Masuk"Sherry...."Pintu tertutup lagi, kali ini tanpa suara. Ia berdiri di sana, punggungnya menempel pada kayu, seolah butuh penyangga agar tidak runtuh.Aku menatapnya dan ia balas menatapku.Tidak ada lagi kemarahan di wajahnya. Yang tersisa hanya kegelisahan yang telanjang, perasaan yang terlalu lama ditekan dan kini bergetar di permukaan.“Aku tidak suka melihatmu bersandar pada orang lain,” katanya lirih. “Bukan karena aku ingin menguasai. Tapi karena setiap kali kamu terlihat rapuh, naluriku… ingin berada di sana. Ingin jadi yang pertama.”Kata-katanya tidak keras, tapi penuh beban sehingga aku pun melangkah mendekat“Aku tidak pergi ke mana-mana, kak Aaron.”Napasnya tersendat, jarak kami menyempit lagi Terlalu dekat untuk sekadar aman, terlalu jauh untuk benar-benar menyentuh. Ada listrik di udara—bukan dari hasrat fisik, melainkan dari emosi yang menumpuk: takut, cemburu, ingin melindungi, dan kelekatan yang sulit diberi nama.“Kamu selalu berhasil memmbuatku kehilangan kendali
Mereka saling bertatapan tanpa suara, membuat suasana canggung.Namun untungnya, Kaiser tampak mengalah lebih dulu, dia bangkit sambil menghela napas panjang."Hah, sepertinya aku sudah terlalu lama di sini. Sherry, aku pamit ya?"Keheningan di ruang tamu akhirnya pecah ketika Kaiser pamit. Ia tidak banyak bicara, hanya menatapku sekali lagi sebelum melangkah keluar. Tatapan itu tenang, tapi di baliknya ada sesuatu yang membuat dadaku terasa sempit.Begitu pintu tertutup, udara terasa berbeda.Lebih berat.Aaron berdiri kaku di tempatnya. Rahangnya mengeras, tangannya masih mengepal seolah ia menahan sesuatu yang ingin keluar tapi tak boleh.“Aku mau ke kamar,” ucapku pelan.Arsion mengangguk. “Istirahatlah.”Aku berbalik, melangkah ke lorong. Namun sebelum aku sempat menutup pintu kamarku, langkah cepat menyusul dari belakang.“Sherry.”Aku menoleh, melihat Aaron berdiri di ambang pintu, matanya gelap, penuh emosi yang sulit kubaca: marah, cemburu, takut… dan sesuatu yang lebih dalam
"Hai, Sherry," sapanya, yang kini berdiri dengan senyum lelah, membawa tas kecil. "Kaiser....."Kaiser tersenyum lebar saat aku membukakan pintu untuknya dan mempersilahkan masuk.“Aku baru kembali dari kampung. Nenekmu stabil sekarang. Dokter bilang krisisnya sudah lewat, tapi Tante tetap di sana untuk menemani nenek," ujarnya sambil duduk di sofa. Dadaku langsung menghangat dan tersenyum lega.“Syukurlah… terima kasih sudah menemani ibu dan mengantar ke sana, Kai." “Kamu tidak perlu berterima kasih,” jawabnya lembut. “Itu tugasku sebagai sahabat kamu, kan?" Aaron baru turun dari kamar di lantai atas bersama Arsion, saat melihat Kaiser duduk di sofa ruang tamu, keningnya sedikit berkerut “Kamu sudah kembali.” “Iya,” jawab Kaiser singkat. “Aku ke sini hanya mau memastikan Sherry baik-baik saja," jelasnya, seakan-akan tak ingin menimbulkan kesalahpahaman yang tidak perlu. Aku tersenyum kecil dan menjawab dengan hangat. “Aku baik baik saja di sini, Kai. Tiga kakakku sangat me
Aresh menatapnya tanpa emosi. “Keluargamulah yang menghancurkan dirinya sendiri. Dan kenapa aku harus tidak tega padamu? Yang sudah memporak porandakan keluarga ku??" ejek Aresh dengan sinis. “Kami punya pengaruh! Dan aku wajar melakukan hal itu” Maureen hampir berteriak. “Kami punya sekutu! Kami bisa melawan!” “Sekutu-sekutumu sudah menarik diri, sayang sekali bukan?” sahut Aresh. “Mereka tidak mau ikut tenggelam.” Maureen terdiam. Napasnya mulai tidak teratur. “Tidak… ini tidak nyata…” Aaron berkata datar, “Nyata sekali.” Maureen perlahan kehilangan keseimbangan dan terduduk di lantai. “Ayahku… ibuku… adik-adikku…” suaranya pecah. “Kamu tidak bisa melakukan ini…” Aresh berlutut di depannya, menatap lurus ke matanya. “Aku bisa. Dan aku akan.” Maureen menggeleng putus asa. “Kalau masuk penjara… hidup mereka hancur.” “Kalau dibuang?” tanya Arsion. “Setidaknya… mereka masih hidup bebas,” bisik Maureen. Ia menatap Aresh dengan mata basah. “Tolong… jangan penjara.” Ares
Aresh berdiri dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya. Maureen membalasnya dengan senyum yang lebih sinis, lebih tajam. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Maureen dingin. “Apa keluargaku kembali menjadi pemilik puncak bisnis di negeri ini?” lanjutnya dengan nada angkuh, sambil mengibaskan tangan. Aresh mengangkat alis, seakan membiarkan Maureen dengan kesombongannya, sebelum kemudian berkata dingin. “Masih merasa di atas angin, ya. Mentang mentang selama ini kamu mengira bahwa keluargamu satu-satunya yang menguasai puncak bisnis?" “Wajar,” balas Maureen dengan tatapan sinis. “Kamu tahu siapa ayahku. Kamu tahu jaringan keluargaku.” "Wah, wah, tapi sepertinya kamu harus tahu berita terbaru?" Aresh pun mengeluarkan tablet dari tasnya, menyalakannya dengan gerakan santai. "Aku sudah bosan dengan berita keberhasilan keluargaku, jadi—" “Justru karena itu… kamu perlu lihat ini," potong Aresh sambil memutar layar ke arah Maureen. Di layar tablet milik Are
Ibu sempat berdiri mematung di tengah ruang tamu. Wajahnya bimbang, seperti seseorang yang terbelah antara dua kewajiban: sebagai anak, dan sebagai perempuan yang merasa terancam kehilangan kendali. Maureen memanfaatkan keraguan itu. “Tante, nenek pasti mengerti kalau Tante tidak bisa langsung pulang. Kondisi Tante sendiri—” Kaiser tidak menunggu kalimat itu selesai, ia sudah mengeluarkan ponselnya, jarinya bergerak cepat mencari kontak. “Kalau begitu,” ucapnya dengan suara tenang, “biar nenek sendiri yang bicara.” Nada suaranya tidak tinggi, tidak emosional. Justru itu yang membuatnya terdengar tegas. Panggilan tersambung dan Kaiser segera menekan loud speaker. Suara tua yang rapuh terdengar dari seberang, serak namun jelas memanggil satu nama. “Anakku…?” Tubuh ibu seketika menegang. “Ibu…?” Suara ibu pecah hanya dengan satu kata itu. Air mata langsung menggenang di matanya, menghapus sisa-sisa amarah dan kesombongan yang tadi mengeras di wajahnya. Kaiser menyerahkan pons







