MasukDespite being a mermaid, the young Iris Amor Manuel accepted and befriended Evangeline "Eva" Damian. When they were six years old, they were separated. Amor had to go to the US as she needed to be treated for her unknown sickness. Eva had waited far too long for her first love to return and fulfill her promise to her. She became impatient and she decided to move on and live her life. However, Eva's first love came back, and all the feelings she had contained for years came flooding back. She wanted Amor back in her life. She was the only woman she truly loved, even when Eva discovered that Amor was actually a vampire, which are the mortal enemies of the other supernaturals.
Lihat lebih banyakPagi yang dingin di salah satu kampus ternama di Kota London.
Udara pagi seolah-olah menusuk kulit, dingin dan lembab, menyapu trotoar kampus University of London yang mulai dipenuhi mahasiswa. Kabut tipis masih menggantung di antara gedung-gedung batu tua yang menjulang megah, seolah-olah sedang menyembunyikan sejarah panjang dan cerita-cerita tersembunyi di balik dindingnya. Cassie berjalan cepat, hampir setengah berlari, menyusuri lorong trotoar menuju gedung kuliah utamanya. Ransel hitam lusuh tergantung di punggungnya, dan jaket abu-abu tipis yang dikenakannya terlihat usang, kontras dengan mantel-mantel mahal dan tas-tas bermerek yang digunakan sebagian besar mahasiswa di kampus itu. Dia mengecek jam tangan digitalnya yang sudah agak pudar, pukul tujuh lewat lima puluh delapan menit. Dua menit lagi kelas bisnis akan dimulai. Dia menggigit bibir bawahnya, berharap bisa masuk sebelum dosen terkenal yang galak itu menutup pintu. Namun, langkah Cassie tiba-tiba terhenti ketika tiga mahasiswi berdiri menghadang di depannya, tepat di dekat tangga masuk gedung kuliah. “Lihat siapa yang buru-buru. Si beasiswa,” ejek seorang gadis berambut pirang dengan jaket bulu putih yang jelas sangat mahal. Namanya Melisa. Di sebelahnya, dua sahabatnya, Amy dan Judith, terkikik geli. Cassie diam. Dia tahu ini akan terjadi lagi. Hal semacam ini bukan pertama kalinya mereka mengolok-oloknya. Gadis itu menarik napas panjang dan mencoba berjalan melewati mereka tanpa mengucap sepatah kata pun. Namun Melisa menahan langkahnya dengan mengangkat tangan. “Mau ke mana kamu? Nggak ada salam dulu sama anak-anak kaya seperti kita?” Amy tertawa sinis. “Ha-ha-ha. Iya, Cassie. Harusnya kamu bersyukur masih bisa kuliah di sini. Tanpa kami anak-anak dari kalangan atas, kamu nggak akan dapat beasiswa di kampus ini, tahu?” Judith menambahkan, “Lihat deh baju dia, udah kayak dari toko barang bekas. Apa kamu tinggal di rumah tua pinggir kota?” Cassie masih diam. Matanya menunduk. Tangan gemetarnya menggenggam erat tali ranselnya. Hatinya sakit, tapi dia tahu membalas hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Melisa kemudian mengambil sesuatu dari tas jinjingnya. Sekantong plastik berisi tepung. “Eh, Amy, kamu tahu nggak? Katanya tepung itu bisa bikin orang terlihat lebih mahal! Ha-ha-ha!” seru Melisa sambil tertawa. Sebelum Cassie sempat bergerak mundur, tepung putih itu sudah beterbangan ke udara, menyelimuti bagian depan jaket dan rambutnya. Cassie terdiam, menahan napas. Rambutnya yang hitam panjang kini tertutup debu putih. Suara tawa keras ketiga gadis itu menggema di lorong kampus yang mulai dipenuhi mahasiswa lain yang hanya melihat, tapi tak berani ikut campur. “Cocok banget tuh buat kamu. Sekarang kamu jadi kayak roti miskin. Ha-ha-ha!” seru Amy, sambil tertawa geli. Cassie menutup matanya sebentar, menenangkan diri. Dia menahan air mata yang menggenang di ujung kelopak, lalu menghembuskan napas panjang. Tanpa berkata apa-apa, gadis itu melangkah melewati mereka, menuju gedung kuliah. Beberapa mahasiswa lain melihatnya lewat dengan pandangan iba, tapi tak satupun yang berkata sesuatu. Dunia ini tak adil, dan Cassie sudah terbiasa dengan itu. Seseorang tiba-tiba menepuk pundaknya perlahan. “Cassie!” suara laki-laki itu pelan tapi terdengar prihatin. Cassie menoleh. Itu Alan, salah satu teman sekelasnya yang terkenal cerdas dan bersahabat. Dia memandang Cassie dengan ekspresi khawatir. “Kamu nggak apa-apa? Mereka keterlaluan!” ujarnya. Cassie menggeleng. “Aku nggak mau terlambat kelas,” katanya pelan. Alan membuka jaketnya dan menyodorkannya pada Cassie. “Pakai ini dulu. Bajumu kotor banget. Kita jalan bareng, ya?” Cassie terdiam, menatap Alan sejenak, sebelum akhirnya mengangguk perlahan. Dia menerima jaket itu dan memakainya, meski masih ada sisa-sisa tepung di rambutnya. “Terima kasih,” bisiknya. “Kamu nggak harus diam aja, kamu tahu? Mereka nggak berhak perlakukan kamu kayak gitu.” Cassie hanya tersenyum tipis. “Aku tahu. Tapi aku di sini bukan untuk balas dendam. Aku di sini untuk belajar. Aku punya mimpi, Alan. Dan aku nggak akan biarkan mereka menghancurkannya.” Alan mengangguk, kagum pada ketegaran Cassie. Saat mereka tiba di pintu kelas, bel tanda kuliah dimulai baru saja berbunyi. Dosen mereka, Prof. Charles Bliss, baru membuka pintu. “Masuk,” katanya singkat, menatap tajam ke arah Cassie dan Alan. “Kalian jangan lambat lagi.” Cassie duduk di bangkunya dengan tenang. Di dalam kelas, suasana jauh lebih damai. Dia mengeluarkan buku catatannya, yang meski lusuh, selalu rapi dan penuh tulisan. Tepung di bajunya sudah tak terlalu terlihat di balik jaket Alan, tapi di hati Cassie masih ada sisa sakit. Namun di sela-sela rasa perih itu, ada tekad yang membara. Cassie berjanji dalam hati, suatu hari nanti, dia akan membuktikan bahwa nilai seseorang bukan ditentukan oleh baju yang mereka pakai, melainkan oleh hati, ketekunan, dan impian yang mereka perjuangkan. Pagi itu, suasana kelas bisnis terasa hangat meski cuaca di luar berkabut. Ruangan dipenuhi mahasiswa yang duduk rapi di kursi berbaris, catatan terbuka, dan tatapan sebagian besar mengarah ke pria yang berdiri di depan kelas, Profesor Charles Bliss. Dengan setelan jas abu gelap dan dasi biru tua, Prof. Charles berdiri gagah di depan papan tulis digital. Sorot matanya tajam, penuh karisma. Setiap gerakannya memiliki presisi, setiap kata yang diucapkannya terdengar seperti perintah yang tak bisa dibantah. Tidak hanya cerdas dan sukses, Prof. Charles memiliki paras tampan dan tubuh atletis yang membuat sebagian besar mahasiswi terdiam saat dia masuk kelas. Cassie duduk di barisan ketiga dari depan. Matanya sayu, kepalanya nyaris tertunduk. Dia mencoba mencatat, tapi kelopak matanya terasa berat. Gadis itu baru pulang kerja pukul dua dini hari tadi. Tadi malam, bar tempatnya bekerja sangat ramai. Cassie harus mencuci gelas, melayani pelanggan, dan membantu bagian dapur. Semua itu dia lakukan agar bisa tetap bertahan hidup di kota ini. Di sebelahnya duduk Alan, yang dari luar tampak bersahabat. Tapi sejak pagi tadi, sorot mata Alan berbeda. Pandangannya diam-diam menilai Cassie, dan senyumnya menyimpan sesuatu yang tidak sepenuhnya tulus. Alan menyandar ke arah Cassie dan berbisik pelan, “Kamu kelihatan lelah sekali. Masih bisa fokus sama penjelasan Prof. Charles? Kalau nggak ayo ikut aku ke kafetaria!” Cassie hanya tersenyum tipis, menggeleng pelan. Dia tidak membalas komentar Alan. Tapi dalam hatinya, ada keganjilan. Sejak semalam, Alan mulai sering mengirim pesan aneh. Dan pagi tadi, dia sengaja menyodorkan jaketnya agar bisa lebih dekat dengannya. Cassie belum sempat berpikir lebih jauh karena pikirannya sudah terlalu lelah. “Baiklah.” Suara Prof Charles terdengar tegas di seluruh ruangan. “Kita akan masuk ke topik hari ini, Strategi Pasar Global dan Ekspansi Bisnis Multinasional. Perhatikan baik-baik. Saya tidak ingin ada yang tertinggal.” Cassie mencoba fokus. Tapi perlahan, pandangannya mulai kabur. Suara Prof Charles terdengar seperti gema yang semakin jauh. Kepalanya mulai tertunduk. Dalam hitungan menit, dia tak lagi sepenuhnya sadar. Dalam lamunannya, Cassie kembali melihat wajah Prof. Charles. Namun kini bukan sebagai dosen, melainkan sebagai sosok yang lebih pribadi. Dalam khayalannya, dia dan Charles berada di kelas hanya berdua saja. Charles melepas jasnya, menyingsingkan lengan kemejanya, dan mendekat ke arah Cassie. Suaranya tak lagi resmi, tapi lembut dan penuh perhatian. “Cassie,” ucapnya dalam mimpi. “Kamu pantas mendapatkan lebih dari semua penderitaan ini. Kamu sangat cantik! Aku sangat terpesona denganmu.” Cassie menatapnya. Mereka berdiri berhadapan di depan meja kelas. Charles menyentuh pipinya dengan lembut. Cassie merasakan kehangatan yang tidak pernah dirinya rasakan sebelumnya. Lalu keduanya terlibat dalam ciuman ganas. Prof. Charles melahap habis bibir Cassie. Bahkan tangan sang profesor mulai menyelinap masuk ke dalam bajunya dan mulai meremas kedua bukit kembar miliknya. Yang membuat Cassie menjadi melayang sampai ke langit ketujuh. Namun tiba-tiba, Brak! Suara pukulan keras di meja membangunkan Cassie dari lamunannya. Gadis itu tersentak, dan seluruh kelas menoleh padanya. Prof. Charles berdiri di depannya, wajahnya marah, rahangnya mengeras. “Cassie Florence!” Suara Prof. Charles terdengar tegas. “Anda mau belajar? Atau mau tidur di dalam kelas?”EVAI WOKE UP and I felt someone hugging me and stroking my hair. I didn't open my eyes. Instead, I pressed myself against the stranger who was hugging me. They smell so good. Like vanilla, like my Amor.I pressed my face well into their neck, still, eyes closed. Their warmth is refreshing because it acts as a heater for my cold body. They even tightened their grip on me while rubbing my arm. They are very comforting. I don't want this moment to end."Amor, don't leave me. Please." Begging, I tightened my embrace around the stranger's soft body."Not anymore, my love. Never again," they said.Ahh... Their voices were like my Amor's! I didn't open my eyes because I didn't want to wake up from this dream. I smiled and leaned on their shoulders and nuzzled my head deeper into the stranger's neck.~*~THE NEXT DAY, I had a headache.Shit! I drank a lot. Besides, where am I? Thinking of that made me jump up.I opened my eyes to the familiar ocean blue room.'Oh, I am in my room. How did I
EVA"SWEETIE, YOUR FRIENDS ARE HERE. Come down here!" Mama Fe shouted.She came home early today just to congratulate me, but she will also return later to the hospital. But that's okay with me, and at least in that way, I can see that she supports me. Even though she knew I was a lesbian, she still accepted me."Coming!" I shouted when I was satisfied with my reflection in the mirror.I'm wearing a pair of blue short shorts and a simple oversized black t-shirt that shows off my sports bra because it's sleeveless and has a big "Eat Me" print on it. I curled my long brown hair into big curls and wore black Vans shoes. My makeup was simple, but I made sure that I still looked seductive.Cell phone, check! Potions, check! Purse, check!"Get ready to hook up, baby," I said to myself in the mirror and winked. Then I sped down. Those gorillas are impatient.I said goodbye and kissed Mama's cheek and left the house."Witwew!" They joked when they saw me."Ev, are you sure you're really a les
EVAMY FRIENDS AND I spent some time in the gym because my fans asked to take pictures with me. My friends just laughed when I looked at them with that familiar look. They already know I'm asking for help. I breathed a sigh of relief when my fans left. That's when Amber approached me."Hi, babe. I'm sorry. I only got to be here with you now because I was still organizing the squad. Congratulations!" She said, wrapping her arms around my neck and kissing me on the lips.I was just surprised, not because it was the first time she did that, but I was just surprised because I didn't expect her to do that with audiences.We were in such a scene when I noticed that someone was looking at us intently. I don't know why, but the hair on the back of my neck stood up. I immediately looked at the exit of the gym because it’s the direction I felt that intense energy. I could see the figure of a woman, but because that part was dark, I wasn't sure. What I can't explain is that I suddenly felt like
"DO NOT WORRY," the six-year-old girl reassured the other six-year-old mermaid girl.They were on the seashore on a large rock not far from the young human’s house. There she met a young mermaid and they became best friends without anyone knowing.The young man rubbed the young mermaid’s back because she was crying non-stop once she heard the plan of the young human girl."My mother said, we'll be back soon. We're only staying in the US for a while. They just have an important trip there and I needed to be with them too," said the human girl, sadly."W-why now? N-no one will listen to me anymore. T-there's no one I can run to when my mother will scold me," said the young mermaid between sobs."We'll only be there for a while, Ev. Besides, I'm going to get treatment there too. I'll be strong. I won't be sick anymore. Don’t you want that? We'll be able to play for a long time if I get healed," said the human girl, trying to sound happy."Okay. Alright. A-as long as you come back right a






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan