共有

Bab 129 Rasa Syukur

作者: Gauri Nayara
last update 公開日: 2026-10-06 22:28:35

"Tempat ini terasa sangat nyata, Kaelen," ucap Thalassa pelan, menatap dedaunan hijau yang bergoyang ditiup angin. "Kadang aku lupa bahwa ada dunia yang begitu tenang seperti ini.

Kaelen menghentikan langkahnya, membuat Thalassa ikut berhenti dan menoleh padanya. Pria itu menatap sekeliling kebun, lalu kembali memusatkan seluruh perhatiannya pada wajah cantik istrinya. Cahaya matahari yang menerobos celah daun menciptakan bayangan lembut di atas kulit halus Thalassa.

"Jika kau menyukai tempat
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 134 Damai

    "Aku merutuki diriku sendiri karena telah mengajarinya hal itu," gumam Kaelen jujur, nada suaranya dipenuhi penyesalan mendalam yang membuat Thalassa semakin terkekeh. "Harusnya dulu aku membiarkannya belajar mengalah. Harusnya aku tidak membelikannya lima puluh jenis boneka hanya karena dia mengeluarkan satu tetes air mata. Sekarang lihatlah, dia tumbuh menjadi diktator kecil yang bermaksud mengusirku dari kedudukanku sendiri di sampingmu." "Ayah jangan bicara! Bikin bising saja!" potong Tatjana tiba-tiba dari ceruk leher Thalassa, membuat Kaelen makin melotot tak berdaya. Thalassa menghela napas panjang, meresapi dinamika yang riuh namun teramat berharga ini. Ia mengusap punggung gembul putrinya yang masih naik turun karena kesal, lalu beralih menatap Kaelen dengan pandangan mata yang dipenuhi kehangatan dan rasa cinta yang mendalam. Ia tahu, di balik keluhan dan rasa cemburu Kaelen yang tampak kekanak-kanakan, pria itu mencintai Tatjana melebihi nyawanya sendiri. "Kaelen, berhe

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 133 Penyesalan Kecil

    Kaelen mengunyah buah pir itu dengan ketus. Matanya tetap tertuju pada Tatjana yang kini sedang menjulurkan lidahnya tipis-tipis ke arah sang ayah dari balik perlindungan lengan Thalassa. Saat itulah, tatkala rasa manis buah pir memenuhi lidahnya, sebuah kesadaran pahit dan penyesalan yang mendalam menghantam benak sang Duke Aristhos. Kaelen menatap putrinya dengan pandangan meratapi nasibnya sendiri. Ia teringat masa-masa ketika Tatjana baru lahir empat tahun yang lalu. Waktu itu, melihat bayi mungil yang begitu rapuh di dalam dekapan Thalassa, Kaelen bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia akan memanjakan putri tunggalnya itu tanpa batas. Ia berjanji tidak akan menjadi ayah yang dingin, kaku, dan berjarak seperti para leluhur keluarga Aristhos. Maka, Kaelen menuruti semua keinginan Tatjana sejak balita itu bisa merangkak. Ia membelikan seluruh mainan kayu terbaik dari penjuru kerajaan, menyuruh pengrajin kerajaan membuatkan rumah-rumahan seukuran manusia di taman, dan selalu memba

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 130 Saingan Berat Sang Duke

    Pagi di kediaman Aristhos tidak pernah lagi diawali dengan ketenangan yang dingin seperti tahun-tahun terdahulu. Ruangan demi ruangan di kastel megah itu, yang dulunya hanya dihuni oleh gema langkah kaki para pengawal dan kesunyian yang menekan, kini bergetar oleh kehidupan yang riuh. Ruang makan keluarga yang luas dan berornamen kayu mahoni itu kini resmi menjadi medan tempur bagi dua sosok yang sama-sama berpendirian teguh, memiliki rahang yang sama-sama mengeras saat berargumen, namun dengan ukuran tubuh yang sangat amat kontras. Kaelen duduk di kursi utamanya di ujung meja, berusaha keras mempertahankan wibawa seorang Duke penguasa wilayah utara. Pria itu menegakkan punggungnya, mengenakan kemeja linen gelap yang rapi, dan menatap lurus ke depan dengan sepasang mata biru tajam yang biasanya sanggup membuat para jenderal perang menundukkan kepala. Namun, lawan bertarungnya pagi ini sama sekali tidak gentar oleh aura mengintimidasi tersebut. Di sisi lain meja, Tatjana sudah berdir

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 131 Pahlawan Kecil

    "Kakek baju ungu bau bedak gatal!" seru Tatjana dengan wajah bersungguh-sungguh, mata bulatnya membelalak marah. "Tatjana ini anak Ayah! Tatjana yang punya rumah ini! Ayah bilang Tatjana bisa potong kepala orang kalau orang itu jahat!" Para pelayan dan pengawal di belakang Kaelen menahan napas serentak. Thalassa sedikit menutup matanya, memijat pelipisnya pelan, ia tahu betul dari mana kalimat ekstrem itu berasal. Kaelen, di sisi lain, tidak bisa menyembunyikan rasa bangga yang mendalam. Sudut bibirnya terangkat tipis, membelai rambut putrinya dengan lembut. "Dengar itu, Lord Harrington? Putriku bahkan tahu siapa pemegang hak atas tanah ini." Lord Harrington menyapu keringat di dahinya dengan sapu tangan sutra, wajahnya memerah antara malu dan terkejut oleh kelakuan balita tersebut. "L-Lady Tatjana masih sangat kecil, Your Grace! Dia tidak mengerti kompleksitas pemerintahan! Seorang anak perempuan akan menikah dan menyerahkan tanah ini pada keluarga suaminya! Itu akan menghancurkan

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 130 Kunjungan Mendadak

    Hawa dingin khas perbatasan utara langsung menyambut kepulangan rombongan kediaman Aristhos. Kereta kuda berpelindung baja itu berhenti sempurna di pelataran utama kastel batu yang megah. Namun, bukannya disambut oleh ketenangan barisan pengawal, suasana di pelataran terasa sedikit lebih tegang dari biasanya. Dua kereta kuda megah berhiaskan simbol kekaisaran ibu kota terparkir anggun di sisi barat pelataran, dikelilingi oleh belasan pengawal berkuda berseragam perak yang asing. Kaelen menyingkap tirai jendela kereta sedikit. Sepasang matanya menyipit tajam, seketika berubah dingin dan berbahaya. Garis rahangnya mengeras, mengikis habis sisa-sisa raut wajah santai yang menyelimutinya selama di vila pantai selatan. "Utusan ibu kota," gumam Kaelen dengan nada bariton yang begitu rendah dan penuh desakan ancaman. "Mereka bahkan tidak memiliki kesopanan untuk mengirim surat pemberitahuan terlebih dahulu." Thalassa merapikan mantel wol hitam berperekat bulu di bahunya, lalu membetulkan

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 129 Rasa Syukur

    "Tempat ini terasa sangat nyata, Kaelen," ucap Thalassa pelan, menatap dedaunan hijau yang bergoyang ditiup angin. "Kadang aku lupa bahwa ada dunia yang begitu tenang seperti ini. Kaelen menghentikan langkahnya, membuat Thalassa ikut berhenti dan menoleh padanya. Pria itu menatap sekeliling kebun, lalu kembali memusatkan seluruh perhatiannya pada wajah cantik istrinya. Cahaya matahari yang menerobos celah daun menciptakan bayangan lembut di atas kulit halus Thalassa. "Jika kau menyukai tempat ini, kita bisa memperpanjang masa tinggal kita," ujar Kaelen tanpa keraguan. "Aku bisa memerintahkan utusan untuk membawa seluruh dokumen penting ke sini. Aku bisa mengendalikan urusan perbatasan dari vila ini." Thalassa tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya anggun. "Tidak, Kaelen. Rumah kita tetap di Utara. Rakyatmu membutuhkan kehadiran dukenya di sana. Keindahan tempat ini menjadi istimewa justru karena kita datang ke sini untuk beristirahat sejenak, bukan untuk melarikan diri dari kewaj

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 7 Bayang-Bayang dari Masa Lalu

    Keheningan di dalam perpustakaan yang sebelumnya terasa hangat, tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mencekam. Kaelen, yang sedang merapikan beberapa buku tua di rak paling atas, tanpa sengaja menjatuhkan sebuah buku bersampul kulit kusam. Dari sela-sela halamannya, sebuah amplop biru pucat terjatuh

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 6 Meja Kerja yang Berdebu

    Keputusan Kaelen mengguncang seluruh isi rumah. Sang Duke yang biasanya menghabiskan 18 jam sehari untuk urusan wilayah, kini justru mengurung diri di rumah. Namun, bagi Thalassa, ini adalah surga yang selama ini ia impikan. Kaelen tidak membiarkan Thalassa berada jauh darinya. Saat Kaelen membaca

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 5 Obsesi yang tak Terbendung

    Thalassa tidak membalas dengan amarah. Sebaliknya, ia meletakkan pisau dan garpunya dengan anggun, sebuah kebiasaan dari kehidupannya yang lalu yang kini muncul secara alami. Ia menumpukan dagu di atas tautan tangannya, menatap Kaelen dengan binar yang tulus, sesuatu yang belum pernah dilihat Kaele

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 4 Pembersihan Kediaman Aristhos

    Pagi hari di kediaman Aristhos biasanya dimulai dengan bisik-bisik sinis dari para pelayan di lorong-lorong gelap. Namun, pagi ini berbeda. Thalassa terbangun lebih awal, memastikan dirinya tampil sempurna sebelum Kaelen meninggalkan ranjang.Setelah Kaelen berangkat dengan pesan posesif seperti bi

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status