Share

Bab 145 Luluh

Author: Gauri Nayara
last update publish date: 2026-10-18 19:59:35

Pagi harinya, sinar matahari utara yang hangat menerobos sempurna di antara celah-celah tirai renda kamar utama Kastel Aristhos. Bias keemasan itu perlahan mengusir sisa-sisa embun beku yang menempel di balik kaca tebal, membawa kehangatan alami yang menyelimuti seluruh ruangan.

Kaelen terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar setelah melewati tidur nyenyak yang tak terinterupsi sepanjang malam. Pria itu menarik napas panjang, meresapi rasa lega yang menjalar di dada dan kepalanya yang k
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 145 Luluh

    Pagi harinya, sinar matahari utara yang hangat menerobos sempurna di antara celah-celah tirai renda kamar utama Kastel Aristhos. Bias keemasan itu perlahan mengusir sisa-sisa embun beku yang menempel di balik kaca tebal, membawa kehangatan alami yang menyelimuti seluruh ruangan. Kaelen terbangun dengan perasaan yang jauh lebih segar setelah melewati tidur nyenyak yang tak terinterupsi sepanjang malam. Pria itu menarik napas panjang, meresapi rasa lega yang menjalar di dada dan kepalanya yang kini bersih dari pening. Lengan kokohnya masih melingkari pinggang Thalassa secara mutlak, mengunci posisi tubuh istrinya rapat dalam dekapannya. Ketika Kaelen menunduk, ia mendapati sepasang mata gelap Thalassa sudah terbuka. Wanita itu sedang menatapnya dengan senyuman lembut yang selalu sanggup meruntuhkan sisa-sisa ketegangan di dalam jiwanya. "Selamat pagi, Duke Aristhos," bisik Thalassa pelan, suaranya yang halus memecah keheningan pagi. Jemari lentiknya terulur, membelai garis rahang Kae

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 144 Berhasil

    Langkah Kaelen terasa berat namun mantap saat melintasi selasar utama yang temaram. Udara malam di koridor terasa begitu dingin, tetapi kehangatan tubuh gembul Tatjana di dalam dekapannya serta jemari Thalassa yang menggenggam erat tangannya seolah membakar habis seluruh sisa keletihan yang menumpuk di kepalanya. Di dalam kamar utama, perapian batu besar menyala dengan lidah api keemasan yang menari riang, menghantarkan hawa nyaman yang seketika menyambut kepulangan sang penguasa wilayah utara. Kaelen melangkah sangat perlahan menuju ranjang berkanopi mereka. Pria itu merendahkan tubuhnya dan membaringkan Tatjana tepat di tengah-tengah kasur empuk berlapis sutra. Balita yang baru saja menyelesaikan Misi Penyelamatan menggeliat pelan. Mulut kecilnya mengerucut, mengeluarkan gumaman halus dalam lelapnya sebelum akhirnya melingkarkan lengan gembulnya pada boneka beruang kusam yang dibawa Thalassa dari ruang kerja tadi. Thalassa mendekat, menarik selimut bulu domba tebal untuk menutupi

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 143 Misi Penyelamatan

    Selama tiga hari berturut-turut, Kediaman Aristhos terasa seolah membeku. Pintu kayu tebal yang melapisi ruang kerja sang Duke tertutup rapat, mengisolasi Kaelen dari sisa dunia. Krisis perbatasan barat laut, kebocoran dokumen sengketa tanah dan ancaman pergerakan pasukan faksi oposisi ibu kota memaksa Kaelen mengurung diri. Pria itu menolak keluar, hampir tidak menyentuh makanan, dan terus bekerja dalam remang cahaya lilin yang tak pernah padam. Para pelayan yang mengetuk pintu hanya disambut oleh suara bariton dingin yang menggelegar dari dalam "Tinggalkan baki di luar dan jangan ada yang menggangguku." Bahkan Kepala Pelayan Gilbert dan Jenderal Balthazar hanya bisa berdiri cemas di lorong, tak berani mendobrak keputusan sang penguasa wilayah utara. Thalassa, yang berdiri di ujung lorong dengan nampan teh yang sudah dingin, menghela napas panjang. Ia melirik gaun malamnya, lalu menunduk menatap sosok kecil gembul yang berdiri di sampingnya. Tatjana sedang memegang cangkir plastik

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 142 Perkemahan Militer

    Pagi itu, perkemahan militer di perbatasan utara dipenuhi aura dingin yang mencekam. Angin berembus membawa aroma tanah basah dan besi tua, sementara ratusan prajurit berbadan tegap sedang berlatih pedang dengan ketangkasan penuh. Di atas bukit kecil yang menghadap langsung ke lapangan latihan, Kaelen berdiri tegak dengan jubah hitam tebal melambai tertiup angin. Di sampingnya, Thalassa berdiri anggun sambil memperketat pegangannya pada tali gaun muslin tebalnya. Namun, fokus utama di tempat latihan pagi itu bukanlah formasi tempur para prajurit, melainkan sosok kecil bergaun wol tebal merah tua yang sedang berdiri tepat di tengah perkemahan. Kaelen sengaja membawa Tatjana ke sini untuk memberi pelatihan mental pertama sebagai calon penguasa wilayah utara. "Lihat mereka, Tatjana," ujar Kaelen dengan suara bariton berat yang sengaja dibuat berwibawa, menunjuk barisan prajurit bersenjata lengkap. "Mereka adalah pedang dan perisaimu kelak. Seorang penerus Aristhos tidak boleh takut pa

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 141 Pembuktian

    Hari ini adalah hari pembuktian. Kaelen telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan terpengaruh lagi oleh taktik manipulasi putri kecilnya. Kedisiplinan Aristhos harus ditegakkan. Suara langkah-langkah kecil yang berderap riang terdengar dari koridor luar, disusul oleh pintu kayu besar yang terdorong pelan. Tatjana melangkah masuk dengan gaun merah muda berenda, rambutnya yang halus dikuncir dua di sisi kepala. Balita gembul itu berjalan mendekati meja makan sembari memeluk sebuah boneka beruang kain yang sudah agak lusuh. "Selamat pagi, Ibu cantik! Selamat pagi, Ayah ganteng!" seru Tatjana dengan suara nyaring dan ceria. Thalassa tersenyum manis. "Selamat pagi, Putri Ibu." Kaelen menetralkan ekspresi wajahnya, mengabaikan dorongan kuat di dadanya untuk langsung tersenyum. Ia menatap Tatjana dengan pandangan lurus. "Selamat pagi, Tatjana. Duduklah di kursimu. Sarapan sudah siap." Di atas meja di hadapannya, sebuah piring perak kecil sudah disiapkan. Isinya adalah por

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 140 Kesepakatan

    "Dia putri dari Kaelen Aristhos, apa yang kau harapkan?" balas Thalassa dengan senyuman hangat. "Darah pembaca situasi dan ahli strategi mengalir deras di nadinya. Bedanya, jika kau menggunakan kecerdikan itu untuk memenangkan pertempuran atau negosiasi politik, Tatjana menggunakannya untuk mendapatkan biskuit tambahan dan menghindari sayuran hijau." Kaelen menghela napas panjang, merengkuh pinggang Thalassa lebih erat, membawa tubuh istrinya makin menempel padanya. "Ini tidak lucu lagi jika kita memikirkannya dalam jangka panjang. Jika dia terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan hanya dengan mengeluarkan tatapan memelas dan kata-kata manis, bagaimana saat dia harus menghadapi dunia luar yang keras? Dunia politik bangsawan tidak akan melunak hanya karena seseorang punya pipi gembul dan mata bulat yang menggemaskan." Thalassa menyandarkan dahinya di dada Kaelen, mendengarkan detak jantung suaminya yang berirama konstan. "Kaelen, dengarkan aku," tutur Thalassa dengan nada seju

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 1 Napas Kedua Setelah Kematian

    Embun beku menusuk tulang di malam musim dingin, sama seperti rasa dingin yang telah lama bersarang di dada Thalassa. Di ranjang yang luas, ia terbaring sendirian, matanya menatap langit-langit yang dihiasi ukiran mewah. Sebuah ukiran yang tak pernah ia perhatikan di tahun-tahun pernikahannya.Tang

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 4 Pembersihan Kediaman Aristhos

    Pagi hari di kediaman Aristhos biasanya dimulai dengan bisik-bisik sinis dari para pelayan di lorong-lorong gelap. Namun, pagi ini berbeda. Thalassa terbangun lebih awal, memastikan dirinya tampil sempurna sebelum Kaelen meninggalkan ranjang.Setelah Kaelen berangkat dengan pesan posesif seperti bi

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 3 Pesta yang Menyesakkan

    Suasana aula perjamuan kerajaan begitu berkilauan. Ratusan lilin kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya pada gaun-gaun sutra dan lencana militer para bangsawan. Namun, bagi Thalassa, kemewahan ini terasa asing. Ia melangkah dengan anggun di samping Kaelen, tangan mungilnya terseli

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 2 Istri yang Berubah

    Sinar matahari pagi menembus celah gorden beludru, namun atmosfer di dalam kamar utama kediaman Aristhos terasa jauh lebih panas. Kaelen Aristhos masih berdiri di posisi yang sama sejak semalam, duduk di tepi ranjang dengan jemari yang masih mengunci pergelangan tangan Thalassa. Ia tidak tidur. Pri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status