MasukMa meilleure amie et moi avons épousé deux frères de la famille Lemoine. J'ai épousé l'aîné, Marc, un obstétricien de renom. Elle a épousé le cadet, Adrien, PDG d'un grand laboratoire pharmaceutique. Le jour de mon anniversaire, l'ex de mon mari m'a envoyé le cadavre en décomposition d'un chat errant. Le choc m'a provoqué un accouchement prématuré. Ma meilleure amie, Élise, m'a aussitôt emmenée à l'hôpital. Mais j'ai fait une embolie amniotique, en plus d'un accouchement prématuré. Les médecins étaient impuissants. J'ai rassemblé mes dernières forces pour appeler mon mari à l'aide. Je n'ai reçu en retour qu'un flot de reproches : « C'est juste parce que j'ai raté ton anniversaire que tu fais tout ce cirque ? Faut arrêter de mentir pour m'attirer ! Le chien de Taïs est en train de mettre bas, je dois rester concentré pour l'aider. Arrête de semer la pagaille ! » Finalement, c'était Élise, les mains tremblantes, qui a pris le risque de m'opérer elle-même. J'ai survécu de justesse. Mon bébé, quant à lui, a été transféré en urgence pour être réanimé. Les yeux rouges, Élise a appelé Adrien, son mari, pour lui demander en urgence un médicament de leur laboratoire. « Le chien de Taïs va très mal après la mise bas, j'essaie de lui préparer un bouillon d'os. Vous êtes vraiment inséparables, toi et Claire. Une me supplie, l'autre prend le relais. Vous passez votre temps à vous battre pour des hommes, vous pouvez pas faire quelque chose d'utile, non ? » Et puis… mon bébé est mort. Et avec lui, mon cœur aussi. « Élise, je veux divorcer. » « Tu divorces ? Moi aussi. Ces types ne méritent pas d'avoir des femmes ! » Nous avons demandé le divorce aux deux frères. Et là, soudain, ils ont paniqué.
Lihat lebih banyak“Ah…”
Suara perempuan itu bergetar tertahan di sela napasnya, “Jangan terlalu keras.” “Mmhh… jangan di sini…” ujarnya mendorong dada bidangnya dengan gemetar. “Kalau ada yang lihat—” “Tidak akan ada yang melihat,” potong Aiden cepat, tatapannya membakar. “Kamar mandi ini masih tertutup. Aku sudah menahan diri seharian.” Lengan kokohnya melingkari pinggangnya, menariknya lebih dekat, seakan takut ia terlepas. “Tapi… sebentar lagi pertunanganmu..” bisiknya nyaris tak terdengar. Aiden menahan napasnya, lalu dengan lirih penuh hasrat berkata, “Kalau begitu, kita lanjutkan nanti.” Wajah perempuan itu menegang, bibirnya bergetar. “Bagaimana dengan Audrey…?” Tatapan Aiden mengeras, dalam dan tajam. “Jangan sampai dia tahu.” Gaun putih gading itu masih melekat di tubuh Audrey saat ia membuka pintu kamar mandi hotel. Detik berikutnya, dunianya runtuh. Calon tunangannya—laki-laki yang beberapa jam lagi akan melingkarkan cincin di jarinya—tengah menindih perempuan lain. Perempuan itu bukan orang asing. Atasan kantornya sendiri, wanita yang selalu menepuk bahunya tiap kali lembur. Darahnya beku. Tenggorokannya kering. Audrey hanya mampu berdiri, menatap tubuh yang berjerit nikmat, seakan seluruh janji yang pernah diucapkan padanya hanyalah lelucon murahan. Ia mundur tergesa, tumit sepatunya beradu lantai marmer, lalu berlari. Air mata tumpah, menghapus riasan sempurna yang baru saja dipoleskan perias. Beberapa gelas alkohol kemudian, Audrey sudah tidak peduli pada pesta pertunangan yang tinggal hitungan menit. Bar hotel menjadi pelariannya. Ia meneguk minuman hingga kepalanya ringan, hingga hatinya sedikit tumpul. Rasa sakitnya tetap ada, tapi kini bercampur dengan keberanian bodoh yang tidak biasanya. Langkahnya oleng saat meninggalkan bar. Ia menubruk dinding koridor, hampir jatuh, ketika sebuah tangan kuat meraih lengannya. “Hat-hati,” suara berat itu menahan. Audrey mendongak. Matanya kabur oleh air mata dan alkohol, tapi sosok di depannya membuatnya membeku. Pria dewasa dengan wajah tegas, tatapan dingin yang entah kenapa terasa hangat untuknya. “Aku… aku baik-baik saja,” katanya terbata. Tangannya tetap menahan di pinggang Audrey, membuat gadis itu mendengus frustrasi tapi tak sanggup mendorong. “Jangan buru-buru. Ballroom ini masih luas untukmu bebas.” Ia tertawa getir, suaranya serak. “Hari ini aku seharusnya bertunangan.” Pria itu mengerutkan alis, namun tidak menyela. Ia hanya menunggu. “Dan aku mendapati dia… calon suamiku… bercinta dengan bosku sendiri di kamar mandi hotel ini.” Suaranya pecah. Mata Audrey kembali panas. “Lucu sekali.” Sunyi sesaat. Mungkin laki-laki itu enggan menyahut perempuan patah hati. Jadi dia hanya menatapnya datar. Ia menoleh, menatap wajah di dekatnya. Ada garis tegas di rahang, ada mata dalam yang terasa berbeda dari laki-laki seumurannya. Alkohol membuatnya berani. “Kamu ganteng…” “Tapi…” ada jeda sebentar. “Kamu mirip calon tunanganku. Tapi masih kerenan kamu.” Degup jantung Audrey kian liar. Kata-kata itu, sikap itu, semuanya seperti cambuk yang memecahkan dinding pertahanannya. Tubuhnya condong tanpa sadar. “Kamu mau tidur samaku nggak?” suaranya lirih, hampir seperti permohonan. Ia tidak menjawab, hanya membiarkan Audrey merebah di bahunya. Hangat tubuhnya menyelimuti, aroma maskulin yang samar menusuk ke indera. Alkohol berputar di kepalanya, membuat imajinasinya kian tak terkendali. Ia membayangkan bagaimana rasanya jika pria ini yang menggantikan, pria asing yang bahkan lebih membuatnya merasa aman ketimbang tunangannya sendiri. Kalimat itu bagai api kecil yang menyulut. Tanpa sadar Audrey menggenggam lengan kemeja pria itu lebih erat, mendekatkan tubuhnya. Dadanya bergemuruh. Pipinya panas. Ia tahu ini salah, tapi rasa sakit bercampur mabuk membuatnya ingin melupakan segalanya. “Kalau… aku minta kamu tidur denganku, apa kamu mau?” suaranya bergetar, nyaris seperti rayuan. Pria itu menatapnya lama. Rahangnya mengeras, namun ia tetap tidak melepaskan pegangan. Napasnya memburu. Jarak wajah mereka hanya tinggal beberapa jengkal. Ia menutup mata sejenak, seolah menunggu sesuatu yang terlarang terjadi. Namun yang ada hanya genggaman di pinggangnya yang tetap kokoh, menahan agar ia tidak terjatuh. Tidak lebih. Audrey menatap mata pria asing itu lebih lama dari seharusnya. Alkohol masih berputar di kepalanya, tapi keinginan liar yang menyeruak begitu nyata. Nafasnya terengah, tubuhnya condong tanpa ia sadari. Bibirnya nyaris menyentuh rahang keras pria itu, lalu dalam sekejap ia berani—ia menempelkan ciuman basah di bibirnya. Pria asing itu terkejut, seketika memegang kedua bahunya dan berusaha menjauh. “Hei… kamu mabuk,” suaranya dalam, menahan, namun napasnya sendiri sudah mulai memburu. “Aku tahu…” Audrey berbisik, bibirnya kembali mencari. “Tapi aku mau kamu.” Lelaki itu menutup mata, rahangnya menegang, tubuh normalnya bereaksi meski kepalanya mencoba menolak. “Kamu yakin? Jangan sampai menyesal.” “Aku yakin.” Audrey menatapnya lurus, mata berkaca namun penuh keberanian bodoh. “Aku ingin kamu, malam ini, sekarang.” Itu saja sudah cukup memecahkan pertahanan terakhirnya. Pria itu mendengus kasar, lalu tanpa kata lagi, ia meraih pinggang Audrey lebih erat dan menarik tubuhnya ke dadanya. Ciuman berikutnya bukan lagi ciuman Audrey seorang, tapi juga balasan liar darinya—panas, dalam, dan membakar. Audrey mendesah di sela ciuman, jemarinya meremas kemeja lelaki itu seolah takut ia pergi. Ia tidak pergi. Justru sebaliknya. Dengan gerakan mantap, ia membopong Audrey ke kamarnya. Pintu terhentak tertutup, dan tubuh Audrey langsung ditekan lembut ke ranjang empuk. Tatapan mereka bertemu sesaat, lalu pria itu meraih bibirnya lagi, kali ini lebih menggebu. Satu per satu, pakaian menjadi hambatan yang terlepas begitu saja. Audrey hampir lupa siapa dirinya, siapa lelaki ini. Yang ada hanya rasa hangat kulit ke kulit, desahan yang memenuhi kamar hotel, dan pelukan eratnya saat benteng pertahanan Audrey akhirnya benar-benar dibobol. Tangannya menggenggam lengan kokoh itu erat, tubuhnya berguncang dengan setiap tarikan napas. Air mata yang tadi jatuh kini bercampur dengan desahan. Malam itu, Audrey menyerahkan seluruh dirinya pada pria asing yang bahkan namanya belum diketahui, tapi lebih membuatnya merasa hidup daripada calon tunangannya sendiri. Namun di tengah keintiman yang membakar itu, ponselnya di meja samping ranjang tiba-tiba berdering nyaring. Audrey refleks menoleh, matanya terbelalak. Nama yang muncul di layar membuat darahnya seakan berhenti mengalir. ‘Aiden.’ ***« Il n'y a rien à sauver. Monte. »Marc s'est installé au volant, mais n'a pas démarré.Les yeux rouges, il m'a regardée : « Personne n'est parfait. On fait tous des erreurs. Je n'ai pas su voir qui était vraiment Taïs. C'était une seule erreur. On a passé onze ans ensemble. Tu pourrais pas… me laisser une chance de réparer ? Je n'ai jamais voulu te faire de mal. »« Tu n'as jamais voulu me blesser ? Alors comment expliquer toutes ces années de violences silencieuses ? Comment expliquer que j'aie accouché prématurément, en perdant tant de sang ? Comment expliquer que notre fils soit mort ? »Je n'ai pas pleuré cette fois. J'ai été froide, du début à la fin.Marc, lui, avait caché son visage dans ses mains. Les larmes coulaient entre ses doigts.J'ai soupiré, agacée. « Si tu veux pleurer, fais-le après la signature. Ne gaspille pas mon temps. »Je me souvenais. Quand il était rentré de vacances avec Taïs, et que je l'avais affronté en larmes, il m'avait lancé la phrase similaire : « J'
Des médecins et infirmiers bien informés ont commencé à commenter sous la vidéo, révélant ce qui s'était vraiment passé :【 Claire est mariée à Marc, l'obstétricien vedette de notre hôpital. Le jour où elle a accouché prématurément, elle a fait une embolie amniotique et une hémorragie grave. Elle a supplié son mari de venir l'opérer, mais lui était occupé à faire accoucher le chien de sa maîtresse. 】【 C'est sa belle-sœur Élise — aussi sa meilleure amie — qui l'a sauvée in extremis. Malheureusement, l'enfant avait besoin d'un médicament spécifique pour survivre. Et le frère de Marc, Adrien, directeur du laboratoire qui le produisait, était trop occupé à préparer un bouillon pour la chienne de la même femme. Il a refusé d'envoyer le traitement à temps. Le bébé n'a pas survécu. 】La colère des internautes a explosé :【 Dans les yeux de ces deux frères, leur propre femme et enfant valent moins qu'une chienne de maîtresse ? 】【 J'aime les animaux, mais là… ce qu'ils ont fait, c'est impardo
Je croyais avoir touché le fond de la déception. Je pensais être suffisamment forte pour encaisser tout ça.Mais en entendant ces absurdités sortir de sa bouche, j'ai ressenti une douleur si vive à la poitrine que j'en ai eu le souffle coupé.D'un coup sec, j'ai refermé la porte. Marc a lâché un gémissement de douleur — il s'est fait coincer les doigts et a aussitôt retiré sa main, par réflexe.Lui pensait qu'on pouvait tout effacer d'un geste. Mais pas moi.Élise et moi nous sommes affalées sur le canapé, toutes les deux vidées. Personne n'avait envie de parler.J'ai fini par lui demander : « Tu as mis trois ans à conquérir Adrien. Tu t'es donnée à fond. Tu n'as aucun regret, maintenant que tu lâches tout ? »« L'enthousiasme, même le plus sincère, finit toujours par s'éteindre face à l'indifférence, » a-t-elle répondu calmement. « Et toi ? Plus de dix ans avec Marc, depuis le lycée… Maintenant qu'il fait semblant de regretter, tu comptes lui laisser une chance ? »J'ai secoué la têt
Sur les photos, on voyait Taïs torturer des chats et des chiens.Les cadavres de ces animaux errants étaient tout simplement insoutenables.Plus l'image était atroce, plus son sourire semblait large.Et on y voyait aussi très clairement : Taïs confiant un paquet rose à un livreur.Moi, l'ouvrant. À l'intérieur, le cadavre d'un chat errant. Tout était là. Chaque détail.Les photos ont glissé au sol. Adrien en a aperçu quelques-unes… et a vomi sur place.Marc, pourtant obstétricien habitué aux scènes sanglantes, n'a pas tenu plus longtemps. Après avoir feuilleté une dizaine de clichés, il a détourné les yeux, blême.Je croyais, à ce moment-là, qu'ils comprendraient enfin qui était vraiment Taïs.Mais Marc a ramassé les photos et m'a aussitôt réprimandée, sans hésiter :« Tu trouves ça drôle de fabriquer des preuves contre elle avec des photos truquées ? Taïs est végétarienne depuis l'enfance ! Elle supporte pas de voir un animal blessé, ça la touche plus que ses propres blessures. Ses
Quand Marc a de nouveau levé les yeux vers moi, il n'avait plus que de la panique, du désespoir, et une douleur visible sur le visage.« Comment… comment ça a pu arriver ? Claire, je suis désolé. Je croyais que tu mentais juste par jalousie, que tu avais fait une césarienne pour faire un scandale.
Marc a serré les dents. « Tu comptes continuer à jouer la comédie encore longtemps ? Taïs est si inquiète pour son chien qu'elle n'ose même plus dormir. Et toi ? T'es juste jalouse, alors tu balances des malédictions sur l'enfant qu'on a attendu si longtemps. Tu te rends compte de ce que tu dis ? T'
En voyant mon ventre plat, Marc a eu un moment de stupeur, puis a aussitôt froncé les sourcils.« Élise, même si tu es très proche de Claire, tu n'aurais jamais dû collaborer à sa comédie en lui faisant une césarienne anticipée. Prendre la chirurgie à la légère comme ça… Tu ne mérites même pas d'êt
« Hier, Taïs ne voulait pas vraiment me faire quitter ta fête d'anniversaire. Son chien allait accoucher. Elle était si stressée qu'elle a failli pleurer... Je pouvais pas la laisser seule, tu comprends ? »« Tu veux divorcer juste pour ça ? Et maintenant tu pousses Élise à quitter mon frère aussi ?












Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.