MasukTiga tahun lalu, aku menjebak seorang tokoh besar dari kalangan elite Kota Persy dengan obat. Kami melewati malam penuh kegilaan. Setelah itu, dia bukannya menghukumku, tetapi justru menggenggam pinggangku dengat erat, terus menabrakku hingga kakiku lemas, dan berulang kali memanggilku, "Putri Kecil." Saat aku memberanikan diri untuk mengungkapkan perasaan kepada Farel, Nia Candra, cinta pertamanya, tiba-tiba kembali. Demi Nia, Farel rela membiarkanku ditabrak mobil. Dia menyaksikan peninggalan terakhir ibuku dilemparkan ke anjing jalanan, dan bahkan membuatku masuk penjara. Namun, ketika aku benar-benar menyerah dan terbang ke Kota Appia untuk menikah dengan orang lain, Farel mencari ke seluruh Kota Persy hanya untuk menemukanku.
Lihat lebih banyakAlisa belajar tunduk pada takdirnya di hari kedua puluh tujuh dia dikurung.Dia tidak lagi melawan, tidak lagi mogok makan, bahkan terkadang tersenyum pada Farel.Awalnya, Farel masih curiga. Namun, perlahan-lahan dia mulai percaya bahwa Alisa benar-benar sudah menyerah."Pagi ini mau makan apa?" tanya Farel sambil merapikan dasi di tepi ranjang.Alisa bersandar di sandaran kasur, rambut panjangnya terurai. Dia menjawab dengan datar, "Apa pun yang kamu masak."Gerakan tangan Farel sempat terhenti. Dia sedikit terkejut, lalu segera tersenyum dan menjawab, "Baik."Setelah itu, dia pun berbalik menuju dapur. Langkahnya jarang terasa begitu rileks.Alisa menatap sosok Farel lenyap di ambang pintu, lalu cepat-cepat menyingkap selimut. Dari bawah kasur, dia mengeluarkan sebuah komputer mini.Itu adalah hasil curian dari ruang kerja Farel minggu lalu.Dia mengetik cepat di papan ketik, memasukkan kata sandi.Diam-diam dia menembus sistem keamanan pulau dan memancarkan sinyal permohonan pertol
Sebab ada urusan bisnis di Grup Keano yang perlu ditangani, Farel terpaksa kembali ke kota selama beberapa hari.Senja hari di pulau pribadi.Hari ketiga sejak kepergian Farel, Alisa berdiri di depan jendela besar, menatap cahaya terakhir matahari yang perlahan ditelan garis khatulistiwa.Seorang pelayan masuk dengan hati-hati, meletakkan segelas susu hangat di meja. "Nyonya, setidaknya minumlah sedikit," ucap pelayan itu.Alisa tidak bergerak, hanya bertanya, "Kapan dia kembali?""Pak Farel bilang akan segera kembali setelah urusan perusahaan selesai," jawab pelayan itu.Prang!Gelas kaca melayang menghantam dinding dan pecah berantakan. Susu tumpah ke lantai."Aku bukan nyonya siapa pun. Keluar dari sini!" tegur Alisa dengan dingin.Pelayan itu ketakutan dan cepat-cepat mundur.Alisa membungkuk, memungut pecahan kaca paling tajam dari lantai.Pada saat yang sama, di kantor pusat Grup Keano.Ruang rapat penuh orang, Farel duduk di kursi utama mendengar para karyawannya melapor. Jari-j
Pagi hari di pulau pribadi.Helikopter mendarat di landasan tengah pulau, suara baling-balingnya akhirnya melambat, menyisakan suara ombak yang pecah di karang.Farel menggendong Alisa turun dari helikopter. Begitu kakinya menyentuh tanah, Alisa langsung mendorong Fajar menjauh."Penahanan ilegal, ya?" tanya Alisa. Dia mendengus dingin, gaun pengantinnya berkibar liar ditiup angin laut. "Sejak kapan kamu juga mulai pakai cara licik seperti ini?" tanya Alisa.Alih-alih marah, Farel justru tersenyum tipis. "Memangnya kenapa?" tanya Farel.Jarinya yang dingin menyapu pelan wajah Alisa, tetapi tatapannya membara, "Alisa, kamu milikku."Dia melanjutkan, "Seumur hidupmu, jangan pernah bermimpi jadi milik orang lain."Di vila utama.Farel menuntun Alisa berkeliling pulau."Semua yang ada di sini milikmu," ucap Farel sambil membuka pintu kaca raksasa. Hembusan laut yang asin langsung menyerbu ke dalam. "Mulai dari taman, kolam renang, perpustakaan, bahkan samudera itu."Alisa tidak tergerak sa
Sehari sebelum pernikahan, di mansion pribadi Keluarga Fathir.Alisa duduk di depan meja rias di kamar pengantin, jarinya menelusuri taburan berlian di gaun pengantin.Di luar jendela, matahari bersinar hangat. Para pelayan sibuk menata lokasi acara pernikahan besok. Segala sesuatu tampak begitu sempurna.Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu."Putri Kecil?" panggil Hendra.Hendra masuk sambil membawa secangkir teh bunga hangat dan sebuah kotak beludru mungil di tangan lainnya.Dia mengenakan setelan hitam rapi, kerah kemejanya terbuka sedikit, tatapannya sangat lembut."Kamu hampir nggak makan sarapan," ucap Hendra sambil memberikan cangkir teh ke tangan Alisa. Dia lalu berkata, "Bibi di dapur bilang kamu cuma minum setengah gelas susu."Alisa mendongak, kemudian tersenyum dan bertanya, "Apa kamu mencoba mendidikku?""Aku mana berani," ucap Hendra sembari menunduk sedikit, lalu menyerahkan kotak itu ke tangan Alisa. "Aku cuma takut kamu kelaparan," lanjut Hendra.Alisa membuka ko
Aku berlutut di depan komputer, menatap deretan folder video di layar. Aku kemudian mengeluarkan ponsel dan menelepon Abbas."Abbas," ucapku. Aku berusaha menahan suara isak."Kenapa? Bukannya kamu sudah bilang mau memutuskan hubungan denganku?" tanya Abbas dengan suara heran."Aku cuma mau bertanya
Menghadapi pertanyaan dari Farel, aku memilih diam.Dia berdiri di tepi ranjang, menunggu jawabanku.Namun, aku hanya menatap langit-langit dan tidak menjawab sepatah kata pun.Tiba-tiba, ponsel Farel berdering.Terdengar suara manja Nia dari ujung telepon, "Kak Farel, tanganku sakit sekali," Sekej
Jeritan histeris Nia menggema di belakang panggung pasar lelang.Para staf kaget. Ada yang menjerit ketakutan, ada yang buru-buru menelpon ambulans.Aku melepaskan genggaman dari pisau makan, lalu berdiri tegak.Aku menatap Nia yang tergeletak sambil memeluk tangannya dan menangis, lalu berkata, "In
Lelang resmi dimulai.Aku menatap erat-erat papan penawaran di tangan, menunggu giliran barang nomor 47.Akhirnya juru lelang mengangkat kalung mutiara itu.“Barang nomor 47, kalung mutiara. Dilelang mulai dari 10 miliar," ucap juru lelang.Aku langsung mengangkat papan dan berkata, "10 miliar.""20






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan