แชร์

Bab 3: Bukti di Balik Lensa

ผู้เขียน: Ainul Qodri
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-15 14:27:15

Angin siang mulai berhembus membawa debu jalanan, tapi tubuhku justru terasa dingin. Dengan langkah hati-hati bak seorang pencuri, aku menyeberangi jalanan beraspal rusak itu. Mataku waswas menatap ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada warga desa yang kebetulan lewat dan mengenaliku, meski kepalaku sudah tertutup rapat oleh helm hitam dan masker kain.

Halaman depan penginapan melati itu sepi. Hanya ada pria paruh baya yang tertidur di pos satpam dengan radio kecil yang menyiarkan lagu dangdut. Aku mengendap-endap melewati pos tersebut, menelusuri lorong sempit di samping bangunan utama yang mengarah langsung ke area parkir belakang.

Bau lembap yang bercampur dengan aroma pembersih lantai murahan langsung menyengat hidungku. Lorong ini suram, tidak banyak cahaya matahari yang masuk. Jantungku berdebar sangat kencang, rasanya seperti mau melompat keluar dari dada. Seumur hidup, aku tidak pernah melakukan hal senekat ini. Tapi bayangan suamiku yang tersenyum lebar menyambut istri pejabat itu membuat rasa takutku terkalahkan oleh rasa sakit hati.

Aku bersembunyi di balik tumpukan galon air kosong di dekat tembok pembatas. Dari posisiku sekarang, aku bisa melihat dengan jelas area parkir khusus di bagian belakang. Area itu tertutup kanopi gelap dan dikelilingi tembok tinggi, benar-benar tempat yang dirancang untuk menyembunyikan perselingkuhan.

Di sudut paling ujung, mobil SUV hitam mengkilap milik keluarga Pak Pamong itu baru saja mematikan mesinnya.

Keluarkan ponselku perlahan. Tanganku masih sedikit gemetar saat membuka aplikasi kamera dan mengubahnya ke mode perekam video. Aku menekan tombol merah. Rekaman pun berjalan. Kuarahkan lensa kameraku tepat ke arah pintu mobil mewah tersebut.

Klik. Pintu mobil bagian pengemudi terbuka.

Seorang wanita turun dari sana. Benar saja, itu Bu Rina. Ia memakai kacamata hitam besar yang menutupi separuh wajahnya, dipadukan dengan gaun selutut berwarna merah marun yang membentuk lekuk tubuhnya. Penampilannya sangat berkelas, sangat kontras dengan lingkungan penginapan kumuh ini. Namun di mataku saat ini, wanita itu terlihat jauh lebih rendah dan murahan daripada sampah di selokan.

Tak lama kemudian, dari pintu sebelah kiri, suamiku turun. Bimo terlihat gugup namun matanya memancarkan nafsu yang tidak bisa disembunyikan. Laki-laki yang tadi pagi pamit kepadaku untuk membeli sparepart motor itu, kini berdiri patuh di samping istri orang.

Bu Rina menoleh ke kanan dan kiri sejenak. Setelah merasa aman, wanita itu tiba-tiba mengulurkan tangannya, mengelus rahang Bimo dengan mesra. Bimo memejamkan mata sesaat, menikmati sentuhan haram itu, lalu meraih tangan Rina dan mengecupnya.

Di balik tempat persembunyianku, gigiku gemeretak menahan amarah. Layar ponselku menangkap semua adegan menjijikkan itu dengan sangat jelas. Air mataku menetes membasahi bagian dalam masker kain yang kupakai.

Kamu tega, Mas. Demi perempuan ini, kamu membohongiku mentah-mentah, ucapku berulang kali dalam hati.

Mereka berdua mulai berjalan berdampingan menuju deretan kamar VIP yang pintunya langsung menghadap ke parkiran belakang. Langkah mereka lambat, dan sayup-sayup, suara percakapan mereka terbawa angin hingga ke telingaku.

"Aman kan, Mas?" Suara manja Bu Rina terdengar jelas. Sangat berbeda dengan suaranya yang berwibawa saat memberi sambutan di rapat desa. "Istrimu nggak curiga?"

"Aman, Bu. Santi kebetulan lagi banyak pesanan jahitan hari ini. Dia nggak akan ke mana-mana," jawab Bimo dengan nada bangga. Bangga karena berhasil membodohi istrinya sendiri.

Bu Rina tertawa kecil. Tawa yang membuat bulu kudukku berdiri karena jijik. "Jangan panggil 'Bu' kalau lagi berdua begini. Panggil sayang. Kamu ini... padahal cuma montir, tapi tenagamu jauh lebih kuat dari yang kemarin."

Langkah Bimo sempat terhenti sejenak. Aku bisa melihat dahi suamiku berkerut dari layar ponselku. "Yang kemarin? Maksudnya ada laki-laki lain selain saya?" tanyanya dengan nada sedikit cemburu.

Bu Rina menepuk dada Bimo pelan sambil tersenyum menggoda. "Jangan banyak tanya. Tugasmu cuma memuaskanku. Kalau pelayananku bagus, bulan depan modal untuk besarin bengkelmu aku tambahin. Sekarang, buka pintunya. Panas di luar."

Bimo menelan ludah, seolah membuang jauh-jauh rasa cemburunya demi uang yang dijanjikan. Ia segera mengeluarkan kunci kamar bernomor 104, lalu membukakan pintu untuk Nyonya Pamong tersebut. Keduanya masuk ke dalam, dan pintu ditutup rapat dari dalam.

Klik.

Aku menghentikan rekaman videoku. Durasi dua menit itu sudah cukup membuktikan bahwa mereka bukan sedang rapat urusan desa.

Aku bersandar pada dinding yang dingin, membiarkan tubuhku merosot perlahan hingga berjongkok di lantai kotor. Lututku lemas. Tangisku akhirnya pecah, meski kutahan sekuat tenaga agar suaranya tidak terdengar keluar. Dadaku terasa sangat sesak hingga aku harus memukul-mukulnya pelan untuk bisa bernapas.

Terjawab sudah semuanya. Bimo bukan hanya berselingkuh, ia rela merendahkan harga dirinya menjadi 'peliharaan' istri pejabat hanya demi uang tambahan. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ucapan Bu Rina tadi... 'lebih kuat dari yang kemarin'.

Itu artinya, Bimo bukanlah satu-satunya laki-laki yang menjadi korban rayuan wanita itu! Rina pasti punya banyak pria simpanan di desa kami.

"Hei! Ngapain kamu di situ?!"

Sebuah suara serak tiba-tiba menggelegar dari ujung lorong. Aku tersentak kaget. Seorang petugas kebersihan berseragam biru lusuh sedang menunjuk ke arahku sambil membawa sapu lidi. Matanya melotot curiga.

Kepanikan langsung menyergapku. Jika aku tertangkap basah di sini, apalagi jika Rina dan Bimo sampai keluar kamar untuk melihat keributan, rencanaku akan hancur berantakan malam ini juga!

Tanpa berpikir panjang, aku langsung berdiri. Kusimpan ponselku ke dalam saku jaket dalam-dalam, lalu membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menuju jalan keluar.

"Heh! Tunggu! Kamu mau maling motor ya?!" teriak petugas kebersihan itu, terdengar langkah kakinya berusaha mengejarku.

Aku tidak menoleh. Aku berlari melewati lorong suram itu, mengabaikan satpam di pos depan yang baru saja terbangun karena teriakan temannya. Aku langsung melompat ke atas motor maticku, memasukkan kunci dengan tangan yang masih gemetar hebat, dan menghidupkan mesin.

Dalam hitungan detik, aku memacu motorku membelah jalanan kecamatan, meninggalkan penginapan kotor itu jauh di belakang. Angin kencang menerpa tubuhku, mengeringkan sisa air mata di pipiku.

Setelah merasa cukup jauh dan aman, aku menepikan motorku di bawah pohon rindang di pinggir sawah desa tetangga. Napasku masih terengah-engah. Kupegang dada kiriku yang berdetak tidak karuan.

Aku berhasil. Aku punya videonya.

Tapi saat aku membuka kembali video di galeri ponselku, kesadaran baru menghantamku dengan keras.

Apakah video ini cukup untuk menghancurkan Rina?

Jika aku menyebarkan video ini sekarang, Rina adalah istri orang berkuasa. Pak Ario bisa saja membayar polisi untuk menuduhku mencemarkan nama baik. Mereka bisa memutarbalikkan fakta, mengatakan video itu editan, atau lebih parahnya, suamiku justru yang akan dijebloskan ke penjara dengan tuduhan pemerkosaan atau pemerasan. Warga desa yang bodoh pasti akan lebih percaya pada keluarga Pamong yang kaya raya daripada seorang istri montir miskin sepertiku.

Belum lagi ancaman terhadap keluargaku. Rina bisa membuat hidupku di desa Sukamaju seperti di neraka.

Tidak. Aku menggelengkan kepala kuat-kuat. Balas dendam ini tidak boleh dilakukan dengan ceroboh. Aku tidak bisa melempar batu kecil ke arah tembok raksasa. Aku harus mencari bom yang bisa meruntuhkan tembok itu hingga berkeping-keping.

Teringat kembali ucapan Rina di video tadi tentang laki-laki 'yang kemarin'.

Senyum sinis perlahan terbentuk di bibirku di balik masker. Jika Bimo bukan satu-satunya, berarti ada korban lain. Ada istri-istri lain di luar sana yang mungkin bernasib sama denganku, atau mungkin masih belum sadar bahwa suami mereka menjadi mainan Bu Pamong.

Jika aku bisa menemukan siapa saja laki-laki itu, aku bisa mengumpulkan para istri yang tersakiti. Satu orang warga miskin mungkin bisa dibungkam oleh kekuasaan Pak Pamong, tapi bagaimana jika sepuluh warga yang mengamuk bersama-sama? Pak Pamong tidak akan bisa menutupi aib istrinya lagi.

Mulai detik ini, aku bukan lagi sekadar istri yang menangisi nasib. Aku akan mencari tahu siapa saja laki-laki hidung belang yang masuk ke dalam daftar koleksi nyonya Pamong. Dan aku tahu persis ke mana aku harus pergi besok pagi untuk mulai memancing informasi.

Pasar desa Sukamaju. Tempat di mana rahasia tergelap sekalipun bisa dibeli dengan harga sekilo cabai merah.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 69: Kehancuran Menteri Haryo

    Kamis pagi, tepat pada pukul sepuluh, aku sudah duduk di dalam sebuah ruang tamu pribadi atau *VIP room* di sebuah restoran mewah di pusat kota Jakarta. Ruangan ini tertutup rapat dan memiliki penjagaan ketat di luar pintu masuk. Tidak ada orang luar yang bisa mendengar percakapan di dalam ruangan ini. Aku memakai gaun berlengan panjang berwarna hitam pekat, tanpa perhiasan apa pun. Riasan wajahku sengaja kubuat sedikit pucat. Aku ingin terlihat sebagai wanita yang sedang bersedih dan membawa kabar buruk. Pintu ruangan terbuka. Nyonya Ratna berjalan masuk. Istri Menteri Perdagangan itu memakai gaun berwarna kuning cerah dan membawa tas bermerek mahal. Wajahnya terlihat sangat gembira. Dia langsung duduk di kursi tepat di depanku. "Selamat pagi, Santi," sapa Nyonya Ratna dengan suara yang keras dan penuh rasa bangga. "Aku sangat senang kamu mengundangku minum teh hari ini. Uang sumbangan satu miliar rupiah darimu kemarin sudah masuk ke dalam rekening yayasan amalku. Kamu benar-benar

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 68: Rekaman di Kamar Hotel

    Rabu siang, pukul satu, aku tiba di sebuah hotel mewah berbintang lima di pusat kota Jakarta. Hari ini, Nyonya Ratna, istri dari Menteri Perdagangan Haryo, mengadakan acara perkumpulan dan makan siang bersama puluhan istri pejabat dan pengusaha wanita. Aku memakai gaun panjang berwarna putih polos dan perhiasan berlian berukuran kecil. Aku sengaja memilih gaya pakaian yang elegan namun tidak terlihat mencolok. Aku ingin Nyonya Ratna melihatku sebagai wanita yang sopan dan tidak berniat menyaingi kekuasaannya. Aku berjalan masuk ke dalam ruang aula hotel yang disewa khusus untuk acara tersebut. Banyak meja bundar yang sudah diisi oleh para wanita kaya. Aku melihat Nyonya Ratna sedang duduk di meja paling depan. Nyonya Ratna memakai gaun berwarna merah terang dan perhiasan emas berukuran besar di lehernya. Dia sedang berbicara dengan nada suara yang keras dan tertawa bangga. Aku meminta pelayan hotel untuk mengantarku ke meja Nyonya Ratna. Saat aku sampai di depan mejanya, aku memberi

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 67: Target Baru di Ibu Kota

    Sinar matahari pagi menyinari halaman rumah Bapak Sudirman, Kepala Desa Sukamaju. Waktu menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku duduk di kursi kayu ruang makan, menikmati sarapan pagi berupa nasi goreng dan telur dadar yang dimasak oleh istri kepala desa. Aku memakai gaun panjang berwarna biru muda yang sangat sopan. Rambutku diikat rapi ke belakang. Di sebelah kiriku, Gala duduk dengan tenang. Suamiku memakai kaus lengan pendek berwarna abu-abu gelap yang memperlihatkan otot lengannya yang besar. Bapak Sudirman duduk di seberang meja kami. Dia terus menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat kepadaku. "Kami sangat berterima kasih atas bantuan uang sepuluh miliar rupiah dari Anda, Nyonya Santi," ucap Bapak Sudirman dengan suara yang tulus. "Pekerja bangunan akan mulai memperbaiki atap masjid desa siang ini juga. Dokter dari kota juga sudah saya hubungi untuk mulai bekerja di klinik kesehatan gratis besok lari." Aku meletakkan sendok makanku di atas piring. Aku memberikan senyum lembut ya

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 66: Uang dan Ancaman di Hutan Jati

    Keesokan harinya, tepat pada pukul sembilan pagi, lima buah mobil mewah berwarna hitam masuk secara beriringan melintasi jalan tanah utama Desa Sukamaju. Mobil yang aku tumpangi bersama Gala berada di urutan kedua. Toni bertugas mengemudikan mobil kami di bagian depan. Tiga mobil van berukuran besar melaju di belakang mobil kami. Mobil-mobil van tersebut membawa uang tunai, ratusan paket bahan makanan pokok, serta beberapa anggota keamanan pribadi kami yang memakai pakaian biasa. Perjalanan dari Jakarta menuju Desa Sukamaju memakan waktu beberapa jam melalui jalan tol antarkota. Saat mobil kami memasuki batas desa, aku melihat banyak perubahan. Jalanan desa masih terbuat dari tanah yang dikeraskan, dan rumah-rumah warga sebagian besar masih terbuat dari papan kayu dan anyaman bambu. Kondisi ekonomi desa ini tidak banyak berubah sejak aku pergi meninggalkan tempat ini beberapa tahun yang lalu. Ratusan warga desa sudah berkumpul dan berdiri di halaman balai desa. Kepala Desa Sukamaju

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 65: Ancaman di Sukamaju

    Sinar matahari pagi masuk menembus kaca jendela besar di kamar tidur utama rumah mewah kami di Jakarta. Waktu menunjukkan pukul delapan pagi. Malam sebelumnya, aku dan suamiku, Gala, berhasil memanipulasi Jenderal Baskoro di acara pesta amal. Kami berhasil membuat jenderal polisi bintang tiga itu percaya bahwa kami adalah warga negara yang bersih dari kejahatan. Aku duduk di kursi meja makan di lantai bawah. Aku memakai pakaian santai berupa kemeja katun berwarna putih dan celana pendek selutut. Gala duduk di seberang meja. Dia tidak memakai baju atasan. Otot di dada dan lengannya terlihat jelas. Dia sedang meminum kopi hitam dari sebuah cangkir putih. Suasana pagi ini terasa sangat tenang, tetapi di dalam dunia kejahatan tingkat tinggi yang kami jalani, ketenangan biasanya adalah tanda bahaya yang sedang mendekat. Pintu ruang makan terbuka. Toni, kepala keamanan dan teknologi perusahaanku, berjalan masuk dengan langkah yang cepat. Wajah Toni terlihat sangat serius. Dia membawa sebu

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 64: Panggung Sandiwara Jakarta

    Satu bulan telah berlalu sejak pembantaian di rumah Viktor di negara Swiss. Aku dan suamiku, Gala, telah kembali ke kota Jakarta dengan selamat. Tidak ada satu pun polisi internasional yang mencari atau mengejar kami. Toni, kepala keamanan kami, telah mengatur penerbangan pulang dengan sangat rapi dan tertutup, sehingga nama kami tidak tercatat dalam daftar penumpang maskapai penerbangan mana pun. Tidak ada rekam jejak digital yang menghubungkan kami dengan kejadian malam berdarah itu. Uang tunai sebesar empat triliun rupiah yang kami curi dari rekening Viktor sudah berhasil kami pindahkan secara total. Uang tersebut masuk ke dalam sistem keuangan perusahaanku, PT. Santi Abadi Sejahtera. Aku mencuci uang kotor itu dengan cara menggunakan uang tersebut untuk membeli dua buah pelabuhan swasta berukuran sedang di wilayah pesisir utara pulau Jawa. Selain itu, aku juga membeli sepuluh kapal kargo pengangkut barang baru yang berukuran raksasa. Semua dokumen pembelian, surat hak milik, dan

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 31: Sang Pemangsa di Balik Bayangan

    Fajar merekah di Desa Sukamaju dengan warna langit kelabu, seolah alam tahu bahwa malam tadi ada iblis yang baru saja ditelanjangi. Suara sirene mobil patroli polisi dari kepolisian resor kabupaten memecah udara pagi yang biasanya hanya diisi kokok ayam. Dua unit mobil polisi dengan lampu rotator

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 6: Kesepakatan Dua Korban

    Pagi harinya, aku bangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang. Semalam aku tidur sangat nyenyak setelah mendapatkan rekaman suara Bu Rina di kebun pisang. Rekaman itu adalah senjata pertamaku. Seperti biasa, aku menyiapkan sarapan untuk Bimo. Suamiku itu makan dengan lahap, sama sekali tidak me

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 5: Saksi Mata di Balik Gelap

    Tiga hari berlalu sejak aku mendengar gosip di pasar pagi itu. Selama tiga hari itu pula, aku membagi waktuku untuk mengurus rumah, pura-pura melayani Bimo dengan senyum palsu, dan diam-diam memantau rumah Kang Bagong yang hanya berjarak dua gang dari rumahku.Malam ini, Bimo pulang ke rumah dalam

  • Topeng Sempurna Istri Pamong   Bab 4: Rahasia di Lapak Sayur

    Malam harinya, setelah kejadian di penginapan itu, aku pulang ke rumah lebih dulu. Aku segera mandi, mencuci wajahku yang sembap, dan bersiap menyambut suamiku seolah tidak terjadi apa-apa.Sekitar jam tujuh malam, Bimo pulang. Wajahnya terlihat sangat cerah. Ia bahkan bersiul kecil saat memarkir m

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status