Mag-log inSetelah beberapa detik, akhirnya Aaron membalas.[ Aku sebenarnya marah. ] [ Tapi lebih menarik melihat bagaimana dia semakin kehilangan kendali setiap kali namaku muncul. ]Ada sesuatu yang dingin dalam kalimat itu. Bukan kejam, melainkan sebuah keyakinan.Beberapa saat kemudian, Aaron mengirim pesan lagi [ Sherry, dengarkan aku baik-baik. ] [ Dia bisa mengatur jam pulangmu. Ponselmu. Orang yang mengantarmu. ] [ Tapi dia tidak bisa mengatur apa yang kamu rasakan. ]Dadaku berdegup kencang saat membaca 3 chat Aaron tersebut, merasa ucapannya benar [ Dan itu yang paling ibumu takuti. ]Tanpa menjawab pesan dari Aaron, aku meletakkan ponsel di dada, menatap langit-langit gelap.Untuk pertama kalinya, aku menyadari kebenaran yang membuatku gemetar sekaligus merasa anehnya kuat—Aaron tidak sedang merebutku dari ibu.Dia sedang menungguku menyadari bahwa aku bisa melangkah sendiri.Dan ibu… mungkin sudah terlalu lama mengira kunci hidupku ada di tangannya.Saat aku tak juga menjawab,
Aku pulang dengan langkah gontai, kepala penuh dengung yang tak mau diam. Kata-kata Aaron berulang di kepalaku seperti rekaman rusak.Balas dendam.Aku membenci kata itu, terlalu dingin untuk sesuatu yang membuat jantungku berdebar panas."Jadi... ini semua hanya bagian dari balas dendam?" gumamku, sedikit kecewa.Malam hari, ibu memanggilku ke ruang tengah.Nada suaranya tenang—terlalu tenang—sehingga aku makin gelisah “Sherry,” katanya sambil duduk tegak, tangan terlipat rapi di pangkuan. “Kamu belakangan sering melamun.”Aku berdiri di ambang pintu, jantungku berdegup tak beraturan dan segera mencari alasan secepat mungkin.“Aku hanya... sedang capek, Bu.”Ibu menatapku lama, taapan yang biasa membuatku menunduk. Tapi malam ini berbeda, ada sesuatu di dadaku yang menahan kepalaku tetap tegak—bayangan tatapan Aaron di minimarket, kata-katanya, caranya berdiri seolah dunia harus menyesuaikan langkahnya.“Kamu tidak bertemu Aaron, kan?” tanya ibu akhirnya.Nama itu jatuh seperti palu
Aaron hanya tersenyum kecil, senyum yang membuat dadaku nyeri karena Aaron terlihat semakin hari semakin tampan setelah aku kesusahan melihatnya. “Bohong," bisiknya di samping telingaku, membuat jantungku berdegup kencang. "Kamu bohong, Sayang." Aaron berbisik lagi, bibirnya begitu dekat dengan pipi dan bibirku tapi dia tidak langsung menciumku. Itu yang paling menyiksa, karena diam-diam aku menginginkan hal itu. Seakan tahu isi hatiku, Aaron tersenyum, lalu mendekat perlahan, membiarkan jarak menyempit, membiarkan aku sadar betul bahwa ini salah—dan tetap diam. “Proteksi ibumu ketat,” bisiknya. “Aku jadi tertantang.” “Kak Aaron,” ucapku memperingatkan. “Shh. Diam, aku rindu." Setelah mengatakan itu, bibirnya pun menyentuh bibirku. Sayangnya itu hanya ciuman cepat dan ringan, seperti seseorang yang tengah mencuri. Aku terkejut, dan itu cukup baginya, padahal aku menginginkan lebih. Dia mundur sedikit, matanya menyala. “Itu hanya pemanasan,” katanya pelan. “Ak
“Iya, Bu?” jawabku, terlalu cepat. Ibu membuka pintu sedikit, matanya menyapu kamar. Jendela. Tirai. Lemari. “Kamu sendirian, kan?” “Iya, tentu saja.” Tak percaya dengan jawabanku, dia masuk satu langkah, lalu enatap ponsel di tanganku. “Kamu chat dengan siapa barusan?” “Kaiser,” jawabku spontan. “Dia nanya tugas.” Ibu menatapku lama, lama sekali, lalu berbicara. “Kaiser tidak akan bertanya tugas jam sebelas malam, selain itu, kalian tidak kuliah di tempat yang sama.” Tenggorokanku seperti tercekat sehingga tak sanggup menjawab apapun. Ibu mendekat, lalu mengambil ponsel dari tanganku sebelum aku sempat bereaksi. Dadaku berdebar keras saat ibu membuka layar. Satu detik. Dua. Lalu... dia mengembalikan ponsel itu. “Nomor tidak dikenal,” katanya datar. “Hati-hati.” Aku hampir roboh mendengar nada tajamnya, tapi segera mengangguk. “Besok,” lanjutnya, “Kaiser makan malam di sini.” Aku mengangkat wajah, mengantisipasi rencana apalagi yang ibu buat. “Ke
Setelah kejadian semalam, aku merasa seperti diawasi, bukan oleh kamera, melainkan tatapan Ibu. “Kamu bangun kesiangan,” katanya dari dapur tanpa menoleh. “Jam tujuh,” ralatku. "Ini tidak kesiangan, Bu." “Biasanya kamu jam enam.” Aku menahan napas dan menjawab pelan. “Aku sangat capek kemarin, jadi sedikit terlambat turun untuk sarapan.” Ibu akhirnya menoleh, menatap wajahku lama. Terlalu lama. “Hmm... matamu merah.” Ibu menatap penuh selidik sehingga aku refleks mengusap mata. “Sepertinya karena kurang tidur.” “Kenapa?” “Banyak pikiran.” Ibu menutup toples gula dengan bunyi keras. “Tentang apa?” “Kuliah, tentang apalagi, Bu?" balasku malas, sedangkan ibu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Kaiser menunggumu,” katanya. “Dia antar kamu lagi hari ini.” Tubuhku seketika menegang dan aku melayangkan tatapan protes padanya. “Bu, aku bisa naik ojek.” “Tidak,” jawabnya cepat. “Mulai sekarang kamu tidak boleh pergi sendirian, Sherry.” “Mulai sekarang?” I
Ketukan itu datang lagi, sehingga aku pun mengulurkan tangan untuk membuka jendela, saat jendela terbuka sedikit, benar saja, itu Aaron.Wajahnya muncul dari gelap, matanya merah dan rahangnya kaku. Dengan lihai, Aaron memanjat jendela dan masuk kamar.“Kunci pintu,” katanya pelan."Kak, kamu, kamu sudah gila?”“Sekarang, Sherry.” Dia mengulang perintah dengan tegas sehingga aku pun berjalan dan mengunci pintu, dengan jantung berdegup kencang, sementara Aaron menutup jendela, lalu berjalan ke arahku dan berdiri terlalu dekat.“Kamu pergi dengan dia,” katanya. Nadanya bukan tanya, tapi jelas sedang menuduh.“Kak Aaron—”“Kencan,” lanjutnya. Suaranya rendah, bergetar. “Itu kencan.”“Tidak,” bantahku cepat. “Itu perintah.”Dia tertawa tanpa suara. “Sama saja, Sherry.”“Kamu tidak berhak marah.”“Aku tahu,” katanya cepat. “Itu yang membuatku marah.”Aku melangkah mundur dan menggeleng meski rasanya sakit, “Kamu seharusnya tidak di sini.”“Aku tahu.”“Kamu kakak tiriku.”“Aku tahu!” uca







