Share

Chap 45 Rantai miliknya

Author: Strrose
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-01 16:00:53

Beberapa detik berlalu dalam ketegangan yang menekan dada, sebelum akhirnya Silas melepaskan cengkeramannya dari rahang Hanaya. Pria itu berdiri begitu saja, mengabaikan gadis yang masih terduduk lemas di atas karpet, lalu berjalan melangkah gontai menuju minibar di sudut ruangan.

Silas mengambil sebotol wine kualitas terbaik dan menuangkannya perlahan ke dalam gelas kristal, membiarkan bunyi cairan yang bergemericik memecah sunyi malam. Dengan langkah tenang namun berwibawa, pria itu

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Strrose
he he heee..... tidak semudah itu dong kak di rantainya...
goodnovel comment avatar
Formosa Audio
ya rantai saja sebagai nyonya silas ...
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 107 Hati Menjadi Taruhan

    “Gideon, bangun...” bisik Hanaya sambil mengguncang pelan lengannya.Di atas nakas, setelan kemeja kantor dan dasi rapi yang sudah disiapkan Hanaya sejak subuh tampak tertata rapi. Sinar matahari pagi merayap masuk melalui celah gorden, menyinari kamar milik Gideon yang terasa hangat.Namun, tidak seperti biasanya yang langsung terbangun dengan mata tajam terbuka, Gideon justru bergeming. Pria itu mengerang pelan, menarik selimutnya semakin tinggi hingga menutupi dada, lalu membalikkan badan membelakangi Hanaya.Hanaya mengerjap bingung. Ia mendekatkan wajahnya, berniat kembali membangunkan suaminya."Gideon, ini sudah pukul tujuh. Nanti kamu—"Ucapannya terhenti saat jemarinya tak sengaja menyentuh kulit leher Gideon. Hanaya terkesiap. Panas. Kulit pria itu terasa membara, jauh di atas suhu normal."Gideon?" Hanaya panik. Ia langsung meraba kening Gideon dengan telapak tangannya.Mendapat sentuhan itu, Gideon

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 106 Buruanku Adalah Dirimu

    Pagi-pagi sekali Hanaya sudah bangun dari tidurnya. Untungnya, di rumah baru ini Gideon menyediakan kamar terpisah untuk Hanaya gunakan. Setidaknya, jarak dan privasi itu memberikan ruang bagi Hanaya untuk bernapas lega di tengah kecamuk pikirannya.Setelah pengakuan blak-blakan semalam mengenai perebutan hak waris dan kenyataan pahit bahwa Andre telah merebut segalanya, Hanaya mengira situasinya akan berubah drastis. Ia membayangkan kemarahan, kekecewaan, atau setidaknya perubahan sikap dingin dari seorang Gideon yang ambisinya gagal total.Namun, kenyataan yang ia temui pagi ini justru di luar nalar.Saat Hanaya melangkah turun ke lantai bawah dengan langkah pelan, aroma harum masakan langsung menyambutnya.Di dapur terbuka, Gideon berdiri mengenakan kemeja santai dengan lengan digulung, tampak sibuk menyiapkan sesuatu di dekat kompor. Pria itu bahkan sudah meletakkan segelas susu hangat dan mangkuk bubur bernutrisi di atas meja makan.Langkah Ha

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 105 Harga di Balik Pernikahan

    "Kamu memang beruntung, Hanaya" balas Gideon pelan, jemarinya naik mengelus puncak kepala sang istri dengan penuh kelembutan yang mematikan. "Dan aku tidak akan pernah membiarkan siapapun merenggut keberuntungan itu darimu."Hanaya terdiam.Ada sesuatu dalam kalimat terakhir Gideon yang membuat bulu kuduknya meremang.Bukan karena nada suaranya terdengar mengancam. Justru sebaliknya. Gideon mengucapkannya dengan begitu tenang, begitu lembut, seolah sedang menjanjikan sesuatu yang indah.Namun entah mengapa, Hanaya merasakan ada makna lain yang tersembunyi di balik kalimat tersebut.‘Tidak akan membiarkan siapa pun merenggut keberuntungan itu darimu.’Siapa pun?Hanaya menatap wajah Gideon dalam-dalam.Pria itu kini kembali sibuk memastikan piring makan malamnya tetap berada dalam jangkauan tangan Hanaya. Ia bahkan mengambil gelas susu hangat dan menyodorkannya dengan ekspresi tenang."Minum."Hanaya me

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 104 Keberuntungan atau kebuntungan?

    “Duduklah di sofa, Hanaya. Jangan terus berdiri, nanti kamu kelelahan” titah Gideon lembut namun mutlak.Hanaya tidak mengira jika Gideon jauh lebih baik dari perkiraannya. Pria itu menuntun Hanaya dengan sangat hati-hati menuju sofa empuk berwarna krem di tengah ruang tamu, mendudukkannya dengan gestur seolah Hanaya adalah barang porselen yang rapuh dan mudah pecah.Setelah memastikan istrinya duduk dengan nyaman, alih-alih duduk di samping Hanaya, pria itu justru melangkah mengambil beberapa kantong kertas dari meja depan dan memilih untuk bersimpuh lesehan di atas karpet beludru tepat di hadapan wanita itu.Hanaya menatap punggung tegap suaminya yang tengah membuka kemasan makanan dengan takjub sekaligus rasa bersalah yang kian menggunung di rongga dadanya.Gideon mengeluarkan satu per satu wadah makanan hangat dari restoran bintang lima yang terkenal dengan menu sehat dan kaya nutrisi. Ada sup kaldu ayam kampung bening dengan rempah piliha

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 103 Dua Pria, Satu Rahasia

    “Mawar hitam tidak pernah benar-benar mati, ia hanya menunggu waktu untuk kembali merangkul apa yang menjadi miliknya. Selamat atas pernikahan sementaramu, tupai nakal”Pesan berbahasa Inggris itu dibiarkan tanpa nama pengirim, namun makna tersirat di baliknya begitu telak menghujam dada Hanaya.Brug!Hanaya membuang buket bunga mawar hitam itu ke lantai, napasnya memburu dan dadanya naik-turun menahan amarah sekaligus rasa ngeri yang merayap di tengkuknya. Kartu ucapan tanpa nama itu terasa begitu nyata‘tupai nakal’Buku jari Hanaya memucat. Napasnya tercekat, berubah menjadi sesak yang teramat sangatHanaya langsung melompat berdiri, ia kembali mencengkeram buket mawar hitam itu dengan napas yang memburu dan sekujur tubuh yang gemetar hebat. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah keluar melewati ambang pintu utama."Keluarlah jika kamu ada disini Silas!!!" serunya dengan suara parau, melempar pandangan ke sisi

  • Tolong Lepaskan Aku Tuan Billionaire   Chap 102 Mawar Hitam yang Kembali

    Kata orang jangan hanya menilai seseorang dari rumor, kesan pertama, maupun penampilan luarnya. Mungkin Hanaya harus mulai mempercayai kalimat itu, karena apa yang ia saksikan dan rasakan sendiri di balik dinding kamar utama mansion Rarendra sama sekali tidak sejalan dengan rumor tentang Gideon Rarendra di luar sana.Gideon tidak menyeretnya ke dalam tahanan, tidak pula menghukumnya atas perlawanan sengit dan kata-kata penolakan yang ia muntahkan di teras tadi. Sebaliknya, pria itu membawa Hanaya kembali ke sebuah rumah di kawasan perumahan elite Jakarta.“Ini rumah pribadiku” ucap GideonHanaya berdiri mematung di tengah ruangan, manik matanya menyapu sekeliling. Tidak ada aura kelam, tidak ada tekanan aristokrat yang menyesakkan dada seperti di mansion utama keluarga Rarendra. Tempat ini begitu sunyi, bersih, dan privat, sebuah tempat perlindungan yang sengaja dibangun Gideon jauh dari jangkauan racun keluarganya."Kamu... benar-benar mening

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status