MasukAaron hanya tersenyum kecil, senyum yang membuat dadaku nyeri karena Aaron terlihat semakin hari semakin tampan setelah aku kesusahan melihatnya. “Bohong," bisiknya di samping telingaku, membuat jantungku berdegup kencang. "Kamu bohong, Sayang." Aaron berbisik lagi, bibirnya begitu dekat dengan pipi dan bibirku tapi dia tidak langsung menciumku. Itu yang paling menyiksa, karena diam-diam aku menginginkan hal itu. Seakan tahu isi hatiku, Aaron tersenyum, lalu mendekat perlahan, membiarkan jarak menyempit, membiarkan aku sadar betul bahwa ini salah—dan tetap diam. “Proteksi ibumu ketat,” bisiknya. “Aku jadi tertantang.” “Kak Aaron,” ucapku memperingatkan. “Shh. Diam, aku rindu." Setelah mengatakan itu, bibirnya pun menyentuh bibirku. Sayangnya itu hanya ciuman cepat dan ringan, seperti seseorang yang tengah mencuri. Aku terkejut, dan itu cukup baginya, padahal aku menginginkan lebih. Dia mundur sedikit, matanya menyala. “Itu hanya pemanasan,” katanya pelan. “Ak
“Iya, Bu?” jawabku, terlalu cepat. Ibu membuka pintu sedikit, matanya menyapu kamar. Jendela. Tirai. Lemari. “Kamu sendirian, kan?” “Iya, tentu saja.” Tak percaya dengan jawabanku, dia masuk satu langkah, lalu enatap ponsel di tanganku. “Kamu chat dengan siapa barusan?” “Kaiser,” jawabku spontan. “Dia nanya tugas.” Ibu menatapku lama, lama sekali, lalu berbicara. “Kaiser tidak akan bertanya tugas jam sebelas malam, selain itu, kalian tidak kuliah di tempat yang sama.” Tenggorokanku seperti tercekat sehingga tak sanggup menjawab apapun. Ibu mendekat, lalu mengambil ponsel dari tanganku sebelum aku sempat bereaksi. Dadaku berdebar keras saat ibu membuka layar. Satu detik. Dua. Lalu... dia mengembalikan ponsel itu. “Nomor tidak dikenal,” katanya datar. “Hati-hati.” Aku hampir roboh mendengar nada tajamnya, tapi segera mengangguk. “Besok,” lanjutnya, “Kaiser makan malam di sini.” Aku mengangkat wajah, mengantisipasi rencana apalagi yang ibu buat. “Ke
Setelah kejadian semalam, aku merasa seperti diawasi, bukan oleh kamera, melainkan tatapan Ibu. “Kamu bangun kesiangan,” katanya dari dapur tanpa menoleh. “Jam tujuh,” ralatku. "Ini tidak kesiangan, Bu." “Biasanya kamu jam enam.” Aku menahan napas dan menjawab pelan. “Aku sangat capek kemarin, jadi sedikit terlambat turun untuk sarapan.” Ibu akhirnya menoleh, menatap wajahku lama. Terlalu lama. “Hmm... matamu merah.” Ibu menatap penuh selidik sehingga aku refleks mengusap mata. “Sepertinya karena kurang tidur.” “Kenapa?” “Banyak pikiran.” Ibu menutup toples gula dengan bunyi keras. “Tentang apa?” “Kuliah, tentang apalagi, Bu?" balasku malas, sedangkan ibu tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke mata. “Kaiser menunggumu,” katanya. “Dia antar kamu lagi hari ini.” Tubuhku seketika menegang dan aku melayangkan tatapan protes padanya. “Bu, aku bisa naik ojek.” “Tidak,” jawabnya cepat. “Mulai sekarang kamu tidak boleh pergi sendirian, Sherry.” “Mulai sekarang?” I
Ketukan itu datang lagi, sehingga aku pun mengulurkan tangan untuk membuka jendela, saat jendela terbuka sedikit, benar saja, itu Aaron.Wajahnya muncul dari gelap, matanya merah dan rahangnya kaku. Dengan lihai, Aaron memanjat jendela dan masuk kamar.“Kunci pintu,” katanya pelan."Kak, kamu, kamu sudah gila?”“Sekarang, Sherry.” Dia mengulang perintah dengan tegas sehingga aku pun berjalan dan mengunci pintu, dengan jantung berdegup kencang, sementara Aaron menutup jendela, lalu berjalan ke arahku dan berdiri terlalu dekat.“Kamu pergi dengan dia,” katanya. Nadanya bukan tanya, tapi jelas sedang menuduh.“Kak Aaron—”“Kencan,” lanjutnya. Suaranya rendah, bergetar. “Itu kencan.”“Tidak,” bantahku cepat. “Itu perintah.”Dia tertawa tanpa suara. “Sama saja, Sherry.”“Kamu tidak berhak marah.”“Aku tahu,” katanya cepat. “Itu yang membuatku marah.”Aku melangkah mundur dan menggeleng meski rasanya sakit, “Kamu seharusnya tidak di sini.”“Aku tahu.”“Kamu kakak tiriku.”“Aku tahu!” uca
"Yah, suasanya jadi tenang,” jawabnya dengan santai, sehingga aku semakin marah.“Ibu sudah mengusir Aaron, dan dua saudara yang lain,” protes ku dengan suara bergetar. “Dan ibu menyebut itu perlindungan? Ini jelas seperti perampokan!"“Aku ini sedangmenyelamatkanmu, Sherry,” katanya dengan suara keras."Menyelamatkan dari apa?" “Dari perasaan yang salah.”“Siapa yang menentukan itu salah atau benar, Ibu!?” teriakku, tak sanggup menahan emosi.Ibu mendekat, wajahnya keras. “Aku ini ibumu. Kamu harus patuh pada ibu!”Aku menatapnya dengan air mata jatuh. “Dan aku anakmu, bukan barang yang bisa dipindah-pindahkan!”Ibu terdiam sejenak, lalu berkata lebih pelan—lebih kejam.“Justru karena itu aku berhak.”"Terserah ibu!"Aku berbalik, naik tangga dengan marah.“Sherry,” panggil Ibu. “Kamu tetap ikut Kaiser.”Aku berhenti tanpa menoleh, “Ibu tidak bisa memaksaku mencintai orang yang Ibu pilih.”“Aku tidak memaksamu mencintai,” jawabnya. “Aku memaksamu aman.”Aku tertawa tanpa suara,
“Untuk kebaikan bersama,” jawab Ibu dengan tatapan tegas, yang membuat Aaron tertawa kecil, sinis.“Kebaikan siapa?” tanyanya, yang membuat ibu mendengus pelan dan menjawab ketus.“Semua."Aaron tertawa pendek. “Tidak semua.”Setelah mengatakan itu, dia menoleh ke arahku. “Kamu tahu soal ini, Sherry?”Aku menggeleng. “Baru sekarang aku tahu, Kak.”Matanya mengeras—bukan marah, tapi kecewa.“Bagus,” gumamnya. “Setidaknya kamu konsisten.”Ibu melangkah maju, berkata dengan nada tajam. “Aaron, aku tidak ingin drama.”“Aku juga tidak,” jawabnya. “Makanya aku pergi.” “Jaga jarakmu," ucapnya sambil menatap Kaiser. “Aku tidak berniat melewati batas," jawab Kaiser sambil mengangguk.Aaron tersenyum tipis dan berkata dengan nada sarkastik. “Bagus. Karena batas itu sekarang dijaga dengan pisau.”Aku melangkah maju, mengulurkan tangan dengan ekspresi lelah.“Aaron—”Dia mengangkat tangan. “Jangan.”Dan satu kata itu menghentikanku.“Ini bukan salahmu,” katanya lebih lembut. “Ini keputusan o







