LOGIN"Bisakah kamu menunjukkan ku jalan keluar?" tanya Lunara pada Louis. Louis berhenti berjalan dan menoleh ke Lunara. Tangan mereka berpegangan. Louis merasa nyaman dengan Lunara. Dia telah mendengar dari orang-orang yang suka bergosip bahwa Lunara sangatlah bermasalah. Dia tergila-gila pada pamannya tetapi kemudian berubah drastis seperti menjauhinya. Kenyataannya, Lunara ini tidak seperti yang dirumorkan. "Keluar dari mansion ini? Tidak boleh. Apakah ini tujuanmu menunjukkan sihir seperti tadi padaku? Seharusnya kamu menepati dulu. Membuat kolam untuk ikan. Kupikir itu berbeda dengan kolam seperti di taman kami. Di taman kami, ada banyak spesies," kata Louis. "Aku ingin melihat. Apakah boleh?" tanya Lunara semangat. Louis menganggukkan kepalanya. "Tetapi kamu harus menepati janjikmu dulu," jawab Louis. "Tentu saja. Masalahnya di luar sedang berperang." "Kalau bisa masuk kesini, kenapa tidak bisa keluar? Malah memintaku untuk memberikanmu jalan keluar?" "Ini anak
Yeshe melirik ke Svanhildr.Tatapannya tetap datar seperti biasa, namun udara di sekitar mereka berubah semakin berat.Naga putih di bawah kakinya mengerang pelan. Tubuh besar makhluk itu dipenuhi luka dan retakan es akibat benturan sihir sebelumnya.Arzu terengah-engah sambil menopang tubuhnya dengan pedang.“Brengsek…” desisnya pelan. “Monster ini bahkan belum serius?”Zane juga tampak jauh lebih pucat dibanding sebelumnya. Mana di tubuhnya hampir habis, sementara Lune kesulitan mempertahankan penghalang sihir yang sejak tadi melindungi pasukan mereka.Namun Yeshe—Masih berdiri tegak.Bahkan napasnya nyaris tidak berubah.Svanhildr memperhatikan semua itu dalam diam.Rambutnya bergerak perlahan tertiup angin malam, sementara matanya yang redup memandang Yeshe dengan dingin.“Kau menyembunyikannya,” katanya pelan.“Aku mengamankannya,” jawab Yeshe singkat.“Itu sama saja.”“Tidak.”Svanhildr menyipitkan matanya.Aura sihir gelap perlahan menyebar di sekitar tubuhnya. Tanah mulai ret
"Di novel itu, kediaman keluarga Aldridge memang dipenuhi sihir. Katanya sih juga ada monster yang tidak berwujud yang menjaga. Sihir akan merespon ketika terjadi ketidakseimbangan di kediaman ini seperti, seseorang membuang sampah tidak pada tempatnya," gumam Lunara seraya mengambil lilin yang lain. "Yeshe sampai tahu hal-hal terkecil dan sepele di rumah ini," gumam Lunara. Lunara kemudian membakar tirai-tirai yang menjuntai di sekeliling ruangan. Di novel, kediaman itu seperti labirin dan gelap. Jendela tidak dibuka. Lagipula ini sudah malam. "Ini sih, benar-benar seperti di dunia fantasi. Si Yeshe tahu kah jika aku membakar semua tirai jendela di ruangan ini? Bagaimana sihir akan merespon?" gumam Lunara. Ketika ada yang membuang sampah sembarangan, sihir merespon dengan menyerang orang yang membuang sampah sembarangan. Rasanya seperti diserang oleh makhluk yang tidak berwujud. Namun Lunara sejauh ini tidak diserang. Lunara berlarian kesana-kemari, berusaha menc
Kenapa pihak yang diuntungkan selalu berada di sisi putri mahkota? Padahal jalan ceritanya sudah berubah tetapi tetap saja, kekaisaran milik putri mahkota tetap menang. Tentu saja karena mereka juga punya orang-orang kuat seperti Yeshe ini dan Nero, si tukang pengacau. Yeshe terdiam. Lunara ingin tahu apa yang Yeshe pikiran soal tawaran pernikahannya. Lunara merasa, Yeshe cukup berbeda dengan di buku. Mungkin pria itu sedikit tertarik padanya karena dia bukan lagi Lunara yang menyebalkan. Jadi, mungkin rencana pernikahan akan berhasil. "Tidak mungkin menikah," kata Yeshe dingin. Wajah Lunara langsung berubah seperti mengatakan segalanya sudah berakhir. Padahal Lunara sempat berpikir Yeshe berbalik menyukainya ternyata dia sudah salah kaprah. Memang kapan Yeshe menunjukkan ketertarikan secara romantis kepadanya? Pria ini kan tidak punya hati. Bahkan di akhir saat dia bersama putri mahkota, belum tentu hatinya benar-benar ke putri mahkota. "Begitu. Kalau begitu, bis
Kenapa orang itu bisa mengatakan omong kosong? Lunara sungguh tidak mengerti. Jelas-jelas Yeshe dan Delayna saling mencintai. Sekarang, apakah Yeshe ingin menjebaknya disini? Apakah pria itu akan membunuhnya disini? "Omong kosong? Kenyatannya di mimpiku seperti itu. Bahkan kenyataannya juga seperti itu. Kau sangatlah setia kepada kekaisaran," kata Lunara dengan nada tegas. "Aku memang setia kepada kekaisaran tetapi bukan berarti kepada keluarga kaisar. Jika mereka terbukti bersalah aku-" "Tidak ada yang bisa kau lakukan jika mereka melakukan kesalahan. Mereka sendiri yang memimpin kekaisaran ini. Mereka yang membangun kekaisaran ini bukan? Jadi tidak masalah jika mereka berbuat salah," kata Lunara. "Tetapi aku masih waras. Aku tidak begitu saja mengambil keputusan menghukum seseorang tanpa adanya bukti yang kuat," kata Yeshe. Lunara terdiam. "Apa-apaan itu? Yeshe setahuku sulit untuk melakukan itu," gumam Lunara setengah berbisik. "Mari kita analisis. Seperti
Yeshe meliriknya dingin. “Aku sedang berpikir.” “Oh? Berpikir apakah harus membunuh Lady Lunara sekarang juga?” Lunara refleks menegang. Namun Nero justru melanjutkan dengan santai, “Kalau aku jadi dirimu, aku juga akan bingung. Membunuhnya mungkin aman… tapi bagaimana kalau dia benar-benar tahu masa depan?” Nero menopang dagunya sambil tersenyum tipis. “Bukankah itu akan sangat berguna?” Yeshe tidak menjawab. Dan diamnya itu membuat Lunara sadar sesuatu. Yeshe memang mempertimbangkannya. Ia belum memutuskan. Nero menurunkan tatapannya pada Lunara lagi. “Aku sudah bilang sebelumnya kan?” katanya pelan. “Kau cukup merepotkan.” “Lalu kenapa kau melakukan semua ini?” bentak Arzu marah. “Kalau ingin membunuh kami, lakukan saja!” Nero menoleh malas. “Membunuh kalian sekarang terlalu membosankan.” “Dasar psikopat sialan—” “Tapi,” potong Nero tiba-tiba. Senyumnya perlahan menghilang. Dan untuk pertama kalinya malam itu— Aura mengerikan keluar dari dirinya. “Kalau kalian







