MasukAresh menatapnya tanpa emosi. “Keluargamulah yang menghancurkan dirinya sendiri. Dan kenapa aku harus tidak tega padamu? Yang sudah memporak porandakan keluarga ku??" ejek Aresh dengan sinis. “Kami punya pengaruh! Dan aku wajar melakukan hal itu” Maureen hampir berteriak. “Kami punya sekutu! Kami bisa melawan!” “Sekutu-sekutumu sudah menarik diri, sayang sekali bukan?” sahut Aresh. “Mereka tidak mau ikut tenggelam.” Maureen terdiam. Napasnya mulai tidak teratur. “Tidak… ini tidak nyata…” Aaron berkata datar, “Nyata sekali.” Maureen perlahan kehilangan keseimbangan dan terduduk di lantai. “Ayahku… ibuku… adik-adikku…” suaranya pecah. “Kamu tidak bisa melakukan ini…” Aresh berlutut di depannya, menatap lurus ke matanya. “Aku bisa. Dan aku akan.” Maureen menggeleng putus asa. “Kalau masuk penjara… hidup mereka hancur.” “Kalau dibuang?” tanya Arsion. “Setidaknya… mereka masih hidup bebas,” bisik Maureen. Ia menatap Aresh dengan mata basah. “Tolong… jangan penjara.” Ares
Aresh berdiri dengan senyum tipis yang tidak pernah mencapai matanya. Maureen membalasnya dengan senyum yang lebih sinis, lebih tajam. “Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Maureen dingin. “Apa keluargaku kembali menjadi pemilik puncak bisnis di negeri ini?” lanjutnya dengan nada angkuh, sambil mengibaskan tangan. Aresh mengangkat alis, seakan membiarkan Maureen dengan kesombongannya, sebelum kemudian berkata dingin. “Masih merasa di atas angin, ya. Mentang mentang selama ini kamu mengira bahwa keluargamu satu-satunya yang menguasai puncak bisnis?" “Wajar,” balas Maureen dengan tatapan sinis. “Kamu tahu siapa ayahku. Kamu tahu jaringan keluargaku.” "Wah, wah, tapi sepertinya kamu harus tahu berita terbaru?" Aresh pun mengeluarkan tablet dari tasnya, menyalakannya dengan gerakan santai. "Aku sudah bosan dengan berita keberhasilan keluargaku, jadi—" “Justru karena itu… kamu perlu lihat ini," potong Aresh sambil memutar layar ke arah Maureen. Di layar tablet milik Are
Ibu sempat berdiri mematung di tengah ruang tamu. Wajahnya bimbang, seperti seseorang yang terbelah antara dua kewajiban: sebagai anak, dan sebagai perempuan yang merasa terancam kehilangan kendali. Maureen memanfaatkan keraguan itu. “Tante, nenek pasti mengerti kalau Tante tidak bisa langsung pulang. Kondisi Tante sendiri—” Kaiser tidak menunggu kalimat itu selesai, ia sudah mengeluarkan ponselnya, jarinya bergerak cepat mencari kontak. “Kalau begitu,” ucapnya dengan suara tenang, “biar nenek sendiri yang bicara.” Nada suaranya tidak tinggi, tidak emosional. Justru itu yang membuatnya terdengar tegas. Panggilan tersambung dan Kaiser segera menekan loud speaker. Suara tua yang rapuh terdengar dari seberang, serak namun jelas memanggil satu nama. “Anakku…?” Tubuh ibu seketika menegang. “Ibu…?” Suara ibu pecah hanya dengan satu kata itu. Air mata langsung menggenang di matanya, menghapus sisa-sisa amarah dan kesombongan yang tadi mengeras di wajahnya. Kaiser menyerahkan pons
"Nih." Ibu mengulurkan ponselnya ke arah Aaron dengan gerakan angkuh, seolah sedang menyerahkan sebuah senjata. “Bicara sendiri dengan ayahmu,” ucapnya dingin. “Biar dia dengar langsung bagaimana kelakuan anak yang dia besarkan.” Aku melihat tangan Aaron yang terkepal erat saat mendengar ucapan menyebalkan ibu. Urat-urat di punggung tangannya menonjol jelas, rahangnya mengeras sampai garis rahang itu tampak seperti batu yang dipahat. Ada amarah yang begitu besar di sana, tertahan hanya oleh satu hal, kendali diri yang nyaris kejam. Namun, dengan perlahan, sangat perlahan, ia menerima ponsel itu. Bukan dengan patuh, tapi dengan cara seseorang yang sedang menahan diri agar tidak menghancurkan sesuatu. Ibu menekan tombol pengeras suara sambil tersenyum sinis, seakan sedang mempermalukan Aaron. “Ya, ayah?” Suara Aaron terdengar datar, terlalu tenang untuk situasi sebrutal ini. Suara ayah tiriku langsung memenuhi ruang tamu, menggema melalui speaker. “Aaron… ayah mohon. Mengalahl
Maureen langsung mendekat, seolah ini sudah disepakati sejak awal. Tangannya menyusul, mencoba menarik lenganku yang lain. “Ayo. Jangan bikin susah.” Jantungku berdentum keras sampai aku bisa merasakannya di telinga. Aku menarik tanganku, berusaha mundur, tapi genggaman itu terlalu kuat. Lantai di bawah kakiku terasa goyah. Ruangan menyempit. Suara-suara bercampur—ibu, Maureen, napasku sendiri. Arsion langsung bergerak. Tangannya menepis tangan Maureen dengan kasar. “Jangan sentuh dia!” Namun ibu sudah menyeretku setengah langkah ke arah pintu. Aku kehilangan keseimbangan, bahuku tertarik ke depan. “Lepaskan aku!” teriakku. Suaraku pecah, nyaris tidak terdengar seperti suaraku sendiri. Pintu depan tiba-tiba terbuka lebar. Udara dingin dari luar masuk menerpa wajahku. “Lepaskan.” Suara itu rendah. Tegas. Tidak berteriak—tidak perlu. Semua orang berhenti. Seolah waktu membeku di satu titik yang rapuh. Aku menoleh. Aaron berdiri di ambang pintu, jas kerjanya masih
Aku sedang membantu menata piring di dapur ketika suara mobil berhenti terlalu kasar di depan rumah. Ban seperti menggesek batu kerikil dengan sengaja—tidak ragu, tidak sopan. Bukan suara orang yang datang untuk bertamu. Lebih mirip suara orang yang merasa berhak. Jantungku berdegup kencang, sementara tanganku yang memegang piring berhenti di udara. Jantungku berdetak terlalu cepat, seolah tubuhku sudah lebih dulu tahu apa yang kepalaku belum berani terima. Ada perasaan familiar yang menjalar dari tengkuk ke punggung—perasaan yang selalu datang sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Belum sempat aku menoleh, pintu depan sudah dibuka. Tidak ada ketukan, tapi langkah kaki terdengar berjalan masuk dengan cepat, yakin, tanpa keraguan sedikit pun. Suara hak sepatu itu… aku mengenalnya karena terlalu sering muncul dalam hidupku dengan senyum yang selalu terasa salah. Maureen. Ia masuk lebih dulu, tubuhnya tegak, rambutnya tertata rapi, senyum lembut menempel di wajahnya seperti top







