FAZER LOGIN"Suami?" Dengan nada keheranan Nate mengulangi itu."Ya, pria tadi adalah suaminya," jelas Ruth membanggakan Julian sambil senyum-senyum. "Dia tampan, bukan?"Pertanyaan Ruth tak bisa Nate jawab, pria itu hanya nyengir dan menahan dadanya yang bergejolak seperti air mendidih."Tapi kudengar, katanya mereka mau bercerai, Ruth. Apa itu benar?" tanya Nate.---Julian mengekori Renata dari belakang, saat wanita itu masuk ke dalam kamar yang diduga adalah kamarnya. Dia sama sekali tak mengajaknya bicara, wanita itu sibuk sendiri melepas seprai--seolah tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya sendiri."Aku bantu," kata Julian bergerak cepat memegang ujung seprai yang tidak terjangkau oleh Renata."Memangnya kau bisa?""Jangan remehkan aku, Rene. Mengganti seprai adalah soal kecil."Renata masih tak mempercayai mulut manis Julian, setelah beberapa bulan dia menjadi istrinya. Sedikit banyak dia tahu karakter pria itu yang tidak pernah mengerjakan apapun sendiri, selain sifatnya yang misteri
"Julian mau pulang?" Pertanyaan itu dilempar oleh Ruth sambil menatap Julian yang justru menggeleng. Renata makin geram melihat responnya itu."Aku bahkan akan menginap di sini mulai malam ini," jawab Julian yang berjalan ke arah Ruth. Dia meraih tangan keriput sang nenek yang hanya berfokus padanya, lalu menciumnya layaknya seorang cucu yang patuh. "Boleh?"Renata panik. Dia cepat memberi isyarat pada Ruth, menggoyangkan kedua tangannya sambil bicara tanpa suara "jangan izinkan" dengan gerakan bibir. Namun sayangnya, Ruth sama sekali tak peka dan tak sedikitpun melihat ke arahnya. "Tentu saja boleh, Julian. Aku malah senang," timpal Ruth.Deg.Jantung Renata serasa merosot ke dengkul mendengar itu, kedua tangannya di depan tubuh mengepal erat sambil mengeratkan gigi. Dia sangat kesal sekali pada Ruth yang main seenaknya saja membolehkan Julian tanpa seizinnya. Tapi Renata tidak mungkin memprotes Ruth atau menolak Julian ketika Ruth sudah mengizinkan, nanti Ruth akan kecewa da
Kedua manik-manik Renata membelalak saat menatap Julian yang sok manis itu padanya, apalagi dengan sebutan sayang?"Julian,kapan kau datang?" tanyanya sambil menggeliat agar tangan pria itu lepas dari pinggangnya, karena ia merasa risih dipeluk terang-terangan di depan banyak orang.Tapi yang ada, Julian justru semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Renata. Bersikap seoah dia dan Renata adalah pasangan romantis yang tak terpisahkan di depan Nate yang ekspresi wajahnya masam. Sedangkan Jun menahan senyum melihat usaha keras bosnya itu mendapat perhatian Renata."Kerja bagus, Tuan."Diam-diam Jun mengangkat dua jempolnya untuk Julian yang tampak bangga, karena hanya dia yang berhak menyentuh Renata."Barusan," jawab Julian tanpa melepas pandangannya sedikitpun dari Renata yang semakin lama tak pernah ia jumpai, dia ternyata semakin mempesona dan membuat jantungnya berdegup kencang.Satu kata lagi, semakin montok."Di mana Ruth?" tanya Julian mencari alasan, hanya demi mengalihkan Rena
"Jun, bagaimana dengan penampilanku?" tanya Julian penuh percaya diri sambil merapikan dasinya yang terasa mencekik, karena tiba-tiba ia merasa gugup.Kepala asisten pribadinya itu berputar, menoleh pada bosnya di belakang. Jun mengamati penampilan Julian secara menyeluruh dari atas hingga berhenti ke bawah. Dan malah tak sengaja berhenti di tempat tak semestinya lalu ketahuan oleh Julian yang melotot."Jaga matamu atau mau kucongkel?"Seketika Jun nyalinya mengkerut didamprat Sang Bos, ia kembali ke posisi duduk semula. Ternyata menghadapi bosnya lebih mengerikan dibanding menghadapi hantu."Maaf, Tuan." Jun nyengir dan gegas keluar dari mobll demi membukakan pintu bosnya itu.Namun ketika Jun mengitari mobil, langkahnya tiba-tiba memelan, matanya membelalak saat dia melihat Sang Nyonya dari kejauhan. Renata berada di samping rumah dengan seoranag pria, dia begitu akrab bahkan tertawa lepas bersama pria itu yang membuatnya sontak mengusap tengkuk lehernya."Gawat," lirih Jun nyeplos
"Uhh... Julian! Pelan-pelan...." "Tidak bisa hun, kau memenuhiku! Sempit! Aku jadi ingin terus menelanmu bulat-bulat!" Julian yang ngoyo mendekap tubuh nir Renata dari belakang dengan erat. Ranjang yang ditumpangi dan menjadi alas bukti cinta itu sampai berguncang karena semangat pria itu yang overdosis. "Kau canduku, Rene. Ahh! Aku mau sampai!" erang pria itu tambah cepat. Renata memejamkan matanya. "Uhh... Ahhh!" mulutnya setengah terbuka. Mengeluarkan desahan-desahan panas yang melecut sisi kejantanan Julian semakin liar. Entah keberapa kali Julian telah melepaskan gelombangnya itu? Ia terus bergerak tanpa henti. Tapi yang pasti, dia ingin menyatu terus dengan Renata. "Aku juga, Julian!" Tubuh keduanya bergetar, ayunan Julian memelan saat ia menyentak Renata di penghujung. —Julian tersentak bangun, duduk di ranjangnya dengan napas terengah-engah seperti habis lari marathon sejauh ribuan mil. Setelah nyawanya sedikit terkumpul, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Dia ke
"Sayang, kau yakin akan tinggal di sini bersamaku?"Renata menggenggam kedua tangan neneknya itu, memandangnya lembut untuk meyakinkannya. "Tentu, Ruth. Aku bahkan telah lama mendambakan pulang ke kampung halaman ini sejak lama."Desa lereng gunung itu masih sama seperti saat Renata meninggalkannya beberapa bulan lalu. Tidak ada yang berubah.Old Amersham, Lembah Misbourne.Walau Renata tidak lahir di sana, tapi ia dibesarkan di sana dengan masa kecil yang penuh angan-angan.Angan-angan menjadi bahagia, angan-angan ingin datang ke London dan menjadi sukses. Sekaligus harapan besarnya bisa bertemu sang ayah kandung. Tapi sekarang, Renata benar-benar menyesali angan-angan kedua dan ketiganya. "Nek. Kau ingat, dulu. Kita bertiga, bersama Ibu menanam bunga matahari di sana!" Renata menunjuk bekas-bekas pot kosong yang dulunya menjadi pot bunga matahari. Ruth mendesahkan napas, ia agak melow kalau diingatkan soal putrinya yang malang. Seandainya saja, dulu, ibunya Renata—Elsi, itu memat
Di dalam rumah itu sangat sunyi, setiap tarikan napas bahkan samar-samar dapat didengar. Rasanya seperti berada di rumah kosong yang angker. Ia tidak melihat siapapun kecuali dia dan Julian. Entah ke mana Jun tiba-tiba menghilang? Kondisi ini terlalu kontras dengan debar jantungnya setelah insiden
Waktu seolah membeku di dalam ruang toilet yang dingin itu ketika Devan akhirnya melepaskan cengkeramannya, tubuh Renata merosot jatuh ke lantai marmer, seperti boneka pertunjukan yang tali-talinya diputuskan. Gaun malamnya yang indah kini tampak menyedihkan, robek dan kusut, mencerminkan kehancur
Sejenak Renata merasa jemawa berhasil menyudutkan suaminya itu. Namun ketika Julian membuka matanya, nyali Renata mengkerut. Kilatan di mata keabuan pria itu bukan lagi kemarahan, melainkan ketertarikan yang dingin. Ketika Julian menoleh ke arahnya dengan perlahan, Renata buru-buru mengalihkan wa
Mata Renata membelalak, ia terengah sekaligus merasa tercekik. Ketiga pria itu sudah mulai membuatnya sinting. Julian yang mengancam nyawanya, Arthur menjadikannya mata-mata dan Devan yang memerasnya dengan statusnya."Kau dengar itu, Renata?"Dugh!"Argh! Sialan kau jalang!" raung Devan yang diten







