MasukMaureen langsung mendekat, seolah ini sudah disepakati sejak awal. Tangannya menyusul, mencoba menarik lenganku yang lain. “Ayo. Jangan bikin susah.” Jantungku berdentum keras sampai aku bisa merasakannya di telinga. Aku menarik tanganku, berusaha mundur, tapi genggaman itu terlalu kuat. Lantai di bawah kakiku terasa goyah. Ruangan menyempit. Suara-suara bercampur—ibu, Maureen, napasku sendiri. Arsion langsung bergerak. Tangannya menepis tangan Maureen dengan kasar. “Jangan sentuh dia!” Namun ibu sudah menyeretku setengah langkah ke arah pintu. Aku kehilangan keseimbangan, bahuku tertarik ke depan. “Lepaskan aku!” teriakku. Suaraku pecah, nyaris tidak terdengar seperti suaraku sendiri. Pintu depan tiba-tiba terbuka lebar. Udara dingin dari luar masuk menerpa wajahku. “Lepaskan.” Suara itu rendah. Tegas. Tidak berteriak—tidak perlu. Semua orang berhenti. Seolah waktu membeku di satu titik yang rapuh. Aku menoleh. Aaron berdiri di ambang pintu, jas kerjanya masih
Aku sedang membantu menata piring di dapur ketika suara mobil berhenti terlalu kasar di depan rumah. Ban seperti menggesek batu kerikil dengan sengaja—tidak ragu, tidak sopan. Bukan suara orang yang datang untuk bertamu. Lebih mirip suara orang yang merasa berhak. Jantungku berdegup kencang, sementara tanganku yang memegang piring berhenti di udara. Jantungku berdetak terlalu cepat, seolah tubuhku sudah lebih dulu tahu apa yang kepalaku belum berani terima. Ada perasaan familiar yang menjalar dari tengkuk ke punggung—perasaan yang selalu datang sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Belum sempat aku menoleh, pintu depan sudah dibuka. Tidak ada ketukan, tapi langkah kaki terdengar berjalan masuk dengan cepat, yakin, tanpa keraguan sedikit pun. Suara hak sepatu itu… aku mengenalnya karena terlalu sering muncul dalam hidupku dengan senyum yang selalu terasa salah. Maureen. Ia masuk lebih dulu, tubuhnya tegak, rambutnya tertata rapi, senyum lembut menempel di wajahnya seperti top
“Maureen yang menyarankan ibu mengambil alih semuanya,” jawabku. “Dengan alasan… ‘membersihkan masa lalu’.”Kata-kata itu seperti korek api.“Itu rumah kita,” Aresh berkata pelan, penuh amarah tertahan. “Rumah yang dia rebut.”Arsion bersandar, menyilangkan kaki. “Jadi sekarang jelas. Ini bukan soal keluarga lagi. Ini soal pengambilalihan.”Aku mengangguk. “Dan aku takut. Bukan cuma buat kalian. Tapi buat ibu.”Aresh menatapku lama. Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak penuh tuduhan. Hanya… konflik.“Kamu datang ke sini,” katanya akhirnya, “karena kamu ingin membetulkan semuanya?”“Iya,” jawabku tanpa ragu. “Aku ingin ibu kembali. Dan… aku ingin kalian pulang.”Keheningan lagi. Kali ini berbeda—lebih berat, tapi juga penuh kemungkinan.Aresh menghela napas panjang, lalu menatap Aaron. “Kita tidak bisa bergerak gegabah.”“Aku tahu,” jawab Aaron. “Makanya kita kerjakan bersama.”Arsion mengangguk. “Informasi dari Sherry penting. Kita punya motif, pola, dan target.”Mereka mulai berdi
"Kak, Sebenarnya..."Aku tiba-tiba gugup—lebih tepatnya, seluruh tubuhku terasa kaku—saat berhadapan langsung dengan tatapan Aresh. Cara kakak tiriku yang pertama itu memandang selalu membuatku merasa seperti sedang diadili. Tatapannya tajam, penuh penilaian, seolah ia bisa melihat kebohongan sekecil apa pun di wajah seseorang, padahal malam ini, aku tidak datang membawa kebohongan, aku bahkan sedang sangat ketakutan.Aaron merasakan jemariku bergetar. Genggamannya menguat tanpa perlu melihat ke arahku, seakan berkata bahwa aku tidak sendirian. Bahu Aaron sedikit maju, posisinya jelas—melindungiku, bahkan sebelum Aresh sempat melangkah lebih dekat.“Aresh,” ucap Aaron lebih rendah, namun tegas. “Bukan malam yang tepat.”Aresh mendecakkan lidah pelan, lalu menurunkan tangannya dari dada. Namun sorot matanya tidak melunak. Sama sekali tidak.“Bukan malam yang tepat,” ulangnya sinis, “atau bukan saat yang tepat untuk menjelaskan kenapa dia ada di sini?”Aku membuka mulut, tapi kata-kata
Untungnya balasan datang tidak sampai satu menit.[ Di mana kamu? Aku jemput. Jangan kemana-mana. Bahaya.]Aku menelan ludah dan menyebutkan lokasi. Menghapus, lalu mengirim ulang. Rasanya seperti menyeberangi garis yang tidak bisa kutarik kembali.Aku menunggu.Beberapa saat kemudian, sebuah motor berhenti di seberang jalan. Lampunya tidak menyilaukan—disengaja. Aaron turun tanpa tergesa, menatapku lama, memastikan aku benar-benar berdiri di sana, utuh.“Kamu yakin melakukan ini, Sherry?” tanyanya pelan.Aku mengangguk dan tak berkata apapun karena rasanya suaraku hilang.Aaron seketika memelukku, menepuk lembut punggungku seakan tahu aku sedang kalut luar biasa."Tidak apa-apa, tidak apa-apa, Sherry. Aku disini," bisiknya lembut, yang membuat jantungku kembali perlahan lahan menjadi tenang.“Tapi setelah kamu keluar dari rumah itu... kamu tidak bisa kembali,” ucapnya, yang ku jawab dengan anggukan.“Aku tahu.”“Kalau kamu naik,” lanjutnya, “keputusanmu milikmu. Bukan milikku, bukan
“Bilang saja kamu cemburu karena Aaron tidak memilihmu,” ucapku penuh amarah.Untuk pertama kalinya, ekspresi Maureen berubah—bukan marah, tapi tertarik.“Oh, Sherry,” katanya lembut, hampir sayang. “Kamu benar-benar tidak mengerti.”Ia berdiri, mendekat satu langkah. Tidak menyentuhku, tapi cukup dekat hingga aku bisa mencium parfumnya—ringan, dewasa, dan menyesakkan.“Aaron tidak memilih siapa pun,” lanjutnya. “Dia hanya terikat.”Aku menelan ludah. “Apa maksudmu?”“Keterikatan yang tidak sehat,” jawabnya pelan, mengulang kata-katanya di depan ibu. “Dan kamu pusatnya.”Aku mendorongnya menjauh dan menunjuk pintu.“Keluar.”Ia tidak melawan. Hanya mundur setengah langkah, lalu menatapku dengan mata yang tenang—terlalu tenang.“Kamu pikir ibumu membencinya tanpa alasan?” tanyanya. “Kamu pikir ketakutan itu muncul tiba-tiba?”“Kamu yang membuatnya takut!” seruku, marah.“Aku hanya membuka matanya,” balas Maureen. “Seperti yang seharusnya dilakukan orang dewasa saat melihat sesuatu yan







