Sejenak Renata merasa jemawa berhasil menyudutkan suaminya itu. Namun ketika Julian membuka matanya, nyali Renata mengkerut. Kilatan di mata keabuan pria itu bukan lagi kemarahan, melainkan ketertarikan yang dingin. Ketika Julian menoleh ke arahnya dengan perlahan, Renata buru-buru mengalihkan wajahnya ke luar jendela. Jantungnya berdetak dua kali lipat, setelah ia sempat menangkap tatapan pria itu yang berbeda. "Untuk seukuran wanita yang tumbuh di desa kecil, lidahmu jauh lebih tajam dari yang kubayangkan, Renata." Suara Julian bukan sekadar bariton, geramannya rendah yang bergetar tepat di ceruk leher Renata, mengirimkan gelombang listrik yang membuat bulu kuduknya meremang. Napas pria itu hangat, beraroma sandalwood yang pekat—menyesap kulitnya seolah sedang mencicipi rasa takut yang mulai berubah menjadi sesuatu yang lain. Belum sempat Renata menyusun pembelaan, dunia seakan jungkir balik. Dalam satu gerakan yang presisi dan tak terbantahkan, Julian menarik pinggangny
Magbasa pa