Mag-log inCheesy and Daryl once loved each other, but a series of misunderstandings slowly eroded that love into hatred and scars. Amidst all the pain, could there still be a second chance for them to come back, once the truth is finally revealed?
view more"Ini bayaranmu buat misi di Afrika Utara."
Pak Untung mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan yang sudah lecek dari sepotong kain tua yang dilipat rapi. Dia menyerahkannya dengan hati-hati ke Lucas, yang sejak tadi sudah menatapnya dengan mata penuh harap. Lucas benar-benar nggak ngerti. Dia sudah mempertaruhkan nyawa di misi-misi yang super berbahaya, melawan musuh-musuh yang kuat, dan kliennya pasti dapat untung besar dari hasil kerja dia. Tapi kenapa bayaran yang dia dapat selalu mengecewakan? Kakek Untung ini dapat misi dari mana sih? Setiap kali Lucas menjalani misi, selalu hidup dan mati di ujung tanduk, tapi begitu selesai, bayaran yang diterima cuma lima puluh ribu, seratus ribu. Kadang malah cuma dua ribu, tiga ribu! Setiap kali ingat ini, Lucas rasanya pengin nangis. Sambil memandangi uang dua ratus ribu yang dia dapat dengan taruhan nyawa, hal pertama yang terlintas di pikirannya adalah: " Sialan!" Meskipun, ya, dia sih sebenarnya nggak punya ibu untuk dimaki begitu. Dia yatim piatu dari kecil. Lucas sudah belajar bela diri sama Kakek Untung sejak dia dipungut 15 tahun lalu. Belajar ilmu, belajar pengetahuan luar, semua dia lahap. Kalau hidup di zaman kerajaan, mungkin dia udah jadi juara di dua bidang: sastra dan bela diri! Tapi kenyataannya? Dia cuma jadi tukang suruh yang terus dimanfaatkan. Sampai kapan hidup kayak gini? Dengar-dengar, kerja bangun rumah di kota setahun bisa dapat puluhan juta. Lah, dia tiap hari nyaris mati, setahun cuma dapat sejuta-dua juta! "Kek, serius cuma dua ratus ribu? Saya curiga nih, jangan-jangan kakek potong bayaran saya?" Lucas sudah lama curiga soal ini. Tapi setiap kali dia lihat gaya hidup kakek Untung, yang makan dan pakaiannya sama sederhana dengan dia, rasanya nggak mungkin juga dia menyembunyikan uang. "Masih untung kamu dapat uang! Kirain nyari duit itu gampang?" Kakek Untung memutar bola matanya sambil berkata ketus, "Nggak mau? Kalau nggak, balikin ke saya aja. Udah lama saya nggak makan enak di warungnya janda Wati di ujung kampung!" Lucas rasanya pengin tonjok si kakek kurus di depannya, tapi dia tahu hasil akhirnya pasti dia yang babak belur. Seberapa hebat ilmu bela diri kakek Untung? Lucas pun nggak tahu. Yang pasti, setiap kali latihan, kakek Untung nggak pernah serius meladeninya. Tiap Lucas merasa sudah naik level, dia baru sadar kakek Untung juga ikut naik level. Dan hasilnya, dia tetap kalah telak. "Sudah, sudah. Kamu kan udah cukup terlatih selama ini. Saatnya buat urusan besar itu." Kakek Untung duduk bersila di atas dipan, nggak peduli sama Lucas. Sambil ngemil kacang rebus di depannya, dia berkata, "Misi ini kalau berhasil, kamu nggak perlu pusing cari makan seumur hidup!" "Serius?" Lucas tahu, sejak dia dipungut dari tempat sampah saat umur tiga tahun, dia sudah dilatih buat misi besar ini. Belajar bela diri, belajar obat-obatan, belajar ilmu pengetahuan, semua untuk tujuan itu. Tapi dia ragu, benar nggak sih bayarannya sampai bisa bikin hidup nyaman seumur hidup? "Kapan saya pernah bohong sama kamu?" Kakek Untung melempar satu kacang lagi ke mulutnya. "Mau terima nggak? Kalau nggak, saya kasih ke orang lain." "Mau, mau! Saya terima!" Lucas membatin, masa ada kerjaan seenak itu, orang bodoh aja yang nolak! Satu misi buat hidup nyaman seumur hidup? Apapun rintangannya, dia rela terjun! "Bagus, kalau gitu kamu berangkat ke Kota Valeria. Cari keluarga Dexen, terus temui orang bernama Surya Dexen. Dia yang bakal kasih tahu langkah selanjutnya." Kakek Untung tersenyum kecil, nyaris nggak kelihatan, lalu melanjutkan, "Tapi ingat, sekali kamu ambil misi ini, kamu nggak boleh mundur. Nggak ada istilah keluar di tengah jalan." "Kenapa? Kalau bahaya masa nggak boleh kabur?" Lucas bukan orang bodoh. Kalau tahu bakal mati, ya mending kabur! "Lucas, saya udah pelihara kamu 15 tahun. Kasih kamu makan, kasih kamu minum, beliin laptop, kasih modem internet..." Kakek Untung mulai nyerocos sambil memutar bola matanya. "Suruh kerja sedikit aja banyak alasan. Jangan bikin saya marah!" "Dasar!" Lucas langsung kesal, "Tiga tahun pertama memang kakek pelihara saya. Tapi umur enam tahun ke atas, saya yang masak, cari kayu bakar, bikin sandal dari anyaman buat cari duit buat kita makan! Jadi jangan marah-marahin saya, dong!" "Kamu tengah malam ngapain buka laptop, jangan kira saya nggak tahu!" Kakek Untung melotot tajam. "Ini kamu yang memaksa saya ngomong! Bahkan kamu sampai..." "Oke, oke! Saya terima! Saya nggak bakal kabur. Beres?" Lucas langsung menunduk malu. Dia nggak nyangka hal yang dia lakukan diam-diam tengah malam pun diketahui kakek Untung. Duh, malu banget! Kalau dibiarkan, siapa tahu kakek Untung bakal ngomongin hal-hal yang bikin muka Lucas tambah panas. Akhirnya, di bawah ancaman sekaligus rayuan kakek Untung, Lucas mengemasi ranselnya dan naik kereta menuju utara, menuju Kota Valeria, sebuah kota besar yang super modern dan internasional. Di atas kereta, Lucas cukup semangat dengan tugas kali ini. Siapa sih yang nggak mau misi yang bisa bikin pensiun dini? Itu kan impian semua orang! Walaupun dari nada bicara kakek Untung, dia bisa merasakan kalau tugas ini nggak bakal gampang. Tapi ya, yang susah itu kan justru seru, kan? "Klik." Pria berwajah bopeng di depan Lucas membuka sekaleng soda, lalu dengan santainya melempar cincin kalengnya ke atas meja. Seorang pria berambut cepak di sebelahnya pura-pura nggak peduli, tapi diam-diam mengambil cincin itu dan mulai memainkannya. Setelah beberapa saat, dia tiba-tiba berteriak: "Wow! Wow! Wow! Hadiah utama!" Meski suara si cepak nggak terlalu keras di tengah riuhnya gerbong kereta, orang-orang di sekitar tetap mendengar dan langsung menoleh ke arahnya. Si pria bopeng juga nggak ketinggalan. Begitu dia melihat cincin kaleng di tangan si cepak, wajahnya langsung berubah agak nggak nyaman. "Balikin, itu punyaku..." "Apa punyamu? Ada nama kamu di situ?" Si cepak langsung menarik tangannya kembali, menggenggam erat cincin kaleng itu, dan menatap si bopeng dengan mata tajam. " Nama kamu 'Hadiah Utama' gitu?" "Bukan... bukan gitu. Maksudku, cincin hadiah utama itu aku yang buang tadi..." Si bopeng kelihatan mulai ciut nyalinya. Dia takut sama muka galak si cepak, tapi juga nggak mau kehilangan hadiahnya. Dia hanya bisa menatap cincin itu dengan penuh harap. "Kamu sendiri yang bilang buang, ya udah, siapa yang nemu berarti punya dia." Si cepak mendengus sinis. "Eh, kok kamu bisa gitu sih?" Si bopeng jadi panik. Dia lalu menoleh ke pria berkacamata yang duduk di sebelah kiri Lucas, meminta bantuan, "Mas, kelihatannya Mas ini orang terpelajar, tolong dong kasih pendapat. Ini kan nggak adil!" "Siapa yang nggak adil?!" Si cepak juga nggak mau kalah, dia ikut menoleh ke pria berkacamata itu. "Mas, tolong dong kasih pendapat, cincin ini harusnya punya siapa?" "Hmm..." Pria berkacamata itu mendorong kacamatanya ke atas, lalu menjawab sambil berpikir, "Saya ini dosen universitas. Karena kalian berdua percaya sama saya, baiklah, saya akan kasih pendapat." "Silakan, Mas! Silakan!" Si bopeng dan si cepak mengangguk-angguk penuh harap. "Secara logika, cincin ini kan dilepas dari kaleng minuman oleh si Mas yang wajahnya berkarakter ini, jadi harusnya itu miliknya..." Begitu pria berkacamata selesai bicara, si bopeng langsung tersenyum puas, sementara si cepak langsung cemberut, bersiap untuk protes. Tapi sebelum si cepak sempat ngomong, pria berkacamata itu melanjutkan: "Tapi ya, karena cincin itu sudah dibuang dan ditemukan oleh Mas yang satu ini, maka cincin itu jadi milik dia." "Loh, tapi tadi Mas bilang itu punya saya..." Si bopeng langsung mengeluh dengan wajah memelas. "Begini saja, biar adil, kalian berdua bagi rata hadiah ini. Sama-sama untung, kan?" Pria berkacamata itu menyarankan. "Bagi dua ya?" Si cepak terdiam sebentar, tapi akhirnya mengangguk. "Oke, bagi dua aja." Mungkin dia juga sadar kalau posisinya nggak terlalu kuat, jadi mau nggak mau dia setuju. Si bopeng, yang melihat cincin itu ada di tangan si cepak, juga memilih setuju. Kalau dia nggak mau, bisa-bisa dia nggak dapat apa-apa. Jadi dia pun mengangguk. "Oke, kalau kalian berdua setuju, ya udah bagi" Pria berkacamata itu mengambil kaleng minuman dari tangan si bopeng dan memeriksa tulisannya. "Di sini tertulis, hadiah utama adalah sepuluh juta rupiah. Setelah dipotong pajak dua puluh persen, sisanya delapan juta. Karena klaim hadiah ini agak ribet, siapa yang pergi ambil hadiahnya, kasih tiga juta ke yang lain. Gimana? Setuju?" "Setuju!" Si bopeng langsung mengangguk. Daripada nggak dapat apa-apa, mending dapat tiga juta. " Kamu kasih saya tiga juta, terus kamu aja yang ambil hadiahnya."The sound of the clock ticking slowly echoed through the quiet apartment. Cheesy sat on the edge of the bed, staring blankly out the window. The afternoon sun slipped through the curtains, but it wasn't warm enough to clear his mind.Earlier that morning, after cleaning a small cut on her finger—a remnant of a broken plate that had briefly drawn Daryl’s attention—Cheesy fell silent again for hours, lost in her own thoughts.Her mind drifted back six years, to the day she decided to step back from the love she had fought so hard for. She left Daryl because of Ethan’s brutal threats.And now, Daryl hated her. It was understandable. He must think Cheesy was a traitor. A liar. Leaving him for another man, as if all their past struggles had been nothing but a game.Cheesy hugged her knees, then smiled bitterly. "I left you because I thought that way I could protect you... but now, you don't even want to see my face."Then she touches her chest. Beneath the thin fabric, just below her colla
Cheesy sat restlessly on the back porch of the mansion. Her face was pale, her eyes puffy from lack of sleep. She kept staring at her phone screen, hoping for news from Daryl. But there were no messages or calls.Suddenly, her phone rang. Daryl's name appeared on the screen. Cheesy answered immediately.“Daryl! Where are you?!”The voice on the other end sounded faint. “At the clinic. I had an accident last night.”Cheesy’s blood seemed to stop flowing. “WHAT?!”“Calm down, I’m fine. Just some scrapes. I was hit by a motorcycle, and the person fled. But I’m okay.”“No, you’re not okay if you ended up in the clinic!” Cheesy stood up immediately. “Which clinic? I’ll come over!” Shortly afterward, Cheesy arrived at the small clinic near Daryl’s residential area. Her breathing was still irregular as she entered the room, and upon seeing Daryl sitting on the examination bed with a bandage on his arm, she rushed over.“Daryl...” Cheesy hugged him without saying much. Tightly. As if to mak
“Stop it, Dad! I don’t want to!” Cheesy shouted, her eyes watering, her breath coming in gasps from her emotions.In the large office, Mr. Ethan, Cheesy’s father, stood behind a large desk. His body was sturdy, his face stern, his gaze cold as steel.“You don’t know what you’re doing, Cheesy! You’re ruining your future for that lowly man!” Mr. Ethan’s voice boomed.Cheesy stood in the middle of the room, her fists clenched. “I love Daryl, Dad! He’s not a lowly man. Daryl works hard, he’s honest, and he loves me!”“Love?” Mr. Ethan snorted. “Love won’t fill your stomach, Cheesy. It won’t earn you respect in the aristocratic world.”Cheesy stepped forward. “I don’t need money if my life has to be filled with lies! I’m happy with Daryl.”“Daryl will never be part of our family. Look where he comes from! A laborer’s son, living in a narrow alley, with nothing!” Mr. Ethan’s face turned red. “Do you know the consequences if you keep being with him?”Cheesy shook her head slowly, tears begin
Six in the morning. The sky was still dark, but Cheesy was already awake.Her body still ached, but she slowly rose from bed. Her feet shuffled quietly toward the kitchen. With trembling hands, she began preparing breakfast. She still remembered—back when they were dating—Daryl loved Cheesy’s homemade ginger chicken soup.So that morning, even though her chest still felt tight and her body hadn’t fully recovered, she carefully chopped the ingredients. The broth simmered slowly, the ginger sautéed, and a fragrant aroma began to fill the room.Cheesy held onto a small hope—maybe today would be a little better.Not long after, Daryl’s deep voice echoed from the bedroom.“Cheesy!”Cheesy quickly turned off the stove, wiped her hands, and walked to the bedroom.“Yes, Mr. Daryl?”Daryl stood in front of the mirror, wearing only slacks. A neatly folded white shirt lay on the bed.“Get my work clothes ready.”Without a word, Cheesy took the shirt, unfolded it carefully, and began helping Dary
The Next Day"You're in much better condition now, Miss Cheesy," said the young doctor as he reviewed the latest test results. "But you need to start chemotherapy as soon as possible. And we have to begin the search for a bone marrow donor."Cheesy stayed silent. Her gaze was blank, fixed on the ho
Daryl’s apartment was silent now, with only the ticking of the clock filling the room. After throwing his phone against the wall, he slumped onto the floor. His head leaned back against the wall, his breath heavy. His eyes stared blankly at the ceiling. His heart felt like it was being torn apart.
Meanwhile, Daryl sped down the city streets toward the airport, his face dark, his mind in chaos. Every moment with Clara felt emptier than the last.Back in the apartment, Cheesy stood alone, hugging her frail body, trying to suppress the pain that was quietly eating her from the inside. She stare
Chapter 10 — BANG!Daryl flung open the apartment door and yanked Cheesy inside without a word."Get in!" he barked.Cheesy let out a long breath. 'What's the point of resisting?' she thought. It would be useless.Wasting no time, Daryl grabbed his ph






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.