Beranda / Romansa / Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda / 225. Masuk Penjara, Atau....

Share

225. Masuk Penjara, Atau....

Penulis: Lil Seven
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-11 23:19:36

Aresh berdiri dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya.

Maureen membalasnya dengan senyum yang lebih sinis, lebih tajam.

“Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Maureen dingin.

“Apa keluargaku kembali menjadi pemilik puncak bisnis di negeri ini?” lanjutnya dengan nada angkuh, sambil mengibaskan tangan.

Aresh mengangkat alis, seakan membiarkan Maureen dengan kesombongannya, sebelum kemudian berkata dingin.

“Masih merasa di atas angin, ya. Mentang mentang selama ini kamu me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   360. Geli Tapi Enak

    "Off course, My Princess." Aaron mengatakan itu sambil menggendong Sherry dengan hati-hati, tubuh gadis itu masih basah dan hanya terbungkus kehangatan pelukannya. Ia berjalan menuju kamar utama, menutup pintu dengan kaki, lalu menurunkan Sherry perlahan di atas ranjang. Ranjang itu masih berantakan seperti saat mereka bangun tadi pagi—seprai kusut, selimut menggantung di sisi tempat tidur, aroma tubuh mereka masih tersisa di bantal. Aaron tak peduli. Yang ada di matanya hanya Sherry yang terbaring di hadapannya, rambut basah menyebar di atas bantal, kulitnya yang masih lembap berkilau redup terkena lampu kamar. "Cantik sekali. Kamu sangat cantik, Sayangku" bisiknya lagi, seperti mantra yang tak bosan-bosan ia ucapkan. Sherry tersenyum malu, tangannya meraih Aaron, menariknya turun. "Jangan cuma lihat." Aaron menurut. Ia merebahkan diri di samping Sherry, tubuh mereka berhadapan. Tangannya terulur, menyentuh pipi Sherry dengan lembut, mengusap kulitnya yang halus. Ibu jarinya

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   359. Lanjut Ke Kamar

    "Kak...." Sherry memanggil nama Aaron dengan lemah saat handuk yang ia pakai akhirnya benar-benar melorot. Aaron mengangkat wajah, menatap Sherry dengan pandangan yang sulit diartikan, antara kekaguman, hasrat, dan kelembutan yang dalam. Ia mengecup bibir Sherry lembut, lalu berbisik di bibirnya. "Cantik sekali, Sayang. Kamu sangat cantik." Wajah Sherry makin memerah mendengar pujian Aaron. Ia tak tahu harus berkata apa. Yang bisa ia lakukan hanyalah menarik Aaron kembali ke dalam ciuman. "Uhh, Kak Aaron...." Aaron membalas erangan Sherry dengan tindakan penuh gairah, tangannya bergerak meraip pinggang Sherry, membawanya mundur perlahan hingga punggung Sherry menyentuh dinding lorong. Tubuh mereka merapat tanpa sisa ruang. Dada Sherry yang telanjang menekan kemeja Aaron yang masih rapi—kontras yang membuat sensasi semakin membakar. Tangan Sherry bergerak gelisah di punggung Aaron, meremas kemejanya, frustrasi karena kain itu masih menghalangi. Ia menarik-narik ujung kemeja

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   358. Aku Hanya Pakai Handuk

    Pagi itu, Aaron terbangun dengan tubuh yang terasa jauh lebih ringan. Panas yang kemarin membuatnya limbung kini hanya tinggal sisa-sisa lelah yang tak berarti. Ia menoleh ke samping, menemukan Sherry masih terlelap dengan rambut berantakan dan bibir sedikit mengembang, entah mimpi apa."Pagi, Kesayangan." Dengan hati-hati, ia mengecup puncak kepala Sherry dan mengucapkan selamat pagi. Gadis itu hanya bergumam tak jelas, bergerak memeluk bantal lebih erat. Aaron tersenyum, lalu beranjak mandi dengan semangat yang menggebu-gebu. Di kantor, semua orang melihatnya dengan tatapan aneh, tapi yang dipikirkan Aaron hanya ingin pulang lebih cepat. Dan ia benar-benar pulang cepat. Bahkan sebelum jam kantor resmi berakhir, ia sudah melesat meninggalkan gedung. Sepanjang perjalanan, pikirannya hanya satu: Sherry. **** Sesampainya di rumah, suasana hening. Mungkin Sherry sedang di kamar. Atau di ruang tengah. Tanpa pikir panjang, Aaron berjalan menuju kamar utama. Ia membuka pintu, koso

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   357. Jangan Berhenti

    Ciuman mereka semakin membara dan panas, membuat keduanya saling berkeringat. Aaron bergerak turun, meninggalkan jejak bibir hangat dari sudut mulut Sherry, ke rahang, lalu ke leher. Sherry menoleh reflex, memberi lebih banyak ruang, dan Aaron menyambutnya dengan kecupan-kecupan kecil yang membuat bulu kuduknya meremang. "Aaron..." desahnya setengah berbisik. Tangannya meremas rambut Aaron dengan lembut, jemarinya menyusup di sela helai hitam itu. Ia merasakan bibir Aaron bergerak naik turun di lehernya, kadang hanya menyentuh lembut, kadang mengisap pelan hingga menimbulkan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Pipi Sherry memanas. Dadanya naik turun cepat. Aaron mengangkat wajahnya, menatap Sherry dengan mata yang gelap oleh hasrat. Meski demam masih membuat wajahnya pucat, sorot matanya kini berbeda... intens, dalam, seperti lautan yang siap menenggelamkan. "Kamu sangat cantik malam ini, Sherry," bisiknya serak. Sherry tersenyum malu, tapi belum sempat menjaw

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   356. Berbaikan

    Senyum di bibir Aaron mengembang samar saat mendengar bisikan Sherry. Meski demam masih membuat tubuhnya limbung, ada kehangatan lain yang justru membangkitkan seluruh indranya. Tangannya yang menggenggam jari Sherry menguat sedikit. Ditariknya gadis itu lebih dekat, hingga wajah mereka hanya berjarak sekepalan tangan. "Sherry..." panggilnya dengan suara serak yang berbeda. Bukan karena sakit kali ini. "Iya?" jawab Sherry sambil menatapnya, masih dengan senyum tipis. "Aku mau ciuman lagi." Sherry tertawa kecil. "Kamu sedang sakit, Kak," tolaknya sambil menggeleng. "Tapi aku tetap mau dicium kamu.." Sebelum Sherry bisa menjawab, tangan Aaron sudah lebih dulu meraih dagunya. Ditariknya wajah itu mendekat, lalu bibirnya mendarat dengan lembut tapi lebih lama dari sebelumnya. Ciuman itu tidak lagi sekadar pernyataan rindu. Ada sesuatu yang lebih hangat, lebih dalam. Bibir Aaron bergerak perlahan, mengajak Sherry larut dalam kehangatan yang mulai naik suhunya—bukan karena demam kal

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   355. Ciuman

    Hujan masih menderas di luar, tapi di dalam kamar ini, waktu seolah berhenti. Sherry tidak bergerak dari posisinya. Tangannya masih menggenggam erat jari-jari Aaron yang panas. Napas pria itu mulai teratur, meski sesekali masih tersengal karena demam. Beberapa saat kemudian, langkah kaki terdengar di lorong. Arsion kembali bersama dokter keluarga yang tinggal tidak jauh dari kompleks perumahan mereka. Dokter itu memeriksa Aaron dengan cepat. Termometer menunjukkan angka 39,2 derajat Celcius. "Demam cukup tinggi karena kelelahan dan sedikit kebasahan kena hujan," jelas dokter sambil menyiapkan infus. "Saya pasang infus untuk mengganti cairan dan memberi obat. Istirahat total setidaknya dua hari ke depan." Sherry mendengarkan dengan saksama, matanya tidak lepas dari wajah Aaron yang pucat. Setelah infus terpasang dan dokter pergi, Arsion menatap Sherry. "Sherry, kamu mau aku temani jaga?" Sherry menggeleng. "Aku sendiri saja. Kamu istirahatlah, Sion.." Arsion mengangguk, lalu ke

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status