LOGINEntah bagaimana caranya karena saking paniknya, tapi aku berhasil kembali ke kamar. Begitu berbaring di ranjang, dadaku naik turun. Jantungku rasanya mau bisa copot kalau terus-terusan seperti ini dengan Aaron.Nafasku akhirnya mulai tenang saja mulai sadar ibu sepertinya tak memergoki kamu, tapi baru saja aku bernapas lega....“Sherry?” Suara Ibu terdengar memanggil dari luar kamar.“I-iya, Bu?” jawabku, terlalu cepat, sehingga jantungku berdebar-debar lagi.Ibu membuka pintu sedikit, menatapku. Terus menatap seakan-akan sedang meneliti rambutku dan napasku.“Kamu kenapa?” tanyanya, penuh selidik.“Panas,” jawabku, mengipasi leher dengan tangan.Ibu menatap lama, terlalu lama. Tatapan yang membuat aku gelisah.“Kamu mulai sering gugup,” ucapnya pelan.Aku menunduk. “Maaf.”Dia mendekat lalu meengusap pundakku.“Aku hanya ingin melindungimu, Sherry.”Ucapan ibu membuat aku hampir tertawa.Karena aku tahu—perlindungannya justru membuat Aaron semakin berani.***Arsion masuk ke kanto
Hari-hari berikutnya setelah mengantarku pulang naik motor, Aaron semakin nekat. Hari ini, dengan alasan yang sama di mana tiba-tiba Kaiser berhalangan menjemput, Aaron menyamar menjadi taksi online dan mengantar aku ke kampus. “Kak, kamu gila,” desisku, melihat ke belakang di mana ibuku mengantar sampai gerbang, dengan gelisah. Aaron hanya tersenyum kecil dan menjawab sambil mengendikkan bahu, “Dan kamu tidak menghentikanku, kan? Toh ibumu tidak sadar bahwa sopirnya aku." Aku memegang pintu, hendak keluar dari mobil, tapi Aaron memegang tanganku dengan lembut. "Mau kemana? Apakah kamu tidak merindukan aku?" tanyanya dengan tatapan menggoda, padahal mobil kami belum jauh meninggalkan rumah, aku bahkan masih melihat ibu yang tetap berdiri di gerbang seakan sedang mengawasi sampai aku benar-benar jauh dari rumah. "Kak, ibu ... ibu bisa melihat kita," ujarku panik, menyingkirkan tangannya. "Nyatanya dia bahkan tak tahu kalau sopir taksi online ini aku, kan? Kenapa kamu sangat kha
Setelah beberapa detik, akhirnya Aaron membalas.[ Aku sebenarnya marah. ] [ Tapi lebih menarik melihat bagaimana dia semakin kehilangan kendali setiap kali namaku muncul. ]Ada sesuatu yang dingin dalam kalimat itu. Bukan kejam, melainkan sebuah keyakinan.Beberapa saat kemudian, Aaron mengirim pesan lagi [ Sherry, dengarkan aku baik-baik. ] [ Dia bisa mengatur jam pulangmu. Ponselmu. Orang yang mengantarmu. ] [ Tapi dia tidak bisa mengatur apa yang kamu rasakan. ]Dadaku berdegup kencang saat membaca 3 chat Aaron tersebut, merasa ucapannya benar [ Dan itu yang paling ibumu takuti. ]Tanpa menjawab pesan dari Aaron, aku meletakkan ponsel di dada, menatap langit-langit gelap.Untuk pertama kalinya, aku menyadari kebenaran yang membuatku gemetar sekaligus merasa anehnya kuat—Aaron tidak sedang merebutku dari ibu.Dia sedang menungguku menyadari bahwa aku bisa melangkah sendiri.Dan ibu… mungkin sudah terlalu lama mengira kunci hidupku ada di tangannya.Saat aku tak juga menjawab,
Aku pulang dengan langkah gontai, kepala penuh dengung yang tak mau diam. Kata-kata Aaron berulang di kepalaku seperti rekaman rusak.Balas dendam.Aku membenci kata itu, terlalu dingin untuk sesuatu yang membuat jantungku berdebar panas."Jadi... ini semua hanya bagian dari balas dendam?" gumamku, sedikit kecewa.Malam hari, ibu memanggilku ke ruang tengah.Nada suaranya tenang—terlalu tenang—sehingga aku makin gelisah “Sherry,” katanya sambil duduk tegak, tangan terlipat rapi di pangkuan. “Kamu belakangan sering melamun.”Aku berdiri di ambang pintu, jantungku berdegup tak beraturan dan segera mencari alasan secepat mungkin.“Aku hanya... sedang capek, Bu.”Ibu menatapku lama, taapan yang biasa membuatku menunduk. Tapi malam ini berbeda, ada sesuatu di dadaku yang menahan kepalaku tetap tegak—bayangan tatapan Aaron di minimarket, kata-katanya, caranya berdiri seolah dunia harus menyesuaikan langkahnya.“Kamu tidak bertemu Aaron, kan?” tanya ibu akhirnya.Nama itu jatuh seperti palu
Aaron hanya tersenyum kecil, senyum yang membuat dadaku nyeri karena Aaron terlihat semakin hari semakin tampan setelah aku kesusahan melihatnya. “Bohong," bisiknya di samping telingaku, membuat jantungku berdegup kencang. "Kamu bohong, Sayang." Aaron berbisik lagi, bibirnya begitu dekat dengan pipi dan bibirku tapi dia tidak langsung menciumku. Itu yang paling menyiksa, karena diam-diam aku menginginkan hal itu. Seakan tahu isi hatiku, Aaron tersenyum, lalu mendekat perlahan, membiarkan jarak menyempit, membiarkan aku sadar betul bahwa ini salah—dan tetap diam. “Proteksi ibumu ketat,” bisiknya. “Aku jadi tertantang.” “Kak Aaron,” ucapku memperingatkan. “Shh. Diam, aku rindu." Setelah mengatakan itu, bibirnya pun menyentuh bibirku. Sayangnya itu hanya ciuman cepat dan ringan, seperti seseorang yang tengah mencuri. Aku terkejut, dan itu cukup baginya, padahal aku menginginkan lebih. Dia mundur sedikit, matanya menyala. “Itu hanya pemanasan,” katanya pelan. “Ak
“Iya, Bu?” jawabku, terlalu cepat. Ibu membuka pintu sedikit, matanya menyapu kamar. Jendela. Tirai. Lemari. “Kamu sendirian, kan?” “Iya, tentu saja.” Tak percaya dengan jawabanku, dia masuk satu langkah, lalu enatap ponsel di tanganku. “Kamu chat dengan siapa barusan?” “Kaiser,” jawabku spontan. “Dia nanya tugas.” Ibu menatapku lama, lama sekali, lalu berbicara. “Kaiser tidak akan bertanya tugas jam sebelas malam, selain itu, kalian tidak kuliah di tempat yang sama.” Tenggorokanku seperti tercekat sehingga tak sanggup menjawab apapun. Ibu mendekat, lalu mengambil ponsel dari tanganku sebelum aku sempat bereaksi. Dadaku berdebar keras saat ibu membuka layar. Satu detik. Dua. Lalu... dia mengembalikan ponsel itu. “Nomor tidak dikenal,” katanya datar. “Hati-hati.” Aku hampir roboh mendengar nada tajamnya, tapi segera mengangguk. “Besok,” lanjutnya, “Kaiser makan malam di sini.” Aku mengangkat wajah, mengantisipasi rencana apalagi yang ibu buat. “Ke







