Mag-log inAroma sup asparagus yang gurih membumbung dari mangkuk porselen di tengah meja makan. Kehangatan yang langka menyelimuti ruang makan apartemen. Ruth duduk berdampingan dengan Cleda yang tampak begitu tenang menikmati makan malam. Namun bagi Renata, wewangian mentega dan rempah yang menguar dari meja justru terasa bagai racun yang memutarbalikkan isi perutnya."Kenapa denganku?" gumam Renata sambil membekap mulut.Sensasi mual yang mendadak menekan tenggorokannya membuat Renata membeku. Wajahnya yang semula memerah perlahan kehilangan warna, berubah pucat pasi dalam hitungan detik.Tanpa sanggup mengucap sepatah kata pun, Renata membanting sendoknya, bangkit tergesa-gesa dari meja makan lalu berlari kencang tanpa pamit menuju kamar mandi.Brak!Pintu kamar mandi tertutip rapat."Renata? Ada apa dengan anak itu?" pekik Ruth cemas, seketika menghentikan suapannya dengan mata membelalak panik.Nyonya Cleda meremas serbet di pangkuannya, menatap pintu kamar mandi dengan dahi berkerut tajam
Kecupan yang jatuh di atas kulit lehernya membuat Renata mendongak pasrah. Gairah telah membakarnya, membuatnya lupa diri jika komitmen yang sudah ia rancang sekian lamanya untuk tidak sudi disentuh Julian. Bubar.Sangat sial. Renata sulit menolak gairah yang Julian ciptakan. Sentuhannya, kecupannya, ciumannya dan permainannya itu sulit diterima logika. Tadi Renata menolak mentah-mentah, sekarang ketika Julian menciumnya dia membalasnya dengan liar.Di atas lantai basah, tubuh Julian menghangatkannya. Gerakannya mantap, menumbuknya hingga tersentak-sentak dipelukannya."Rene, aku mencintaimu," bisik Julian dengan keposesifan.Daun telinganya dibasahi dengan liurnya, Renata mendesahkan napas panjang dan melenguhkan rendah nikmat itu."Hanya... Sekali ini saja," balas Renata dengan nada suara yang terputus-putus.Julian menatap wajah wanita itu di atasnya, kedua tangannya semakin menggerakkan pinggul Renata cepat. Buah da
Tok! Tok!"Julian, apa kau masih mandi?" tanya Renata sambil mengetuk pintu kamar mandi itu. Suaranya menyimpan nada kekhawatiran mendalam. Juga rasa bersalah yang mulai mencengkeram dadanya.Namun perasaan Renata semakin kacau saat dari dalam kamar mandi dia tak mendengar suara apapun kecuali suara jatuhnya air."Ke mana dia sebenarnya?" Renata berdiri tak tenang. kalau ada apa-apa dengannya, otomatis ia harus bertanggung jawab. Setiap detik menyiksa Renata. Ia berharap Julian tidak melakukan hal nekat. Misalnya, bunuh diri? "Jangan sampai kau sebodoh itu Julain!" Ia menatap pintu kamar mandi, menelan ludahnya kasar, kemudian mencoba mencari tahu dengan menempelkan telinganya ke daun pintu. Ia memeriksanya. "Kau akan mempermalukan dirimu sendiri dan menyusahkanku nanti."Keningnya mengerut, lagi-lagi ia hanya mendengar suara tetesan air. Tapi ... ia masih belum mendapati keberadaan Julian di sana."Jangan-jangan terjadi sesuatu padanya!" cetusnya tak sabaran. Kali ini tanpa pikir
Selamat membaca.... "Kau masih istriku, Rene. Jadi aku berhak melakukan apapun padamu," dalih Julian tenang.Namun tatapan Julian yang seperti menggeledah kancing piyamanya itu membuat Renata langsung panik. Matanya memuncak, kepalanya menggeleng sambil berjalan mundur ke ambang pintu."Sekarang, urus saja dirimu sendiri!" kata Renata sebelum buru-buru meninggalkan Julian sendiri di luar kamarnya.Julian mendesah napas, tangannya memaku dinding dengan tubuh setengah condong ke depan, diam memperhatikan siluet Renata dari belakang. Pantatnya yang penuh itu bergoyang ke kiri kanan membuat ia susah payah menelan ludah menahan gejolak panas yang membakar seluruh tubuhnya yang terasa panas."Kau hanya milikku, Rene." Setelah menggumamkan itu dengan suara parau yang berat, Julian menyusul Renata ke dalam kamar. Ia berhenti saat mencium aroma vanila bercampur oksigen yang menguar di kamar itu. Ia menghirupnya dalam-dalam, hingga kepalanya terdongak ke atas. Anehnya, gejolak di dalam tubuhn
"Tidak ke rumah sakit saja!" potong Julian tegas. Suaranya serak membisikkan kepastian. "Bawa aku ke aparteman Renata."Jun Chen tertegun sejenak. "Nona Renata? Tapi Sir ....""Kau tahu tempat tinggalnya sekarang, bukan?" tekan Julian mulai emosi karena pengaruh obat perangsang yang membuat otaknya sulit berpikir panjang. Dia hanya mau mengikuti apa yang ada dalam otaknya itu. Beberapa saat lalu ketika asistennya itu mengantarnya ke klub malam, dia sempat memberitahu sekilas bahwa dia tahu di mana apartemen Renata selama berada di London."T... Tahu, Sir," jawab Jun gemetar suaranya, kalau bosnya marah itu seperti mafia kelaparan. "Bawa aku ke sana!" perintahnya tak ingin dibantah.Tanpa banyak omong, Jun langsung mengikuti kemauan bosnya itu. Karena ia tahu kalau Julian seperti terkena obat perangsang dan bawaannya marah-marah terus. Namun di sini, Julian bahkan tak memikirkan atau menyadari fakta bahwa unit apartemen yang ditujunya saat ini adalah lokasi yang sama yang sempat ia
Dinding-dinding klub malam yang eksklusif itu terasa berguncang oleh dentuman bass yang berat. Namun bagi Julian, suara di sekitarnya mendadak surut bagai ditelan lautan. Kepala pria itu terasa seberat timah, penglihatannya berpendar oleh hawa panas abnormal yang membakar dari dalam pembuluh darahnya. Kesadarannya menipis secara drastis, walau begitu dia tetap berjuang agar tetap sadar. 'Pasti ada yang mengerjaiku!' batin Julian berpikir singkat. Di remang cahaya neon yang samar, sesosok wanita bergaun ketat merapat pada tubuhnya. Bibir wanita itu bergerak-gerak menyuarakan sesuatu, namun suara itu tak pernah sampai ke indra pendengaran Julian. "Apa kau baik-baik saja, Julian?" Julian tidak menjawab Frida. Ia berusaha keras memfokuskan pandangan, menatap wanita itu di tengah kabut yang kian pekat menguasai otaknya. Hanya saja, entah mengapa pandangannya sangat buram sekali. Bayangan di depannya membiaskan siluet yang samar-samar terasa begitu familiar. Setelah beberapa waktu
Saat tangan Julian sudah di dada Renata, tiba-tiba alarm sistem keamanan rumah berbunyi pelan. Julian melepaskan Renata dan melihat ke ponselnya dengan tatapan tak biasa, wajahnya yang dingin berubah memucat. "Ada apa?" tanya Renata cemas melihat ekspresi yang jarang terjadi pada pria sedingin sua
Arthur melirik Renata yang tiba-tiba memangkas jarak. Ia dapat merasakan kecurigaan wanita itu yang mundur perlahan, memindai sekeliling dengan mata kecoklatannya yang liar untuk berjaga-jaga."Tenanglah Renata. Aku hanya mengamankannya sebelum Julian menyadari ada yang hilang," ucapnya meyakinkan.
Renata tersentak. Ia teringat ancaman Julian semalam yang tidak memperbolehkannya dekat dengan pria manapun, lalu saat tadi dia pamit ke toilet yang tidak boleh lama-lama. Juga soal map? 'Oh, tidak! Julian pasti marah besar!' batin Renata kacau. "Pergilah," ucap Arthur sambil memberi kartu nama
Suara itu muncul dari bayang-bayang pilar putih. Renata menegang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara serak dan penuh tekanan itu. "Pergilah, Dev! Tinggalkan aku sendiri," ucap Renata yang tak ingin diganggu. Devan tersenyum menatap siluet Renata yang seksi dari belakang samb







