LOGINIbu sempat berdiri mematung di tengah ruang tamu. Wajahnya bimbang, seperti seseorang yang terbelah antara dua kewajiban: sebagai anak, dan sebagai perempuan yang merasa terancam kehilangan kendali. Maureen memanfaatkan keraguan itu. “Tante, nenek pasti mengerti kalau Tante tidak bisa langsung pulang. Kondisi Tante sendiri—” Kaiser tidak menunggu kalimat itu selesai, ia sudah mengeluarkan ponselnya, jarinya bergerak cepat mencari kontak. “Kalau begitu,” ucapnya dengan suara tenang, “biar nenek sendiri yang bicara.” Nada suaranya tidak tinggi, tidak emosional. Justru itu yang membuatnya terdengar tegas. Panggilan tersambung dan Kaiser segera menekan loud speaker. Suara tua yang rapuh terdengar dari seberang, serak namun jelas memanggil satu nama. “Anakku…?” Tubuh ibu seketika menegang. “Ibu…?” Suara ibu pecah hanya dengan satu kata itu. Air mata langsung menggenang di matanya, menghapus sisa-sisa amarah dan kesombongan yang tadi mengeras di wajahnya. Kaiser menyerahkan pons
"Nih." Ibu mengulurkan ponselnya ke arah Aaron dengan gerakan angkuh, seolah sedang menyerahkan sebuah senjata. “Bicara sendiri dengan ayahmu,” ucapnya dingin. “Biar dia dengar langsung bagaimana kelakuan anak yang dia besarkan.” Aku melihat tangan Aaron yang terkepal erat saat mendengar ucapan menyebalkan ibu. Urat-urat di punggung tangannya menonjol jelas, rahangnya mengeras sampai garis rahang itu tampak seperti batu yang dipahat. Ada amarah yang begitu besar di sana, tertahan hanya oleh satu hal, kendali diri yang nyaris kejam. Namun, dengan perlahan, sangat perlahan, ia menerima ponsel itu. Bukan dengan patuh, tapi dengan cara seseorang yang sedang menahan diri agar tidak menghancurkan sesuatu. Ibu menekan tombol pengeras suara sambil tersenyum sinis, seakan sedang mempermalukan Aaron. “Ya, ayah?” Suara Aaron terdengar datar, terlalu tenang untuk situasi sebrutal ini. Suara ayah tiriku langsung memenuhi ruang tamu, menggema melalui speaker. “Aaron… ayah mohon. Mengalahl
Maureen langsung mendekat, seolah ini sudah disepakati sejak awal. Tangannya menyusul, mencoba menarik lenganku yang lain. “Ayo. Jangan bikin susah.” Jantungku berdentum keras sampai aku bisa merasakannya di telinga. Aku menarik tanganku, berusaha mundur, tapi genggaman itu terlalu kuat. Lantai di bawah kakiku terasa goyah. Ruangan menyempit. Suara-suara bercampur—ibu, Maureen, napasku sendiri. Arsion langsung bergerak. Tangannya menepis tangan Maureen dengan kasar. “Jangan sentuh dia!” Namun ibu sudah menyeretku setengah langkah ke arah pintu. Aku kehilangan keseimbangan, bahuku tertarik ke depan. “Lepaskan aku!” teriakku. Suaraku pecah, nyaris tidak terdengar seperti suaraku sendiri. Pintu depan tiba-tiba terbuka lebar. Udara dingin dari luar masuk menerpa wajahku. “Lepaskan.” Suara itu rendah. Tegas. Tidak berteriak—tidak perlu. Semua orang berhenti. Seolah waktu membeku di satu titik yang rapuh. Aku menoleh. Aaron berdiri di ambang pintu, jas kerjanya masih
Aku sedang membantu menata piring di dapur ketika suara mobil berhenti terlalu kasar di depan rumah. Ban seperti menggesek batu kerikil dengan sengaja—tidak ragu, tidak sopan. Bukan suara orang yang datang untuk bertamu. Lebih mirip suara orang yang merasa berhak. Jantungku berdegup kencang, sementara tanganku yang memegang piring berhenti di udara. Jantungku berdetak terlalu cepat, seolah tubuhku sudah lebih dulu tahu apa yang kepalaku belum berani terima. Ada perasaan familiar yang menjalar dari tengkuk ke punggung—perasaan yang selalu datang sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Belum sempat aku menoleh, pintu depan sudah dibuka. Tidak ada ketukan, tapi langkah kaki terdengar berjalan masuk dengan cepat, yakin, tanpa keraguan sedikit pun. Suara hak sepatu itu… aku mengenalnya karena terlalu sering muncul dalam hidupku dengan senyum yang selalu terasa salah. Maureen. Ia masuk lebih dulu, tubuhnya tegak, rambutnya tertata rapi, senyum lembut menempel di wajahnya seperti top
“Maureen yang menyarankan ibu mengambil alih semuanya,” jawabku. “Dengan alasan… ‘membersihkan masa lalu’.”Kata-kata itu seperti korek api.“Itu rumah kita,” Aresh berkata pelan, penuh amarah tertahan. “Rumah yang dia rebut.”Arsion bersandar, menyilangkan kaki. “Jadi sekarang jelas. Ini bukan soal keluarga lagi. Ini soal pengambilalihan.”Aku mengangguk. “Dan aku takut. Bukan cuma buat kalian. Tapi buat ibu.”Aresh menatapku lama. Untuk pertama kalinya, tatapannya tidak penuh tuduhan. Hanya… konflik.“Kamu datang ke sini,” katanya akhirnya, “karena kamu ingin membetulkan semuanya?”“Iya,” jawabku tanpa ragu. “Aku ingin ibu kembali. Dan… aku ingin kalian pulang.”Keheningan lagi. Kali ini berbeda—lebih berat, tapi juga penuh kemungkinan.Aresh menghela napas panjang, lalu menatap Aaron. “Kita tidak bisa bergerak gegabah.”“Aku tahu,” jawab Aaron. “Makanya kita kerjakan bersama.”Arsion mengangguk. “Informasi dari Sherry penting. Kita punya motif, pola, dan target.”Mereka mulai berdi
"Kak, Sebenarnya..."Aku tiba-tiba gugup—lebih tepatnya, seluruh tubuhku terasa kaku—saat berhadapan langsung dengan tatapan Aresh. Cara kakak tiriku yang pertama itu memandang selalu membuatku merasa seperti sedang diadili. Tatapannya tajam, penuh penilaian, seolah ia bisa melihat kebohongan sekecil apa pun di wajah seseorang, padahal malam ini, aku tidak datang membawa kebohongan, aku bahkan sedang sangat ketakutan.Aaron merasakan jemariku bergetar. Genggamannya menguat tanpa perlu melihat ke arahku, seakan berkata bahwa aku tidak sendirian. Bahu Aaron sedikit maju, posisinya jelas—melindungiku, bahkan sebelum Aresh sempat melangkah lebih dekat.“Aresh,” ucap Aaron lebih rendah, namun tegas. “Bukan malam yang tepat.”Aresh mendecakkan lidah pelan, lalu menurunkan tangannya dari dada. Namun sorot matanya tidak melunak. Sama sekali tidak.“Bukan malam yang tepat,” ulangnya sinis, “atau bukan saat yang tepat untuk menjelaskan kenapa dia ada di sini?”Aku membuka mulut, tapi kata-kata







