Malam harinya, setelah kejadian di penginapan itu, aku pulang ke rumah lebih dulu. Aku segera mandi, mencuci wajahku yang sembap, dan bersiap menyambut suamiku seolah tidak terjadi apa-apa.Sekitar jam tujuh malam, Bimo pulang. Wajahnya terlihat sangat cerah. Ia bahkan bersiul kecil saat memarkir motornya di depan rumah. Melihat wajahnya yang tanpa dosa itu, perutku rasanya mual. Namun, aku memaksakan diri untuk tersenyum dan membuatkannya teh hangat, persis seperti tugas seorang istri yang baik."Gimana tadi ketemu bos toko onderdilnya, Mas? Lancar?" tanyaku sambil meletakkan gelas teh di meja ruang tamu.Bimo mengangguk semangat. Ia menenggak tehnya lalu menatapku dengan mata berbinar kebohongan. "Lancar banget, Dek. Mas dapat harga murah. Bahkan Mas dikasih uang jalan sama bosnya karena mau jadi pelanggan tetap."Bimo merogoh saku celananya dan mengeluarkan uang tiga ratus ribu rupiah. Ia meletakkan uang itu di atas meja dan mendorongnya ke arahku. "Ini buat tambahan uang belanja k
Zuletzt aktualisiert : 2026-03-15 Mehr lesen