ログイン18 and still and still wolfless, Tarra Voss never expects to meet her mate fated mate in the first place let alone walk away with a rejection. With nothing left tying her to her pack or family, she decides to run away and forge a path of her own making, praying all the while the goddess isnt cruel enough to give her another mate if she won't even give her a wolf.
もっと見る“Gimana, Abra, enak nggak sup iganya?” suara Riani mengisi ruang makan.
Serayu melirik suaminya yang menjawab singkat, “Enak,” sambil tetap makan. Senyum puas muncul di wajah sang mertua, senyum yang sudah sering Serayu lihat, tapi tak pernah terasa hangat. Abra merangkul bahu Serayu dengan santai. Sentuhan itu membuatnya kaku, bukan karena tidak nyaman, tapi karena ia tahu mata Riani sudah memperhatikan. Dan benar saja, tatapan tajam itu langsung menusuk, seolah menilai bahwa Serayu tak pantas berada di sana. “Ini masakan Aileen,” ucap Riani tiba-tiba. Nama itu menghantam Serayu lebih kuat daripada nada suara yang mengatakannya. Abra tersedak spontan dan saat Serayu hendak memberinya air, Riani menepis tangannya seolah ia hanya gangguan. Sang mertua yang kemudian menyodorkan gelas pada Abra, membuat batas antara mereka semakin jelas, bahwa Serayu tetap orang luar. “Aileen mampir tadi. Sekarang dia pindah tugas ke sini,” lanjut Riani. “Tambah cantik, pintar, karirnya bagus… harusnya dulu kamu sabar nunggu dia S2.” Ucapan itu menusuk, bukan karena Serayu cemburu, tetapi karena ia sudah terlalu sering dibandingkan dengan perempuan yang bahkan belum pernah ia temui. Abra menahan ibunya dengan satu kata, “Mama.” Saat itu juga Serayu tahu makan siang itu sudah berakhir untuknya. “Kenapa, Abra? Nyatanya, sampai detik ini Mama memang tidak pernah merestui pernikahan kalian,” ujar Riani tanpa ragu. Ia menatap Serayu dengan tajam, seperti bagaimana ia selalu menatap menantunya itu. “Ma, sudahlah.” Abra mulai kesal, tapi masih menahan diri. Sementara Serayu, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tahu, ia hanyalah koas dari keluarga sederhana yang masuk rumah sakit itu lewat beasiswa. Hidupnya berubah sejak kecelakaan kecil dengan mobil milik Abra, dokter bedah muda yang arogan dan pewaris rumah sakit. Berniat bertanggung jawab, Serayu menyadari jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperbaiki mobil itu cukup besar. Hingga akhirnya, tawaran pernikahan kontrak muncul dari Abra sebagai jalan keluar. Serayu sudah menolaknya, tapi keadaan keluarganya yang serba kekurangan memaksanya menerima. Tak ada yang tahu perjanjian itu, termasuk Riani, yang sejak awal menolaknya. Serayu terlalu “biasa” untuk keluarga besar itu. Apa pun yang Serayu lakukan selalu tampak salah di mata Riani. Bahkan hal sekecil menaruh gelas pun bisa menjadi alasan untuk merendahkannya. “Abra, sampai kapan kamu mau dibutakan oleh istri kecilmu itu? Dia ini hanya mengincar hartamu, memanfaatkan popularitasmu di dunia kedokteran!” seru Riani tak tahan lagi. Tatapannya kembali terarah pada Serayu. “Kamu ini dari keluarga miskin, modal beasiswa, harusnya kamu sadar diri.” Serayu kembali menunduk, tak tahu harus merespon dengan kalimat apa. Ia tahu, pernikahan ini hanya di atas kertas, tapi apa yang ibu mertuanya katakan tentang latar belakang keluarganya benar-benar meluikai hatinya. “Ibu Riani, saya memang dari keluarga miskin, tapi saya nggak pernah punya niatan buruk pada Mas Abra dan keluarga,” lirih Serayu berusaha membela diri. Awalnya, ketika menerima perlakuan buruk dari sang ibu mertua, Serayu tak ingin ambil pusing. Ia hanya perlu bertahan hingga kontrak pernikahannya dengan Abra berakhir. Namun lama-kelamaan, ibu mertuanya semakin keterlaluan. “Di dunia ini tidak ada maling yang mengaku, Serayu! Saya nggak tahu, apa yang sudah kamu perbuat sampai bisa mencuci otak anak saya dan berani melawan ibunya sendiri,” cibir Riani tanpa perasaan. Serayu meremas ujung bajunya di bawah meja. Tatapannya terarah ke arah Riani dengan penuh rasa tidak terima. Abra yang melihat ekspresi Serayu langsung mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan istrinya di bawah meja. Seolah memberi instruksi untuk tidak lagi membalas ucapan ibunya agar suasana tidak semakin keruh. “Sejak awal semua sudah berjalan lancar. Abra hanya tinggal menunggu waktu untuk menikah dengan Aileen, tapi tiba-tiba kamu muncul dan mengacaukan semuanya. Seharusnya kamu nggak usah menampakkan diri di hidup anak saya,” lanjut Riani seolah masih belum puas menyudutkan sang menantu. “Ma, dari awal Abra memang nggak ingin menikah dengan Alieen,” sahut Abra menyanggah. “Iya karena perempuan ini lebih dulu mencuci otakmu, Abra!” seru Riani makin kesal. Serayu makin merasa kesal. Ia tahu, tiap kali kejadian seperti ini datang, Abra memang berusaha membelanya. Entah apa motif sebenarnya, setidaknya Serayu sedikit merasa terbantu meskipun rasanya juga percuma karena ibu mertuanya itu sama sekali tak bisa dibantah. Jika saja Abra bersikap abai, mungkin hidup Serayu akan semakin terasa terperosok. Sudah terjebak dalam pernikahan kontrak, masih juga ditindas di keluarga suaminya tanpa pembelaan sedikitpun. “Sudahlah, Abra antar Mama pulang,” kata Abra pasrah. Ia berdiri dan bersiap untuk pergi dari ruang makan. “Kamu benar-benar berubah semenjak menikah dengannya,” tuduh Riani dengan nada dingin. Abra tidak menanggapi, hanya menghela napas lalu menoleh pada istrinya. “Masuklah dulu, Saya akan antar Mama pulang,” titahnya berbisik, meminta Serayu masuk ke dalam kamar. Serayu menurut, tapi belum genap langkahnya tiba-tiba suara Riani membelah keheningan. “Ceraikan Serayu, Abra!”"I was just taking a walk," I lied, forcing a smile. She raised an eyebrow at the obvious lie but didn't push it further, just grabbing my hand and pulling me towards the dance floor. "Come on! I want to dance!" I let her drag me onto the dance floor, trying to push away the pain and just enjoy the moment. I danced and laughed with my sister, pretending like everything was okay. But deep down, I was broken. I had lost my mate, and I didn't know how I was going to survive. When the music finally stopped playing, Lynn grabbed my hand and pulled me off the dance floor, a huge smile on her face. "Tarra, I have someone I want you to meet!" She led me over to a tall, blonde-haired man who was standing by the refreshments table. He turned to look at us as we approached, his blue eyes lighting up when he saw Lynn. "This is Alexander," she said, her voice full of excitement. "He's my mate!" I felt a pang of jealousy in my chest, but I quickly pushed it down. This was a happy moment
He pulled back and looked down at me, his eyes full of concern. "What is it, my love?"I took a deep breath and looked up at him, my heart pounding in my chest. "I...I've never shifted. I'm wolf-less."I watched as his expression changed from concern to horror. He let go of me and took a step back, his eyes wide with shock."What?" he asked, his voice barely above a whisper.I felt tears prick at the corners of my eyes, and I looked down at the ground, unable to meet his gaze. "I'm sorry, Cassian. I should have told you sooner."He ran a hand through his hair and let out a shaky breath. "I...I don't understand. How is that possible?"I shrugged, my heart breaking at the look of disappointment on his face. "I don't know. It just never happened. I've never had a wolf."He shook his head and took another step back, his expression unreadable. "I can't...I can't do this, Tarra. I'm sorry."I felt like I had been punched in the gut. "What do you mean? Cassian, please..."He turned away from
I woke up the next morning to the sound of birds chirping outside the window. I stretched and rolled over, expecting to find Cassian lying next to me. But the bed was empty, and I felt a pang of disappointment.I sat up and looked around the room, taking in my surroundings. The room was large and spacious, with a huge window that let in the morning light. The bed was comfortable, and the sheets were soft and silky. It was perfect.I climbed out of bed and walked over to the window, looking out at the beautiful gardens below. I could see people walking around, enjoying the morning sun. It was peaceful.I turned away from the window and made my way to the bathroom, needing a shower. I turned on the water and stepped in, letting the hot water cascade down my body. I closed my eyes and let out a sigh, enjoying the feeling of the water on my skin.I lost track of time as I stood there, my mind wandering as I thought about the night before. It had been amazing. Cassian was everything I had
When the ball finally came to an end, Cassian led me outside and helped me into a carriage. He climbed in after me and sat down beside me, taking my hand in his."Where are we going?" I asked, my curiosity getting the best of me.He smiled and leaned in, pressing a soft kiss to my lips. "To my home. I want to show you where you'll be living from now on."My heart skipped a beat at his words, and I couldn't help but feel a little bit of nervousness. I was going to be leaving my home, my pack. I was going to be starting a new life with Cassian.But as I looked into his eyes, I knew that everything was going to be okay. He was my mate, and I would follow him anywhere.The carriage ride was long, but I didn't mind. I spent the whole time talking to Cassian, getting to know him better. He told me about his pack, his family, and his life. I told him about my dreams, my fears, and my hopes for the future. We laughed and talked, and I felt like I had known him my whole life.When we finally a






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.