MasukPangeran ketujuh, Zhao Chen pernah kehilangan segalanya. Difitnah sebagai seorang pengkhianat oleh saudara-saudaranya sendiri, ia dihukum mati dengan cara dipenggal di depan rakyatnya. Tepat ketika napas terakhir terlepas—sesuatu secara ajaib terjadi. Takdir memberi kesempatan kedua. Membawa ingatan dari kehidupan pertamanya, tak membuat Zhao Chen gegabah. Banyak hal simpang siur di otaknya. Tentang siapa dalang dibalik pemenggalan kepala atau siapa yang menjadi kaisar selanjutnya? Selalu menjadi pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya. Di sisi lain, Gu Qingyue seorang putri Adipati Agung yang menguasai administrasi kekaisaran. Dengan kecerdasan politik, strategi, dan keberanian mereka, keduanya perlahan saling melindungi untuk mengubah jalan takdir mereka sendiri. Dalam kejamnya intrik istana, politik yang menjebak, bangsawan haus kekuasaan akankah keduanya mampu mengukir takdir yang lebih baik?
Lihat lebih banyak"Hukuman mati akan segera dilaksanakan!"
Suara Kasim kekaisaran terdengar nyaring tanpa nada, tuduhan sepihak tanpa pembelaan, pengorbanan nyawa demi keserakahan dan kekuasaan.
Langit menampakkan awan gelapnya, petir seolah berteriak mengungkapkan keadilan dan rakyat berdesakkan di alun-alun Langit Naga kekaisaran Zhao.
Di atas panggung eksekusi, pangeran ketujuh, Zhao Chen terduduk dengan rantai yang mengikat tangan dan kakinya. Jubah putih yang agung tidak lagi melindungi parasnya, rambut hitam menawan terlihat kusut masai, menutupi sebagian wajahnya yang tak lagi bisa dikatakan tampan. Yang masih tersisa hanyalah sorot matanya yang tajam, seolah mengatakan jika kematiannya akan mengundang kehancuran.
Dia pernah digadang-gadang akan menjadi pemimpin baru yang adil, pangeran mahkota yang dikagumi, dan anak kesayangan kaisar. Melihat kondisinya saat ini sepertinya kata-kata itu terlihat membunuh tanpa menusuk jantungnya.
Di atas singgasana sementara yang didirikan menghadap tempat eksekusi, Kaisar Zhao Tianlong memandang putranya tanpa sedikit pun belas kasihan.
"Zhao Chen," suara sang kaisar terdengar dingin. "Apakah kau masih ingin membela diri?"
Zhao Chen mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya menyapu satu per satu wajah para pangeran, para menteri, dan para bangsawan yang berdiri di sisi kaisar.
Pangeran Pertama tersenyum tipis. Pangeran Ketiga menundukkan kepala, pura-pura berduka. Kanselir Agung menutup kipasnya dengan tenang.
Mereka semua... Adalah orang-orang yang telah merancang kematiannya.
"Ayahanda..." Zhao Chen tersenyum pahit. "Bahkan jika aku menjelaskan seribu kali, Ayahanda tetap tidak akan mempercayaiku."
Tidak ada jawaban. Keheningan itu lebih menyakitkan daripada hukuman mati.
Ia pernah memimpin pasukan di perbatasan. Ia pernah menyelamatkan puluhan ribu rakyat dari bencana kelaparan. Ia pernah mempertaruhkan nyawanya demi kekaisaran.
Namun semua jasa itu kalah oleh satu lembar surat palsu yang menuduhnya bersekongkol untuk memberontak.
Betapa lucunya kehidupan. Yang paling setia justru mati sebagai pengkhianat.
Di antara kerumunan pejabat, pandangan Zhao Chen berhenti pada seorang wanita muda berjubah biru tua.
Gu Qingyue, Putri Adipati Agung.
Satu-satunya orang yang masih menatapnya dengan mata yang dipenuhi penyesalan.
Sesaat kemudian, wanita itu menggenggam lengan ayahnya erat-erat, seolah memohon agar sesuatu dilakukan. Namun semuanya sudah terlambat.
"Algojo." Suara kaisar bergema. "Laksanakan!"
Algojo bertubuh besar melangkah maju sambil mengangkat pedang eksekusi yang berkilau di bawah sinar matahari.
Zhao Chen menutup kedua matanya. Bukan karena takut. Melainkan karena menyesal. Seandainya dahulu ia lebih berhati-hati. Seandainya ia tidak mempercayai saudara-saudaranya. Seandainya ia menyadari siapa musuh yang sebenarnya.
Pedang itu terangkat tinggi.Angin dingin berembus pelan. Dalam keheningan itu, sebuah suara lirih terdengar dari kejauhan.
"Maafkan aku." Suara Gu Qingyue.
Kilatan cahaya perak melintas. Darah muncrat membasahi panggung. Dunia berubah menjadi gelap.
***
"Yang Mulia! Yang Mulia! Bangunlah!" Suara panik seseorang terdengar begitu jelas.
Zhao Chen membuka matanya perlahan. Langit-langit kamarnya yang megah memenuhi pandangannya. Ia menatap kedua tangannya. Tidak ada rantai. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit di lehernya.
Di hadapannya berdiri seorang kasim muda dengan wajah penuh kecemasan.
"Yang Mulia, hari ini adalah hari ketika seluruh pangeran dipanggil menghadap Yang Mulia Kaisar."
Zhao Chen membeku. Matanya perlahan membesar.
Hari ketika semuanya dimulai. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin perunggu. Lalu tersenyum. Senyum yang membuat kasim itu bergidik.
"Jadi langit benar-benar memberiku kehidupan kedua."
"Kali ini ... "
"Aku tidak akan mati lagi."
Malam di wilayah utara terasa lebih dingin daripada biasanya.Bukan karena musim.Bukan pula karena angin yang turun dari pegunungan.Orang-orang di tiga kota itu hanya mengatakan bahwa sejak pintu hitam muncul, mereka merasa seolah-olah ada sesuatu yang sedang memperhatikan mereka dari balik langit.Tidak seorang pun terluka.Tidak ada bangunan yang runtuh.Namun setiap malam, mimpi yang sama kembali datang.Sebuah pintu hitam.Seorang perempuan berjubah putih.Dan suara lembut yang memanggil nama mereka satu per satu.Yang paling mengerikan bukanlah kemunculan perempuan itu.Melainkan satu hal.Tidak seorang pun pernah mengenalnya.---Zhao Chen berangkat ke utara sebelum matahari terbit.Gu Qingyue ikut bersamanya.Zhao Mingyuan ingin turut serta, tetapi Zhao Chen memintanya tetap berada di ibu kota untuk mengawasi keadaan Kaisa
Seluruh dunia menjawab.Bukan dengan suara yang berasal dari satu tempat, melainkan ribuan suara yang muncul bersamaan dari balik 1.028 pintu. Ada yang tertawa, ada yang menangis, ada yang memanggil nama seseorang, dan ada pula yang hanya terdengar seperti tarikan napas pertama setelah tidur panjang.Zhao Chen berdiri di tengah aula dengan telapak tangan masih menghadap ke atas.Simbol putih itu telah menghilang.Namun kehangatan yang ditinggalkannya belum pergi.Untuk beberapa saat, ia hanya mendengarkan.Dahulu, ketika ribuan kehidupan berada di hadapannya, ia selalu merasa harus melakukan sesuatu. Membuka jalan. Menghentikan kehancuran. Menghapus ingatan. Mengulang dunia. Menyelamatkan seseorang sebelum terlambat.Sekarang tidak.Ia hanya mendengar.Dan untuk pertama kalinya, suara-suara itu tidak terdengar seperti permintaan untuk diselamatkan.Mereka terdengar seperti kehidupan yang baru saja menemukan suara mereka sendiri.---“Chen.”Gu Qingyue berdiri di sampingnya.“Ya?”“Apa
Kalimat itu tidak segera menghilang.KEHIDUPAN KE-0 TELAH TERBANGUN.Cahaya putih yang membentuk huruf-huruf tersebut berdenyut perlahan di lantai aula, seperti detak jantung yang berasal dari sesuatu yang sangat jauh.Zhao Chen berdiri tanpa bergerak.Untuk beberapa saat, ia bahkan lupa bernapas.Kehidupan ke-0.Istilah itu seharusnya tidak ada.Selama ini ia mengetahui 127 kehidupan sebelumnya. Kehidupan ke-128 adalah kehidupan yang berbeda karena tidak lagi menjadi pengulangan. Namun tidak pernah ada kehidupan sebelum kehidupan pertama.Setidaknya, itulah yang selama ini dipercayainya.“Ayah.”Zhao Chen menoleh kepada Zhao Mingyuan.“Yang dikatakan Lianhua tentang jiwaku… apa maksudnya?”Zhao Mingyuan tidak langsung menjawab.Wajah pria itu terlihat lebih tua daripada beberapa saat sebelumnya.Akhirnya ia berkata, “Aku tidak mengetahui semuanya.”
Lonceng kekaisaran masih menggema ketika Zhao Chen tiba di halaman utama.Para penjaga telah berlutut. Para pelayan berbaris di sepanjang jalan batu. Bahkan para pejabat yang kebetulan berada di kediaman luar istana tampak menundukkan kepala dengan wajah tegang.Di ujung halaman, kereta kekaisaran berhenti.Pintu kereta terbuka.Seorang pria turun dengan jubah naga hitam keemasan.Wajah itu tidak mungkin salah.Zhao Tianlong.Kaisar yang selama beberapa waktu terakhir tidak diketahui keberadaannya kini berdiri di hadapan seluruh istana seolah tidak pernah pergi.Namun Zhao Chen tidak berlutut.Bukan karena ia menolak menghormati ayahnya.Ia hanya sedang memperhatikan mata pria itu.Mata seorang manusia memiliki sesuatu yang tidak bisa ditiru oleh sistem mana pun.Keraguan.Kelelahan.Kemarahan.Kasih sayang.Atau sekadar kebingunga






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan