تسجيل الدخولMendengarkan suara langkah kaki Ratu Estelle menatap pria yang baru saja kembali ke kamarnya. Dia menggunakan jubah hitam dan tidak menyadari dirinya yang hanya berada beberapa jarak saja. "Kau datang dari mana David?" Deg David seketika menoleh, suasana remang-remang itu membuat pria itu tertuju pada satu arah. Berada di dekat jendela dan terlihat angin melambaikan gorden putih itu. "Putri." Jantung David berdetak kencang. Setiap hembusan nafasnya seolah mengucapkan nama Ratu Estelle. Wajah cantik di terpa oleh cahaya bulan yang menyinari dari luar jendela. Terlihat ada beberapa cahaya keemasan kecil-kecil yang keluar memancar dari wajahnya. "Putri membuat ku terkejut." Ratu Estelle menepuk satu tangannya. Lampu di ruangan itu pun hidup. Ana masuk lalu keluar lagi setelah menghidupkan lampu. Kini keduanya saling tatap. Ratu Estelle duduk di sofa putih itu. Dia menunggu David untuk ikut duduk. "Aku ingin mempercepat pernikahan ku. Bagaimana menurut mu David?"
David keluar dari ruang pribadinya. Dia terkejut melihat putri Estelle yang berdiri di depan pintu. "Putri." David menunduk. Ia tidak mungkin mengatakan sejujurnya. Kalau ia mengatakan bahwa ia membantu Helena pastinya Ratu Estelle tidak akan senang. Dia mungkin akan salah paham padanya. "Aku penasaran apa yang Helena katakan pada mu? apa dia mengancam mu?" Mengingat bagaimana Helena melakukannya pada Henry pasti dia akan melakukannya juga pada David. "Putri tenang saja. Ancaman Helena tidak akan mempan pada ku." "David, aku tidak akan memaafkan mu jika mengecewakan Putri." Ancam Alberto. "Benar, aku tidak akan tinggal diam." Henry menimpali. "Baiklah, aku pergi dulu." Ia berharap David tidak bohong. "Al apa kamu bisa menyelidikinya. Aku rasa ada kebohongan di antara mereka." .... Kaisar Raymond sekatika melebarkan kedua matanya. Perkataan pengawal di hadapannya mengguncang tubuhnya. Ia tidak pernah menyentuh Helena. Wanita itu hamil bukan darinya. "Helena dia hamil? dia b
Dalam sekejap dunia Helena menjadi hancur. Ia hamil tentu saja bukan dengan Kaisar Raymond. Semua rencananya hancur gara-gara Ratu Estelle. Seharusnya ia dulu membunuhnya saja. "Aku, aku hamil? Tolong katakan pada Yang Mulia bahwa aku hamil." Dokter pria muda itu mengerutkan keningnya di balik kaca matanya. Ia curiga anak kendungnya anak Kaisar Raymond. "Aku akan mengatakannya pada Yang Mulia." "Tolong katakan juga pada David. Maksud ku Ketua Penyihir. Dia sahabat ku. Dia pasti mengkhawatirkan aku." Dokter pria itu menghela nafas. Wanita di hadapannya mungkin tidak tau bahwa David dinyatakan berkhianat. "Apa kau tidak tau. Tuan David telah berkhianat dan dia telah memutuskan keluar dari menara sihir. Dia kini berada di kerajaan Elaire. Mantan ratu ternyata anak mendiang Ratu Eleona. Sekarang Yang Mulia ingin membawa mantan ratu pulang. Jika mantan ratu menolak maka Yang Mulia akan melawannya dengan peperangan." Helena begitu terkejut, David ternyata melepaskan persahabatann
David menatap Ratu Estelle dari jauh. Ia takut Ratu Estelle terluka jadi ia memilih untuk menemui Kaisar Raymond. Akhirnya dia sampai di kekaisaran. Kini dia bertemu dengan Kaisar Raymond. "Kau datang setelah menjadi pengkhianat." Kaisar Raymond menyindir. Ia sangat membenci David yang tidak mendukungnya. "Kau pengkhianat David." David menunduk, dia membungkuk hormat lalu mengangkat wajahnya. Di tatapnya penguasa yang selalu ia hormati. "Yang Mulia jika anda memang menyukai mantan Ratu. Anda tidak mungkin melukainya." "Tentu saja David. Aku tidak ingin melukai Ratu." David tidak mengerti dengan ucapan Kaisar Raymond. Mengatakan cinta, tapi ingin menyakiti. "Apa anda ingin mengulang kesalahan yang sama?" Kaisar Raymond terdiam. Ia tidak mau mengulang kesalahan itu, tapi satu-satunya cara memberikan gertakan pada mantan ratu. "Bagaimana kalau seandainya mantan ratu memilih pergi selama-lamanya dari pada menikah dengan Yang Mulia?" Seketika Kaisar Raymond melebarkan ke
Setelah kemarahan Duke Alerix, Raja Edgar dan Ratu Estelle. Kini istana diam dalam keheningan. Rumor telah menyebar jika Ratu Estelle menolak kembali menjadi ratu maka akan terjadi peperangan. Ada beberapa bangsawan setuju dan ada beberapa bangsawan yang kurang setuju dan pada akhirnya setuju. Mereka tidak ingin di kuasai oleh kekiasaran dab bertindak semena-semena. Selama ini kekaisaran tidak menghargai orang. Siluman saja di buat budak. Kini mereka percaya bahwa Ratu Estelle bisa mengalahkan Kaisar Raymond. Dengan bantuan, Duke Alerix, Raja Henry, Penyihir David dan Alberto. Sedangkan Duchess Anabella dan Jenderal Alex kembali ke kediamannya. Duchess Anabella belum menerima keinginan Duke Alerix yang membela Ratu Estelle. Hatinya bagaikan di tancap duri namun masih berfungsi. Rasa sakitnya terus mencubit seluruh tubuhnya. Duchess Anabella merasa dirinya tidak seberuntung orang lain. Seorang pria yang melakukan apa pun demi wanitanya."Ibu, apa anda baik-baik saja?" tanya J
"Duchess Anabella apa kau bisa menjelaskan semua ini?" Sangat sulit ia mendapatkan maaf dari putrinya lalu istirnya menambah lagi masalah. "Kenapa?" Duchess Anabella mengangkat wajahnya. "Dia anak wanita yang kau kagumi diam-diam. Kau mencintainya, tapi kau malu mengakuinya." Duke Alerix tidak bisa menyalahkan Duchess Anabella. Ia tidak ingin melimpahkan kesalahannya. "Aku sudah menahannya demi dirimu. Jadi aku mohon jangan lukai perasaan Estelle. Dulu aku bodoh karena mengabaikannya. Sekarang aku menyesalinya. Aku menepis semua perasaan ku agar tidak menyakiti mu." "Aku menolak keras perasaan itu. Jadi jangan menyakiti Estelle. Tolong hargai perasaan ku sebagaimana aku menghargai perasaan mu dulu. Pergilah, aku harus menyelesaikannya. Bahkan jika aku berlutut seumur hidup ku tak akan mampu mengganti pengorbanannya." Duchess Anabella menangis tersedu-sedu. Sekalipun menjadi kekasihnya yang telah tiada, tapi justru ia sangat cemburu karena cinta itu tidak berubah. Duke Aleri
"Walaupun gelang ini pemberian Yang Mulia. Aku merasa senang karena bisa memberikannya pada Yang Mulia Ratu." Ana melirik Ratu Estelle, dia pun mengambilnya dari dayang Mia. "Yang Mulia, saya senang anda menerima saya sebagai sahabat dan nantinya sebagai Selir Baginda Kaisar. Saya merasa sang
Ana tergesa-gesa membawa kabar buruk. Dia baru saja melihat dengan kedua matanya sendiri bahwa Kaisar Raymond membawa seorang wanita. Kaisar Raymond hanya menatapnya tanpa sepatah kata apa pun. Ana merasakan dadanya sesak seperti melihat bagaimana reaksi Ratu Estelle nanti. Pasti sangat menyakiti
Kaisar Raymond melirik Duke Alerix. Ia merasa khawatir karena Helena akan di pertemukan oleh penjahat yang memang musuhnya. Awalnya ia tidak percaya namun karena mendengarkan perkataan Duke Alerix ia memiliki sedikit kepercayaan di hatinya. Ternyata di hadapannya bukanlah istrinya yang asli. "Eh
Deg Ratu Estelle merasakan dadanya terasa panas. Dengan nyeri yang seakan menghambatnya untuk bernafas. Untunglah Ana menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke lantai. Dia tertegun dengan ucapan Kaisar Raymond yang menyuruh istrinya meninggal hanya demi wanita lain. Tidak pernah ia melihat pria sek







