LOGINAurora I am the princess in the tower, the Alpha's daughter. Locked away by my father, Oliver Crane. My mother died when I was a child. Today is my eighteen birthday. My father has a party planned. This party isn't about me. It's about my father's power, wealth, and will include guests from our rival pack, the Hawthornes. Little did I know this was my wedding day, I was marrying a monster, and I would find my saving grace, my Mate, on the run. SawyerI'm the second son: the beta, the nobody of the Hawthorne family pack. I've lied, cheated, killed, and now stolen. I've been Aurora Crane's shadow for years. She is beautiful, innocent, and I'm in love with her. For her birthday, she has no idea what is in store. Her father has sold her to mine. She's marrying my brother. He's evil and cruel. But no one cares how he breaks women because he's the next Alpha. He will destroy her. I can't let that happen, no matter what the Alpha commands.*Warning & Triggers* Mature Themes including Detailed Sexual Content, Violence, and Attempted Sexual Assault
View More"Maaf, Anda tidak lolos. Silahkan keluar."
Sebuah kalimat yang mulai akrab dengan Kalla, tapi ternyata masih saja terdengar menyakitkan. Gadis 23 tahun itu membuang napas kasar, sambil melempar tatapan sebal sebelum berjalan keluar dari ruangan interview dengan perasaan luar biasa dongkol.
Kalla menarik napas panjang dan menguatkan diri sekali lagi ketika ingat ucapan CEO perusahaan yang baru saja meng-interview-nya. Begitu blak-blakan dan menyentil hingga dia tidak bisa lagi menahan emosi.
"Memang dia pikir dirinya siapa? Jangan mentang-mentang CEO jadi seenaknya ngatain orang. Hah!"
Gadis itu melamar sebagai sekretaris CEO, menyesuaikan bidang perkuliahannya yang lulus satu tahun lalu. Baginya bisa sampai ke tahap interview adalah hal yang membanggakan di perusahaan besar sekelas Ganesha Group.
Terlebih ketika melihat tampang CEO-nya secara langsung begitu masuk ruang interview. Dia jadi tahu definisi tampan yang sesungguhnya. Nyaris semua kesempurnaan ada pada pria dengan potongan rambut curly back side, tapi agak panjang itu.
Kalla tidak menyangka jika CEO Ganesha Group jenis CEO wanna be yang sering dia lihat di dracin-dracin pendek kesukaannya. Seketika kepalanya berimajinasi liar, mengundang kikikan kecil tak tahu malu.
Mata Kalla sampai tak berkedip saat melihat pria itu melempar senyum tipis padanya. Dadanya pun tanpa bisa dicegah langsung berdebar kencang. Bahkan dia sempat terserang grogi ketika dua interviewer lain menanyainya, sebelum akhirnya CEO tampan itu mengeluarkan suara yang mematikan.
"Saya tidak butuh sekretaris fresh graduated non experience. Yang bahkan pengalaman berorganisasi pun tidak ada. Saya butuh fresh graduated cerdas dan cekatan, bukan fresh graduated yang berotak kosong dan manja seperti saudari."
Padat, jelas, dan nyelekit.
Pangkal alis Kalla kontan menyatu mendengar ucapan bernada sinis itu. Senyum yang dia kembangkan sejak masuk ruang interview perlahan raib.
Dia tidak percaya ada manusia bertampang malaikat tapi mulutnya pedas seperti setan. Otak kosong dan manja, pria itu bilang? Hah!
Darimana pria itu bisa menyimpulkan seperti itu hanya dengan interview singkat begini?
Selama ikut beberapa wawancara kerja, baru kali ini Kalla mendapat hinaan secara langsung seperti ini. Hatinya jelas tidak terima.
Persetan dengan muka tampan dan pekerjaan! Dia mendongak, menatap lurus wajah malaikat iblis itu. Lalu, ucapan yang seharusnya tidak terlontar pun meluncur dari mulutnya.
"Mungkin saya berotak kosong, tapi setidaknya saya punya attitude dan manner yang bahkan seorang CEO seperti Anda tidak punya."
Kalla puas ketika melihat wajah tampan itu berubah kecut. Pria itu pasti tidak menyangka bahwa gadis cukup punya nyali untuk menyerang balik.
"Saya memang butuh kerjaan. Tapi sepertinya saya terlalu berharga untuk menjadi sekretaris CEO akhlakless seperti Anda," lanjut Kalla lantang tanpa peduli resiko yang akan dia dapat. Toh sudah pasti dirinya tidak lolos.
Wajah para interviewer di depannya terlihat syok. Sementara CEO arogan itu tampak merah padam. Lantas kalimat penolakan atas dirinya pun meluncur.
It's OK! Everything's gonna be OK!
Kalla menarik napas panjang, lalu berjalan dengan langkah tegar keluar dari gedung jangkung itu. Dia tidak mau terlihat lemah dan ingin mereka tahu bahwa pekerjaan bukan hanya ada di Ganesha.
Namun ketika jaraknya makin jauh dari gedung itu, ketegaran itu pun perlahan menghilang. Wajah Kalla berubah lusuh dan kehilangan semangat. Dia berjalan dengan bahu meluruh. Sejak hari ini, total sudah ada 20 perusahaan—dari yang bergengsi hingga biasa saja—menolak dirinya.
Sampai Kalla bingung sendiri, sebenarnya apa yang ada pada dirinya? Kenapa bisa memiliki nasib sesial ini?
Perlukah dia mandi kembang tujuh rupa untuk buang sial? Sejak dirinya lulus setahun lalu belum ada satu pun lamarannya yang sukses menembus salah satu perusahaan. Mentok sampai interview saja.
Kalla makin nelangsa saat teringat ibunya. Ibu punya harapan besar padanya, tapi dia selalu mengecewakan. Kalla malu di usia dewasa begini masih saja menjadi beban keluarga.
Masih berada di area yang dikelilingi gedung apartemen dan perkantoran, Kalla menyeret langkah menuju sebuah taman bermain anak yang jadi salah satu fasilitas dari kawasan elit kota ini.
Taman itu sedang sepi dan dia memutuskan duduk di salah satu ayunan yang ada di sana.
Sambil memikirkan langkah selanjutnya, dia mengemut lolipop cokelat yang senantiasa ada di dalam tas.
Kepalanya dia sandarkan di tali ayunan seraya bergoyang pelan. Meski masih ada sedikit tersisa rasa kesal pada CEO sialan itu, hidup tetap harus berjalan kan?
PLUK!
Sebuah bola yang datang entah dari mana mengenai kakinya lalu berhenti tepat di bawahnya. Kalla berhenti berayun dan mengambil bola warna-warni itu. Tatapnya lantas bergulir guna mencari pemilik bola tersebut. Dan tidak jauh dari tempatnya dia melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar tiga atau empat tahunan tengah memandanginya.
Anak laki-laki bermata bulat dengan pipi kemerahan yang menggemaskan. Kulitnya putih dan rambutnya tebal. Baru seupil saja garis ketampanannya sudah kelihatan. Dia benar-benar lucu.
"Halo," sapa Kalla memasang wajah ceria. "Ini bola kamu?" tanyanya tersenyum.
Anak itu terus memandanginya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
Kalla mengacungkan bola itu padanya. "Ini ambil," katanya ramah berusaha tidak membuat anak itu takut. Karena sepertinya anak itu sedang bersikap waspada.
Melihat tidak ada reaksi dari anak tersebut, Kalla celingukan, mencari keberadaan seseorang. Bisa saja anak itu datang bersama orang tuanya. Namun, matanya yang mengedar tidak menemukan siapa pun selain dirinya dan anak itu.
Kalla kembali tersenyum. "Kamu sendiri?"
Anak itu kembali mengangguk tapi masih berdiri di tempat sambil memandangi Kalla.
"Mama sama papa kamu mana?"
Kali ini anak itu menggeleng. Sama sekali tidak mengeluarkan suara. Bikin Kalla bingung. Wanita 23 tahun itu berinisiatif mengambil lolipop di tasnya. Lalu mengacungkan benda itu.
"Kamu mau ini?"
Kini tatapan si anak beralih ke lolipop tersebut. Menatap beberapa saat lalu mengangguk malu-malu. Dan Foilaah! Tanpa diperintah anak itu mendekat dengan sendirinya.
Dia mengambil lolipop dari tangan Kalla. "Terima kasih, Onti Cantik," katanya dengan suara yang sangat sopan.
Tak pelak hal itu membuat senyum Kalla mengembang cerah. Anak itu menyebutnya cantik! Anak kecil selalu berkata jujur kan? Mendadak mood Kalla naik seketika hanya mendengar pujian tulus dan ucapan terima kasih dari anak menggemaskan itu.
"Jangan panggil Onti dong. Kakak aja, ya," ucapnya terdengar tak tahu malu. Tapi anak itu mengangguk dan menurut.
"Kakak Cantik."
Ah, dipuji bocil saja Kalla sudah bahagia. Dia lantas membantu anak itu membuka bungkus lolipop. Dan keduanya berakhir duduk bersampingan di atas ayunan.
"Nama kamu siapa?" tanya Kalla saat melihat wajah anak itu yang berubah ceria.
"Kael."
Kalla mengulum senyum. "Nama kita hampir mirip."
Anak itu menoleh, mata bulatnya berbinar indah. "Nama kakak siapa?"
"Namaku Kalla. Kael dan Kalla, mirip kan?"
Kael mengangguk, lalu kembali mengemut lolipopnya. Sepertinya dia bahagia sekali makan loli, seperti baru pertama kali makan.
"Kael, kamu ke sini sendiri?" Saat anak itu mengangguk, Kalla bertanya lagi. "Papa mama kamu mana?"
"Papa kerja, Mama nggak tau."
'Papa kerja' bisa Kalla pahami, tapi kalau 'mama nggak tau' dia kurang paham maksudnya.
"Rumah kamu di mana?" tanya Kalla lagi. Orang tuanya cukup ceroboh juga membiarkan anak sekecil Kael berkeliaran sendirian.
Tanpa Kalla duga, Kael menunjuk salah gedung tinggi yang ada di kawasan itu. Peak Apartemen?!
Wow, ternyata anak itu putra orang tajir. Bisa-bisanya anak balita sultan berkeliaran sendirian di sini tanpa pengawasan. Bagaimana
kalau ada yang menculik? Orang tuanya benar-benar teledor.
"Kakak Cantik, Mau enggak jadi mamaku?"
Eh?!
Aurora Sawyer was silent as he kept his eyes on me. I swear I could hear him in my mind. It was nothing but affirmations of his love and praise. He also cursed himself for being useless. He hated feeling powerless, and it was a new sensation for him. Me, I’d spent most of my life in fear and taking orders. I put on a brave face as Archer took me into the room. I couldn’t stop the shiver of fear. My body was screaming for the man on the other side of the door and was repulsed at the one standing in front of me. “Alright, Wife, let’s get this taken care of.” “Aurora.” “What did you say?” his eyes went cold. &nbs
Sawyer Winnowing had never been that instinctual. I was surprised. I only wished I could take us far away. I was trying to calculate where we could go and how far I could carry her in the back of my mind. At most, if I could get us out of the hotel and into the truck, I stashed by the highway, but she’d have to take over. I don’t know how long I’d be out carrying her with me. It seems we both can do a little faerie magic, but it shouldn’t be possible. I dressed in the shadows as I stood in the entryway outside the girls’ new room. I was solid by the time my father and brother came walking by. Not even stopping to talk, father yelled, “Is it true?” before they marched into Aurora’s room.&n
Aurora Sawyer stared at me like he wasn’t sure if he should fall at my feet and worship me or have me committed. “I need to be flustered and delirious. And that’s exactly what you made me feel. This time, you bite me. You claim my flesh and let me feel the burn.” Holding up the white dress, I smiled. “This ridiculous thing covers every inch of my skin. No one will see the mark until Archer pries this dress off me. Then I’m going to fight him. He won’t expect it.” “He gets sloppy when he rages. I hate putting you in this position. When he smells your arousal, he will barely be able to hold it together.” “It’s going to happen whether we like it or not, please, give me what I need. They will expect your scent around me since you’ve been my guard tonight, so they won’t pay close attention as to where it is.” I gave a wicked smile that I didn’t know I was capable of. “I can’t deny you, my princess.” “Thank the goddess.” In a blink, h
Aurora“Those bastards plan to marry you off, have you and Archer consummate the union, and then let your wolf run in the hope of a quicker conception. They have the whole thing planned down to the second. Unbelievable.” Sawyer was barely containing his wolf.“I don’t want his child. I don’t want him.” I gave in to tears as I threw my arms around him. My friends rushed to where we were.“Oh, my,” I heard one of them squeak out. “Aurora, what are you doing?” Mona seemed horrified. We were looking around, “I’m don’t even want to know how this happened, but we need to get out of sight. I’m sure someone will come to check on us so quickly to the rooms.”“This is a bit of a complication,” Mrs. Drake said with a tiny smile. “Hurry up, children.”I couldn’t walk. Sawyer picked me up and carried me to the bridal suite where a high collare
AuroraWhen I arrived home, I had forty-five minutes to get dressed. Melly met me at the door, “It took me nearly twenty minutes to undo that dress. Better hurry if we are going to get it on in time.” She looked unhappy, but I don’t believe it was with me.We rushe
Aurora When I walked downstairs, I was greeted by my father still at the great dining room table finishing his breakfast. He had a big smile and seemed too happy. Everything felt wrong.
Sawyer It was nearly eight when Aurora and her friends arrived, and I saw them through the upstairs window. Despite her smile, tension radiated through her body. She knew. My family came an hour ago. We c
Aurora I was surprised when I made it down to the entry to see my father, my friends, and Mrs. Drake standing next to one of two limos. All but my father looked pale and sick. He smiled brightly at me.






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore