Share

Bab 2

Author: Liana
Saat masuk ke kamar, Vicky melihat Vera menggenggam kedua tangan, terus-menerus membungkuk ke arahku.

“Tira, apalagi yang kamu lakukan?! Vera datang menjengukmu karena khawatir padamu!”

Pembantu pun terlihat canggung, ingin menjelaskan, tapi Vera lebih dulu menyela,

“Kak Vicky, jangan marah, ini salahku. Aku memang terlalu rakus. Begitu mencium aroma sup ayam, aku nggak bisa menahan diri untuk mencicipinya, eh malah nggak sengaja menghabiskannya. Wajar saja kalau Kak Tira marah padaku….”

Tangisannya pecah. Hati Vicky pun langsung terasa perih.

“Hanya semangkuk sup ayam saja. Setelah keluar rumah sakit, kamu bisa minum sepuasnya. Kok harus mempermasalahkannya dengan Vera?”

Dia menatap pembantu dengan tatapan tajam, “Akhir-akhir ini nafsu makan Vera sedang nggak baik, jarang-jarang dia suka sup ayam masakanmu. Kamu pulang sekarang juga, masak satu panci lagi, lalu antar ke vila Vera yang di pegunungan.”

Pembantu itu buru-buru pergi. Vicky memasang ekspresi lembut dan menunduk untuk menyeka air mata Vera.

“Jangan menangis lagi, nanti malah jadi jelek.”

Vera tertawa di balik tangisannya, lalu memeluknya, “Kamu selalu mengejekku.”

Keduanya tertawa sambil berjalan keluar dari ruang rawat. Sekeliling kembali sunyi.

Aku baru menyadari, semua kesalahpahaman, omelan dan tuduhan yang entah sudah terjadi berapa kali, tiba-tiba tidak menimbulkan riak apapun bagiku hari ini.

Aku tak ingin ribut, tak ingin marah dan juga tak ingin membela diri lagi.

Satu jam kemudian, saat dokter datang memeriksa lukaku, anak buah Vicky mendorong pintu dengan sikap seenaknya, mendesakku untuk segera keluar dari rumah sakit, karena musuh-musuhnya masih berulah.

Salah satu anak buahnya merasa kasihan padaku dan bertanya apakah aku ingin meminta obat pereda nyeri tambahan?

Aku menggelengkan kepala, “Nggak perlu.”

Aku sudah terbiasa dengan rasa sakit ini.

….

Anak buahnya mengantarku sampai depan pintu rumah, melemparkan kantong obat, lalu pergi begitu saja.

Vicky tidak menganggapku penting dan orang-orangnya juga menganggapku seperti rumput liar.

Aku membuka pintu sambi membawa kantong itu, tapi rumah terasa dingin dan sepi. Bahkan pembantu paruh waktu pun sudah tidak ada.

Telepon dari Vicky masuk. Suaranya tetap sedingin biasanya, tanpa kehangatan sedikit pun.

“Vera lagi kurang sehat, pembantu di rumahmu itu cukup telaten, jadi aku menyuruh mereka semua ke sini.”

“Kamu tinggal sendiri dulu beberapa hari. Setelah Vera lebih baik, mereka baru akan kembali.”

Vicky mengatakannya begitu wajar, seolah-olah orang yang ditusuk lima kali oleh musuhnya hampir kehilangan nyawa adalah Vera, bukanlah diriku.

“Iya.”

Mendengar jawabanku yang datar, Vicky terdiam cukup lama, lalu melanjutkan,

“Catat saja apa yang mau kamu makan. Nanti suruh pembantu memasakannya untukmu begitu pulang.”

“Iya.”

Meski terpisah oleh telepon, aku bisa merasakan keningnya berkerut.

“Kamu lagi mengambek apalagi, sih? Hanya gara-gara semangkuk sup ayam?”

“Tira, jangan lupa. Waktu menikahimu, aku sudah bilang bahwa kamu itu hanya tameng bagi Vera. Jangan karena sudah menjadi istriku tiga tahun, kamu pikir bisa menginjak-injak Vera?!”

Aku reflek mengangguk dan menjawab, “Iya.”

“Kamu….”

Amarahnya baru saja terpancing, tiba-tiba terdengar suara Vera yang memanggil.

“Kak Vicky, cepat sini makan kue!”

Telepon pun terputus.

Waktu yang tersisa sebelum sistem memusnahkanku adalah 48 jam.

Aku merasa lapar, tapi saat masuk ke dapur, baru kusadari semua bahan makanan sudah dibawa pergi. Kulkas kosong melompong.

Karena identitas Vicky yang istimewa, dia tak pernah mengizinkanku memesan makanan.

Aku hanya bisa membongkar lemari dan akhirnya menemukan sebungkus mi instan yang sudah kadaluwarsa.

Ketel air panas rusak dan tak pernah diperbaiki. Aku menyeduh mi itu dengan air panas dari dispenser air. Lalu meletakkannya di meja makan.

Ponselku menampilkan notifikasi bahwa Vera sedang siaran langsung.

Hari ini mereka tidak berada di vila pegunungan. Dilihat dari latarnya, sepertinya sebuah penginapan pemandian air panas.

Vera mengenakan kaus longgar, sambil memakan kue cokelat dan berinteraksi dengan penonton.

Di luar kamera, sesekali pria itu juga menusuk sepotong kue dengan garpu, lalu dengan lembut menyuapkannya ke mulut Vera.

[Benaran nggak bisa menunjukkan kehidupan pacaran? Dari jarinya saja kelihatan tampan sekali!]

Vera menjulurkan lidahnya, “Pacarku itu pria paling tampan di dunia. Setiap kali dia tersenyum, hatiku langsung meleleh.]

“Dia yang mengejarku dulu. Aku ini penakut, takut ini itu, jadi baru sekarang berani menerima perasaannya.”

“Kuenya manis, tapi nggak semanis hubungan kami.”

Pria itu mengusap rambutnya. Saat Vera tersenyum, pipinya kembali merona.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tiga Tahun Menjadi Tameng Kekasih Bos Mafia   Bab 10

    Saat aku bicara, Vicky sudah berhasil dilumpuhkan dan ditekan ke lantai oleh Rendy, tak bisa bergerak sedikitpun.“Rendy, jangan sampai membahayakan nyawa.”Mendengar itu, Rendy menjawab, “Iya,” tapi tetap tidak mau melepaskannya.“Kalau begitu, kita serahkan ke kantor polisi. Laporkan dia atas kasus pelecehan.”Aku membungkuk sedikit, “Aku mau bicara dengannya, kamu tunggu di sana saja.”Rendy ingin menolak, tapi melihat sikapku yang tegas, akhirnya dia melepaskannya dengan enggan.Begitu Rendy pergi, Vicky langsung mencengkeram ujung celanaku.“Semua itu salahku, maafkan aku. Kumohon pulanglah denganku. Aku janji akan hidup baik-baik denganmu. Aku akan pensiun dari dunia mafia, aku bersumpah nggak akan biarkan kamu terluka lagi.”Vicky bicara sangat cepat, seolah takut aku pergi lagi.Aku menatap matanya yang kini tidak ada kekejaman sedikitpun dan bertanya dengan bingung,“Kamu nggak mencintaiku, kamu membenciku, kamu bahkan berharap aku mati saja. Lalu kenapa sekarang malah ingin a

  • Tiga Tahun Menjadi Tameng Kekasih Bos Mafia   Bab 9

    Aku kira tugas yang dimaksud sistem adalah menjadi guru bagi tokoh antagonis.Belakangan, aku baru tahu bahwa tugasnya adalah menjadi pekerja paruh waktu di rumah tokoh antagonis, untuk mengawasinya agar tidak menjadi jahat.Hari ini adalah akhir pekan dan tokoh antagonisnya, si Rendy sedang rapat video di rumah.Ketika mereka membahas perusahaan pesaing yang merebut proyek perusahaannya, reaksi pertamanya adalah mengirim orang untuk mencuri kucing hitam peliharaan bos lawan.Aku yang sedang menyapu lantai, tak bisa menahan diri dan tertawa.Suara rapat di belakangku berhenti. Aku masih bingung, tiba-tiba sapu di tanganku sudah diambil.Aku menoleh. Rendy membungkuk menyapu lantai, tapi dari sudut matanya dia diam-diam melirikku.“Akhirnya kamu tertawa juga. Sudah sebulan kerja di sini, mukamu selalu murung setiap hari, seolah aku nggak membayar gajimu saja.”“Meskipun aku bosmu, kalau kamu punya masalah dan lagi nggak senang, boleh cerita padaku. Siapa tahu setelah cerita denganku, ka

  • Tiga Tahun Menjadi Tameng Kekasih Bos Mafia   Bab 8

    Saat itu, Tira berkata, “Pak Vicky, terima kasih sudah membantuku membayar biaya pengobatan nenekku. Sebagai balasannya, aku akan menjadi tameng untuk Nona Vera.”Namun hari ini, tiga tahun kemudian, nenek yang dulu dirinya selamatkan dengan sepuluh miliar itu pun lenyap tanpa jejak.Vicky tidak berkata apa-apa. Dengan tubuh dan batin yang kelelahan, dia melangkah ke lantai dua.Saat melewati kamar tidur, tiba-tiba Vicky mendengar suara Vera berbicara.Terpisah oleh satu pintu, suaranya tak terdengar polos dan manis seperti biasanya, melainkan dipenuhi niat jahat dan kekejaman.“Cari musuh yang paling pendendam, kirimkan alamat perempuan itu ke mereka.”“Sebelum Kak Vicky pergi menolongnya, beritahu aku. Aku akan mengalihkan perhatiannya. Kalian baru muncul dua atau tiga jam setelahnya.”“Bodoh, kalau dia nggak bertanya, kalian jangan bicara banyak! Cukup bilang kalau wanita itu sudah diantar pulang!”Seketika, jari Vicky yang di pegangan pintu menjadi dingin.“Biarkan saja kalau mati!

  • Tiga Tahun Menjadi Tameng Kekasih Bos Mafia   Bab 7

    “Dia pasti sedang marah denganku.”Vicky bergumam pelan, lalu menelepon anak buahnya.Begitu telepon tersambung, dia langsung meraih jaketnya dan berlari keluar, sambil bertanya, “Dia terluka nggak? Di rumah sakit mana? Aku segera ke sana.”Anak buahnya agak bingung dan bertanya, “Bos, siapa maksudnya?’Vicky berteriak marah, “Siapa lagi?! Tira!”“Tir… apa? Tira itu siapa?”….Vicky menginjak pedal gas dan melaju ke vila lama, tapi tempat itu malah terang benderang.Ada orang asing yang sedang menyiram bunga di halaman.“Kamu siapa? Siapa yang mengizinkanmu di rumahku?!”Orang itu menatapnya seperti menatap orang gila, “Aku sudah tinggal di sini sepuluh tahun. Sejak kapan ini jadi rumahmu?”“Dasar orang gila.”Vicky pun reflek hendak mengeluarkan pistol, tapi sekilas dia menyadari ayunan di halaman sudah hilang.Ayunan itu dipasang oleh Tira saat mereka baru menikah.Tira jarang keluar, jadi menghabiskan sebagian besar waktunya di ayunan itu sambil membaca.Namun sekarang, bahkan bekas

  • Tiga Tahun Menjadi Tameng Kekasih Bos Mafia   Bab 6

    Begitu berbelok di tikungan, Vicky langsung menyesal.Dia menoleh ke samping, melihat Tira tergeletak di lantai. Pada akhirnya, dia tetap tidak tega.“Panggil beberapa orang, antar dia ke rumah sakit.”Setelah menutup telepon, dia mengajak Vera berkeliling di toko barang mewah untuk menghiburnya.Gadis kecil itu benar-benar ketakutan beberapa hari terakhir ini.Beberapa tahun lalu, demi melindunginya, Vicky sengaja mencari Tira sebagai tameng hidup. Dia bahkan menghabiskan banyak waktu membawa Tira muncul di berbagai acara publik, agar semua orang tahu bahwa dirinya punya kelemahan.Dan cara itu sangat efektif.Sebelum itu, masih ada beberapa orang bodoh yang berani mengganggu Vera.Namun setelahnya, setiap musuh yang ingin membalas dendam padanya, orang pertama yang terlintas di pikiran mereka adalah Tira.Itulah sebabnya, meski Tira sampai nekat membocorkan informasi dan lokasi Vera, sebenarnya dirinya tak pernah benar-benar berniat membunuhnya.Paling-paling dirinya hanya akan mence

  • Tiga Tahun Menjadi Tameng Kekasih Bos Mafia   Bab 5

    Aku tak tahu harus ke mana dan juga tak perlu mencari tempat tinggal.Tiga jam terakhir, aku duduk di anak tangga depan rumah, berjemur di bawah matahari.Sinar matahari jatuh di tubuhku, tapi sama sekali tak mampu menghangatkan badanku yang perlahan terasa semakin dingin.Pintu halaman berderit pelan. Aku mengangkat kepala dan melihat Vera berdiri dengan kedua lengan menyilang di depan dada, bersandar di pintu sambil menatapku.“Kamu benar-benar panjang umur, sudah begini pun masih belum mati.”Aku terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis, “Sebentar lagi, sabar saja.”Vera hendak mengatakan sesuatu, tapi tiba-tiba mendengar suara langkah kaki. Dia langsung menurunkan tangannya.Air matanya pun langsung mengalir.“Kak Tira, aku nggak sengaja, jangan marah, ya?”“Kamu baru keluar dari rumah sakit, nggak boleh emosi. Aku akan suruh bibi memasakkan sup ayam untukmu sekarang juga….”Belum selesai dia bicara, Vicky sudah menerobos masuk dengan wajah penuh amarah. Lalu menyodorkan ponsel ke dep

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status