil mengabaikan belasan tatap mata yang mendelik tajam.
Memang sulit ditakdirkan punya tubuh gemuk sepertiku, selalu jadi bahan penglihatan dan juga bahan pembicaraan, seperti sekarang, seorang pria muda menatapku dari atas ke bawah dan dua orang gadis dibelakangnya berbisik-bisik seolah membicarakanku, karena mereka selalu menghindari kontak mata saat aku menatap balik.
Hingga jam pulang kantor pun aku belum banyak bicara dengan rekan lainnya. Aku melangkah lesu keluar dari ruangan menuju ke arah lift. Ponselku berbunyi, terlihat nama mba Luna di caller idnya.
"Greet, udah kelar kerjaan?" Suara nyaring dan merdu mba Luna terdengar.
"Baru mba. Aku lagi mau turun lift. Kenapa mba?"
"Makan yuk Greet, itung-itung perayaan hari pertama kamu kerja."
"Mmm... Aku bilang Mamaku dulu ya mba." sahutku.
Setelah mendapat ijin dari Mama, aku memberitahu mba Luna. Kami janjian di lobby dan aku terkejut saat sebuah mobil BMW warna merah menyala berhenti di depannya. Jendela mobil terbuka dan aku menunduk saat namaku dipanggil. Ternyata itu mba Luna.
"Greet, ayo masuk!" Ajaknya.
Aku masuk dengan jantung berdebar, mba Luna terlihat sangat keren. "Mba Luna nyetir sendiri?"
Mba Luna melajukan mobilnya. "Iya, aku lebih suka nyetir sendiri. Kadang balik kantor aku suka kemana dulu gitu kan. Kalau pake supir ga enak, ga bebas sih tepatnya. Hehe..."
Aku ikut tersenyum, rasa kagumku pada mba Luna semakin besar, untuk ukuran anak orang kaya, mba Luna sangat mandiri. Dulu saat dia kerja di Bandung bersamaku, wanita itu memilih tinggal sendiri di apartemen.
Mba Luna memilih makan di restoran Korea setibanya di mall GI. Kami berbincang tentang banyak hal.
"Terus kapan tunangannya mba?" Aku bertanya saat mba Luna membahas tentang calon tunangannya.
"Aku masih ulur waktu, kita belum terlalu kenal. Dia juga cuek orangnya. Kayak sekarang nih lagi pergi ke Semarang, ga ada tuh ngabarin aku."
Cuek? Ke mba Luna? Ga salah? Tu cowok ga punya mata nampaknya...
"Mungkin dia ga tertarik sama aku, yah selama ini sih aku dengar banyak cewek yang antri buat jadi pacarnya, tapi ga tau juga deh. Kita kan mau dijodohin, mungkin dia udah punya pacar. Aku belum tau terlalu banyak soal dia sih Greet, kita jarang jalan juga. Tapi kalau kata orang-orang kantor sih orangnya baik. Makanya banyak yang naksir." lanjutnya lagi.
Aku merasa heran, sepertinya tidak mungkin ada orang yang tidak menyukai mba Luna, karena menurutku, mba Luna itu definisi wanita sempurna yang pernah ku temui selama hidupku. Rasanya rugi jika ada pria yang tidak mau dekat dengan mba Luna. Aku merasa jika aku terlahir sebagai seorang pria, sudah pasti aku akan jatuh cinta pada mba Luna, tanpa diragukan lagi.
"Yah, kalau jodoh ga kemana mba. Mau di jodohin kek, mau jatuh cinta sendiri kek. Mau muter-muter sedunia juga pasti bakal bersatu." Kelakarku yang berhasil membuat wajah murung mba Luna berubah.
"Greet...Greet, kamu masih aja lucu yaa.."
Kami tertawa bersama sambil melanjutkan makan. Lalu berkeliling sebentar melihat tas, mba Luna membelikanku sebuah tas mahal dengan simbol 'A' yang sudah lama ku inginkan, katanya hadiah pindah kerja. Aku merasa tidak enak tapi dia memaksa.
Setelah itu kami berpisah, aku sampai dirumah hampir sepuluh malam. Langkahku gontai saat terlihat Mama menyambutku di ruang tengah.
"Gimana hari pertama?"
Aku tersenyum masam. "Besok aja ya Mam ngobrolnya, cape."
Mama menggeleng dan mengijinkanku untuk naik ke kamar. Aku langsung menjatuhkan tubuh di ranjang.
Memang tidak ada tempat ternyaman selain didalam kamar.
Aku menghela napas dalam berpikir apakah tepat pindah di kantor yang lebih besar? Tidak ada yang tahu jika aku adalah anak salah satu Direktur disana. Aku tidak ingin di anggap bisa masuk karena hasil nepotisme andai mereka sampai tahu.
"Tidak-tidak! Aku ga boleh patah semangat, ini baru hari pertama. Lagipula ada mba Luna." Aku terduduk dan menyemangati diri sendiri. Lalu bergegas mandi. Aku merasa hari ini sangat panjang dan melelahkan
Tristian...
Nama yang pernah memberi kenangan indah tapi juga menorehkan luka. Nama yang berusaha tidak pernah ku ingat dalam benak. Aku harap tidak akan bertemu Tristian itu, Tristian atasanku bukanlah pria yang sama dari masa laluku.
Aku memejamkan mata berusaha menepis bayangan pria itu. Berharap kenangan lama itu tidak akan muncul kembali. Hingga akhirnya aku terlelap dan tidak bisa menolak saat pria itu hadir dalam mimpiku.
-tbc-
Unknown POV: (3 years later) Klaus and Aurora sat by the veranda, looking out at the field while young children played around, young children about their children’s age. Aurora was happy and her heart felt full… but somehow, somewhere deep inside her heart, she felt uneasy. She didn’t know what was wrong but she did know that she was uncomfortable. Her eyes wandered to where her children sat and seeing how they were still so engrossed with their toys, she smiled. “Maybe, I’m just so paranoid.” She mused, causing Klaus to turn to her. He asked her what she had said and after telling him about her thoughts, he let out a breath and muttered; “it’s been several years now, love. We’re fine now. Everyone is happy now… stop overthinking these things. The children, the pack is safe.” “But the children are too strong.” Aurora cried, “…it would take just one glance at them for an outsider to know that they’re different. They don’t even act like their mates!” “And how do you expect
Aurora’s POV:The glasses clinked as Klaus and I made a toast and while everyone sipped from our glasses, we didn’t. We only took the first sip after the toast and then poured most of the remaining contents of our drinks on the paper in the bin. It was our Prenuptial agreement. The stupid arrangement that Klaus had come up with when we first met. A smile tugged at my lips as I remembered those times and in awe of how much we’ve grown since then, I leaned into him for a hug.“Thank you,” I whispered, kissing his chest, uncaring if my red lipstick would stain his crisp white shirt. He didn’t seem to bother too as he also leaned closer, placed a kiss on my forehead, and whispered;“No, thank you, my love.”I blushed.It was the fiercest blush I have had in a while and everyone who noticed this began to laugh excitedly. At this moment, I looked around us, at my parents who were cheering and clapping at Bella while she made funny faces at David and Davina, at Jasmine who had tears stream
Aurora’s POV:I watched in curiosity as the flames lit up the evening sky, causing tons of smoke to fill the atmosphere in an almost suffocating manner. There were agonized screams coming from everywhere, but it was one from agony not from pain. Agony because a source of their livelihood was burning down, agony because a lot of money was being burnt to a crisp. Nobody was in pain, no. Klaus and I made sure no one would get hurt.While everyone had a piece of cloth or paper covering the lower parts of their face to block their nostrils from the angry fumes, I didn’t. I took it all in, giggling and happy.Klaus was standing beside me and he seemed just as pleased as I was. The only difference was that he wasn’t showing his emotions on his face. He still appeared stoic and nonchalant.One of Klaus’ soldiers held a limp Michael by his collar while he was made to watch his lifelong sweat go down the drain. He was quiet all through but his emotions were as bright as day. Tears streaked his
Aurora’s POV:My breath hitched in my throat as I watched Damon saunter into the room, brandishing a large gun on his shoulders. I saw more than a few Elders shrink away in fear and I almost barked out a laugh from how stupid they appeared doing that.However, I was quickly snapped to the present when I felt something cold against my skin and I frowned when I saw that it was the gun and that Damon was pressing it against my head.“And what is happening here?” He asked no one in particular, but his gaze was planted firmly on Klaus’ face.Without thinking, I pushed the gun away and got up, standing between Klaus and Damon. “What are you doing here?” I asked him instead, evading his question.I saw Damon’s eyes widen but I wasn’t sure if it was because he noticed that I wasn’t scared of him even with a gun or because of something else entirely. Choosing that opportunity, I stepped closer to him until we were almost standing chest to chest and whispered;“Leave… nothing here is any of you
The chatter in the room died down as soon he stepped in with his mate stalking behind him. Normally, anyone who saw them would think she was hiding behind him but that was unlike the case here.She was protecting him. She was his aide, his bodyguard, and his Luna.People knew them. Word had gotten out
Klaus’ POV: I watched her, my mate, with fascination as she wiped the sweat off her face with the back of her hand and stepped away from the now limp form of a beat-up Alpha; and I couldn’t help but feel more proud of her than I already was. I loved how she’d gotten every information she wanted ou
Aurora’s POV: I stood in a corner of the dark room with amusement gleaming in my eyes while Emily glared daggers at me. By the other end, just opposite Emily was Michael who was still fast asleep as a result of the effect of the drug I had knocked him out with. Klaus’ guards had chained him to the
Aurora’s POV:I stepped into the dimly lit restaurant with a sultry smile gracing my lips. Even before I stepped in, I already knew where Michael was seated so I immediately made my way to him, almost basking in delight when his eyes widened as soon as he took in my appearance.“Queen superior…” he le












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore