LOGINUntungnya balasan datang tidak sampai satu menit.[ Di mana kamu? Aku jemput. Jangan kemana-mana. Bahaya.]Aku menelan ludah dan menyebutkan lokasi. Menghapus, lalu mengirim ulang. Rasanya seperti menyeberangi garis yang tidak bisa kutarik kembali.Aku menunggu.Beberapa saat kemudian, sebuah motor berhenti di seberang jalan. Lampunya tidak menyilaukan—disengaja. Aaron turun tanpa tergesa, menatapku lama, memastikan aku benar-benar berdiri di sana, utuh.“Kamu yakin melakukan ini, Sherry?” tanyanya pelan.Aku mengangguk dan tak berkata apapun karena rasanya suaraku hilang.Aaron seketika memelukku, menepuk lembut punggungku seakan tahu aku sedang kalut luar biasa."Tidak apa-apa, tidak apa-apa, Sherry. Aku disini," bisiknya lembut, yang membuat jantungku kembali perlahan lahan menjadi tenang.“Tapi setelah kamu keluar dari rumah itu... kamu tidak bisa kembali,” ucapnya, yang ku jawab dengan anggukan.“Aku tahu.”“Kalau kamu naik,” lanjutnya, “keputusanmu milikmu. Bukan milikku, bukan
“Bilang saja kamu cemburu karena Aaron tidak memilihmu,” ucapku penuh amarah.Untuk pertama kalinya, ekspresi Maureen berubah—bukan marah, tapi tertarik.“Oh, Sherry,” katanya lembut, hampir sayang. “Kamu benar-benar tidak mengerti.”Ia berdiri, mendekat satu langkah. Tidak menyentuhku, tapi cukup dekat hingga aku bisa mencium parfumnya—ringan, dewasa, dan menyesakkan.“Aaron tidak memilih siapa pun,” lanjutnya. “Dia hanya terikat.”Aku menelan ludah. “Apa maksudmu?”“Keterikatan yang tidak sehat,” jawabnya pelan, mengulang kata-katanya di depan ibu. “Dan kamu pusatnya.”Aku mendorongnya menjauh dan menunjuk pintu.“Keluar.”Ia tidak melawan. Hanya mundur setengah langkah, lalu menatapku dengan mata yang tenang—terlalu tenang.“Kamu pikir ibumu membencinya tanpa alasan?” tanyanya. “Kamu pikir ketakutan itu muncul tiba-tiba?”“Kamu yang membuatnya takut!” seruku, marah.“Aku hanya membuka matanya,” balas Maureen. “Seperti yang seharusnya dilakukan orang dewasa saat melihat sesuatu yan
“Itu yang dari awal membuatku tidak tenang,” sahut ibu cepat. “Naluri seorang ibu tidak pernah salah.”Maureen mengangguk pelan dan menjawab dengan nada yang terdengar sangat alami.“Aku dulu juga menutup mata. Sampai akhirnya aku sadar… dia punya ketertarikan yang tidak sehat.”Kata-kata itu seperti pisau tipis, aku menatap ibu dan ibu… tidak membantah.Tidak sekali pun.Di kepalaku, potongan-potongan mulai menyatu.Kebencian ibu kepada Aaron yang terlalu tiba-tiba, serta semua tuduhan tanpa bukti dan ketakutan yang dibesarkan berlebihan.Semua itu bukan lahir begitu saja, tapi seseorang dengan sengaja menanamnya... dan pelakunya adalah Maureen.“Ibu,” pangggilku dengan suara bergetar, “dia pernah memfitnah aku.”Maureen terkesiap kecil, memainkan perannya dengan sempurna.“Astaga, Sherry,” katanya lembut. “Aku tidak pernah memfitnah. Aku hanya… khawatir.”"Tidak, Maureen! Kamu dulu benar-benar memfitnah aku mencuri dan—"“Cukup,” potong ibu tajam, menatapku. “Kamu tidak sopan, Sherr
Semuanya berubah sejak Aaron datang ke rumah, ibu memang tidak mengomel tapi dia semakin protektif dengan caranya sendiri. Pagi-pagi, ponselku sudah ada di meja makan, sebelum aku bertanya kenapa, ibu sudah bicara dengan nada tegas. “Mulai sekarang, ponsel ditinggal di rumah,” ucapnya sambil menuang teh, suaranya datar. “Tidak ada alasan.” “Tapi, Bu, aku perlu—” “Tidak,” potongnya singkat. “Kamu tidak perlu apa pun selain pulang tepat waktu, Sherry.” Ibu semakin ekstrem mengawasiku, jam pulang ditulis di papan kecil dekat kulkas. Nama Kaiser dicoret, diganti dengan jadwal ibu sendiri. Aku tidak diantar lagi, tapi aku dijemput. Aku benar benar harus berangkat dan pulang kuliah tepat waktu. Di dalam rumah, pintu kamarku tidak pernah benar-benar tertutup, bahkan tidurku tidak lagi privat. Suatu malam aku terbangun dan mendapati pintu kamarku terbuka sedikit, dan aku melihat bayangan ibu berdiri di sana, mengawasi. Aku menarik selimut sampai ke leher, jantungku berdegup liar.
Aaron masuk rumah besar itu tanpa mengetuk.Bukan karena lupa sopan santun, melainkan karena ia tidak lagi menganggap rumah itu wilayah orang lain.Ibu tirinya berdiri di ruang tengah. Sejak awal, perempuan itu sudah bersiaga, seolah memang menunggu momen ini.“Berani sekali kamu ke sini?” tanyanya tajam. “Keluar. Sekarang.”Ibu tirinya menunjuk pintu keluar dengan wajah garang, sedangkan Aaron berhenti beberapa langkah darinya. Tidak mendekat, tidak pula menunjukkan niat pergi.“Kalau saya datang untuk ribut,” katanya tenang, “saya tidak akan berdiri sejauh ini, Bu."Perempuan itu mendengus dan menyilangkan tangan di dada dengan sikap defensif.“Jangan sok dewasa, kamu sudah cukup membuat masalah, Aaron ”Aaron mengangguk kecil, seakan mempertimbangkan, lalu tersenyum santai.“Masalah versi Anda,” katanya. “Atau versi kenyataan?”Sherry muncul di ujung tangga. Wajahnya tegang, tubuhnya kaku, seperti sangat terkejut melihat kedatangan Aaron yang tiba-tiba.Ibu Sherry langsung menoleh
Entah bagaimana caranya karena saking paniknya, tapi aku berhasil kembali ke kamar. Begitu berbaring di ranjang, dadaku naik turun. Jantungku rasanya mau bisa copot kalau terus-terusan seperti ini dengan Aaron.Nafasku akhirnya mulai tenang saja mulai sadar ibu sepertinya tak memergoki kamu, tapi baru saja aku bernapas lega....“Sherry?” Suara Ibu terdengar memanggil dari luar kamar.“I-iya, Bu?” jawabku, terlalu cepat, sehingga jantungku berdebar-debar lagi.Ibu membuka pintu sedikit, menatapku. Terus menatap seakan-akan sedang meneliti rambutku dan napasku.“Kamu kenapa?” tanyanya, penuh selidik.“Panas,” jawabku, mengipasi leher dengan tangan.Ibu menatap lama, terlalu lama. Tatapan yang membuat aku gelisah.“Kamu mulai sering gugup,” ucapnya pelan.Aku menunduk. “Maaf.”Dia mendekat lalu meengusap pundakku.“Aku hanya ingin melindungimu, Sherry.”Ucapan ibu membuat aku hampir tertawa.Karena aku tahu—perlindungannya justru membuat Aaron semakin berani.***Arsion masuk ke kanto







