เข้าสู่ระบบ
“Ternyata kamu gadis nakal.”
Aku tersentak mendengar suara berat Aaron tepat di belakangku. Kurasakan tubuhnya menempel rapat, panasnya menembus tipis kain bajuku. “K-Kak… aku tidak–” Bibirku dibekap telapak tangannya, sementara pinggangku dicekal kuat. “Lanjutkan menonton,” bisiknya, serak, menggoda. “Jangan pejamkan matamu.” Melalui celah kecil pintu yang terbuka, tatapanku kembali terarah pada Aresh, kakak tiri pertamaku, yang tengah menghunjam tubuh wanita di bawahnya tanpa ampun. Ranjang berderit, desahan bercampur raungan sensual, membuat darahku mendidih. Leherku meremang saat napas panas Aaron menyapu kulitku. Ia terkekeh pelan. “Kamu tampak sangat menikmatinya,” bisik Aaron, suaranya menancap di telingaku. “Jadi, bagaimana kalau kita mencobanya juga malam ini, Adik Tersayang?” Suara dalam Aaron, mengirim getaran aneh ke tubuh bagian bawahku, aku pun gemetar tanpa sadar. *** Beberapa hari sebelumnya.... “Waaah, besar sekali!” Aku meloloskan desah penuh kekaguman saat melihat rumah megah di hadapan. Hal itu memancing tawa dari ayah baruku, sementara pipi ibuku bersemu kemerahan–mungkin malu karena ucapanku yang polos tersebut. “Manis sekali anak gadis ini,” komentar ayah baruku sambil tersenyum. Beliau menepuk-nepuk puncak kepalaku pelan. “Ayo masuk dulu, Sherry. Saya kenalkan dulu pada kakak-kakakmu.” Belum lama ini, ibuku yang cantik menikah lagi dengan seorang milyuner tua yang membawa tiga orang putra ke dalam pernikahan. Ayah baruku itu adalah orang yang hangat dan humoris, membuatku sulit untuk tidak menyukainya. Apalagi memang ia membuat ibuku tampak bahagia setelah bertahun-tahun sengsara bertahan hidup tanpa dukungan suami. Aku masuk ke dalam rumah megah yang tidak pernah kubayangkan akan bisa kutinggali. Ruang utamanya begitu lapang, dengan langit-langit tinggi yang membuat segalanya terasa lebih besar dari seharusnya. Semua tampak bersih, teratur, dan mahal–sungguh mencerminkan betapa kayanya pria yang menikahi ibuku tersebut. “Itu kakakmu yang nomor dua,” kata ayah baruku saat seorang pria berbadan tegap berjalan menuruni tangga. Membuatku langsung mengarahkan pandangan ke arahnya. Tatapan mata tajamnya yang sempat melihatku tampak dingin, sementara setengah wajahnya yang lain tertutup masker hitam. “Aku pergi dulu. Ada masalah kantor,” kata pria itu pada ayah baruku dengan nada datar. Lalu tanpa menunggu respons, ia langsung keluar rumah. Ayah baruku menghela napas. “Haa. Anak itu….” Tatapanku tiba-tiba tertuju pada sesuatu di atas lantai. Sebuah kunci motor. Apakah pria tadi menjatuhkannya? “Maaf, permisi sebentar, Om,” kataku. Tanpa pikir panjang, aku ambil benda itu dan mengejar si kakakku yang nomor dua. "Kak!" panggilku dengan suara cukup keras. Pria itu menghentikan langkah, menoleh ke arahku dengan kening berkerut. Meski tampak tidak ramah padaku, aku tetap berjalan mendekat sembari mengulurkan kunci yang kutemukan tadi. "Kak, ini tadi jatuh," ucapku sambil tersenyum. Ekspresi pria itu tampak semakin dingin, kerutan di keningnya bertambah. Ia meraba sakunya terlebih dahulu sebelum kemudian tangannya terulur ke arahku. Kupikir, ia akan mengambil kunci yang kusodorkan padanya ini, tapi hal yang mengejutkan terjadi. Dengan satu gerakan keras, dia mencengkeram tanganku dan menyentakku mendekat untuk berbisik dengan suaranya yang dingin, “Siapa yang kamu panggil ‘Kak’? Tidak tahu malu.” Tubuhku menegang. Aku tidak sempat bereaksi lebih jauh karena dia sudah mengambil kunci di tanganku dan berbalik untuk melangkah pergi "Sialan, pagi yang menyebalkan," desisnya, terdengar sangat kesal. Sepasang mataku membola. Pria itu … benar-benar tidak menyukaiku ya? Dengan hati terluka, aku kembali ke tempat ibu dan ayah tiriku menunggu. Rupanya, selain Aaron, kakakku yang nomor dua tadi, saudara tiriku yang lain sudah tidak ada di rumah. Beliau pun baru mendapatkan kabar tersebut dari pelayan, bahwa Aresh dan Arsion, dua kakakku yang lain, sudah lebih dulu pergi dari rumah saat para orang tua menjemputku tadi. Aku tidak terlalu ambil pusing dengan sikap mereka. Karena toh memang sulit menerima orang baru. Apalagi, hari ini ayah tiri dan ibuku pergi berbulan madu. Aku tidak mau mereka melihatku sedih hanya karena sikap para kakak baruku. Namun, setelah mereka berangkat ke bandara, tak urung aku merasa kesepian dan kurang kerjaan. Karenanya, aku memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar rumah. Langkahku membawaku ke tempat yang asing di tengah taman belakang. Ada bangunan kecil di belakang rumah—yang aku tidak tahu untuk apa kegunaannya. Bangunan itu berdiri agak terpisah dari rumah utama. Ukurannya tidak besar, hanya satu lantai dengan cat dinding warna putih. Di bagian depan ada teras kecil dengan beberapa kursi kayu.. “Tempat apa ini…?” gumamku, menatap pintu kayu yang sedikit terbuka. Dari dalam terdengar suara aneh. Suara desahan yang aku tidak tahu apakah pemiliknya sedang kesakitan atau tengah dibuai kenikmatan. Tiba-tiba jantungku berdegup tak karuan. "Suara apa itu?" Karena penasaran, perlahan aku mendekat dan mengintip melalui celah pintu. Dan pandanganku membeku. Seorang pria tanpa busana tengah bergerak liar di atas seorang wanita. Otot-otot pria itu bergerak liar, keringat bercucuran. “Aresh–ah! Lebih cepat lagi–” Mataku membelalak. Napasku tercekat sementara wajahku memanas melihat adegan liar di depanku, apalagi saat tahu siapa pria yang membuat wanita itu mendesah dengan suara basah. Bukankah itu Aresh? Kakak tiriku yang pertama? “A-aku harus pergi…” Merasa bahaya yang tak terkatakan, aku segera berbalik, berlari secepat mungkin. Kakiku nyaris terantuk batu, jantungku berdetak seperti ingin meledak, tapi aku terus berlari secepat mungkin. Malam itu aku tak bisa tidur. Bayangan pria entah siapa yang bercinta dengan begitu liar tersebut terus menari di kepalaku, membuat jantungku berdebar kencang. Aku sama sekali tidak tahu bahwa saat meninggalkan bangunan tadi untuk kembali ke rumah utama, ada sepasang mata tajam yang mengamatiku.Rion dulu anak yang sangat manis dan penurut, tapi sejak Valerie, ibunya meninggal dalam kecelakaan, Rion tiba-tiba menjadi anak yang pembangkang dan suka membuat masalah, mungkin karena kehilangan orang terdekatnya membuat remaja itu menjadi sangat terguncang dan menyebabkan banyak masalah. Sejak masuk SMA, beberapa sekolah bahkan sudah angkat tangan dengan ulah Rion, Kayden sudah mencoba memasukkan putranya itu ke asrama, tapi kenakalan Rion malah semakin menjadi-jadi. Akhirnya saat kenaikan kelas 2, Rion dipindahkan ke sekolah yang sama dengan Dita putri Kylo, Kayden berharap jika Rion melihat sepupunya yang berprestasi, dia mungkin akan berubah. Namun, harapan setipis benang itu lagi-lagi kandas begitu saja. Rion, bukannya berubah, malah menjadi seorang playboy! Kayden benar-benar sudah menyerah untuk mendidik Rion, dia juga menderita kehilangan Valerie, dan Rion membuat kepalanya makin pusing saja! Kayden yang sudah tak sanggup lagi merawat anak, akhirnya menyarankan se
"Entahlah, kalo anakku besar dan aku nggak bisa ada di sampingnya, tolong rawat dia, ya, Ky," ucap Kayden, menoleh ke arah Kylo. "Udahlah, jangan ngomong yang enggak-enggak. Bayimu saja belum lahir. Omong-omong kamu udah baikan dengan Valerie, kan?" Kylo yang tak suka melihat Kayden membicarakan kematian, mengalihkan pembicaraan. Kayden hanya mengendikkan bahu dan menjawab malas-malasan. "Entahlah. Aku sudah hendak menceraikan dirinya waktu itu tapi dia malah hamil, hubungan kami sekarang benar-benar nggak ada rasanya, aku juga jarang pulang." Kylo yang tak ingin pernikahan kakaknya dan Valerie semakin hancur, akhirnya memutuskan untuk menasehati sang kakak. "Kay, dia istrimu. Dan dia sekarang mengandung benihmu. Gimana pun masa lalunya, bukankah dia udah berubah? Coba sekali-kali berikan dia perhatian sebagai seorang suami. Sampai kapan kalian akan terus seperti ini? Gimana caranya kalian merawat anak kalo hubungan kalian dingin seperti itu? Kasihan anakmu besok, Kay,"
"Minus, minus! Kenapa setiap bulan pemasukan perusahaan semakin minus?! Belum banyak sekali yang milih mengundurkan diri dan gabung dengan perusahaan Kylo, ada apa ini?!" Nyonya Jane mencak-mencak saat selama beberapa bulan terakhir, pendapatan perusahaan semakin minus dan terus berkurang. Semenjak Kylo pergi dari perusahaan dan rumah mereka, karma dan kemalangan satu persatu menghampiri keluarga nyonya Jane, dari mulai ditipu besar besaran, mundurnya banyak pegawai kompeten dan terpaan masalah lain yang membuat perusahaan besar yang dia banggakan terguncang dan terancam gulung tikar. Berbeda dengan perusahaan Kylo yang semakin hari semakin menunjukkan taringnya di dunia bisnis. Kayden yang mendengar itu, menjawab santai. "Nek, nenek bertanya kenapa padahal sudah tahu alasannya gimana. Tentu saja mereka sudah nggak percaya lagi kerja di perusahaan kita karena perusahaan ini sudah hampir bangkrut." "Kamu... kamu ngomong apa, Kayden?! Bangkrut, itu nggak mungkin! Ini adalah bisnis
"Aku nggak khawatir tentang itu, Ky. Aku cuma khawatir gimana keadaanmu sekarang. Kamu nggak papa, kan?" tanya Trivia dengan ekspresi prihatin, takut jika suaminya itu terguncang karena telah mengambil keputusan yang sangat ekstrim seperti tadi. Kylo malah tersenyum sangat lebar mendengar pertanyaan dari Trivia tersebut, dia segera menggeleng dan menjawab. "Iya. Aku nggak papa. Santai aja. Aku benar-benar nggak pernah sebahagia ini sebelumnya. Aku merasa bebas untuk pertama kalinya, Trivi. Sungguh." Jawaban itu membuat Trivia seketika merasa sangat lega. Dia pun balas tersenyum dan menjawab. "Kamu sangat baik, Ky. Aku... aku benar-benar kagum melihatmu." Kylo mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Trivia, menggeleng atas pujian Trivia yang mengatakan kalau dia sangat baik. "No. Kamulah yang membuat aku kuat, Trivi. Gara-gara kamu aku berani mengambil keputusan seperti ini. Jadi kamu yang lebih pantas kukagumi," elak Kylo sambil tersenyum manis dan menggenggam erat tanga
"Kylo!" Kayden buru-buru mengejar Kylo yang sudah hendak masuk mobil bersama istrinya dan menghentikan langkah adik tirinya tersebut. Kylo menyuruh Trivia untuk masuk mobil lebih dulu dan duduk dengan tenang di sana, karena khawatir jika berdiri terlalu lama, istrinya yang sedang hamil itu akan merasa kelelahan. Setelah memastikan istrinya duduk nyaman di dalam mobil, Kylo menutup pintu dan berbalik menghadap ke arah Kayden yang berdiri di belakangnya dan menunggu. "Ada apa, Kay?" tanya Kylo dengan suara dingin. Kayden menyugar rambutnya dengan gelisah lalu berkata tergesa-gesa kepada Kylo, adik tirinya. "Aku udah denger semuanya dari nenek dan ibu. Kamu... kamu mundur dari jabatan CEO dan menolak untuk memenangkan kompetisi? Kenapa kamu tiba-tiba ngelakuin semua itu, Ky?" Kylo mengangguk tegas atas pertanyaan Kayden dan menjawab dengan suara mantap dan tatapan sedikit menyindir. "Ya, Kay. Semua kekayaan keluargamu, sekarang jadi milikmu seorang. Aku juga nggak bakal n
Nyonya Jane tampak berusaha menenangkan Victoria, padahal Kylo bisa melihat dengan jelas senyum licik yang tercetak di bibir keriput wanita tua itu, membuat perutnya mual sehingga dia pun mengalihkan pandangan. Victoria yang sudah tersulut amarah, mulai meledak seperti biasa. "Dia semakin hari semakin ngelunjak saja sekarang, Bu! Lihatlah, anak tak tahu diri ini bahkan dengan sombongnya menolak hotel bintang lima itu. Kamu melakukan ini karena ingin mengolok-olok Kayden, kan?! Hanya karena istrimu yang lebih dulu hamil, jangan sombong kamu! Sadar diri di mana posisimu! Kamu itu di bawah Kayden! Selamanya di bawah Kayden!" Kylo mengepalkan tangannya erat-erat mendengar penghinaan yang keluar dari mulut Victoria, Trivia yang duduk di sampingnya, langsung menggenggam tangan Kylo untuk menenangkan dirinya. Kylo tersenyum dingin dan menjawab dengan suara sopan. "Terima kasih sudah mengingatkan posisi saya, Nyonya Victoria. Ini semakin menguatkan keputusan saya, yang tadinya mau







