Se connecter"Uhh... Julian! Pelan-pelan...." "Tidak bisa hun, kau memenuhiku! Sempit! Aku jadi ingin terus menelanmu bulat-bulat!" Julian yang ngoyo mendekap tubuh nir Renata dari belakang dengan erat. Ranjang yang ditumpangi dan menjadi alas bukti cinta itu sampai berguncang karena semangat pria itu yang overdosis. "Kau canduku, Rene. Ahh! Aku mau sampai!" erang pria itu tambah cepat. Renata memejamkan matanya. "Uhh... Ahhh!" mulutnya setengah terbuka. Mengeluarkan desahan-desahan panas yang melecut sisi kejantanan Julian semakin liar. Entah keberapa kali Julian telah melepaskan gelombangnya itu? Ia terus bergerak tanpa henti. Tapi yang pasti, dia ingin menyatu terus dengan Renata. "Aku juga, Julian!" Tubuh keduanya bergetar, ayunan Julian memelan saat ia menyentak Renata di penghujung. —Julian tersentak bangun, duduk di ranjangnya dengan napas terengah-engah seperti habis lari marathon sejauh ribuan mil. Setelah nyawanya sedikit terkumpul, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Dia ke
"Sayang, kau yakin akan tinggal di sini bersamaku?"Renata menggenggam kedua tangan neneknya itu, memandangnya lembut untuk meyakinkannya. "Tentu, Ruth. Aku bahkan telah lama mendambakan pulang ke kampung halaman ini sejak lama."Desa lereng gunung itu masih sama seperti saat Renata meninggalkannya beberapa bulan lalu. Tidak ada yang berubah.Old Amersham, Lembah Misbourne.Walau Renata tidak lahir di sana, tapi ia dibesarkan di sana dengan masa kecil yang penuh angan-angan.Angan-angan menjadi bahagia, angan-angan ingin datang ke London dan menjadi sukses. Sekaligus harapan besarnya bisa bertemu sang ayah kandung. Tapi sekarang, Renata benar-benar menyesali angan-angan kedua dan ketiganya. "Nek. Kau ingat, dulu. Kita bertiga, bersama Ibu menanam bunga matahari di sana!" Renata menunjuk bekas-bekas pot kosong yang dulunya menjadi pot bunga matahari. Ruth mendesahkan napas, ia agak melow kalau diingatkan soal putrinya yang malang. Seandainya saja, dulu, ibunya Renata—Elsi, itu memat
Henry menelan ludahnya susah payah melihat botol itu, seluruh tubuhnya gemetar dan wajahnya memucat. “A-apa yang mau kau lakukan?” Kali ini dia tampak ketakutan sekali. “Renata, jangan main-main dengan botol itu sayang. Kemarikan pada Ayah.” Renata ingin muntah mendengar Henry mengatakan sayang padanya. Jika ada butuhnya saja, seperti sekarang dia memanggilnya dengan manis setelah tadi dia dicampakkan. Sudah waktunya Henry merasakan karmanya. Tanpa berkata apapun atau menembak pria tua itu. Renata justru melemparkan botol di tangannya ke arah Henry. PRANG!Botol itu pecah di dada Henry, seperti lecutan panah. Cairannya sontak membasahi pakaian safarinya dengan cairan kimia yang sangat korosif dan menyengat saraf.“Aaaarghh!” Henry menjerit kesakitan, panas sekaligus menyiksa. Dia sampai terjatuh berlutut sambil mencakar dadanya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh sistem sarafnya, membuatnya tidak bisa berpikir atau bergerak.“Tolong…! Aku kepanasan! Sakit!” teriak H
Renata berdiri di dermaga yang hancur, memegang botol bening milik ibunya di satu tangan dan pistol di tangan lainnya. Ia harus selalu waspada dengan kejutan dari Henry. Namun deru mesin helikopter terdengar membelah kegelapan menyentaknya dari lamunan sesaat. Dia menyipitkan matanya, melihat sebuah helikopter Bell berwarna hitam elegan mendarat di atas helipad vila yang masih utuh. Tangan Renata semakin pakem memegang pistolnya. Manakala pintu helikopter terbuka, seorang pria tua dengan setelan safari berwarna krem melangkah keluar. Itu Henry Doe dan ternyata dia tidak datang sendiri. Namun bersama empat pengawal bersenjata lengkap yang menjaganya. "Putriku yang cerdik.” Henry bertepuk tangan pelan sambil berjalan mendekati dermaga. "Kau selalu melampaui ekspektasiku. Kau berhasil menjinakkan tiga singa ini dan membuat mereka duduk manis di satu ruangan." “Lindungi Renata!” seru Julian memerintah. Devan dan Arthur mengangguk. Tiga pria gagah itu keluar dari balik puing-pu
Tiga puluh menit berlalu dalam ketegangan yang menyesakkan. Semua yang terjadi bukanlah mimpi, tapi kenyataan getir yang mereka harus hadapi dengan gila. “Harusnya kau tidak usah repot-repot membantuku seperti ini,” kata Arthur terkesima pada Renata yang berhasil membalut lukanya dengan kain seadanya. Bentuk perhatiannya membuatnya tersentuh. Meskipun situasinya tak memungkinkan, tapi Arthur menganggap kepedulian Renata sangatlah manis. Wanita itu ternyata masih mau menolongnya, setelah semua yang terjadi hari itu. Dia merasa tersanjung, sekaligus bangga telah diperhatikan lebih dibanding Julian ataupun Devan. Renata hanya diam, masih kesal dengan Arthur. Tapi karena dia yang tidak bisa melihat di depan matanya orang lain susah, selain hal baik yang pernah Arthur lakukan untuknya. Itu hanya sekadar membalas budi. “Kau tadi terlihat gagah saat menghadapi bom, Gal Gadot bahkan minder padamu, ” tambah Arthur yang ingin memperoleh perhatian lebih dari Renata. Dia terus mengajaknya
Detik merah pada panel digital di dinding itu berkedip dengan ritme yang menyiksa. 00:29... 00:28... Waktu itu terus berjalan seiring tugas malaikat maut yang menunggu hitungan pasti kapan mencabut nyawa. Di sela-selanya, Suara tawa Henry Doe bergema melalui pengeras suara vila yang terdengar seperti suara iblis yang merayakan kiamat kecil ciptaannya. Ruangan itu dipenuhi kepulan asap ledakan pintu tadi, empat orang yang saling mengikatkan takdir dalam benang-benang pengkhianatan kini membeku menatap pria tua itu yang penuh kuasa. "Dasar bajingan!" Umpat Renata sangat membenci Henry. Julian mendengar umpatan itu, dia mewajarkannya karena Henry memang iblis berwajah manusia. Ini saatnya Renata membalas, jika dalam hatinya terbesit rasa tega.Sementara itu, Renata masih menempelkan moncong Glock-17 di bawah dagunya. Matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan, melainkan kekosongan yang mengerikan. Perlahan dia melihat Julian yang wajahnya pucat pasi, Devan yang kegilaannya menda
Waktu seolah membeku di dalam ruang toilet yang dingin itu ketika Devan akhirnya melepaskan cengkeramannya, tubuh Renata merosot jatuh ke lantai marmer, seperti boneka pertunjukan yang tali-talinya diputuskan. Gaun malamnya yang indah kini tampak menyedihkan, robek dan kusut, mencerminkan kehancur
"Tuan, Nona pertama sudah tiba."Pria yang duduk di kursi membelakangi meja itu langsung memutar kursinya menghadap anak buahnya dengan wajah mengeras."Ralat ucapanmu itu, Oscar! Putriku hanya Alice!"Oscar, tangan kanan Henry itu menunduk karena merasa bersalah. "Iya, Tuan. Maafkan saya."Henry t
"Itu soal nenekmu," ucap Julian pendek.Renata mengernyit. “Nenekku kenapa?”“Dia menghilang dari rumah sakit, Renata. Seseorang menjemputnya sepuluh menit yang lalu," jelas Julian. Sesaat Renata bergeming, ekspresinya datar. Ia merasa raga wanita itu saja yang di sini, namun jiwanya melayang enta
Saat tangan Julian sudah di dada Renata, tiba-tiba alarm sistem keamanan rumah berbunyi pelan. Julian melepaskan Renata dan melihat ke ponselnya dengan tatapan tak biasa, wajahnya yang dingin berubah memucat. "Ada apa?" tanya Renata cemas melihat ekspresi yang jarang terjadi pada pria sedingin sua







