Share

Chapter 8 - Enigma

last update publish date: 2026-08-29 09:58:43

​"Ancaman yang dibungkus dengan sangat rapi, Charles," ujar Kara seraya menatap lurus ke dalam iris mata pelayan tua itu.

​Kara menyunggingkan senyum tipisnya yang dingin. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya, pertanda sebuah pertimbangan.

​"Namun, kau lupa satu hal. Keputusan siapa yang boleh tinggal di tempat pengasingan ini berada di tanganku, bukan di jemari seorang pelayan."

​Kara melanjutkan kalimatnya setelah menyadari atmosfer ruangan yang kian tegang, "Tetapi aku sangat berterima kasih atas p
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Transmigrasi Dokter Jenius di Tubuh Putri Mahkota Gila   Chapter 10 - Sisa Hasrat

    ​"Charlotte, kumohon... jangan tinggalkan aku," bisik suara bariton yang terengah, sarat akan keputusasaan dan hasrat yang tertahan.​Atmosfer ruangan tiba-tiba terasa samar, hangat, dan pekat.​Kara menahan napasnya berat. Langkah kaki tegap Lucas mendekat dengan aura dominan yang begitu panas dan mengintimidasi. Pakaian atas pria itu sedikit terbuka, memperlihatkan pahatan dada bidang dan otot leher yang menegang halus seiring sapuan napasnya yang memburu.​Sebelum Kara sempat mundur, Lucas memangkas jarak, menghimpit tubuh wanita itu di antara dinding batu dingin yang tak dikenalinya.​"Charlotte... aku tahu kau menginginkanku, kan?" desah Lucas serak.​Pria itu merendahkan tubuhnya, mengendus ceruk leher Kara yang terbuka lebar. Sentuhan bibirnya yang hangat mengusap halus permukaan kulit leher, memicu desiran panas yang membuat seluruh tubuh Kara meremang hebat.​"Lucas, kumohon... hentikan... ini tak boleh terjadi," bisik Kara dengan suara bergetar, mencoba mempertahankan sisa-s

  • Transmigrasi Dokter Jenius di Tubuh Putri Mahkota Gila   Chapter 9 - Kisah Lama

    "Sudah lama bukan, kita tidak bercengkerama seperti ini?"Kara terkejut mendengar sapaan itu. Namun, sebisa mungkin ia menahan perubahan pada ekspresi wajahnya agar tidak kentara."Tentu, sebelum ini... maafkan saya yang jarang menyapa Anda," balas Kara berusaha tenang.Lucas selalu heran dengan nada suara Charlotte yang terdengar sangat datar dan penuh kendali.Lucas sengaja melempar godaan baru itu untuk menguji reaksi wanita di hadapannya. Ia sangat curiga dengan perubahan sikap Charlotte.Namun, saat jemari Kara yang terbalut kain kasa tak sengaja mengusap kulit dadanya yang bertelanjang, sesuatu mendadak berdesir hebat di dalam jiwa Lucas.'Sudah lama aku tak merasa seperti ini' batin Lucas berbicara. Ia menyadari bahwa sentuhan Kara semalam saat menjahit lukanya tidak memberikan dampak sebesar saat ini. Sensasi gairah dan kehangatan kuat yang selama ini harus Lucas tutup rapat-rapat agar hasrat terlarang miliknya tidak mencuat, kini terasa meledak tak terkendali. Lucas merasa

  • Transmigrasi Dokter Jenius di Tubuh Putri Mahkota Gila   Chapter 8 - Enigma

    ​"Ancaman yang dibungkus dengan sangat rapi, Charles," ujar Kara seraya menatap lurus ke dalam iris mata pelayan tua itu.​Kara menyunggingkan senyum tipisnya yang dingin. Ia mengetuk-ngetukkan jarinya, pertanda sebuah pertimbangan.​"Namun, kau lupa satu hal. Keputusan siapa yang boleh tinggal di tempat pengasingan ini berada di tanganku, bukan di jemari seorang pelayan."​Kara melanjutkan kalimatnya setelah menyadari atmosfer ruangan yang kian tegang, "Tetapi aku sangat berterima kasih atas peringatan darimu."​Kara menyunggingkan senyum hangat. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menambah musuh yang tidak perlu. Seperti kata Lucas, ia belum tahu pasti siapa musuh yang sebenarnya.​Akan tetapi, peringatan Kara tetap harus tegas. Di tempat pengasingan ini, ia harus mempertahankan martabatnya sebagai Putri Mahkota.​Kara memajukan tubuhnya, menandakan ia sangat serius dengan kalimatnya yang penuh penekanan.​"Jika Singa itu memang berbahaya, biarkan aku yang mengurusnya."​Kara m

  • Transmigrasi Dokter Jenius di Tubuh Putri Mahkota Gila   Chapter 7 - Batasan dan Penawaran

    ​"Salam kehormatan untuk Pangeran Nodt," ujar Kara sambil menekukkan lututnya, memperagakan gaya khas penghormatan kerajaan dengan wajah datar yang berusaha menyembunyikan keterkejutannya. ​Lucas tertawa perlahan, suara baritonnya bergema halus di sepanjang lorong sunyi. "Apa yang kau lakukan, Adik Ipar? Bukankah semalam kau yang memarahiku?"​Kara mencoba menenangkan suaranya agar tidak terdengar bergetar. "Itu saya lakukan murni untuk menjaga kondisi kesehatan Anda, Pangeran."​Lucas melangkah mendekat secara perlahan. Jarak di antara mereka terkikis hingga mata mereka bertabrakan. "Bukankah ada hal lain, Nona Charlotte? Kuharap aku bisa membantumu,” bisik Lucas yang terdengar sensual di samping telinga Kara hingga setiap hembusan nafas Lucas terasa menyapu wajah Kara. ​Kara merasakan jarak yang semakin menipis yang memicu naluri kewaspadaannya. Tanpa ragu, ia melayangkan dorongan tegas di bagian dada Lucas.​"Jaga sopan santun Anda, Pangeran. Saya adalah adik ipar Anda!" tegas Ka

  • Transmigrasi Dokter Jenius di Tubuh Putri Mahkota Gila   Chapter 6 - Ketegasan Sang Putri

    "Udara pagi ini saja sudah menusuk tulang. Pelayannya yang setia seperti anjing itu belum juga bangun.”“Apalagi, kami sengaja tidak mengantarkan kayu bakar tambahan ke kamarnya. Biar saja wanita itu mati membeku!" cetus seorang pelayan lain yang disusul tawa miring menggema di ruangan sepi itu. “Ssst! Pelankan suaramu. Kau tahu tidak? Semalam putri membawa Pangeran Lucas yang terluka.”Lalu, mereka memelankan suara.“Kata Yena yang diperintahkan semalam, Putri Charlotte yang merawatnya. Jangan sampai Pangeran mendengar hal ini,” ujar pelayan wanita lainnya. “Biarlah. Toh, Pangeran Lucas tidaklah penting. Karena dia hanyalah mantan Putra Mahkota yang tidak memiliki taring,” ujar pelayan senior.Kemudian, mereka tertawa terbahak-bahak. Kara berdiri di balik pintu. Tak ada Liana di sisinya, tak ada pelayan yang membela. Namun alih-alih menangis atau takut, seulas senyum sinis yang dingin justru terukir di wajah Kara.Kara memajukan langkah dan menghempas pintu dapur kasar hingga ter

  • Transmigrasi Dokter Jenius di Tubuh Putri Mahkota Gila   Chapter 5 - Terhina

    Keynes terlihat gugup memahami pertanyaan Sang Putri yang terdengar tanpa basa-basi. ‘Pasti ia akan marah dan menyuruhku bersujud di kakinya’ bisik Keynes memprediksi berdasarkan tingkah kelakuan Sang Putri di istana. Kara menghela napas panjang, “Ya… apa boleh buat, kau boleh berjaga di depan pintu. Barangkali aku membutuhkanmu nanti,” ujar Kara berusaha menghentikan tensi pertikaian di antara mereka. “Selamat beristirahat, Sir Keynes” ujar Kara sebelum ia menghilang di balik pintu, meninggalkan Keynes yang mematung heran. “Apakah itu benar-benar Putri Charlotte?” bisik Keynes dengan sangat perlahan. Sementara Kara yang merasa merasa sangat lelah, membuang tubuhnya dengan kasar pada salah satu sofa lembut yang diletakkan tak jauh dari ranjang. Dalam pikirnya, Kara bertanya-tanya. ‘Mengapa semua orang terlihat terkejut ya? Mulai dari Liana saat awal pertemuan, Lucas, bahkan Sir Keynes?’Lantas ia menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikirannya dan perlahan membiarkan ngan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status