Kehidupan Kedua Sang Pangeran Terbuang

Kehidupan Kedua Sang Pangeran Terbuang

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-07-11
Oleh:  Rattyslova Ongoing
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
Belum ada penilaian
7Bab
5Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Pangeran ketujuh, Zhao Chen pernah kehilangan segalanya. Difitnah sebagai seorang pengkhianat oleh saudara-saudaranya sendiri, ia dihukum mati dengan cara dipenggal di depan rakyatnya. Tepat ketika napas terakhir terlepas—sesuatu secara ajaib terjadi. Takdir memberi kesempatan kedua. Membawa ingatan dari kehidupan pertamanya, tak membuat Zhao Chen gegabah. Banyak hal simpang siur di otaknya. Tentang siapa dalang dibalik pemenggalan kepala atau siapa yang menjadi kaisar selanjutnya? Selalu menjadi pertanyaan yang memenuhi isi kepalanya. Di sisi lain, Gu Qingyue seorang putri Adipati Agung yang menguasai administrasi kekaisaran. Dengan kecerdasan politik, strategi, dan keberanian mereka, keduanya perlahan saling melindungi untuk mengubah jalan takdir mereka sendiri. Dalam kejamnya intrik istana, politik yang menjebak, bangsawan haus kekuasaan akankah keduanya mampu mengukir takdir yang lebih baik?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1. Pemenggalan Kepala sang Pengkhianat

"Hukuman mati akan segera dilaksanakan!" 

Suara Kasim kekaisaran terdengar nyaring tanpa nada, tuduhan sepihak tanpa pembelaan, pengorbanan nyawa demi keserakahan dan kekuasaan. 

Langit menampakkan awan gelapnya, petir seolah berteriak mengungkapkan keadilan dan rakyat berdesakkan di alun-alun Langit Naga kekaisaran Zhao. 

Di atas panggung eksekusi, pangeran ketujuh, Zhao Chen terduduk dengan rantai yang mengikat tangan dan kakinya. Jubah putih yang agung tidak lagi melindungi parasnya, rambut hitam menawan terlihat kusut masai, menutupi sebagian wajahnya yang tak lagi bisa dikatakan tampan. Yang masih tersisa hanyalah sorot matanya yang tajam, seolah mengatakan jika kematiannya akan mengundang kehancuran. 

Dia pernah digadang-gadang akan menjadi pemimpin baru yang adil, pangeran mahkota yang dikagumi, dan anak kesayangan kaisar. Melihat kondisinya saat ini sepertinya kata-kata itu terlihat membunuh tanpa menusuk jantungnya. 

Di atas singgasana sementara yang didirikan menghadap tempat eksekusi, Kaisar Zhao Tianlong memandang putranya tanpa sedikit pun belas kasihan.

"Zhao Chen," suara sang kaisar terdengar dingin. "Apakah kau masih ingin membela diri?"

Zhao Chen mengangkat kepalanya perlahan. Tatapannya menyapu satu per satu wajah para pangeran, para menteri, dan para bangsawan yang berdiri di sisi kaisar.

Pangeran Pertama tersenyum tipis. Pangeran Ketiga menundukkan kepala, pura-pura berduka. Kanselir Agung menutup kipasnya dengan tenang.

Mereka semua... Adalah orang-orang yang telah merancang kematiannya.

"Ayahanda..." Zhao Chen tersenyum pahit. "Bahkan jika aku menjelaskan seribu kali, Ayahanda tetap tidak akan mempercayaiku."

Tidak ada jawaban. Keheningan itu lebih menyakitkan daripada hukuman mati.

Ia pernah memimpin pasukan di perbatasan. Ia pernah menyelamatkan puluhan ribu rakyat dari bencana kelaparan. Ia pernah mempertaruhkan nyawanya demi kekaisaran.

Namun semua jasa itu kalah oleh satu lembar surat palsu yang menuduhnya bersekongkol untuk memberontak.

Betapa lucunya kehidupan. Yang paling setia justru mati sebagai pengkhianat.

Di antara kerumunan pejabat, pandangan Zhao Chen berhenti pada seorang wanita muda berjubah biru tua.

Gu Qingyue, Putri Adipati Agung.

Satu-satunya orang yang masih menatapnya dengan mata yang dipenuhi penyesalan.

Sesaat kemudian, wanita itu menggenggam lengan ayahnya erat-erat, seolah memohon agar sesuatu dilakukan. Namun semuanya sudah terlambat.

"Algojo." Suara kaisar bergema. "Laksanakan!"

Algojo bertubuh besar melangkah maju sambil mengangkat pedang eksekusi yang berkilau di bawah sinar matahari.

Zhao Chen menutup kedua matanya. Bukan karena takut. Melainkan karena menyesal. Seandainya dahulu ia lebih berhati-hati. Seandainya ia tidak mempercayai saudara-saudaranya. Seandainya ia menyadari siapa musuh yang sebenarnya.

Pedang itu terangkat tinggi.Angin dingin berembus pelan. Dalam keheningan itu, sebuah suara lirih terdengar dari kejauhan.

"Maafkan aku." Suara Gu Qingyue.

Kilatan cahaya perak melintas. Darah muncrat membasahi panggung. Dunia berubah menjadi gelap.

***

"Yang Mulia! Yang Mulia! Bangunlah!" Suara panik seseorang terdengar begitu jelas.

Zhao Chen membuka matanya perlahan. Langit-langit kamarnya yang megah memenuhi pandangannya. Ia menatap kedua tangannya. Tidak ada rantai. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit di lehernya.

Di hadapannya berdiri seorang kasim muda dengan wajah penuh kecemasan.

"Yang Mulia, hari ini adalah hari ketika seluruh pangeran dipanggil menghadap Yang Mulia Kaisar."

Zhao Chen membeku. Matanya perlahan membesar.

Hari ketika semuanya dimulai. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin perunggu. Lalu tersenyum. Senyum yang membuat kasim itu bergidik.

"Jadi langit benar-benar memberiku kehidupan kedua."

"Kali ini ... "

"Aku tidak akan mati lagi."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
7 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status