เข้าสู่ระบบ"Tidak ke rumah sakit saja!" potong Julian tegas. Suaranya serak membisikkan kepastian. "Bawa aku ke aparteman Renata."Jun Chen tertegun sejenak. "Nona Renata? Tapi Sir ....""Kau tahu tempat tinggalnya sekarang, bukan?" tekan Julian mulai emosi karena pengaruh obat perangsang yang membuat otaknya sulit berpikir panjang. Dia hanya mau mengikuti apa yang ada dalam otaknya itu. Beberapa saat lalu ketika asistennya itu mengantarnya ke klub malam, dia sempat memberitahu sekilas bahwa dia tahu di mana apartemen Renata selama berada di London."T... Tahu, Sir," jawab Jun gemetar suaranya, kalau bosnya marah itu seperti mafia kelaparan. "Bawa aku ke sana!" perintahnya tak ingin dibantah.Tanpa banyak omong, Jun langsung mengikuti kemauan bosnya itu. Karena ia tahu kalau Julian seperti terkena obat perangsang dan bawaannya marah-marah terus. Namun di sini, Julian bahkan tak memikirkan atau menyadari fakta bahwa unit apartemen yang ditujunya saat ini adalah lokasi yang sama yang sempat ia
Dinding-dinding klub malam yang eksklusif itu terasa berguncang oleh dentuman bass yang berat. Namun bagi Julian, suara di sekitarnya mendadak surut bagai ditelan lautan. Kepala pria itu terasa seberat timah, penglihatannya berpendar oleh hawa panas abnormal yang membakar dari dalam pembuluh darahnya. Kesadarannya menipis secara drastis, walau begitu dia tetap berjuang agar tetap sadar.'Pasti ada yang mengerjaiku!' batin Julian berpikir singkat. Di remang cahaya neon yang samar, sesosok wanita bergaun ketat merapat pada tubuhnya. Bibir wanita itu bergerak-gerak menyuarakan sesuatu, namun suara itu tak pernah sampai ke indra pendengaran Julian."Apa kau baik-baik saja, Julian?"Julian tidak menjawab Frida. Ia berusaha keras memfokuskan pandangan, menatap wanita itu di tengah kabut yang kian pekat menguasai otaknya.Hanya saja, entah mengapa pandangannya sangat buram sekali. Bayangan di depannya membiaskan siluet yang samar-samar terasa begitu familiar. Setelah beberapa waktu lalu ia
"Julian!" bentak Renata menyadari pria itu keterlaluan. Manik-manik coklat Renata berkilat marah saat menatap tajam pada Julian. Napasnya memburu. "Aku hanya meminta jatahku, Rene," balas Julian kalem, senyumnya nyaris menunjukkan sisi liarnya yang membuat Renata bergidik. "Jatah?!" sahut Renata geram. Namun ketika Renata nekat hendak mendorong kejantanan Julian dengan dengkulnya, Julian lebih dulu menarik kedua tangan wanita itu ke atas. Menguncinya seperti borgol sebelum menciumnya paksa. Bibir Renata dilumat kembali, kali ini ciuman Julian seperti mesin penyedot debu acapkali Renata menolak. Namun akhirnya permainan bibir Julian menggiring Renata untuk membalasnya. Julian ingat pertemuan terakhirnya dengan Renata sebelum pulang. Dia bersama Nate. Gemuruh di dadanya seketika meluap dan ia pun melampiaskannya buru-buru. Ciumannya turun ke leher Renata yang jenjang. Bibir hangat Julian merayap, mengecup sangat kuat dan meninggalkan bekas merah yang kentara. "Julian..." Suara
Saat Renata memposisikan dirinya, Julian tidak langsung mundur. Pria itu membungkuk tipis. Kehangatan napasnya menyapu daun telinga Renata ketika bibirnya berbisik dengan nada berat yang begitu intim."Kau selalu tahu cara membuat ruangan ini mendadak kehilangan udaranya, mi queruda," bisik Julian, suaranya halus namun sarat daya pikat yang pekat. "Gaun ini ... dan wajahmu yang semakin cantik siang ini, benar-benar menyiksaku pertahananku."Seketika bulu kuduk Renata berdiri. Panggilan mesra yang sudah lama tak didengarnya itu mengirimkan gelombang sengatan halus yang merambat dari tengkuk hingga ke dadanya. Renata mengetatkan jemarinya di atas pangkuan, berusaha keras menetralkan detak jantungnya yang mendadak tak beraturan."K... Kau sudah lama datang?" tanya Renata basa-basi, mengalihkan kikuk.Julian tersenyum sembari melangkah memutari meja lalu duduk di hadapannya. Manik matanya yang kelam menatap Renata tanpa berpaling sedikitpun. Seorang pelayan tak lama datang membawa
"Oh, tidak! Dia datang?" Renata yang panik langsung membalik tubuhnya membelakangi pintu. Ia tak jadi memutar gagang pintu, namun sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya dari nomor tak dikenal: >> Jangan buka pintunya, Renata. Pria di depan pintumu itu bukan mencari ibunya untuk diselamatkan ... tapi untuk memastikan rahasia pembunuhan lima tahun lalu tidak pernah terbongkar
Julian memandanginya dengan pandangan yang hening, tajam dan tanpa emosi. Tak ada satu patah kata yang terucap. Pria itu bahkan tidak menawarkan tumpangan, atau juga menyapa. Hanya tatapan mata kelamnya yang mengunci manik mata Renata selama beberapa detik yang terasa menyiksa. Sebelum Renata sempat merespon, Julian menaikkan kembali kaca jendelanya dan menekan pedal gas. Mobil maybach itu melesat cepat, meninggalkan genangan air yang terpercik ke arah trotoar. "Apa? Dia pergi begitu saja?" Renata menggeram pelan, kejengkelan membakar dadanya saat melihat lampu di belakang mobil itu menghilang di balik tikungan. Dua tangannya terangkat ke udara sambil menggeleng. 'Sudah kuduga. Es batu memang dingin!' batinnya sengit. Namun sedetik kemudian, rasa sesak yang familiar kembali menyenggol dadanya. Renata sadar, kejengkelan itu sebenarnya bersumber dari kekecewaannya sendiri. Renata memang berharap tadinya Julian menawarkan tumpangan di saat dia sulit mendapatkan taksi. Kalau s
Ponsel milik Julian berdering, suaranya membelah keheningan ruang tamu yang masih menyisakan aroma gairah mereka. Tanpa melepas pandangannya yang tajam dari Renata, tangan pria itu meraih perangkat dari saku celana dan menempelkannya ke telinga."Anda sudah di pengadilan?"Suara Julian datar, namun
Ciuman Julian begitu menghanyutkan, kuat dan menelan akal sehat Renata seketika. Ia memejamkan mata, membiarkan seluruh tubuhnya pasrah terhanyut dalam arus panas yang dibawa oleh sentuhan pria itu. Rasanya seperti tenggelam dalam lautan api yang nyaman, namun berbahaya.Tapi detik berikutnya, real
Aroma gandum yang terpanggang sempurna, berpadu dengan gurihnya mentega yang meleleh, merayap lembut memenuhi setiap sudut rumah pinggir kota itu. Bau semerbaknya bagaikan undangan tak kasat mata yang menggelitik indra penciuman Julian. Di dalam kamar, pria itu tengah merapikan simpul dasinya di
Saat tangan Julian sudah di dada Renata, tiba-tiba alarm sistem keamanan rumah berbunyi pelan. Julian melepaskan Renata dan melihat ke ponselnya dengan tatapan tak biasa, wajahnya yang dingin berubah memucat. "Ada apa?" tanya Renata cemas melihat ekspresi yang jarang terjadi pada pria sedingin sua







